Internet, Bagai Pedang Bermata Dua

Internet sebagai media, tak ubahnya bagai pedang bermata dua. Bisa digunakan untuk kebaikan, bisa pula digunakan untuk kejahatan.

Lima Pola Pemecahan Masalah

Setiap manusia, tentunya memiliki masalah (problem). Dan tampaknya, tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini, yang hidup tanpa masalah.

Gelisah Karena Pujian

Mendengar berbagai pujian, si alim menjadi gelisah. Jangan-jangan dirinya rajin beribadah bukan karena Allah, melainkan karena orang-orang memujinya sebagai orang alim.

Akademisi Ilmuwan Dakwah di Era Internet

Sebagai pilar terdepan, akademisi ilmuwan dakwah idealnya berdiri paling depan dalam gerbang pertarungan global.

Ketimpangan antara Intelektualitas dan Moralitas

Di dunia pendidikan, manusia dibentuk dan dicetak bukan sekadar untuk menjadi cerdas, dan terampil semata, tetapi juga berakhlak mulia.

MEMANTAU WAKIL RAKYAT

OLEH ENJANG MUHAEMIN

Dalam sejarah pesta demokrasi di Indonesia, sistem pemilihan anggota legislatif atau wakil rakyat seperti yang terlaksana, 5 April beberapa tahun lalu, termasuk baru dan memberi harapan besar bagi pembaruan perpolitikan di negeri ini. Kendati sistem yang digunakan kemarin masih “setengah hati”, namun paling tidak, ada secercah asa untuk terjadinya perubahan yang siginifikan di dalam mewujudkan jati diri para anggota legislatif sebagai wakil rakyat yang sesungguhnya.

Melalui pola pemilihan yang “setengah hati” tersebut, kehendak rakyat untuk menentukan wakil rakyat pilihannya, memang masih belum optimal. Peran partai politik masih dominan, sebab nomor urut calon anggota legislatif masih menjadi pijakan, bila tidak ada di antara mereka yang memenuhi Bilangan Pembagi Pemilih (BPP).

Dari ribuan calon anggota legislatif yang terdaftar, terbukti tidak banyak yang berhasil memenuhi quota BPP. Bahkan bisa dihitung dengan jari. Begitulah saking sedikitnya. Walhasil, nomor urut yang notabene ditentukan oleh partai politik masing-masing masih menjadi pijakan utama untuk lolos-tidaknya calon anggota legislatif menjadi wakil rakyat. Di sinilah persoalan kompleks muncul: dari mulai konflik internal partai hingga keterjegalan aspirasi mayoritas pemilih.

Terlepas atas persoalan di muka, maka yang kini layak menjadi sorotan publik adalah: akankah para wakil rakyat memiliki keberpihakan terhadap masyarakat? Jawabannya tentu bisa ya, bisa tidak. Itu, tentu akan amat tergantung pada beberapa faktor. 

Pertama, mentalitas dan rasa tanggung jawab para wakil rakyat di dalam mengemban amanah rakyat. Sejak Agustus 2004, ketika mereka resmi dilantik sebagai wakil rakyat, masyarakat sudah bisa mulai membaca keberpihakan mereka terhadap rakyat yang telah memberikan amanah kepadanya. 

Mentalitas dan rasa tanggung jawab para wakil rakyat menjadi faktor utama yang akan menentukan keberpihakan mereka terhadap rakyat. Tumbuhnya kesadaran atas tugas dan fungsi dirinya sebagai wakil rakyat akan sangat menentukan keberhasilan perannya di dalam mengemban amanat rakyat. Sebaliknya, matinya kesadaran diri sebagai wakil rakyat akan membuat dirinya lupa daratan, terjerumus pada jurang arogansi yang berlebihan. Bukan hanya lupa membela kepentingan masyarakat, tuli mendengar aspirasi rakyat, juga menjadi sibuk memperkaya diri dan kelompoknya.

Masyarakat secara keseluruhan memang tidak mungkin mampu memantau secara intens, namun elemen-elemen masyarakat yang independen dan berada di garda terdepan dalam membela hak-hak rakyat akan terus memonitor secara kontinyu dan full time. Kredibilitas dan kapabilitas mereka sebagai wakil rakyat akan tetap termonitor, yang pada akhirnya akan sampai juga kepada masyarakat secara merata.

Faktor Kedua, peran partai politik di dalam mengagendakan perubahan yang signifikan demi terwujudnya pemerintahan yang bersih, pembangunan yang berkeadilan, dan pembinaan mentalitas dan rasa tanggung jawab para wakil rakyatnya. Peran partai politik tak bisa diabaikan, karena bagaimana pun partai politik masih memiliki kendali dan aturan main yang ‘tak bisa dibantah’ oleh para wakil rakyat yang lahir dari rahimnya.

Bagi partai politik yang memiliki wawasan ke depan, upaya menjadikan para wakil rakyatnya sebagai ujung tombang pembangunan citra dan nama baik partai akan menjadi faktor yang tak mungkin diabaikan. Semua partai politik jelas memiliki komitmen seperti tersebut, namun dalam tataran taktisnya terkadang gagal merealisasikannya. 

Kita tahu, keberhasilan PK Sejahtera di dalam meraup simpati dan mendulang dukungan dalam pemilu legislatif lalu, banyak ditentukan oleh perilaku para wakil rakyat PK Sejahtera (yang ketika itu masih bernama Partai Keadilan) di dalam membela aspirasi rakyat di lembaga legislatif. Beberapa partai politik yang dalam Pemilu 1999 memiliki banyak dukungan, namun gagal meraih simpati dalam Pemilu 2004, banyak ditentukan akibat kesalahan perilaku para wakil rakyatnya.

Realitas itu layak menjadi wahana pembelajaran bagi partai politik manapun. Pembelaan terhadap rakyat secara optimal, kesediaan hidup secara bersahaja, dan mengamankan uang rakyat dari kebocoran anggaran, menjadi penting diindahkan para wakil rakyat. Masyarakat sudah tidak lagi bodoh, dan sudah tidak bisa lagi dibodohi. Nama baik diri dan keluarga, juga citra partai politik tempat bernaung para wakil rakyat, akan sangat bergantung para perilaku dan tanggung jawab mereka di dalam membela hak-hak rakyat.

Faktor ketiga, kekritisan elemen-elemen masyarakat di dalam memantau kinerja dan mentalitas para wakil rakyat. Tumbuhnya elemen-elemen masyarakat yang kritis, cerdas, dan berani di dalam memantau kinerja, perilaku dan mentalitas para wakil rakyat memiliki fungsi penting di tengah kondisi masyarakat kita yang serba sungkan, rikuh, dan heurin ku letah.

Elemen-elemen masyarakat dimaksud bisa berbentuk lembaga swadaya masyarakat (LSM), lembaga pemantau, organisasi, atau kelompok-kelompok mahasiswa yang konsens memantau kinerja para wakil rakyat. Peran dan fungsinya akan sangat signifikan dalam mengawal pembangunan yang berkeadilan, terwujudnya kesejahteraan masyarakat, dan terjaganya hak-hak rakyat.

Keberadaan elemen-elemen masyarakat tadi diharapkan akan mampu mengawal jalannya kinerja para wakil rakyat sebagaimana telah diamanatkan undang-undang. Harus diakui, elemen-elemen tersebut baru akan efektif mengawal dan memantau kinerja para anggota legislatif, bila mereka ini memiliki sikap kristis, cerdas, dan memiliki rasa tanggung jawab di dalam membela keadilan, kebenaran, dan pembangunan yang berkeadilan.

Dari ketiga faktor yang dipaparkan tadi, tentu yang tidak kalah pentingnya, adalah faktor keempat, peran media massa di dalam menjalankan fungsi kontrol sosialnya. Termasuk di dalam melakukan kontrol terhadap kinerja para wakil rakyat. Hidupnya kultur kontrol media massa akan berperan besar untuk mewujudkan terbangunnya para wakil rakyat yang memiliki komitmen kerakyatan, berkarakter reformis, dan fungsi legislasi secara optimal.

Hadirnya elemen-elemen masyarakat yang kritis, cerdas, dan independen akan lebih memiliki gaung yang lebih besar bila media massa, juga turut melakukan kontrol sosial. Matinya fungsi kontrol media massa, besar dugaan akan mematikan saluran efektif di dalam menggaungkan perubahan kinerja anggota legislatif ke arah yang lebih baik.

Melalui media massa, masyarakat secara luas juga akan mampu mencermati dan menilai para wakil rakyat yang telah mereka pilih. Ini akan menjadi penting, bukan hanya untuk melakukan penilaian sesaat ketika itu, tapi juga akan bermanfaat sebagai bahan pelajaran saat melakukan pemilihan wakil rakyat di masa akan datang. Namun yang pasti, dengan hidupnya budaya kontrol media massa akan berguna untuk pencerdasan dan pencerahan politik di tengah kehidupan masyarakat.***

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Jumat, Juli 30, 2010

KETIMPANGAN PENDIDIKAN: INTELEKTUALITAS & MORALITAS

OLEH ENJANG MUHAEMIN

ISLAM memandang pentingnya pendidikan tersebar di banyak ayat dan hadits. Islam menilai pendidikan sebagai langkah mutlak di dalam membentuk watak dan tabiat manusia yang paripurna. Di dunia pendidikan, manusia dibentuk dan dicetak bukan sekadar untuk menjadi cerdas, dan terampil semata, tetapi juga berakhlak mulia.

Manusia sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya di muka bumi, tentunya memiliki tugas yang tidak ringan. Misi berat yang diembannya ini mestinya mendorong manusia untuk mampu mendidik diri menjadi makhluk yang terpilih. Dalam konteks inilah, visi dan orientasi pendidikan yang komprehensif menurut perspektif ajaran Islam menjadi sangat penting.

Dengan berpijak pada konsep bahwa manusia diciptakan tiada lain kecuali untuk beribadah (QS. Al-Dzariat: 56), dan berfungsi sebagai khalifah Allah di muka bumi (QS. Al-Baqarah: 30, dan Hud : 61), maka pendidikan dalam Islam sebagaimana dikatakan Muhammad Quthb dalam Manhaj al-Tarbiyah al-Islamiyah, ditujukan untuk membina manusia baik secara pribadi maupun kelompok agar mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya guna membangun dunia sesuai dengan konsep yang ditetapkan Allah. Atau dengan kata yang lebih singkat dan sering digunakan oleh Al-Qur’an, kata M. Quraish Shihab, untuk mewujudkan manusia yang bertakwa kepada Allah.

Al-Qur’an, yang secara kategorikal telah mendudukkan manusia dalam dua fungsi pokok , yakni sebagai abdullah (hamba Allah) dan khalifatullah fil ard (wakil Tuhan di muka bumi), maka muatan fungsional edukatif mesti diorientasikan ke arah terwujudnya manusia yang mampu mengemban kedua fungsi tersebut.

Abdur Rahman Shalih Abdullah dalam Educational Theory, A Quranic Outlook (1982), bahkan menegaskan, manusia merupakan persoalan inti dalam proses pendidikan. Pernyataan tersebut paling tidak mengandung dua implikasi. Pertama, pendidikan perlu mempunyai dasar-dasar pemikiran filosofis yang memberi kerangka pandang holistik tentang manusia. Kedua, dalam seluruh prosesnya, pendidikan perlu meletakkan manusia sebagai titik tolak (starting point) dan sebagai titik tuju (ultimate goal) dengan berdasar pada pandangan-pandangan kemanusiaan yang telah dirumuskan secara filosofis (Tobroni dan S. Arifin, 1994 : 159). 

Berangkat dari kerangka pemikiran di atas, mengingat posisi manusia sebagai sentral dalam pendidikan, tidak mau tidak, kita mesti mengetahui terlebih awal masalah pandangan Islam tentang manusia. Ini penting, karena salah dalam memahami akan bersifat fatal, yang tentunya akan berakibat pada gagalnya pembentukan manusia ideal seperti dikehendaki Islam.

Dalam Al-Qur’an, ada tiga istilah kunci yang mengacu pada makna pokok manusia: basyar, insan, dan an-nas. Konsep basyar selalu dihubungkan dengan sifat-sifat biologis manusia: makan, minum, seks, berjalan di pasar. Basyar disebut 27 kali (lihat al-Baqi, al-Mu’jam). Dalam seluruh ayat tersebut, kata Jalaluddin Rakhmat, basyar memberikan referensi pada manusia sebagai makhluk biologis.

Penggunaan kata basyar dimaksudkan untuk menggambarkan manusia secara fisik. Dalam pengertian basyar, manusia dipahami dari apa yang nampak secara lahiriah dari seluruh proses evolusi kehidupannya. Ali Syari’ati dalam Man and Islam (1982) mengungkapkan bahwa manusia dalam pengertian basyar, adalah makhluk yang sekadar ada (state of being) secara fisologis.

Berdasarkan kata tersebut, walaupun manusia mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan, namun sekadar serangkaian evolusi biologis-mekanistik sebagaimana juga dialami makhluk lainnya. Dengan demikian tidak jauh berbeda antara manusia dengan makhluk lain, jika kualifikasi manusia hanya sampai pada taraf basyar. (Tobroni dan S. Arifin, 1994).

Manusia sebagai makhluk, yang merupakan puncak ciptaan Allah dengan tingkat kesempurnaan dan keunikan yang prima dibanding makhluk lainnya (QS. 95: 4), dituntut untuk hidup melebihi sekadar hidup secara fisiologis: makan,minum, kawin, lahir, dan lainnya. Manusia dituntut mampu mewujudkan dirinya lebih dari sekadar basyar. Manusia dalam konteks ini dituntut mampu mengembangkan suatu kehidupan yang menjadikan dirinya lebih bermakna secara etik dan moral, intelektual, dan kultural. Kehidupan manusia seperti itu disebut Al-Qur’an sebagai manusia dengan kualitas insan, kata Tobroni dan S. Arifin, yaitu kemampuan melepaskan diri dari determinasi biologis.

Insan disebut 65 kali dalam Al-Qur’an. Sesuai dengan pengertian dalam konteks kata insan, manusia dituntut menyadari bahwa kebermaknaan hidupnya akan tercapai apabila ia mampu mengaktualisasikan dirinya melalui aktivitas etik dan moral, intelektual dan kultural. Dalam pengertian demikian, maka yang lebih dipentingkan adalah kepekaan etik dan moral, ketajaman intelektualitas, dan keluasan visi.

Kunci ketiga yang mengacu kepada makna pokok manusia, yakni al-nas. Konsep al-nas mengacu pada manusia sebagai makhluk sosial. Inilah, kata Jalaluddin Rakhmat, manusia yang paling banyak disebut Al-Qur’an, 240 kali. Bila manusia dalam konsep basyar berkaitan dengan unsur material, maka manusia sebagai insan dan an-nas bertalian dengan unsur hembusan Ilahi.

Untuk mengupas lebih dalam, kajian di atas tentunya tak dapat dilepaskan dari penelaahan tentang potensi fitrah manusia. Pasalnya, apa yang disebut potensi fitrah ini tergolong memiliki pengaruh yang dominan bagi kehidupan manusia dalam menjalankan fungsi kemanusiaannya, baik sebagai hamba Allah maupun sebagai khalifah-Nya.

Potensi fitrah, lazimnya dipahami sebagai potensi yang bercorak keagamaan. Pengertian ini dapat dicerna dari firman Allah dan hadits Nabi SAW berikut ini: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus (hanief) kepada agama; fitrah ciptaan Allah yang Ia menciptakan manusia atas fitrah itu. Tak ada perubahan dalam ciptaan Allah. Itu adalah agama yang benar (ad-dien al-qayyin). Tetapi kebanyakan manusia tidak tahu.” (QS. Ar-Rum: 30); Hadits Nabi menegaskan: “Tiap-tiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orangtuanyalah yang mendidiknya menjadi Yahudi, Nasrani, dan Majusi.

Namun, Ibnu Taimiyah memberikan penafsiran yang lebih lengkap tentang potensi fitrah. Ia tidak membatasi potensi fitrah manusia pada potensi yang bersifat keagamaan semata. Dalam pandangannya, potensi fitrah memiliki tiga daya kekuatan: daya intelek (quwwah-al-‘aql), daya ofensif (quwwah al-sahwah), dan daya defensif (quwwah al-gadhab).

Daya intelek merupakan potensi dasar yang memungkinkan manusia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar mana yang salah. Lebih penting lagi, bahwa daya intelek demikian akan mampu menyampaikan manusia untuk bisa mengetahui (ma’rifah) dan mengesakan Allah.

Sementara itu, daya ofensif merupakan potensi dasar yang dimiliki manusia, yang dengannya manusia mampu menginduksi obyek-obyek yang menyenangkan dan bermanfaat. Adapun daya defensif merupakan potensi dasar yang dapat menghindarkan manusia dari segala perbuatan yang membahayakan bagi dirinya.

Tiga Aspek
Manusia sejalan dengan fitrahnya, yang cenderung pada kebenaran, kebaikan, dan agama yang lurus perlu dipupuk dan dibina secara baik. Satu di antara pembinaan dan pemupukan fitrah itu adalah melalui pendidikan. Namun demikian, dalam proses pendidikan, manusia harus dipandang sebagai makhluk yang selain memiliki unsur material (jasmani), juga harus dilihat sebagai makhluk yang memiliki unsur imaterial (akal dan jiwa).
Pendidikan yang menekankan pada aspek jasmaniah, akan menghasilkan manusia yang memiliki keterampilan. Pendidikan yang menekankan aspek aqliyah akan menghasilkan manusia berilmu. Sedangkan, pendidikan yang menekankan aspek jiwa akan melahirkan manusia yang berakhlak dan bermoral.

Terwujudnya manusia yang paripurna: cerdas, terampil, dan bermoral, tentunya membutuhkan pendidikan yang ditekankan pada ketiga aspek tadi, secara berimbang dan bersamaan. Tujuannya, agar tidak terjadi ketimpangan antara aspek yang satu dengan aspek lainnya.

Sejalan dengan itu, masuk akal bila Abdur Rahman seperti yang dikutip Ali Maksum (1995) menekankan, pendidikan harus memiliki komponen: ragawi (jismiyah), akal (aqliyah), dan spiritual (ruhiyah). Jika ketiga komponen itu dapat mengkristal dalam diri peserta didik maka akan terbentuk pribadi yang komprehensif, baik dalam wujud interaksi dengan dirinya maupun dengan lingkungannya.

Di kita dewasa ini, memang tidaklah mudah untuk mewujudkan pendidikan yang memperhatikan secara utuh ketiga komponen tersebut. Secara teoritis, ketiga komponen tersebut memang terjabar, namun secara empirik, pola dan model pendidikan yang memperhatikan tiga aspek itu tak diwujudkan secara baik. Tak heran bila dunia pendidikan di kita bisa dikatakan gagal di dalam mewujudkan manusia yang pintar sekaligus berakhlak mulia.

Karena itu, rekonstruksi visi dan operasionalisasi pendidikan menjadi mutlak adanya. Ini terkait kesenjangan yang semakin menganga antara keberhasilan pendidikan dalam aspek intelektualitas dengan rendahkanya akhlak dan moral di negara kita ini. Aspek intelektualitas, memang boleh dikatakan cukup berhasil. Namun menyangkut aspek moralitas, sungguh sangat memprihatinkan.

Ketimpangan antara intelektualitas dan moralitas itu terbukti secara konkrit di sekitar kita. Bila ini dibiarkan, maka figur manusia yang pandai tapi tak bermoral akan semakin banyak. Indikasi maraknya korupsi, manipulasi, kolusi, perselingkuhan, seks bebas, dan sebagainya merupakan refleksi dari ketimpangan pendidikan antara aspek intelektualitas dengan aspek moralitas yang menganga lebar.

Indonesia yang mayoritas muslim, kita tentu harus bertanggung jawab terhadap masa depan generasi bangsa yang notabene kini tengah digodok di dunia pendidikan. Akankah kita rela meninggalkan generasi muda penerus bangsa yang hanya bermodalkan kecerdasan tanpa dibarengi keluhuran akhlak dan moralitas yang baik?

Pendidikan yang terlalu menekankan intelektualitas dengan mengabaikan faktor morallitas sudah seharusnya dikaji ulang. Jenderal Purn. AH Nasution dalam bukunya Pembangunan Moral Inti Pembangunan Nasional, memberikan nasihat yang sepatutnya kita simak. Menurutnya, negara sesungguhnya berdiri karena budi pekerti. Ketika akhlak pergi, negara pun akan musnah dengan sendirinya.

Pendidikan sebagai unsur penting dalam pembangunan jelas memiliki relevansi yang penting dengan keberadaan sebuah negara. Melalui pendidikan yang tidak memperhatikan aspek moral, maka hati-hatilah, negara bisa musnah. Karena itu, mengkaji ulang dunia pendidikan pada saat ini, bukan hanya penting tapi juga mendesak.***

Penulis, Staf Pengajar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunang Gunung Djati Bandung

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Jumat, Juli 30, 2010

EMPAT PENGOKOH DUNIA

OLEH ENJANG MUHAEMIN

Rasulullah SAW mengingatkan, ”Kokohnya dunia ini karena empat perkara. Dengan ilmu para ulama, dengan keadilan para penguasa kedermawanan orang-orang kaya, dengan doa-doa fakir miskin. “Petuah mulia itu sudah sering kita dengar, bahkan mungkin sudah hapal di luar kepala.

Namun sayang, kelamnya hati dan dungunya akal kita, membuat kita tak banyak mengindahkannya. Tragisnya, peringatan itu dianggap angin lain, tak bermakna, kecuali sebagai penghias kata pemanis retorika. Sungguh, itulah kedunguan dan ketololan kita di abad super canggih ini.

Padahal, empat hal itu mengandung makna penting nan luar biasa. Bukan hanya dunia akan tentram dan tanpa amarah, tapi juga akan membuat dunia tampak ceria, penuh kasih, dan sarat cinta, yang kini nyaris sima.

Para ulama, sebagai pewaris para nabi, dengan ilmunya akan membuat dunia kokoh berdiri. Ilmu para ulama yang diterapkan bukan pada tempatnya akan membuat dunia gelisah dan resah, umat satu dengan umat lainnya yang mestinya merajut kasih berganti arah seratus delapan derajat saling hujat, dan saling hardik. Inilah petaka awal yang bisa berakhir dengan pertumpahan darah.

Kedermawanan orang-orang kaya akan membuat ikatan ukhuwwah sesama semakin erat. Jurang perbedaan dengan si miskin tak akan terjadi lagi. Dunia akan ada sarat doa, yang dilantunkan para fakir miskin, yang membuat hidup kian bersahaja dan diberkahi. Kerjasama saling menguntungkan ini, akhirnya akan melahirkan ritme hidup penuh irama kedamaian dan kesyahduan. 

Sebaliknya, bila para hartawan congkak, arogan, dan menindas si miskin dan si fakir, maka bersiaplah menerima malapetaka besar, bahaya luar biasa, yang bisa menggoyahkan dunia. Si miskin dan si fakir bisa marah besar. Bukan lagi harta yang menjadi sasaran, tapi langsung nyawa para hartawan, ini seperti diisyaratkan Rasulullah SAW di dalam sebuah sabdanya.

Akan datang suatu masa, kata Nabi SAW, orang-orang miskin yang tak lagi membutuhkan harta, yang mereka butuhkan adalah darah dan nyawa para hartawan. Sungguh, ini bukan main-main. Revolusi berdarah yang bertaruhkan nyawa amat mungkin terjadi. Sadarilah, si kaya dan si miskin tak ada perbedaannya di hadapan Allah SWT kecuali ketakwaannya.

Sebelum petaka menimpa beristighfarlah. Harta tak ada apa-apanya, bila hanya membuat saudara di sekitar kita terluka hatinya, teriris nuraninya.

Sebelum ajal menjemput bertaubatlah, tak ada yang kita bawa ketika maut menjemput, kecuali ilmu yang bermanfaat, anak yang shaleh, dan amal jariah. Sudahkah kita berbekal untuk bekal hidup sebenarnya? Jawablah secara jujur, dan lakukanlah apa yang seharusnya dilakukan.

Penguasa bisa mulia, juga bisa hina Mulia ketika ia berbuat keadilan. Tidak berpihak pada siapa pun, kecuali pada kebenaran dan keadilan. Penguasa, siapa pun Anda, tak bisa bertindak semaunya bila tak mau terjerumus pada jurang kehinaan. Ketika keadilan bisa dipermainkan oleh harta, tahta, maupun wanita, maka bersiaplah diadili di akhirat, di neraka adalah tempat kembali tak ada pilihan yang terbaik kecuali bertindak adil, dan menegakan keadilan.

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Jumat, Juli 30, 2010

Apa yang Salah dengan Ibadah Puasa Kita?

Oleh Enjang Muhaemin

RAMADAN kembali menghampiri kita. Umat Islam di mana pun berada tentu akan menyambut dengan penuh suka cita. Hikmah besar yang terkandung di dalamnya membuat kita rindu untuk selalu bertemu dengan bulan yang penuh barakah dan magfirah ini. 

Secara substansial, puasa dimaksudkan untuk melahirkan manusia berkualitas super: la'allakum tattaqun. Ini sebagaimana termaktub di dalam Alquran, Surat Al-Baqarah ayat 183: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa."

Di tengah kondisi Indonesia yang masih terbelit beragam persoalan, dari mulai krisis ekonomi, maraknya korupsi, hingga degradasi moral yang kian akut, sudah waktunya kini menjadikan ibadah puasa sebagai momentum perbaikan menuju ke arah Indonesia yang lebih baik.

Melihat beragam persoalan yang mengimpit negeri ini, rasanya tepat bila dikatakan, puasa tahun ini, harus benar-benar bisa menjadi momentum perbaikan diri secara optimal. Artinya, ibadah puasa yang kita jalani, bukan sekadar puasa yang tanpa makna, puasa yang hanya menahan lapar dan dahaga.

Puasa harus terwujud bukan sekadar memenuhi kewajiban agama, tetapi juga dibarengi kesadaran untuk menjadikan ibadah puasa sebagai wahana pembangunan kualitas kemusliman yang paripurna.

Namun sayangnya, tujuan ideal puasa itu kerap tak berhasil terwujud secara baik. Tentu muncul pertanyaan dalam benak kita: apa yang salah dengan puasa kita?

Puasa sebulan penuh yang setiap tahun kita jalani nyaris tak banyak berdampak pada kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri ini. Contoh, praktik korupsi yang bukan hanya kian meningkat, tapi juga kian meluas ke berbagai lini kehidupan di negeri ini. Sungguh sebuah realitas yang amat memprihatinkan.

Kita patut bertanya kepada diri kita: bagaimana dampak puasa yang kita jalani selama ini?

Pertanyaan ini cukup relevan untuk dikedepankan, agar puasa yang kita lakukan selama sebulan penuh benar-benar mencapai target ketakwaan, sekaligus berimplikasi terhadap perilaku dan moralitas kita sehari-hari, baik yang berdimensi politik, pendidikan, ekonomi, sosial-budaya, maupun hukum.

Ini tentu amat penting, karena Nabi Muhammad pernah memberi early-warning, "Sekian banyak orang yang menjalankan puasa, tetapi mereka hanya mendapatkan lapar dan dahaga".

Bertolak dari peringatan itu, seorang sufi besar, Imam Al-Ghazali
dalam karya magnum opus-nya, "Ihya' Ulumuddin", membagi kualitas puasa itu ke dalam tiga kualifikasi: puasa am, puasa khash, dan puasa khawasul khawas.

Puasa am, adalah puasa yang dilakukan sebatas menahan diri dari makan, minum, dan seks. Puasa khash, adalah puasa yang dilakukan selain dengan menahan diri dari ketiga hal pertama tadi, juga dengan menjaga penglihatan, pendengaran, dan ucapan dari hal-hal berbau maksiat.

Puasa khawasul khawas, yakni puasa yang dilakukan bukan saja menahan diri dari ketiga hal pertama dan kedua, tetapi diikuti pula dengan menjaga suasana hati dari hal-hal yang rendah, berorientasi materialis, dan berbagai kecenderungan hati yang destruktif-anarkis.

Melalui kategorisasi yang dilakukan Imam Al-Ghazali itu, kita bisa mengukur sejauhmana kualitas puasa yang kita lakukan? Implikasi ini akan sangat besar terhadap keadaan di negeri ini. Di tingkatan mana kualitas puasa sebagian besar muslim di negeri ini akan sangat menentukan kualitas keadaan negeri ini. Menyimak negeri kita yang carut marut, kita sudah bisa mengukur kualitas sebagian besar para pelaku puasa di negeri ini.

Fenomena apa yang salah dengan ibadah puasa yang kita lakukan? Jawabannya tiada lain, karena pemahaman dan pengamalan puasa yang kita lakukan belum optimal sebagaimana yang diharapkan. Belum mampu mencapai puasa dalam tingkatan khawasul khawas, baru sebatas tingkatan puasa am, yang hanya mampu menahan lapar, dahaga, dan seks semata.

Padahal, bila saja kita telah mencapai tingkatan puasa khawasul khawas, maka sudah menjadi jaminan bakal lahirnya insan-insan berkualitas yang bakal mampu menahan godaan syahwat duniawi dan beragam kebejadan moral lainnya.

Manusia yang telah mencapai puasa dalam tingkatan khawasul khawas inilah yang diharapkan muncul menjadi pionir-pionir pembaharu bagi perubahan negeri ini. Ia akan tampil bukan hanya dengan kecerdasan spiritualitas yang mencengangkan, juga dengan akhlak dan kepribadian yang mengagumkan.

Bila kita berkehendak Indonesia mengalami perubahan ke arah yang lebih baik, maka kualitas puasa tahun ini harus terus ditingkatkan. Tentu tak mudah. Tapi bagaimanapun ini merupakan pekerjaan rumah yang harus dilakukan.

Langkah penyadaran umat tentang puasa yang sesungguhnya mesti segera dimasyarakatkan secara intensif. Bukan hanya tugas para ulama, dai, dan mubalig, pemerintah pun berkepentingan demi perubahan Indonesia ke arah yang lebih baik.

Menumbuhkan kesadaran pelaku puasa untuk mencapai kualitas khawasul khawas, jelas tidak mudah. Namun tentu selalu ada jalan. Salah satunya dengan menumbuhkan pemahaman yang komprehensif tentang dimensi-dimensi yang melekat pada ibadah puasa itu sendiri, baik dimensi teologis maupun sosiologis.

Penulis, Dosen UIN SGD Bandung

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Minggu, Juli 25, 2010

Menyiasati Minimnya Pelajaran Agama

Oleh NURHAYATI


TIDAK bisa dibantah lagi, tantangan kehidupan pada masa sekarang memang sangat berat. Tantangan tidak ringan ini berkembang sejalan dengan kemajuan zaman dan pesatnya teknologi informasi yang nyaris tak terbendung belakangan ini.Kini, di tengah kehidupan masyarakat, bukan hanya televisi yang berhasil mewarnai pola dan perilaku anak-anak kita. Beragam produk teknologi mutakhir pun tak ketinggalan. Baik itu berupa internet, vcd, play station, maupun sarana komunikasi lainnya, yang saat ini sangat mudah “dijamah” dan dinikmati putra-putri kita.

Realitas perkembangan pesat teknologi tersebut tentu berimplikasi besar terhadap perilaku dan akhlak anak-anak kita, yang kelak kemudian hari akan menjadi para pemimpin di negeri ini. Pasalnya, kesempatan untuk menikmati dan memanfaatkan fungsi media-media modern itu sungguh terbuka sangat lebar. Bahkan nyaris sulit dikendalikan.

Ambil contoh, misalnya, kesempatan anak-anak kita untuk menikmati dan menyaksikan tayangan-tayangan yang disajikan media televisi. Kita tahu, hampir di setiap rumah, televisi telah ada. Bak pisau bermata dua, televisi akan bisa berdampak positif, sebaliknya juga berpengaruh negatif. Sangat tergantung kepada banyak hal. Satu diantaranya tergantung kepada program-program televisi yang ditayangkan.

Si “kotak ajaib” hanyalah sebuah media. Baik-buruknya imbas terhadap pemirsa—terutama anak-anak—akan sangat tergantung pada baik-buruknya acara yang ditayangkan. Kita, sebagai kalangan pendidik, tentu pantas merasa was-was bila kemudian televisi akan memberikan warna tak baik terhadap akhlak dan perilaku para peserta didik. Sebabnya, acara-acara televisi yang ditayangkan di negeri kita cenderung tidak mendidik.

Tayangan-tayangan tidak bermutu itu nyaris tak terbendung. Anak-anak pun menjadi tidak punya pilihan lain kecuali ‘menikmatinya’. Tayangan-tayangan seperti ini tentu saja akan berdampak buruk terhadap perkembangan akhlak dan mental akan-anak. Kekhawatiran kalangan pendidik dan orang tua sepertinya tak mampu diserap para pengelola televisi, mereka cenderung tak mau terhadap imbas negatif dari beragam tayangan buruk tersebut.

Ironisnya, di tengah ketidakpedulian para pengelola televisi itu, pendidikan agama di lembaga pendidikan pun sungguh sangat minim, yang tentu saja akan sulit untuk mampu mengimbangi ‘pewarnaan’ dominan yang dilakukan media televisi. Dalam kurikulum yang ada, pendidikan agama yang diberikan dalam satu minggu, hanya dua jam pelajaran. Berbeda dengan pelajaran-pelajaran lain, seperti Bahasa Indonesia misalnya, yang dalam seminggu mencapai enam jam pelajaran.
Mencermati tantangan zaman yang kian berat, maka untuk pendidikan agama yang dua jam itu, jelas sangat sedikit. Yang kita khawatirkan, adalah rusaknya akhlak dan mental anak-anak, karena tidak seimbangnya pendidikan agama dengan keadaan zaman saat ini. 

Haruskah jam pelajaran agama ditambah lebih banyak lagi? Hemat penulis, jelas sangat perlu. Namun untuk mengubah itu, selain butuh waktu, juga butuh kemauan dari para pemegang kebijakan. Bila begitu, langkah apa mesti kita lakukan segera? Menurut penulis, untuk mengatasi minimnya pelajaran agama, ada beberapa langkah yang layak untuk diterapkan.

Pertama, menyisipkan moral dan semangat keberagamaan di dalam mata pelajaran lain. Tentu tidak harus bersifat dogmatis, tapi lebih kepada substansi dan ruh dari inti keberagamaan. Baik itu akhlak, keimanan, maupun sikap dan perilaku yang sejalan dengan norma-norma agama.

Langkah menyisipkan substansi dan ruh dari norma keagamaan di dalam mata pelajaran lain memang tidak gampang, butuh kecerdasan para pengajar di dalam menyiasatinya. Namun, bila kita sepakat untuk optimal membangun anak didik yang bermoral dan beragama, maka langkah itu akan sangat mampu diaplikasikan. Kendati misalnya, awal-awalnya mengalami kesulitan, insya Allah pada akhirnya akan menjadi terbiasa.

Kedua, dalam tiap hari menyisihkan waktu sekitar lima hingga sepuluh menit untuk memberikan pendalaman agama terhadap para siswa. Kegiatan bisa dilakukan sebelum mata pelajaran pertama dilakukan. Bentuknya bisa beragam: seperti tadarus al-Qur’an dan terjemahnya, kupas hadits dan intisarinya, wejangan agama, maupun tanya-jawab. Bagusnya, ada penjadwalan: hari apa dan materi pendalamannya apa. Lebih bagus lagi dibikin secara sistematis ‘silabus khusus’ untuk materi pendalaman agama tersebut.

Pola tersebut sungguh sangat mungkin dilakukan, karena selain tidak memakan waktu, materi yang disampaikan pun tidak akan membuat berat para pengajar lain yang bukan pengajar agama. Namun untuk lebih menyeragamkan, ‘silabus khusus’ harusnya dibuat terlebih dahulu. Insya Allah, dengan jalan ini, minimnya pendidkan agama bisa terantisipasi. 

Langkah ketiga, yaitu dengan menyediakan waktu—di luar jam sekolah--dalam seminggu antara satu hingga dua jam untuk acara khusus keagamaan. Bentuknya ceramah umum, baik itu disampaikan oleh guru agama sekolah masing-masing, maupun mendatangkan tokoh agama dari luar sekolah. 

Dengan pola itu diharapkan pemahaman keagamaan para siswa akan terus terbina dan tertingkatkan. Yang pada akhirnya, bukan hanya mampu menyiasati minimnya jam pelajaran agama, tapi juga akan mendukung kuatnya ketahanan mental dan akhlak siswa dari godaan zaman yang makin menggila.

Langkah keempat, pengajar agama mewajibkan para siswanya untuk belajar agama di luar sekolah. Namun langkah ini, selain harus bekerjasama dengan pihak orang tua, juga harus dimonitor dan dipantau secara rutin. Caranya bisa dengan disediakannya buku khusus kegiatan keagamaan siswa, seperti yang lazim dilakukan pada bulan Ramadhan. 

Secara ideal, keempat langkah memang sebaiknya diterapkan. Namun bila dipandang masih terasa berat bisa dilakukan salah-satunya. Insya Allah, dengan pola begitu, kekhawatiran kita tentang robohnya akhlak dan moral siswa akan tertanggulangi. Para pendidik dan orang tua juga akan merasa reug-reug, karena harapan agar para siswa cerdas, berkeimanan kuat, dan berakhlak baik, akan bisa terwujud.

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Minggu, Juli 25, 2010

Peduli Terhadap Kaum Dhuafa

Oleh ENJANG MUHAEMIN

Kepedulian sosial merupakan salah satu aspek penting dalam ajaran Islam. Sebagai agama yang agung dan luhur, Islam mendorong umatnya untuk selalu peka pada penderitaan kaum dhuafa dan peduli membantu orang-orang yang hidup dalam kemiskinan dan kekurangan. Banyak ayat dan hadits yang mesti dijadikan pengingat kelalaian dan kealpaan kita dalam membantu dan mencintai orang-orang yang fakir dan miskin. 

Dalam al-Hasyr ayat 7 kita diingatkan bahwa harta kekayaan tidak boleh berputar hanya di tangan kelompok kaya saja. Dalam az-Zariyat ayat 19, Allah SWT pun menegaskan bahwa di dalam kekayaan kita sesungguhmya terdapat hak golongan fakir miskin.

Peringatan di atas sudah selayaknya menyadarkan kita dari keserakahan terhadap yang dianugerahkan Allah. Kehidupan kita yang bergelimang harta tak seharusnya melupakan kehidupan orang-orang yang menderita di sekitar kita. 

Egoisme dan sikap masa bodoh mesti dikikis dari jiwa muslim sejati. Sebaliknya, sikap pemurah, belas kasih, dan suka menolong layak untuk untuk terus ditumbuhkembangkan. Baginda Rasulullah SAW telah memberikan keteladanan yang patut ditiru dan diikuti.

Diriwayatkan bahwa seorang lelaki meminta kepada beliau, lalu ia memberinya sekawan kawan di antara dua buah bukit. Kepedulian dan kecintaan beliau terhadap orang-orang miskin tak lagi dapat dipungkiri. Demi orang miskin, beliau tak ragu untuk membantunya.

Suatu hari, seseorang menghadap beliau dan meminta sesuatu. Beliau bersabda, “Tidak ada sesuatu padaku, akan tetapi belilah kamu sesuatu atas namaku, apabila datang kepada kita sesuatu kita akan melunasinya.”

Sungguh suatu teladan yang mengagumkan. Sekalipun beliau bukan seorang konglomerat, bukan orang yang kaya raya dan bergelimang harta benda, toh beliau peduli dan memberikan perhatian penuh. 

Di tengah kekayaan yang kita miliki, adakah getar hati untuk mengikuti serta meneladani sikap Rasulullah SAW terhadap kaum dhuafa? Ingatlah pada sabda beliau, “Serahkan sedekahmu sebelum datang suatu masa ketika engkau berkeliling menawarkan sedekahmu. Orang-orang miskin akan menolaknya seraya berkata, ’Hari ini kami tidak perlu bantuanmu, yang kami perlukan adalah darahmu’.” 

Fenomena realitas yang muncul belakangan ini merupakan indikator ke arah itu. Prediksi Rasulullah SAW sudah seharusnya kita renungi. Munculnya tindak kekerasan, perampokan di siang bolong, kejahatan yang sudah tidak mempedulikan lagi darah dan nyawa korban, boleh jadi merupakan tanda-tanda dari rendahnya tingkat kepedulian kita terhadap kaum dhuafa.

Fasilitas Menuju Surga
Harta kekayaan adalah amanat dan ujian. Sebagai amanat, harta kekayaan mesti dipelihara dan dijaga penyalurannya agar tidak jatuh pada jalan kemaksiatan. Sebagai ujian, harta kekayaan adalah sesuatu penentu masa depan kita di akherat: surga atau neraka. Ini artinya bahwa harta kekayaan yang kita miliki: dari mana asalnya dan bagaimana penyalurannya akan menentukan posisi kita kelak.

Harta kekayaan yang berasal dari usaha yang halal dan disalurkan untuk kepentingan amal shaleh, termasuk di dalamnya membantu orang-orang miskin, maka bagi pemiliknya akan ditempatkan Allah SWT di surga. Rasulullah SAW menegaskan, “Segala sesuatu ada kunci, dan kunci surga adalah mencintai orang-orang miskin.”

Bagi hartawan, harta kekayaan dan kaum dhuafa merupakan “proyek” kebahagiaan di akherat kelak. Kelompok yang kaya raya, mestinya bersyukur karena dilimpahkan Allah kepadanya alat dan fasilitas menunju surga. Kebahagiaan di akherat jauh lebih baik dibanding kebahagiaamn yang di dunia yang serba nisbi dan relatif.

Sebaliknya, harta yang diperoleh dari usaha yang haram, atau harta halal yang disalurkabn tidak sejalan syariat Islam maka baginya siksa neraka yang berat tiada tandingannya. Tidak peduli pada orang-orang miskin merupakan satu di antara sebab kesalahan kita dalam menyalurkan harta kekayaan. Tak aneh bila orang kaya yang mengabaikan orang miskin dianccam dengan neraka sebagai tempat kembali. 

Rasulullah SAW mengingatkan, “Kelak di hari akherat, ketika penduduk neraka ditanya penghuni surga mengapa mereka masuk neraka, mereka menjawab, “Dahulu kami tidak melakukan shalat, dan tidak memberi makan orang miskin.”

Karenanya, siapa pun kita sudah segera menyadari untuk peduli pada orang-orang miskin. Di sekitar kita, masaih banyak yang hidupnya pas-pasan, bahkan yang sedikit kekurangan. Masih banyak saudara kita yang hanya untuk makan saja perlu ngutang sana ngutang sini. Tidak tergetarkah hati kita untuk membantunya?
Insya Allah, harta kekayaan yang kita sedekahkan tidak akan membuat kita jatuh miskin. Bahkan harta kekayaan kita akan terus melimpah dan bertambah. Demikian itu, adalah realitas yang kerap sulit dipahami banyak orang. 

Untuk menjadi seorang mukmin yang baik, berkait dengan kepedulian kita terhadap kaum dhuafa, sabda Rasulullah SAW berikut sepatutnya kita renungkan: “Bukan mukmin, seseorang yang makan kenyang sementara tetangganya kelaparan.” Barangkali inilah sepercik renungan di tengah kejahatan yang semakin merebak

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Minggu, Juli 25, 2010

Konci Pamingpin Muka Tali Kanyaah Rahayat

Ku: Enjang Muhaemin

Kacida endahna lamun kahirupan kiwari persis kahirupan di jaman Rasulullah SAW. Pamingpin nyaah ka rahayatna, rahayatna oge nya kitu deui. Sigana mah nu disebut krisis ekonomi, krisis moneter, krisis kapamingpinan, jeung krisis sabangsana teh moal kajadian di nagara urang.

Neang pamingpin nu mikanyaah tur dipikanyaah ku rahayatna teh teu gampang. Komo dina mangsa kiwari, nu meh sagalana diukur ku kapentingan dunyawi. Salila euweuh kapentingan kadunyaan nu nguntungkeun mah biasana sok disapirakeun. Teu di pamingpin teu di rahayat, kitu kanyataan teh geus ampir ilahar. 

Padahal, silih pikanyaah antara pamingpin jeung nu dipingpinna teh hiji konci pikeun ngawujudkeun suksesna pangwangunan dina sagala widang. Sabalikna, lamun pamingpin jeung nu dipingpinna geus euweuh tali kanyaah nu nganteng dina ati sanubari masing-masing, tangtuna nu disebut baris sukses ngahontal tujuan jeung cita-cita pangwangunan teh kacida jajauheunana.

Di jaman Rasulullah SAW, tali kaasih jeung kanyaah antara nu dipingpin jeung dipingpinna teh kacida kuatna. Ku kituna teu kudu hemeng, lamun harita Rasulullah SAW bisa sukses ngawangun peradaban Islam dina waktu nu teu lila. Konci nu utamana taya lian nya eta numuwuhkeun sikep silih pikanyaah jeung silih pikaasih.Lamun nagara urang hayang maju, hayang sukses ngawujudkeun pangwangunan koncina teh nya eta tadi: numuwuhkeun rasa silih pikanyaah antara pamingpin jeung rahayatna. Lamun silih asih, silih asah, jeung silih asuh geus ngabaju insya Allah naon nu dicita-citakeun baris kalaksana.

Kasuksesan Rasulullah
Suksesna Rasulullah SAW kuduna mah jadi enteng. Para pamingpin Islam boh di tingkat lokal boh di tingkat nasional, kudu ngajadikeun Rasulullah SAW minangka uswah. Ku jalan kitu, lain saukur kabina naon nu disebut tali ukhuwwah islamiyahna, tapi oge baris kabina tali ukhuwwah insaniyahna. 

Deudeuh jeung nyaahna para sahabat ka Rasulullah SAW pada harita, hiji bukti kuatna tali kanyaah antara pamingpin jeung nu dipingpinna. Malah apanan, saperti nu geus didadarkeun dina HR Ibnu Hatim mah, para sahabat teh nepi ka aralim papisah jeung Kanjeng Rasul SAW teh. 

Dina eta hadits dijentrekeun kumaha kanyaahna para sahabat ka Kanjeng Nabi SAW. Nepi ka para sahabat harita nyararita kieu: “Ya Rasulullah, abdi sadaya alim papisah ti Rasul, tapi engke di aherat Rasul mah bakal diangkat sasarengan sareng para Nabi sadayana kana darajat nu langkung mulya ti umat nu sanes. Ku kituna tinangtos abdi sadaya moal tiasa riung-mungpulung deui sapertos ayeuna.”

Kacida endahna lamun kahirupan kiwari samodel kitu. Pamingpin nyaah ka rahayatna, rahayatna oge nya kitu deui. Sigana mah nu disebut krisis ekonomi, krisis moneter, krisis kapamingpinan, jeung krisis sabangsana teh moal kajadian di nagara urang. Kiwari mah apanan sabalikna, nu disebut tali kanyaah teh saukur diiket ku kapentingan kadunyaan wungkul. Jauh mela-melu dibanding jeung jaman Rasulullah SAW. 

Sikep jeung akhlak Rasulllah SAW nu mikanyaah ka rahayatna mangrupa konci pikeun muka tali kanyaah rahayatna ka dirina. Lamun silih pikanyaah geus ngawujud tangtuna oge naon-naon nu dicita-citakeun teh baris kahontal. Tapi hanjakal, para pamingpin di urang mah siga nu tara maca sajarah kasuksesan Rasulullah SAW.

Hemeng tuda di nagara urang mah. Ari jadi pamingpin pahayang-hayang, ari ngabuktikeun diri mikanyaah ka nu dipingpinna teu ieuh dilaksanakeun. Kanyaah ka rahayat teh saukur diucapkeun, bari teu ieuh ngabukti. Sok we tengetan kiwari. Ari rek pemilu mah apanan paboro-boro meuli hate rahayat teh. Teu sirikna siga nu rek pangbelana ka rahayat teh. 

Tapi lamun geus jadi, naon nu dikedalkeun, naon nu dijangjikeun teh poho kabina-bina. Kitu tah kalolobaanana para pamingpin di nagara urang mah. Matak pantes lamun rahayat ngarasa dinyenyeri, ngarasa dikakaya. Lamun hate rahayat geus raheut, timbul we sikep teu percaya ka pamingpin. Antukna, najan enya programna hade, rahayat jadi apatis, nu ahirna pangwangunan nu dicita-citakeun oge baris moal kalaksana. Lamun geus kieu apanan bahaya. Tah ieu panginten nu kedah janten emutan para pamingpin di urang teh, boh di pamingpin tingkat lokal boh pamingpin di tingkat nasional.

Tali asih antara pamingpin jeung dipingpinna teh kacida pentingna. Konsep silaturahmi dina ajaran Islam salasahijina pikeun numuwuhkeun silih pikadeudeuh pikaasih sapapait samamanis. Siliturahmi nu meungkeut pamingpin jeung nu dipingpinna nepi ka bener-bener sapapait samamanis teh geus dibuktikeun dina jaman Rasulullah SAW. Ti dinya pisan nu jadi marga lantaran Rasulullah SAW mampuh ngawangun peradaban Islam nu taya tandingna, dina waktu nu kacida pondokna.

Picontoeun
Dina konsep Islam, pamingpin teh mibanda tanggung jawab nu kawilang gede tur kacida beuratna. Cing urang lenyepan pidawuh Allah SWT di handap ieu, nu hartosna kirang langkung kieu: “Naha aranjeun teu merhatikeun jalma-jalma nu geus nukeurkeun ni’mat Allah ku kakufuran jeung ngagejretkeun kaomna ka lembah kabinasaan? Pikeun maranehna naraka jahannam. Maranehna asup ka jerona, jeung eta tempat teh panggoreng-gorengna tempat pangbalikan,” (QS. Ibrahim: 28-29).

Beurat jadi pamingpin teh, mun teu bisa mawana mah baris tisoledat kana jalan nu salah. Ku kituna, sing ati-ati lamun urang kabeneran dipercaya jadi pamingpin. Sabab, saperti kaunggel dina ayat di luhur oge, beurat geuning jadi pamingpin teh. Mun teu bener mawana bisa cilaka tigebrus kana naraka.

Sacara sosiologis, hade-gorengna rahayat hiji nagara loba gumantung kana hade-gorengna nu jadi pamingpin. Disebut kitu, sabab nu baroga kakawasaan teh apanan maranehna. Ti mimiti nu nyieun kawijakan makro nepi ka kawijakan mikro, apanan maranehanana. Rahayat mah saukur ngalaksanakeun. Jadi, lamun para pamingpin di hiji nagara salah nyieun kawijakan, tangtuna nu baris kabawa cilaka teh lain saeutik.

Sabalikna, lamun para pamingpinna mampuh mawa kakawasaanana pikeun kamaslahatan umat nu luyu jeung aturan Allah, tinangtu nu baris kabawa bagja oge baris loba. Tah eta nu jadi lantaran pentingna milih pamingpin nu bener teh. Sabab dampak jeung pangaruhna bakal gede tur lega.

Ku kituna, dina kondisi kumaha wae oge, nu jadi rahayat teu bisa sagawayah dina milih pamingpin. Sing ati-ati jeung tarabti, bisa hanjakal jaga. Para calon pamingpin, oge sing bener-bener ngabekelan diri sangkan dina jadi pamingpinna bisa mangpaat pikeun sakumna rahayat. Malah para calon pamingpin ti umat Islam mah geus sakuduna ti ayeuna keneh ngasakkeun diri. 

Sabenerna, lamun hayang bener jadi pamingpin mah, kudu asak nitenan jeung ngalarapkeun kahirupan sakumaha nu geus dicontokeun Rasulullah SAW. “Saestuna geus aya dina diri Rasulullah SAW picontoeun nu hade pikeun anjeun, pikeun jalma-jalma nu miharep (rahmat) Allah jeung (datangna) poe kiamah jeung loba dzikir ka Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).

Pamingpin nu bener, baris mawa rahayatna kana jalan nu lempeng, jalan nu luyu jeung Al-Qur’an tur As-Sunnah. Lamun Al-Qur’an jeung As-Sunnah geus jadi patokan para pamingpin dina nyieun kawijakan, insya Allah nu ngaranna karaharjaan tur kabagjaan teh baris kacumponan. Kasalametan dunya rawuh aherat nu salila ieu ku rahayat diimpi-impikeun teh baris kalaksana.

Amanah kapamingpinan nu geus dipercayakeun kahade tong dilalaworakeun, sok komo disalahmangpaatkeun mah. Bisi matak kaduhung, boh di dunya boh di aherat. Lengkah paripolah jeung amal soleh nu sapopoe dilaksanakeun sing bener-bener teu mengpar tina Al-Qur’an jeung As-Sunnah. Ku jalan kitu, insya Allah, amanah kapamingpinan nu dipercayakeun ka urang teh baris mere kabagjaan nu kacida gedena.

Pikeun umat Islam nu kabeneran diamanahan nyepeng kalungguhan tur kakawasaan kudu diniatan ihlas karana Allah pikeun nanjeurkeun izzul Islam wal muslimin. Ruh jihad kudu nanceub jero dina dirina.

“Henteu sarua jalma-jalma golongan mu’minin nu candukul tanpa uzur jeung kaom mujahidin fi sabiilillaah nu ngorbankeun harta jeung jiwa-ragana. Allah ngangkat kaom mujahidin nu ngorbankeun harta jeung jiwana sadarajat leuwih luhur batan jalma-jalma nu candukul. Jeung Allah ngajangjikeun ganjaran nu alus pikeun maranehna sarerea. Tapi Allah ngaganjar kaom mujahidin ku ganjaran nu leuwih gede batan ganjaran pikeun nu carandukul.” (QS. An-Nisa: 95).

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Minggu, Juli 25, 2010

Video Mesum, Publik Media, dan Agama

Oleh ENJANG MUHAEMIN

Video mesum yang diduga dilakukan artis Luna Maya dan Ariel luar biasa menghebohkan. Bukan hanya menyebar di media internet, tetapi juga telah merambah telepon genggam. Bukan hanya diunduh orang dewasa, tetapi juga banyak ditonton kaum remaja dan anak-anak. 

Realitas itu tentunya membuat kegelisahan dan kegundahan banyak pihak. Bukan hanya orang tua, pendidik, tokoh masyarakat, dan agamawan, tetapi juga elemen masyarakat lainnya yang peduli pada tegaknya norma dan moral masyarakat. Bukan tanpa alasan bila banyak kalangan yang risau. Pasalnya, video mesum sejenis itu, bukan kejadian pertama kali di negeri ini. Berulang, dan berulang tiada henti. Para ‘pemain’ adegan syur semacam itu ‘hebatnya’ lagi banyak dilakukan publik figur yang semestinya menjadi teladan yang baik.

Di tengah tingginya dekadensi moral dan penyakit sosial yang melanda negeri ini, wajar betul bila video mesum yang ‘diperankan’ kaum selebritas dikhawatirkan memiliki dampak buruk yang lebih signifikan. Sebagai publik figur, yang dalam banyak hal ditiru masyarakat dan kerap dijiplak habis kaum remaja, sudah semestinya tahu diri untuk tidak melakukan sikap, ucap, dan perbuatan yang asusila. 

Publik figur, bagaimanapun, harus memiliki tanggung jawab moral dan sosial yang jauh lebih tinggi dibanding manusia lainnya. Ketika seseorang menjadi publik figur sudah semestinya tertanam di dalam dirinya bahwa ia akan menjadi rujukan, ikutan, dan panutan. Karenanya memiliki akhlak dan moral yang baik adalah suatu keharusan yang sejatinya telah tertanam dalam dirinya, dan terejawantahkan dalam kehidupannya.

Perkembangan pesat teknologi komunikasi memang telah menawarkan kemudahan dalam banyak hal. Termasuk pembuatan video mesum, yang bisa ditangani secara cepat dan sederhana oleh pembuat amatir sekalipun. Tidak rumit, juga tidak sulit. Penyebarannya juga amat sangat mudah. Dalam waktu yang singkat, dengan menggunakan internet saja sudah bisa diunduh ribuan orang. Lalu, dengan dibantu media hanphone, maka dalam sekejap pula bisa menyebar ke jumlah yang jauh lebih besar. Bukan hanya oleh masyarakat kota-kota besar di dunia, tetapi juga sampai kampung terpencil di berbagai penjuru negeri. 

Dalam kondisi semacam ini, maka tidaklah mengherankan bila kekhawatiran masyarakat akan dampak buruk video mesum semakin tinggi. Ini memang dapat dimengerti dan dimafhumi. Terlebih bila kita merujuk Instinctive S-R Theory, yang menyebutkan bahwa media menyajikan stimuli perkasa yang secara seragam diperhatikan massa. Stimuli ini membangkitkan desakan, semosi, atau proses lain yang hampir tidak terkontrol oleh individu. Setiap anggota massa memberikan respon yang sama pada stimuli yang datang dari media massa.

Beragam Solusi
Berangkat pada kenyataan dan kekhawatiran masyarakat terkait dengan efek video mesum, tentunya memunculkan beberapa solusi. Beberapa di antaranya yang dapat dilakukan adalah, pertama, penegakan dan pemberian sanksi hukum yang sepadan kepada para pelaku yang secara sengaja membuat dan menyebarkan video mesum tersebut. Dari mulai ‘para pemain’, pembuat, hingga pelaku yang mendistribusikannya. Sanksi hukum menjadi penting agar memunculkan efek jera, dan meminimalisir kemungkinan pihak lain untuk melakukan hal serupa. Video mesum, dengan dalih koleksi pribadi sekali pun, tetap harus mendapat sanksi hukum. “Mereka harus dipenjara karena melanggar norma agama dan undang-undang,” kata Farhat Abbas, pengacara yang juga Ketua LSM Hukum Jamin Rakyat, di Jakarta, Senin (7/6).

Selama ini, para pelaku video mesum umumnya nyaris terbebas dari sanksi hukum. Kondisi ini tentunya akan berimbas pada kemungkinan lahirnya video-video panas lainnya yang mungkin jauh berbahaya. Karenanya, guna melindungi masyarakat dari penyakit moral yang lebih parah, maka memberi sanksi hukum menjadi sangat penting dan tepat. Dan ini menjadi tugas para penegak hukum untuk membendung munculnya video-video asusila lainnya di kemudian hari. 


Penegakan hukum saja tentu tidak cukup. Langkah kedua, adalah tugas dan tanggung jawab orang-orang yang melek teknologi internet. Kelompok ini, memiliki tanggung jawab moral untuk menjadikan internet sebagai media yang bermanfaat. Kita mafhum, internet tak ubahnya pisau bermata dua, sangat tergantung pada siapa dan untuk apa digunakan. Video-video mesum yang didistribusikan melalui media internet, selayak segera diblokir, agar tidak bisa diakses dan diunduh. Teknologi untuk yang satu ini tentunya hanya dikuasai oleh segelintir orang yang melek internet. Di pintu gerbang utama ini pulalah kita gantungkan harapan. 

Langkah ketiga, masyarakat harus turut membendungnya dengan tidak mengunduh dan menyebarkannya. Realitas memang menunjukkan lain. Didorong bermacam motif, dan rasa penasaran yang tinggi, harus diakui yang terjadi justru banyak orang yang bertindak sebaliknya: mengunduhnya. Parahnya lagi, sebagian orang malah turut serta menyebarkannya melalui media handphone. Secara tidak sadar, mereka sebenarnya tengah menyebarkan ‘virus asusila’ yang sesungguhnya mereka khawartirkan. Sikap paradoks ini mestinya tidak terjadi bila kita memiliki komitmen moral untuk membendungnya.

Ketiga langkah di atas akan jauh efektif lagi, bila langkah keempat yakni menanamkan nilai-nilai agama ke dalam diri anak dilakukan sejak dini. Orang tua, pendidik, dan agamawan tidak bisa dengan serta merta bak pemadam kebakaran, yang bertindak hanya ketika terjadi peristiwa. Bila ini yang dilakukan tidak akan banyak manfaatnya. Tindakan preventif jauh lebih penting dan sangat efektif. Benih keagamaan dan nilai-nilai moral yang baik akan membuahkan benteng kekuatan pada diri seseorang. Seberapa hebatnya kekuatan perusak dari luar diyakini tidak akan berpengaruh banyak pada diri orang yang di dalam dirinya telah tertanam nilai-nilai keagamaan secara memadai. 

Benteng Agama
Menanamkan nilai dan norma keagamaan pada diri anak sejak dini adalah suatu keharusan. Karakter dan kepribadian anak yang terbina dengan pendidikan agama yang baik akan mampu membendung beragam pengaruh luar yang merusak. Termasuk video asusila yang kian merisaukan orang tua. Era globalisasi dan kemajuan teknologi komunikasi yang luar biasa pesatnya, tidak mau tidak harus dibarengi dengan penanaman nilai-nilai kegamaan pada diri anak. Anehnya, pandangan ini dianggap klise, dan diabaikan oleh banyak orang tua, dengan dalih sibuk bekerja dan sebagainya. Bila kita tidak peduli dengan akhlak anak, jangan salahkan bila kelak anak-anak kita menjadi bumerang bagi orang tuanya. Karena kita memang telah mengabaikan mereka.

Media dengan segala pengaruhnya, sejatinya akan sangat tergantung pada siapa yang menerimanya. Efek media tidak seragam, sangat tergantung pada ketahanan penerima terpaan media. Efek media tidak selamanya seperti diungkapkan teori jarum hipodermis, yang begitu ‘disuntikkan’ begitu ampuh mempengaruhinya, tetapi sangat tergantung pada tingkat ketahanan penerimanya. Di sinilah peran agama akan memposisikan diri sebagai benteng ketahanan yang ampuh untuk membendung pengaruh luar yang negatif dan konstruktif. 

Carl I. Hovland pernah melakukan beberapa penelitian eksperimental untuk menguji efek film. Ia dan kawan-kawannya menemukan bahwa film hanya efektif dalam menyampaikan informasi, tetapi tidak dalam mengubah sikap. Efek ini tentu harus dimaknai ketika khalayak yang diterpa media itu memiliki ketahanan iman, akhlak dan moral. Dalam konteks ini, kendati memang kita tetap harus membendung peredaran video mesum, namun begitu, pengaruh video semacam itu tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Namun sebaliknya, bila orang yang diterpa pesan video itu lemah dalam iman, akhlak, dan moralnya, maka ini yang paling perlu diwaspadai. 

Kini, yang perlu dipertanyakan lebih jauh adalah seberapa besar kita telah mendidik dan menanamkan nilai-nilai agama dan norma masyarakat yang baik kepada anak-anak kita? Bila saja hati dan pikiran anak-anak kita telah kita tanami nilai-nilai agama dengan baik, maka insya Allah, kita akan menuai buah didikan dengan mendapatkan akhlak dan perangai anak yang membanggakan dan membahagiakan. Terpaan media yang bermuatan buruk akan berhasil ia enyahkan dengan baik. Semoga.

Penulis, pemerhati media,
& dosen Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi,
UIN SGD Bandung.




Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Sabtu, Juli 24, 2010

Video Mesum dan Akar Penyakit Sosial

Oleh ENJANG MUHAEMIN

Penyakit sosial tak ubahnya kanker ganas yang lamban-laun dapat menggorogoti sekujur tubuh. Sebagai penyakit dalam, bahaya kanker memang tidak terlihat oleh mata telanjang, sama halnya dengan penyakit sosial. Tidak terlihat, tapi tidak berarti tidak berbahaya. 

Menikah adalah tuntunan agama. Dalam konsepsi Islam, menikah merupakan pintu suci menuju gerbang kehidupan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Hubungan lawan jenis yang awalnya haram, dengan menikah, menjadi halal. Hubungan intim yang awalnya maksiat, setelah menikah, menjadi ibadah. Dari keluarga harmonis seperti inilah, negara yang toyyibatun wa rabbun ghafur tercipta. Karena bagaimana pun, keluarga merupakan institusi terkecil dari sebuah relasi sosial yang berlaku. Itulah indahnya menikah dengan berlandaskan agama. 

Namun sayangnya, di tengah terpaan budaya global, yang enggan melakukan pernikahan tampaknya terus menanjak naik. Berzina dan gaya hidup free sex menjadi jalan pintas yang dipandangnya sebagai alternatif. Ironisnya lagi, perilaku asusila ini tidak sedikit yang dilakukan oleh public figure. Dampak lanjutannya, tentu dapat ditebak, kian merambah ke berbagai kalangan. Bukan hanya orang dewasa, tetapi juga diikuti generasi muda usia. 

Berbagai penelitian tentang hubungan intim yang dilakukan kalangan mahasiswa dan pelajar, dengan tanpa ikatan pernikahan yang sah, sungguh sangat mencengangkan. Di Yogyakarta, Jakarta, Bandung, dan kota-kota besar lainnya di Indonesia menunjukkan hal serupa: zina dianggap lumrah dan hal wajar. Pemahaman serupa juga merangsek masuk ke dusun-dusun di perkampungan. Ini merupakan fenomena sosiologis yang mengkhawatirkan, sekaligus mesti ditanggulangi dengan serius. 

Video-video mesum yang ‘terpublikasikan’ di internet, dan diberitakan media cetak dan televisi, ditambah dengan beragam hasil penelitian, sudah seyogyanya mendorong berbagai pihak untuk menyikapinya dengan penuh kesungguhan. Jangan hanya dilirik dengan sebelah mata, dan ditangani dengan setengah hati. Jangan biarkan masyarakat negeri ini jatuh lebih dalam ke lembah patologi sosial yang lebih mencemaskan. Berhati-hatilah, karena perilaku seks bebas tengah menjadi ancaman. 

Indonesia sebagai negara yang tengah banyak dilanda musibah, sudah semestinya tidak berdiam diri. Sebab jangan-jangan, musibah yang terus menimpa bangsa kita ini ada korelasinya dengan perilaku masyarakat yang telah mengabaikan norma agama dan budaya. Karena itu, melacak akar penyebab tumbuh-kembangnya seks bebas khususnya, adalah suatu keharusan. Berbagai penelitian komprehensif, dan pencarian solusi mesti menjadi langkah mutlak. Tak bisa ditawar-tawar, juga tak bisa dibiarkan begitu saja.

Memudarnya Norma Moral
Memudarnya norma moral dan perilaku keberagamaan di kalangan masyarakat, tentunya memiliki faktor penyebab yang beragam. Namun dari semua itu, menurut hemat penulis, dapat disederhanakan menjadi tiga faktor. Pertama, kian tersingkirnya peran agama di tengah kehidupan keluarga. Komitmen orang tua untuk yang satu ini kian mengecil, bahkan nyaris hilang. Nasehat-nasehat yang agamis umumnya tak banyak lagi kita dengar. Dorongan dan dukungan untuk berakhlak baik dan taat teguh pada norma agama juga terasa amat sepi. 

Yang kerap menjadi perhatian kita sebagai orang tua umumnya hanya sebatas prestasi dan nilai-nilai kuantitatif pendidikan. Dengan siapa, dan bagaimana anak-anak kita bergaul nyaris lepas dari perhatian. Kita sudah merasa puas bila nilai-nilai yang tercantum di buku rapornya baik, tak peduli itu hasil nyontek atau dikerjakan orang lain. Kita sering merasa malu ketika anak-anak kita nilainya jelek, tapi tidak merasa malu saat akhlaknya dan perangainya buruk. Kondisi inilah yang membuat anak-anak kita tidak lagi memiliki pegangan, pedoman, uswah, dan rujukan hidup yang baik. 

Kedua, menyusul tersingkirnya agama dalam kehidupan keluarga, maka media, khususnya internet dan televisi akhirnya menjadi ‘agama’ baru yang ‘ajaran-ajarannya’ diikuti dan ditaati. Apa yang dikhutbahkan televisi dan disodorkan internet menjadi rujukan, dan pedoman bagi hidupnya. Dari mulai cara bertutur, bersikap, hingga berpakaian, ‘agama’ baru itulah yang menjadi rujukannya. Pesan-pesan “agama” baru ini ujung-ujungnya dijadikan ‘dogma’ tak tertandingi dibandingkan agama-agama yang sesungguhnya. “Agama” baru memang telah mengambil alih peran agama, suatu ironi yang tidak semestinya terjadi. 

Media tak ubahnya pedang bermata dua. Bisa sangat bermanfaat, bisa juga melahirkan mudharat, amat tergantung siapa yang memegang dan mengendalikannya. Di tangan orang yang salah, media bisa menjadi sumber penyebab datangnya laknat. Sebaliknya, di tangan yang orang saleh, media akan menjadi kunci pembuka pintu rahmat. Di tengah konteks kekinian, di tengah penyakit masyarakat merebak dengan hebatnya, dan di tengah musibah yang nyaris tiada henti, para pemegang dan pengendali media sudah seyogyanya melakukan introspeksi diri. Tayangan yang sekadar menjual mimpi dan memamerkan aurat tak selayaknya menjadi menu siaran. Rancang ulang program, susun kembali perencanaan, agar media melahirkan kemaslahatan bagi masyarakat. 

Dalam kasus video mesum dan foto-foto seronok yang dilakukan pelaku asusila, media massa sudah seharusnya bersikap cerdas. Hindari peyangan foto dan cuplikan adegan dari video porno yang mengundang rasa penasaran publik. Pernyataan Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Nezar Patria, layak diperhatikan. Ia mengingatkan, bahwa seorang jurnalis dalam bekerja harus patuh pada UU Pers No. 40/1999 Pasal 5 ayat 1 yakni pers nasional berkewajiban memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) harus lebih proaktif. Baik KPI Pusat maupun KPI Daerah. Tayangan yang keluar dari norma agama, sosial, dan budaya layak mendapat teguran keras. Pun demikian, tayangan hiburan yang tidak mendidik, baik dari substansi isi maupun dari aksi dan busana para pemain yang sudah melewati batas kewajaran. Busana erotis yang kerap ditontonkan para selebritis di layar kaca, kini sudah tidak canggung lagi dipakai sebagian kaum hawa sebagai busana sehari-hari. Tak hanya dipakai di rumah, tapi juga digunakan ke kantor, ke pasar, bahkan ke kampus sekalipun. Sungguh, pengaruhnya luar biasa. Karenanya, para artis selayaknya menyadari akan keberadaannya sebagai public figure, yang dalam banyak hal diikuti dan ditiru, layaknya guru di zaman dulu. 

Faktor ketiga, sikap pemerintah yang sering abai dan tidak tegas terhadap persoalan penyakit sosial. Para pelaku asusila mestinya ditindak tegas dengan sanksi yang sepadan. Selama ini masih ada kesan bahwa penyakit sosial dianggap penyakit ringan yang tidak membahayakan. Padahal, penyakit sosial tak ubahnya kanker ganas yang lamban-laun dapat menggorogoti sekujur tubuh. Sebagai penyakit dalam, bahaya kanker memang tidak terlihat oleh mata telanjang, sama halnya dengan penyakit sosial. Tidak terlihat, tapi tidak berarti tidak berbahaya. Kata Syauqi Bey, “Tegak rumah karena sendi. Runtuh sendi rumah binasa. Sendi bangsa adalah akhlak. Runtuh akhlak runtuhlah bangsa.”

Sebagai fenomena sosial, video syur yang banyak beredar di dunia maya, tentunya tidak bisa dianggap sepele. Dalam alam nyata, praktik perzinaan yang ‘tidak terpublikasikan’ bisa jadi jauh lebih banyak lagi. Bahkan dikhawatirkan sudah dalam tingkat yang kronis. Dan ini tentunya harus dijadikan alarm, ‘peringatan’ bagi siapa pun, agar negeri tercinta ini tidak terus terpuruk dalam dekadensi moral yang tak berujung.***

Penulis,
Dosen Ilmu Jurnalistik pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi,
UIN SGD Bandung.

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Sabtu, Juli 24, 2010

MIRAS, LABEL HARAM, DAN DAKWAH KEKUASAAN

Oleh ENJANG MUHAEMIN

Minuman keras kembali memakan korban. “Tidak ada kata kapok. Lagi-lagi minuman keras oplosan merenguk nyawa penenggaknya…. Dua tetangga yang masih bertetangga itu tewas diduga akibat meneggak oplosan jamu dicampur minuman keras dalam dua hari berturut-turut.”
(Pikiran Rakyat, 5 Juni 2010)

BELAKANGAN, korban tewas yang menimpa para pelaku ‘pesta minuman keras’ (miras) kian sering dipublikasikan media massa. Bukan hanya diberitakan media cetak, tetapi juga disiarkan radio, dan ditayangkan televisi. Namun anehnya, mereka yang terbiasa dengan barang haram ini masih saja tidak jera. Kendati korban terus berjatuh, para pecandu miras pun tetap jalan terus. Mereka, dalam bahasa Alqur’an, tak ubahnya orang yang sudah masuk dalam kategori summum ngumyun, punya telinga tapi tidak mendengar, punya mata tapi tak melihat. 

Bagi tipologi manusia yang demikian tentu saja butuh cara lain. Informasi dan bukti yang disodorkan media massa nyatanya tidak banyak membantu untuk menghentikan mereka. Mereka sudah kebal, sudah immun. Daya tembus ‘peluru’ media menjadi tumpul, karena tembok baja yang mereka bangun sudah begitu tebal dan kuat. 

Dalam perspektif dakwah, untuk mengubah perilaku orang semacam ini, juga tidak mudah. Butuh cara dakwah yang tepat. Baginda Rasul SAW pernah menegaskan, “Barangsiapa yang melihat kemunkaran maka ubahlah dengan tanganmu. Bila kamu tidak mampu, maka ubahlah dengan lisanmu. Bila tidak mampu juga, maka ubahlah dengan hatimu, dan ini adalah yang selemah-lemahnya iman.”

Ubahlah dengan “tanganmu” bukan hanya dimaknai tangan dalam arti anggota badan semata. “Tangan” dalam konteks ini, juga harus dimaknai sebagai kekuasaan. Bagi para pecandu miras, keharaman minuman keras tidak begitu efektif bila hanya dilisankan semata. Dakwah-dakwah bil-lisan para kiai, bagi mereka, menjadi tidak banyak berarti. Hanya berpengaruh sebatas kognitif, dan afektif saja. Mereka sudah paham dan yakin bahwa miras adalah haram. Tapi keharaman itu sendiri tidak serta merta membuat mereka berhenti mengonsumsinya. 

Dalam konteks tersebut, ‘tangan’ dalam makna kekuasaan wajib menjadi jalan keluarnya. Campur tangan pemerintah sebagai pemilik kebijakan dan wakil rakyat sebagai pembuat peraturan wajib berdakwah dengan ‘tangannya’, dengan kekuasaannya. Setelah kognitif dan afektif mereka terbangun oleh para kiai dan juga media massa, kini saatnya pemerintah mempengaruh aspek psikomorik mereka, untuk berhenti menenggak miras. Ini adalah saat tepat sebelum semuanya terlambat. 

Dalam kasus para pecandu miras yang telah akut, dakwah lewat kekuasaan akan jauh lebih efektif dengan catatan tidak setengah hati dan bersikap pandang bulu. Pemerintah dan wakil rakyat harus mampu membuat peraturan yang benar-benar tepat dan tegas, diikuti dakwah para penegak hukum dengan mewujudkan aturan itu di lapangan secara konsisten. 

Hemat penulis, dakwah melalui kekuasaan inilah yang akan berandil besar untuk menghentikan para pecandu miras dari kebiasaan buruknya, dan membawa mereka ke gerbang kehidupan yang lebih benderang. Sayang bila mereka dibiarkan terpuruk ke dalam lembah yang lebih dalam, padahal mereka adalah aset bangsa harapan negara. Menyelematkan mereka, juga berarti menyelamatkan negeri ini, yang telah begitu berat dengan beban bencana dan penyakit sosial.

Jangan Sekadar Membatasi
Niat pemerintah dan para wakil rakyat di Kota Bandung untuk meminimalisir minuman beralkohol layak mendapat apresiasi banyak pihak. Sumbangsih pemikiran para ulama, cerdik-cendekia, dan para pecandu miras yang sudah insyaf sudah semestinya diserap dan menjadi bahan pertimbangan. Diharapkan, peraturan yang dibuat bisa benar-benar membumi dan efektif diterapkan. Bukan sekadar asal ada, tanpa ada tujuan dan target serius untuk memberangus miras. 

Bila menyimak Pikiran Rakyat (5/6), jelas bahwa pertama, tujuan Pansus IV DPRD Kota Bandung yang kini tengah menggodok Raperda Pengendalian Minuman Beralkohol, bukan untuk memberangus miras, tetapi sebatas membatasi. Kedua, munculnya kesulitan untuk menempelkan label keharaman miras di tiap botol minuman beralkohol. 

Melihat tujuannya, tentunya kita paham, Pansus memang tidak bermasud memberangus miras. Tujuan yang setengah hati ini, tentunya tidak akan berbuah optimal. Miras akan tetap tersebar, kendati hanya di tempat-tempat tertentu. Entah apa yang menjadi alasannya sehingga hanya cukup dengan dibatasi. Apa ada sesuatu yang menguntungkan atau menggiurkan? Wallahu a’lam. Padahal, minuman keras adalah sesuatu yang jauh lebih banyak madaratnya dibanding manfaatnya. Tapi sayangnya, para wakil rakyat kita masih saja bersikap setengah hati. Sebuah ironi yang semestinya tidak terjadi, bila mereka ini berpihak pada keputusan untuk kebaikan bangsa dan kemajuan negeri ini.

Dampak buruk minuman sesungguhnya sudah bukan wacana lagi, justru telah menjadi bukti konkrit yang tak terbantahkan. Bukan hanya korban tewas yang terus berjatuhan, tetapi juga dampak-dampak buruk lainnya yang sudah banyak kita amati. Masihkan kita akan bersikap setengah hati? Seharusnya tidak, bila kita bermaksud membangun bangsa secara sungguh-sungguh, Raperda yang dibuat harus secara tegas melarang dan mengharamkan minuman keras. Yang perlu kita lakukan tidak cukup hanya dengan membatasi, yang kita butuhkan adalah menutup habis semua pintu bagi terbukanya peredaran dan penjualan minuman keras. 

Tak Cukup Label Haram
Karena memang tujuan Raperda sebatas membatasi, yang kini menjadi wacana adalah soal label haram. Label haram, kalau pun jadi ditempelkan, sejatinya tidak akan banyak berpengaruh. Seperti halnya label bahayanya rokok yang dituliskan di bungkus rokok, maka label haram yang ditempelkan di botol miras juga bakal tidak efektif. Bagi para pecandu miras, label haram yang terpasang hanya akan menjadi ‘cemoohan’ dan ‘guyonan’ terhadap sikap mendua para pembuat kebijakan, yang mengharamkan sekaligus ‘menghalalkannya’.
Untuk menghentikan kecanduan para penenggak minuman miras hanya efektif dengan menghilangkan dan meniadakan minuman keras itu sendiri. Pemisalan berikut mungkin tepat: “Jangan jamu lelaki hidung belang dengan perempuan cantik nan seksi, bila kita tidak menghendaki mereka menggodanya.” Minuman keras bagi para pecandunya, kendati dilabeli haram, tetap akan membuatnya tergoda dan tergiur untuk meneguknya. Karena itu, jalan terbaik adalah dengan menghilangkan dan meniadakannya sama sekali. 

Label haram hanya akan efektif bagi mereka yang taat beragama. Bagi kelompok ini, bahkan tanpa label haram pun, bila tahu yang ditawarkan itu minuman keras jelas tidak akan tergoda untuk mencicipinya. Di dalam dirinya sudah ada benteng iman yang mengendalikannya. Namun bagi mereka yang tidak taat beragama dan sudah kecanduan minuman keras, sebesar apa pun label itu ditempelkan, tidak akan banyak berpengaruh. Benteng imannya rapuh dan keropos. Label haram itu, paling banter pun sebatas informasi semata. Tak akan mampu menghentikan mereka untuk ‘berpesta miras’. Karena itu, jalan terbaik, adalah selamatkan mereka dengan sepenuh hati, bukan setengah hati.

Raperda yang tengah dirancang mesti dikaji ulang untuk diformulasikan kembali guna menutup habis semua pintu dan peluang peredaran minuman keras. “Stop Legalilasi Miras,” teriak para demonstran, adalah seruan yang rasional, masuk akal, dan beradab. Sebaliknya, sikap mendua dalam soal miras menujukkan bahwa kita tidak bersungguh-sungguh menyelematkan generasi bangsa. Kebijakan dan peraturan yang ambigu akan mengundang prasangka buruk.***

Penulis, pemerhati media,
& dosen Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi,
UIN SGD Bandung.

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Sabtu, Juli 24, 2010

Anas Menang Bukti “Sihir” Media Melemah?

Oleh Enjang Muhaemin

KEBERHASILAN Anas Urbaningrum mengalahkan dua rivalnya, Andi Mallarangeng dan Marzuki Ali, pada Kongres II Partai Demokrat yang baru lalu dipandang sejumlah pihak sebagai refleksi kegagalan dan ketidakberdayaan media massa. Beragam argumen mengemuka dan menjadi kajian menarik, bukan hanya bagi para pemerhati media, tetapi juga masyarakat awam. Benarkah?


Propaganda dan promosi diri yang relatif jor-joran dengan menggunakan media massa yang dilakukan Tim Sukses Andi Mallaranggeng berbuah kekecewaan. Tragisnya, Andi bukan hanya kalah di putaran pertama, tetapi juga hanya meraih suara kurang dari 1/5 pemilih. Parahnya lagi, suara pemilih Andi pada putaran pertama, juga gagal ‘disumbangkan’ secara utuh ke Marzuki Ali pada putaran kedua, kendati Andi merekomendasikannya secara blak-balakan.

Padahal, bila saja suara Andi utuh ‘melimpah’ ke Marzuki Ali, maka sudah jaminan kemenangan akan ada di kubu Marzuki Ali. Tapi sayangnya, realitas justru membuktikan lain. Suara Andi malah lebih banyak ‘berhamburan’ ke Anas Urbaningrum dibanding ke Marzuki Ali. Ini tentunya menjadi ‘tamparan’ telak untuk kesekian kalinya bagi Andi Mallarangeng. Bagai kata sebuah peribahasa, sudah jatuh tertimpa tangga lagi. Nasib Andi sebagai figur yang sudah merasa di atas angin memang mengenaskan.

Dikatakan mendapat ‘tamparan’ beruntun, karena pertama, rekomendasi Ibas agar peserta kongres memilih Andi tidak digubris peserta kongres. Rekomendasi Ibas, yang notabene putra SBY ini, sejak awal sebenarnya dipandang sebagai sinyal kuat atas ‘persetujuan’ SBY. Andi dipandang sebagai kandidat tepat untuk menakhodai Partai Demokrat. Rekomendasi Ibas nyatanya juga tak berbuah, ini tamparan pertama. Tamparan kedua, adalah optimisme tinggi akan meraih kemenangan, karena diyakini telah berbuat hebat dengan penggunaan media massa, sebagai alat untuk membangun citra dirinya dan menarik simpati pemilih, lagi-lagi berbuah kekecewaan.

Politik pencitraan menggunakan media massa, yang diistilahkan Alfan Alfian dengan sebutan ‘serangan udara’ dan kekuatan elite yang hanya mengandalkan restu, tidak bisa dijadikan senjata untuk memenangkan pertarungan politik internal partai. “Justru, ‘serangan darat’ lebih ampuh, karena berkomunikasi langsung dengan peserta kongres yang memiliki hak suara,” kata pengamat politik Alfan Alfian. (Pikiran Rakyat, 29/5)

“Sihir’ Media Massa

Yang menarik diperbincangkan, benarkan kekalahan Andi dalam pemilihan sebagai bukti ketidakberdayaan propaganda yang dilakukan media massa atau sebaliknya? Pandangan pertama, berpendapat, “Ya, betul! Media terbukti impoten.” Secara selintas sepertinya benar pernyataan yang menyebutkan bahwa media massa telah ‘impoten’ mempengaruhi pemilih kongres. Pasalnya, terbukti bahwa propaganda yang nyaris ‘habis-habisan’ hanya menguras fulus tanpa menghasilkan buah keberhasilan. Posisi ketua umum yang dibayangkan sebagai pintu gerbang menuju istana negara pada Pilpres 2014 gagal total.

Pandangan kedua menilai bukan medianya yang impoten, tetapi ketidakmampuan tim sukses Andilah yang gagal merancang strategi yang tepat di dalam penggunaan media massa. Media tetap memiliki kekuatan ‘sihir’ yang mampu mengendalikan pemilih. Hanya saja ketika kekuatan ‘sihir’ itu dihembuskan ke sasaran yang tidak tepat maka hasilnya pun akan jauh menyimpang. Karena sasarannya tidak tepat, maka yang terkena ‘sihir’ media pun bukan yang menjadi target.

Walhasil, ‘sihir’-nya sih tetap ampuh, hanya saja sasaran saja yang keliru. Bukan ‘penyihirnya’ yang impoten, juga bukan ‘sihirnya’ yang tidak ampuh, tetapi pemesan ‘sihir’-lah yang salah menyampaikan siapa yang harus “disihir”. Akibatnya yang kena sihir bukan objek yang dibidik, bukan target yang dijadikan sasaran, tetapi objek lain yang sama sekali tidak memiliki hak pilih dalam kongres tersebut. Iklannya ada hampir di semua televisi yang disaksikan oleh masyakarakat Indonesia. Iklan Andi tak ubahnya kampanye untuk Pilpres saja. Padahal yang memiliki hak suara hanyalah 500-an orang, dan itu pun hanya orang-orang khusus di internal Partai Demokrat saja.

Amsal lain yang dapat digunakan kampanye Andi itu, tak ubahnya orang yang membunuh nyamuk yang ada di Singaparna dengan meledakkan bom atom di Singapura. Hasilnya, jelas menjadi sia-sia. Nyamuknya tidak mati, biaya yang dikeluarkannya juga luar biasa besarnya. Pendeknya, selain tidak efektif, juga tidak efisien. Ini menunjukkan strategi yang digunakan Andi, bukan hanya tidak tepat, juga tidak efeisien, penghamburan biaya yang tidak semestinya terjadi. Dalam cara pandang kelompok ini sangat sederhana dan masuk akal. Kalau mau membunuh nyamuk cukup menggunakan Baygon, misalnya, dan menyemprotkan pada tempat nyamuk itu berada. Selain harganya murah, nyamuknya pun insya Allah akan mati. Selain efektif, juga efesien.

Tidak Sim Salabin atau Abra Dakabra

Dengan cara pandang yang sedikit berbeda, sebenarnya, penulis berpendapat bahwa kemenangan Anas, kekalahan Andi dan Marzuki justru mengindikasikan bahwa daya pengaruh dan ‘sihir’ media massa cukup luar biasa. Hanya saja, yang patut dicatat, bahwa publikasi para calon kandidat yang ‘dipromosikan’ media massa jauh hari sebelum pencalonan diri sesungguhnya telah menyimpan rekam jejak yang amat kuat di benak publik media. Termasuk para peserta kongres Partai Demokrat. Publik media sudah mengantongi track record ketiga kandidat itu jauh-jauh hari sebelum didengungkan dan dicalonkan sebagai kandidat yang dijagokan.

Pencitraan diri para kandidat itu sejatinya sudah dibangun secara alami oleh dirinya masing-masing sejak mereka naik menjadi publik figur, dengan relatif tanpa ada rekayasa media massa. Dalam konteks ini, media massa hanya menyodorkan kepada khalayak tentang apa, siapa, mengapa, di mana, dan bagaimana. Unsur-unsur yang dalam dunia jurnalistik disebut dengan 5W+1H itulah yang sejatinya telah membangun pencitraan diri mereka jauh-jauh hari. Pencitraan yang bersifat alami tanpa ada rekayasa media massa inilah yang pada akhirnya mampu melekat kuat di benak khalayak. Daya ’sihir’ media massa inilah, yang sejatinya mampu merontokkan ‘sihir-sihir’ kamulflase yang direkayasa media massa.

Jalan pintas pencitraan diri dengan hanya menggunakan baliho, spanduk, iklan dan sejenisnya sebenarnya amat tidak efektif bila pencitraan diri yang telah dibangun secara alami sejak jauh hari telah dipublikasikan dan ‘disihirkan’ media kepada khalayak. Ibarat produk yang dipublikasikan dan diiklankan akan berpengaruh atau tidak, akan sangat tergantung pada citra produk itu sebelumnya. Bila produk yang diiklankan itu telah diketahui kekurangannya, sehebat apapun iklan itu, maka hasilnya akan nihil. Akan lain hasilnya bila yang diiklankan itu adalah produk yang bagus, berkualitas, dan tidak diketahui kekurangannya. Iklan, baliho, spanduk, dan sejenisnya akan berpengaruh dan memperteguh konsumen untuk membeli produk tersebut. Dalam hal ini, media berfungsi sebagai peneguh dan pengokoh citra produk sebelumnya. Walhasil, pencitraan diri sejatinya bukan hasil sim salabin atau abra dakabri, tetapi melalui proses panjang, berliku, dan sarat perjuangan.

Dalam pespektif komunikasi, daya pengaruh yang disuntikkan kepada publik media sama halnya dengan obat penyembuh yang disuntikkan dokter kepada seorang pasien. Tidak semua pasien sembuh dalam waktu cepat dan sekejap. Butuh waktu yang sepadan antara kemujaraban obat dengan tingkat penyakit yang diderita pasien. Bahkan bukan mustahil obat saja tidak akan mampu menyembuhkan pasien bila racun yang tersebar dan menjalar ke dalam tubuh pasien sudah ganas. Racun bagi tubuh sama dengan ‘informasi buruk’ yang sudah terekam oleh benak masyarakat. Untuk memulihkannya tentu tidak cukup satu dua bulan dengan hanya menggunakan obat yang biasa-biasa saja. Selain butuh diagnosa yang akurat, dokter yang profesional, juga obat yang super mujarab. Bahkan bila perlu dilakukan bedah besar-besaran untuk mengangkat racun yang sudah tumbuh akut di dalam tubuh.

Euforia Kemenangan Obama

Keberhasilan Anas menduduki jabatan Ketua Umum Partai Demokrat juga tidak mau tidak, terkait dengan euforia kemenangan Obama pada Pilpres Amerika belum lama ini. Obama yang cerdas, energik, santun, muda, dan nyaris tanpa cela menjadi prototipe impian yang gaungnya terus menguat di kalangan politikus muda Indonesia. Bahkan tidak sedikit yang memprediksi, pada Pilpres 2014, yang akan memiliki kans kuat memimpin negeri ini adalah tipikal Obama. Tidaklah mengherankan bila kemudian banyak politikus muda Indonesia berusaha keras menggolkan tokoh muda di partainya untuk menjadi ketua umumnya.

Momentum politikus muda untuk menakhodai partai politik di Indonesia tampaknya akan menjadi tren yang tak terbendung. Kendati politisi tua mencoba mengganjalnya, kelihatannya akan gagal. Prediksi ini berdasarkan pada beberapa indikasi yang mulai terlihat secara kasat mata. Pertarungan pada Pilpres 2014 tidak mau tidak akan memunculkan capres-capres baru yang masih muda, energik, cerdas, santun, dan bersahaja. Masa kejayaan politisi tua dipandang sudah habis, the end. Bila pun masih ada partai yang berani menjagokan tokoh tua, maka kuat dugaan akan tersingkir, dengan sendirinya atau dengan cara ‘keterpaksaan’. Di tengah euforia “yang muda yang memimpin”, maka daya tawarnya politisi tua akan semakin melemah.

Tak hanya itu, euforia kemenangan Obama juga belum akan sirna, bahkan menjelang Pilpres 2014, gemanya akan semakin kuat. Dalam konteks inilah, para politikus muda di banyak partai politik sebenarnya tengah menjadi ‘ancaman’ berat bagi para politisi tua. Kondisi tersebut tentunya menyulitkan para politikus tua. Ibarat pepatah, dimakan ibu mati, tidak dimakan bapak mati. Ketajaman analisis, kearifan, dan ‘ijtihad’ politik para politisi tua dituntut tidak main-main. Mencegal atau mendorong, tentunya bukan pilihan yang mudah.

Akhirul kata, kemenangan Anas menduduki kursi Ketua Umum Partai Demokrat sepertinya tidak terlepas dari faktor-faktor di atas, yang tentunya, satu sama lain saling menguatkan. Keberhasilan Anas, tampaknya akan mendorong para politikus muda di partai lain untuk ‘merebut’ dan ‘berebut’ posisi jabatan ketua umum. Benarkah? Mari kita lihat saja!***

Penulis, pemerhati media,

& Dosen Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi,

UIN SGD Bandung.


Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Jumat, Juli 23, 2010