Internet, Bagai Pedang Bermata Dua

Internet sebagai media, tak ubahnya bagai pedang bermata dua. Bisa digunakan untuk kebaikan, bisa pula digunakan untuk kejahatan.

Lima Pola Pemecahan Masalah

Setiap manusia, tentunya memiliki masalah (problem). Dan tampaknya, tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini, yang hidup tanpa masalah.

Gelisah Karena Pujian

Mendengar berbagai pujian, si alim menjadi gelisah. Jangan-jangan dirinya rajin beribadah bukan karena Allah, melainkan karena orang-orang memujinya sebagai orang alim.

Akademisi Ilmuwan Dakwah di Era Internet

Sebagai pilar terdepan, akademisi ilmuwan dakwah idealnya berdiri paling depan dalam gerbang pertarungan global.

Ketimpangan antara Intelektualitas dan Moralitas

Di dunia pendidikan, manusia dibentuk dan dicetak bukan sekadar untuk menjadi cerdas, dan terampil semata, tetapi juga berakhlak mulia.

Tipologi Pelaku Dakwah di Era Cyber

Oleh Enjang Muhaemin

PEMAHAMAN para pelaku dakwah terhadap internet dan fasilitas yang ada di dalamnya, boleh jadi, belum optimal. Ini tentu saja berimbas pada pemanfaatan intenet sebagai media dakwah yang tidak optimal pula. Tak aneh, bila kemudian ada saja mad’u yang gagal memperoleh konten keislaman yang dibutuhkannya.
Banyak faktor yang mengakibatkan terjadinya fenomena tersebut. Bukan hanya lantaran minimnya pelatihan internet yang diorientasikan untuk para juru dakwah, dan tak tumbuhnya jiwa otodidak dalam mempelajari internet sebagai media dakwah, tapi juga karena tingkat kesibukan para pelaku dakwah di wilayah dakwah konvensional.
Otodidak vs Pelatihan
Dibanding dengan yang mengikuti pelatihan, para juru dakwah yang melakukan otodidak memang relatif lebih tinggi.  Polanya beragam, ada yang tanya sana-sini, membaca buku, ada pula yang belajar dari internet itu sendiri.  Dunia pelatihan nyaris sangat kurang, alias minim.
Kondisi tersebut, jelas berbeda, bila dibandingkan dengan para pelaku internet marketing, yang umumnya bukan hanya giat melakukan belajar otodidak, tapi juga antusias mengikuti beragam pelatihan internet.  Tak mengherankan, bila mereka ini mengalami loncatan luar biasa dalam penguasaan dan pemanfaat internet bagi kepentingan profesinya.
Padahal, para juru dakwah pun, mestinya banyak belajar tentang bagaimana memasarkan pesan-pesan keislaman melalui internet. Tak cukup hanya mempublikasikan konten seadanya. Para pelaku dakwah pun penting memiliki kemampuan lain, seperti strategi mengemas pesan,  membidik sasaran, dan kemampuan lain yang sejalan dengan karakteristik internet.  [Baca juga: Dakwah dan Strategi Integratif di Era Global]
Tanpa mengikuti pelatihan, memang bisa saja. Kunci utamanya adalah kemauan, semangat, dan ketekunan. Tanpa ini, jelas hasilnya tak akan optimal. Belajar melalui otodidak, bukan tanpa kekurangan.  Selain butuh waktu yang  agak lama, juga tingkat penguasaannya pun sangat mungkin tak akan secepat melalui pelatihan.
Empat Kelompok
Merujuk pada hasil pengamatan, saya menyimpulkan, dilihat dari aspek penguasaan dan pemanfaatan teknologi internet sebagai media dakwah, para pelaku dakwah dapat  dikatagorikan menjadi empat kelompok:
Kelompok Pertama, adalah mereka yang memahami dan menguasai secara baik teknologi internet. Kelompok ini, bukan hanya fasih memanfaatkan fitur-fitur internet sebagai media dakwah, tapi juga menguasai secara baik perkembangan teknologi internet mutakhir. Bahkan sebagian di kelompok ini, selain tekun berdakwah di internet, juga menulis buku yang erat kaitannya dengan dakwah internet. Tipe ini jumlahnya mungkin tak banyak.
Kelompok kedua, adalah mereka yang cukup memahami dan cukup menguasai. Mereka yang tergolong kelompok ini selain memahami konsep dasar teknologi internet, juga mampu mengaplikasikan dan mengfungsikan fitur-fitur yang ada di internet sebagai dakwah. Bila dikuantifikasi, jumlahnya cukup banyak, terlebih  bila dibandingkan dengan kelompok pertama.
Kelompok kedua itu, bukan sekadar memiliki e-mail, account di facebook, tapi memiliki situs (website) atau blog, juga membuat dan atau tergabung dalam sejumlah mailling list, dan forum diskusi (discusion forum).
Kelompok ketiga, adalah mereka yang sedikit memahami, tapi tidak menguasai. Kelompok ini baru sebatas memahami fitur-fitur yang tersedia tanpa mampu memanfaatkannya lebih jauh. Pemahamannya relatif terbatas, baru sekitar penggunaan e-mail, googling, dan update status di facebook
Kelompok keempat, adalah mereka yang selain tidak memahami juga tidak menguasai teknologi internet. Kelompok ini sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan dunia internet. Penyebabnya beragam: ada yang disebabkan karena kesibukan, ada juga yang disebabkan karena pondasi dasar penguasaan komputer yang masih tertinggal, juga ada yang disebabkan karena cenderung menetapkan diri untuk tetap berdakwah melalui dakwah konvensional.
Mungkin, itulah tipologi pelaku dakwah di era cyber yang dapat dikemukakan. [Baca juga: Internet,  Media Dakwah, dan Era Global] []  

Enjang Muhaemin, Staf Pengajar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung

Referensi:
Enjang Muhaemin, Media dan Dakwah di Era Informasi, Penerbit Mimbar Pustaka, Bandung, Cetakan I, 2013.
________________,  Apresiasi Akademisi Ilmuwan Dakwah Terhadap Internet sebagai Media Dakwah,  Tesis Pascasarjana UIN Sunan gunung Djati Bandung, 2011.

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Kamis, Januari 15, 2015

Internet, Media Dakwah, dan Era Global

Oleh Enjang Muhaemin

BERBICARA internet, dakwah, dan era global, tentunya menjadi isu seksi bagi sebagian umat Islam.  Termasuk umat Islam di Indonesia, terutama dalam memahami peran dan fungsi yang bisa dimainkan di dalamnya. Ini menjadi kian penting mengingat ‘pertarungan’ ideologi dunia yang kian masif.
Di beranda kehidupan masyarakat global, tantangan dakwah yang dihadapi umat Islam tidaklah semakin ringan. Di samping peluang, banyak tantangan dan rintangan yang menghadang. Namun bagaimana pun berat, dakwah Islam tetap mesti dilaksanakan sejalan dengan perkembangan zaman.  [Baca juga: Akademisi Ilmuwan Dakwah di Era Internet]
Internet yang di Indonesia mulai populer pada tahun 1990-an, termasuk media baru yang mengalami pertumbuhan pesat, yang tidak pernah terduga sebelumnya. Baik dilihat dari sisi pengguna, maupun dari sisi konten, dan fitur yang kian variatif.
Media yang satu ini telah menjadi sebuah kata kunci untuk memahami dunia yang kian global. Internet juga telah menjadi semacam wahana sosial yang memungkinkan terjadinya beragam interaksi sosial antarmanusia di belahan manapun di muka bumi ini.
Wajah Islam
Gerakan umat Islam melalui berbagai media, terlebih melalui internet, telah mengubah wajah Islam di seluruh dunia. Melalui media yang semakin beragam, kata John L. Esposito, umat Islam semakin memiliki alternatif dalam mengakses sejumlah informasi tanpa hambatan.
Optimisme Esposito, dalam pandangan Asep S. Muhtadi, memang beralasan. Gerakan Islam melalui media akan menjadi semacam aktivitas global yang tidak lagi terbatas ruang dan waktu. Melalui media-media baru—khususnya internet—seluruh umat Islam, baik dalam konteks minoritas di dunia Barat maupun di negara-negara muslim mayoritas dapat memiliki akses yang sama terhadap informasi keislaman yang disajikan. [Baca juga: Dakwah dalam Kancah Revolusi Informasi]
Internet memang memiliki kelebihan dibanding media lain yang ada sebelumnya. Siapa pun bisa bergabung dan berinteraksi di dalamnya tanpa harus melalui prosedur yang rumit, hanya cukup dengan bermodalkan akses jaringan.
Ketika sudah terkoneksi dengan jaringan internet, siapa pun bisa berinteraksi dengan siapa saja yang dikehendakinya. Di mana pun tanpa terkendali tempat. Kapan pun tanpa terbatas waktu, dan tentang apa pun yang diinginkannya. Karakteristik internet yang bersifat interaktif telah mampu menjelma menjadi media interaksi sosial yang terbuka dan bersifat timbal balik.
Dua Sisi Penting
Pemahaman terhadap internet sebagai media dakwah dapat dilacak dari berbagai aspek. Dari mulai pemahaman tentang sejarah internet dan teknologi yang menyertainya, fitur-fitur internet dan fasilitas yang ada di dalamnya, tipologi dakwah di dunia maya, sampai dengan pengemasan pesan dengan fungsi dan nilai penting internet.
Internet sebagai media dakwah, memiliki dua sisi yang sama penting dan menguntungkan. Pertama, bagi seorang da’i, internet bisa dijadikan rujukan dan sumber digital di dalam mencari dan memperdalam materi dakwah. Sebagai sumber referensi dakwah, internet dipandang sebagai media mutakhir yang memiliki tingkat akses yang mudah, murah, dan bebas hambatan.  [Baca juga: Dakwah dan Strategi Integratif di Era Global]
Dalam hitungan detik, kita bisa mencari topik dan tema dakwah yang kita butuhkan. Dengan menuliskan topik yang dibutuhkan di Google, misalnya, maka dengan sekejap akan menuntun kita ke tempat kajian itu berada, sehingga kita tinggal mengkaji dan memperdalamnya.
Bila tidak puas, kita juga masih bisa mencari di tempat lain, sebagaimana disodorkan Google. Pilihan yang disodorkan juga sangat banyak, kita tinggal memilihnya.
Banyak hal yang bisa dilakukan terkait dengan pencarian dan pendalaman topik  dakwah di media internet. Media mutakhir ini  telah memudahkan para da’i untuk mencari dan memperdalam apa pun dan dalam bentuk apa pun. Dari mulai uraian deskriptif tentang topik dakwah, status hukum sebuah masalah, sampai dengan status hadits dan uraian pakar tentang tafsir sebuah ayat.  Bahkan contoh dakwah pun bertebaran, baik tulisan, audio, maupun audio-visual.
Namun begitu, kita perlu ekstra hati-hati. Memilih dan menyeleksi konten sebaik mungkin, bila saja kita mau menjadikannya sebagai rujukan. Ini menjadi penting dan mutlak. Karena tidak sedikit materi keislamanan di internet yang ditulis bukan oleh ahlinya, sehingga selain tidak mendalam, terkadang ada juga yang tidak tepat atau menyimpang. Kehati-hatian ini penting agar kita tidak tersesat, yang ujungnya, juga  bisa menyesatkan umat.  [Baca juga:Internet, Bagai Pedang Bermata Dua]
Sisi kedua, internet menjadi media strategis yang efektif sebagai sarana untuk mendakwahkan Islam kepada umat yang berada, di belahan dunia mana pun. Pesan-pesan keislaman yang dipublikasikan melalui internet sangat penting, mengingat dakwah melalui media ini tak lagi terbatas oleh ruang dan waktu. Mad’u-nya juga tersebar di berbagai belahan dunia, yang jumlahnya bisa jauh melebihi dakwah Islam di masjid dan majelis taklim.
Pesan-pesan amar ma’ruf nahyi munkar yang di-upload di internet,  selain bentuknya bisa beragam, juga dapat diakses siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. Dengan demikian, tanpa harus mengabaikan dakwah konvensional, maka akademisi ilmuwan dakwah sudah waktunya memanfaatkan internet sebagai media dakwah.
Dengan meminimalisir kelemahannya, maka kelebihan dan nilai plus berdakwah di media  internet dewasa ini layak dipertimbangkan untuk diterjuni secara aktif oleh para juru dakwah. []

Enjang Muhaemin, Staf Pengajar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung

Referensi:
Asep S. Muhtadi, “Menjelajah Islam Digital”,  pengantar dalam buku Islam Digital: Ekspresi Islam di Internet,  karya Moch. Fakhruroji,  Penerbit Sajjad Publishing, Bandung, 2011.

Enjang Muhaemin, Media dan Dakwah di Era Informasi, Penerbit Mimbar Pustaka, Bandung, Cetakan I, 2013.

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Kamis, Januari 15, 2015

Dakwah dan Strategi Integratif di Era Global

Oleh Enjang Muhaemin

Dakwah Integratif
RELEVANSI kajian tentang akademisi ilmuwan dakwah dan teknologi komunikasi memiliki daya tarik tersendiri. Keberadaannya di tengah pesatnya perkembangan teknologi komunikasi layak menjadi sorotan dan kajian yang mendalam.


Sebagai pilar terdepan dalam menyikapi perkembangan teknologi komunikasi, akademisi ilmuwan dakwah idealnya berdiri paling depan dalam gerbang pertarungan global. Ia semestinya bukan sekadar memahami perkembangan teknologi komunikasi, tetapi juga mampu menguasai dan mengoptimalkannya sebagai media dakwah.

Di beranda kehidupan masyarakat global, tantangan dakwah yang dihadapi akademisi ilmuwan dakwah tidaklah semakin ringan. Di samping peluang, banyak tantangan dan rintangan yang tidak kecil.

Namun bagaimana pun, akademisi ilmuwan dakwah adalah figur-figur da’i intelektual, yang memiliki tanggung jawab untuk menguasai konsep-konsep dakwah yang sejalan dengan perkembangan teknologi komunikasi, dan menguasai dan mengaplikasikan perangkat teknologi komunikasi sebagai media dalam medan dakwah.

Tak hanya itu, akademisi ilmuwan dakwah juga dituntut mampu menularkan strategi dakwah yang menzaman kepada da’i-da’i lain yang tidak secara langsung bersentuhan dengan perkembangan dan kemajuan teknologi komunikasi.

Strategi Integratif

Apa yang terjadi sekarang, kata Armahedi Mahzar, adalah perang antarperadaban. Benteng kita adalah diri kita sendiri. Ada tiga macam strategi umum yang telah diajukan untuk menangkal serangan informasi yang melimpah bak air bah, yang datang dari dunia Barat ke dunia Islam secara sangat tak berimbang. Ketiga strategi itu adalah:

Strategi pertama, dapat dilihat sebagai strategi isolatif. Dalam strategi ini, kita memandang Islam sebagai alternatif dasar peradaban Islam dan sebagai konsekuensinya kita menolak semua yang ada dari Barat, kecuali sains dan teknologinya. Strategi ini yang biasa dipakai oleh kaum fundamentalis. Salah satunya konsekuensi dari strategi ini kita memutus kontak kultural sama sekali dengan Barat. Kita cabut televisi dan radio dari rumah-rumah kita.

Strategi kedua dapat disebut strategi selektif. Dalam hal ini kita menyeleksi acara-acara televisi dan radio yang dilihat dan didengar oleh keluarga kita di rumah-rumah. Walaupun kini teknologinya memungkinkan, tampaknya ini mengekang kebebasan dan menimbulkan daya sensor yang mematikan kreativitas si anak. Strategi ini yang dijalankan oleh kaum tradisionalis.

Strategi ketiga, adalah strategi alternatif. Dalam strategi ini, kita harus menguasai sarana penyiaran alternatif yang diisi dengan acara-acara yang islami dan berani bersaing dengan jaringan-jaringan televisi sekuler yang ada. Tentu saja, jaringan ini mahal harganya sehingga untuk menopang strategi alternatif—yang digandrungi kaum modernis itu—diperlukan strategi-strategi penunjang lainnya yang relevan (2004: 256-257)

Ketiga strategi itu mempunyai kelemahan masing-masing.

Karena itu, Mahzar mengajukan sebuah saran strategi integratif

Dalam strategi ini, kita menangkal serbuan informasi global, bukan dengan memutusnya, melainkan dengan jalan menyainginya melalui komunitas-komunitas informasi lokal yang pada gilirannya terjaring menjadi masyarakat informasi regional islami yang integratif. Pada gilirannya, masyarakat-masyarakat informasi islami itu akan dapat bekerja sama membentuk jaringan telemedia global yang islami seperti yang diharapkan oleh strategi alternatif (Mahzar, 2004: 257-258). []
_______________
Enjang Muhaemin, Staf Pengajar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Senin, November 25, 2013

Akademisi Ilmuwan Dakwah di Era Internet

Oleh Enjang muhaemin

Dalam tulisan ini, saya ini ingin berbagi sedikit hasil penelitian yang penulis lakukan. Topik yang penulis kaji bertajuk “Apresiasi Akademisi Ilmuwan Dakwah terhadap Internet sebagai Media Dakwah.” Di antara yang saya teliti di antarntya terkait sikap, penilaian, dan tindakan yang dilakukan akademisi ilmuwan dakwah terhadap internet sebagai media dakwah.
Paparan di bawah ini sebagian hasil penelitian yang penulis lakukan di Fakultas Dakwah dan komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Sikap
Herbert Spencer mengartikan sikap sebagai status mental seseorang. Pada tahun 1888, Lange menggunakan istilah sikap dalam bidang eksperimen mengenai respon untuk menggambarkan kesiapan subjek dalam menghadapi stimulus yang datang tiba-tiba. Sikap dalam pandangan Lange, tidak hanya menyangkut aspek mental semata, melainkan juga mencakup aspek respon fisik (Azwar, 2007:3-4)).
Sikap para akademisi ilmuwan dakwah terhadap internet sebagai media dakwah dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok:
Pertama, kelompok optimistik-progresif.
Kelompok optimistik-progresif adalah kelompok akademisi ilmuwan dakwah yang memandang internet secara media mutakhir yang sangat strategis untuk dimanfaatkan sebagai media dakwah dalam masyarakat  era global.
Kedua, kelompok optimistik suportif.
Kelompok kedua, adalah para akademisi ilmuwan dakwah yang tergolong optimistik-suportif.  Kelompok kedua ini memiliki pandangan yang positif dan jauh ke depan tentang pentingnya internet sebagai media dakwah.
Ketiga, kelompok optimistik-pasif.
Kelompok ketiga, adalah akademisi ilmuwan dakwah yang memiliki cara pandang yang optimistik terhadap internet sebagai media dakwah, namun kelompok ini tetap bersifat pasif,  tidak banyak bergerak dan tergerak untuk memanfaatkan dan mengoptimalkan internet sebagai media dakwah.
Penilaian
Dalam tataran realitas keumatan, akademisi ilmuwan dakwah menilai bahwa ketika umat berhadapan dengan internet terbagi menjadi tiga kelompok:
Pertama, kelompok yang bersikap isolatif, yang menghindar dan menjauhkan diri dari dunia internet, karena internet dipandang jauh lebih besar madaratnya dibanding manfaatnya.
Kedua, kelompok yang bersikap akomodatif konstruktif  yang memandang internet sebagai media yang bersifat netral, sangat tergantung siapa yang menggunakan dan bagaimana digunakan.
Ketiga, adalah kelompok yang bersikap selektif.

Tindakan
Dalam konteks penelitian yang penulis lakukan, tindakan yang dilakukan akademisi ilmuwan dakwah terhadap internet sebagai media dakwah, secara umum dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori:
1.     Bertindak Progresif.
Akademisi ilmuwan dakwah yang masuk dalam kategori ini, secara kuantitas tidaklah besar. Mereka umumnya memahami sekaligus menguasai fitur-fitur internet  yang dapat dimanfaatkan sebagai media dakwah. Tipikal akademisi ilmuwan dakwah progresif dalam penelitian ini terlihat dari tindakan dan perbuatannya yang tidak kenal lelah untuk menjadikan internet sebagai media dakwah.
2.     Bertindak Aktif.
Para akademisi ilmuwan dakwah yang tergolong tipikal aktif dalam memanfaatkan dan mengoptimalkan internet sebagai media dakwah, jumlahnya agak lumayan, lebih banyak dibanding tipikal progresif.
3.     Bertindak Pasif.
Akademisi ilmuwan dakwah yang tergolong tipikal pasif adalah mereka yang berasal dari kategori yang “sedikit memahami, tapi tidak menguasai” dan “tidak memahami, juga tidak menguasai”. Dalam dirinya belum tumbuh semangat untuk lebih mendalami dan menggalinya. []

:: Enjang Muhaemin, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Kamis, Oktober 24, 2013