Bahasa dan Proses Berpikir

Oleh Enjang Muhaemin

Kupasan menarik tentang korelasi bahasa dan proses berpikir pernah diulas Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Komunikasi Psikologi. Menurutnya, teori yang menjelaskan hubungan bahasa dengan berpikir adalah teori Whorf (Whorfian Hyptotesis). Secara singkat, teori ini dapat disimpulkan bahwa pandangan kita tentang dunia dibentuk oleh bahasa; dan karena bahasa berbeda, maka pandangan kita tentang dunia pun berbeda.

Secara selektif, kita menyaring data sensori yang masuk yang telah diprogram oleh bahasa yang kita pakai. Dengan begitu, masyarakat yang menggunakan bahasa yang berbeda hidup dalam dunia sensori yang berbeda pula. Edward Sapir, guru Benjamin L. Whorf menulis, bahasa adalah pandu realitas. Walaupun bahasa biasanya tidak dianggap sebagai hal yang sangat diminati ilmuwan sosial, bahasa secara kuat mengkondisikan pikiran kita tentang masalah dan proses sosial.

Manusia, menurutnya, tidak hidup hanya di dunia objektif, tidak hanya dalam dunia kegiatan sosial seperti yang biasa dipahaminya, tetapi ia sangat ditentukan oleh bahasa tertentu yang menjadi medium pernyataan bagi masyarakatnya. Tidak ada dua bahasa yang cukup sama untuk dianggap mewakili kenyataan sosial yang sama. Dunia tempat tinggal berbagai masyarakat, bukan semata-mata dunia yang sama dengan mereka yang berbeda.

Bila demikian, lantas bagaimana hubungan antara bahasa dengan proses berpikir? Dalam konteks ini, dapat dijelaskan terlebih awal bahwa konsep-konsep dalam suatu bahasa, selain cenderung menghambat, juga dapat mempercepat proses berpikir. 

Dalam pandangan Jalaluddin Rakhmat, kita mungkin dapat berpikir tanpa menggunakan bahasa. Namun begitu, bahasa terbukti mempermudah kemampuan belajar dan mengingat, memecahkan persoalan, dan menarik kesimpulan. Bahasa memungkinkan kita menyandi (code) peristiwa-peristiwa dan objek-objek dalam bentuk kata-kata.

Dengan bahasa, kita mampu mengabstraksikan pengalaman dan pikir-an kita kepada orang lain. Dan yang tak kalah pentingnya adalah kita dapat mengkomunikasikannya pada pihak lain, atau sebaliknya menerima dari orang lain. Bahasa merupakan sistem lambang tak terbatas, yang mampu mengung-kapkan segala macam pemikiran. 

Pendek kata, betul kita tidak selalu berpikir dengan kata-kata, tetapi sedikit sekali kita dapat berpikir tanpa kata-kata. Bahasa, singkatnya, sangat membantu dan mempermudah kita dalam proses berpikir, dan menyampaikan hasil pemikiran kita kepada orang lain. Tapi di balik itu, memang harus diakui pula, bahwa bahasa juga terkadang menghambat proses berpikir. Terutama ketika kita mengalami kebingungan dalam mengartikan kata-kata. []

Diposkan Oleh Enjang Muhaemin -- Lentera Dakwah

Enjang Muhaemin Kesediaan Anda membaca artikel Bahasa dan Proses Berpikir. merupakan kehormatan bagi saya. Anda diperbolehkan mengcopy-paste atau menyebarluaskan artikel ini, dan jangan lupa meletakkan link di bawah ini sebagai sumbernya.

:: SILAKAN KLIK DAN BACA TULISAN LAINNYA ::

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Senin, Juli 18, 2011