Di Balik Ibadah Qurban

Oleh Enjang Muhaemin

Foto: Website Muhammadiyah
Anda hanya dapat dekat
dengan Allah,  
bila Anda mendekati
saudara-saudara Anda  
yang berkekurangan.

[Jalaluddin Rakhmat, 1998:279]

Itulah pesan inti yang tercermin dari ibadah qurban. Kata “qurban” itu sendiri, seperti kita ketahui, berasal dari kata “qaruba, yaqrubu, qurbaan,” yang artinya “dekat”. Maknanya sangat jelas, ibadah qurban merupakan sarana (wasilah) untuk mendekatkan diri pelaku qurban kepada Allah dan kepada sesama manusia. Yang satu berdimensi ritual, yang satunya lagi berdimensi sosial.  

Dimensi ibadah qurban, dengan demikian, tak ubahnya dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Secara teologis, ibadah qurban, merupakan salah satu ibadah yang dilakukan dalam kerangka mendekatkan diri kepada Allah (hablumminallah). Dan secara sosiologis dan psikologis, ibadah yang satu ini juga sebagai ikhtiar mendekatkan diri para pelaku qurban kepada sesama manusia (hablumminannas).

Berhasil tidaknya proses pendekatan itu tentunya kembali kepada Anda sebagai orang yang melakukan qurban. Kunci utamanya hanya dua: keikhlasan dan ketakwaan! Pertama, ketika Anda ber-qurban karena ria, ingin dipuji orang, atau mempunyai tendensi pribadi yang bersifat pamrih, berarti Anda tidak ikhlas. Qurban Anda bukan karena Allah, tapi karena manusia, atau karena tujuan yang tidak dibenarkan syara’. Bila ini yang terjadi, maka nyaris dapat dipastikan, qurban yang Anda lakukan, bukan hanya tidak akan berbuah pahala, tapi juga tidak akan mampu mendekatkan Anda kepada Sang Khalik.

Dalam konteks sosiologis, orang yang ber-qurban tanpa dilandasi dengan keikhlasan, juga tak akan berhasil membangun ‘jembatan’ kedekatan kepada sesama. Kalau pun terjadi hanya akan bersifat semu, dan sementara. Ketika kedok terbongkar, maka kedekatan itu akan pudar dan menghilang. Terlebih bila Anda menujukkan kesombongan dan kecongkakan secara demonstratif, maka yang muncul bukanlah kedekatan, tetapi justru akan melahirkan antipati dan rasa benci.

Pokok kunci kedua, adalah ketakwaan. KH Isa Anshary mengatakan takwa adalah menempatkan diri kita di tempat yang disukai Allah, dan tidak menempatkan diri kita di tempat yang tidak disukai Allah. Dalam koridor ketakwaan ini, maka ibadah qurban harus diposisikan sebagai refleksi dan bukti ketaatan Anda di dalam menjalankan titah dan perintah Allah, bukan titah dan perintah yang lainnya.

“Ruh’ yang muncul dari ketaatan Anda, juga mesti tercermin nyata dalam pemahaman, kesadaran, dan perilaku ber-qurban yang dilakukan. “Daging-daging unta, dan darahnya itu, sekali-kali tidak akan mencapai keridlaan-Nya, tetapi ketakwaan dari yang ber-qurban.” (QS. Al-Hajj : 37).

Sebagai ajaran yang agung dan luhur, Islam menghendaki ibadah qurban yang Anda lakukan bisa benar-benar menjadi jembatan penghubung yang mampu mendekatkan Anda pada ‘kemesraan’ dengan Allah, dan hubungan yang harmonis dengan sesama di lingkungan hidup Anda keseharian. Bila ibadah qurban yang Anda lakukan benar-benar berbasis keikhlasan dan ketakwaan, insya Allah, Anda bukan hanya akan dekat dengan manusia, tetapi juga akan dekat dengan Sang Pencipta.  

Kesalehan Sosial

Selain memiliki dimensi kesalehan ritual, ibadah qurban, juga berdimensi kesalehan sosial. Ini termaktub jelas di dalam Alqur’an. “….lalu makanlah sebagian dari sebagian dagingnya dan beri makanlah (dengan bagian yang lainnya) orang fakir yang sengsara.” (QS. 22:28). Bila puasa mengajak Anda merasakan lapar seperti laparnya orang-orang miskin, maka ibadah qurban mengajak orang-orang miskin untuk merasakan nikmatnya makan seperti nikmatnya Anda makan. Islam mengajarkan, bila Anda memiliki kenikmatan, maka bagikan dan sebarkanlah kenikmatan itu kepada orang lain.  

Banyak orang yang mendekatkan diri kepada Allah, kata Jalaluddin Rakhmat, dengan mengisi masjid-masjid atau rumah ibadat yang sunyi. Benar, Islam tidak hanya mengajarkan cara seperti itu. Islam juga mengajak Anda untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan mengisi perut-perut yang lapar, dan membantu kebutuhan orang-orang yang tidak mampu. Penuhi kebutuhannya, bantu kekurangannya, dan gembirakanlah hatinya.

Ketika Musa a.s. bertanya, “Ya Allah, di mana aku harus mencari-Mu?”, Allah menjawab, “Carilah Aku di tengah-tengah orang yang hatinya hancur.”

Dalam hadits qudsi diriwayatkan bahwa nanti pada hari kiamat, Allah mendakwa hamba-hamba-Nya: “Hai hamba-hamba-Ku, dahulu Aku lapar dan kalian tidak memberi-Ku makanan. Dahulu Aku telanjang, dan kalian tidak memberi-Ku busana. Dahulu Aku sakit, dan kalian tidak memberi-Ku obar.”

Waktu itu yang didakwa berkata: “Ya Allah, bagaimana mungkin aku memberi-Mu makanan, pakaian, dan obat, padahal Engkau Rabb Al-Alamin.”

Lalu Tuhan bersabda, “Dahulu ada hamba-Ku yang lapar, telanjang dan sakit. Sekiranya kamu mendatangi mereka—mengenyangkan perut mereka yang lapar, menutup tubuh mereka yang telanjang, mengobati sakit mereka—kamu akan mendapatkan Aku di situ.” ***

Penulis, Staf Pengajar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.  

Diposkan Oleh Enjang Muhaemin -- Lentera Dakwah

Enjang Muhaemin Kesediaan Anda membaca artikel Di Balik Ibadah Qurban. merupakan kehormatan bagi saya. Anda diperbolehkan mengcopy-paste atau menyebarluaskan artikel ini, dan jangan lupa meletakkan link di bawah ini sebagai sumbernya.

:: SILAKAN KLIK DAN BACA TULISAN LAINNYA ::

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Rabu, November 09, 2011