Internet, Bagai Pedang Bermata Dua

Internet sebagai media, tak ubahnya bagai pedang bermata dua. Bisa digunakan untuk kebaikan, bisa pula digunakan untuk kejahatan.

Lima Pola Pemecahan Masalah

Setiap manusia, tentunya memiliki masalah (problem). Dan tampaknya, tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini, yang hidup tanpa masalah.

Gelisah Karena Pujian

Mendengar berbagai pujian, si alim menjadi gelisah. Jangan-jangan dirinya rajin beribadah bukan karena Allah, melainkan karena orang-orang memujinya sebagai orang alim.

Akademisi Ilmuwan Dakwah di Era Internet

Sebagai pilar terdepan, akademisi ilmuwan dakwah idealnya berdiri paling depan dalam gerbang pertarungan global.

Ketimpangan antara Intelektualitas dan Moralitas

Di dunia pendidikan, manusia dibentuk dan dicetak bukan sekadar untuk menjadi cerdas, dan terampil semata, tetapi juga berakhlak mulia.

Nilai Penting Bahasa Bagi Manusia

Oleh Enjang Muhaemin

Bahasa hadir sebagai karunia Tuhan yang tiada terkira. Bahkan, Tuhan sendiri ‘menampakkan’ diri pada manusia, bukan melalui Zat-Nya, tetapi melalui bahasa-Nya: yaitu bahasa alam (ayat –ayat kauniyah) dan kitab suci. Bagi manusia di belahan dunia mana pun, tentu tak akan membantah betapa pentingnya bahasa bagi diri dan kehidupannya. Kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban bangsa mana pun, lagi-lagi, tidak bisa dilepaskan dengan apa yang kita sebut bahasa


Melalui bahasa, kita bukan hanya bisa berkomunikasi, tetapi juga bisa menggali dan mentransfer ilmu kepada manusia lainnya. Melalui bahasa pula, kita dapat berbicara, dan mengabstraksikan seluruh pengalaman empiris, rasional, dan spiritual secara konseptual, terstruktur, dan sistematis.

Pendek kata, bahasa merupakan karunia Tuhan yang sungguh luar biasa, baik fungsinya maupun manfaatnya. Tanpa bahasa, entah apa jadinya dunia ini. Bagi manusia, bahasa mutlak adanya. Bagi manusia, bahasa adalah sine qua non, suatu yang mesti ada bagi dirinya. 


Dengan melalui bahasa, manusia akan mampu menggali dan menyebarkan ilmu. Bukan hanya disebarkan pada zamannya, tetapi juga diwariskan bagi umat manusia yang datang belakangan. Ilmu, yang demikian majunya tak lepas atas andil besar yang telah dimainkan oleh bahasa.

Mengkaji hubungan antara bahasa dan ilmu adalah hal penting yang selayaknya mendapat porsi telaah yang serius. Sepertinya halnya hubungan manusia dengan bahasa, hubungan ilmu dengan bahasa pun demikian luar biasa pentingnya. 

Keduanya berjalan seiring sejalan, bak dua sejoli yang tak bisa dipisahkan. Ibarat lain untuk pentingnya hubungan keduanya, tak ubahnnya gula dengan manisnya, garam dengan asinnya. Fakta membuktikan, sehebat apapun ilmu yang kita gali, tak mungkin terkomunikasikan tanpa melalui bahasa. 

Itulah sedikit deskripsi bagaimana pentingnya hubungan bahasa dan ilmu bagi umat manusia, dan kemajuan peradaban di zaman apapun. []

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Senin, Juli 18, 2011

Bahasa dan Keunikan Manusia

Oleh Enjang Muhaemin

Foto: Google
Keunikan manusia sebenarnya bukanlah terletak pada kemampuan berpikirnya, melainkan terletak pada kemampuannya berbahasanya.
Jujun S Suriasumantri

Perbedaan utama antara manusia dan binatang terletak pada kemampuan manusia untuk mengambil jalan melingkar dalam mencapai tujuannya. Seluruh piliran binatang dipenuhi oleh kebutuhan yang menyebabkan mereka secara langsung mencari obyek yang diinginkannya atau membuang benda yang merintanginya.

Mengutip Philip E.B. Jourdain, Jujun S Suriasumantri menyimpulkan, bahwa dengan demikian tidak perlu heran bila kita sering melihat seekor monyet yang menjangkau secara sia-sia benda yang dia inginkan. Padahal, manusia yang paling primitif pun telah tahu mempergunakan bandringan, laso atau melempar dengan batu. 

Ilustrasi di atas mendeskripsikan bahwa manusia adalah makhluk berakal. Ilmu mantiq menyebutnya hayawanun natiq (binatang yang berpikir). Berbeda dengan binatang, manusia dengan kekuatan akal yang dimilikinya justru mampu mengendalikan hambatan dan kendala yang merintanginya guna mencapai tu-juan yang diharapkannya. 

Kemampuan itu dimungkinkan karena manusia memiliki akal yang digunakannya untuk berpikir. Hasil berpikirnya itulah yang kemudian disebut ilmu atau pengetahuan. Dalam konteks ini tidaklah heran bila Ibnu Rusyd mengungkapkan bahwa akal merupakan mahkota terpenting manusia. Aliran filsafat Rasionalisme menegaskan, akal itulah alat pencari dan pengukur pengetahuan. 

Namun, dalam pandangan Jujun, keunikan manusia sebenarnya bukanlah terletak pada kemampuan berpikirnya melainkan terletak pada kemampuannya berbahasa. Ia memiliki ilustrasi menarik tentang yang satu ini. 

Ia menuturkan, dapatkah Anda bayangkan jika binatang dapat berbicara seperti manusia? Jika si Didi sedang memakan pisang, misalnya, maka monyet si Didi tidak sekadar cuma mengernyit-ngernyitkan dahinya dengan penuh frustasi, melainkan dengan lantang akan berkata, “Bagi-bagi dong, Di, pisangnya!” Dan bukan cuma berhenti di situ saja, dia pun mungkin akan belajar menanam pohon pisang sendiri, sebab dengan bahasa maka dia akan menguasai pengetahuan. 

Mungkin tak ada yang lebih menyadari kebenaran pernyataan Wittgenstein selain monyet si Didi, “Die Genzen meiner Sprache bedeuten die Grenzen meiner Welt,” yang artinya “Batas bahasaku adalah batas duniaku.”
Mencermati hal di atas maka tidaklah aneh bila Ernest Cassirer me-nyebut manusia sebagai animal sym-bolicum, makhluk yang mempergunakan simbol, yang secara generik mempunyai cakupan yang lebih luas dibanding homo sapiens, makhluk yang berpikir, sebab dalam kegiatan berpikirnya manusia mempergunakan simbol. 

Tanpa memiliki kemampuan berbahasa, maka kegiatan berpikir secara sistematis dan teratur tidak mungkin dapat dilakukan. Lebih jauhnya lagi, tanpa kemampuan berbahasa maka manusia tak mungkin mengembangkan kebudayaannya, sebab tanpa mempunyai bahasa maka hilang pulalah kemampuan untuk meneruskan nilai-nilai budaya dari generasi yang satu kepada generasi selanjutnya. 

“Tanpa bahasa,” simpul Aldous Huxley, “manusia tak berbeda dengan anjing atau monyet.” []

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Senin, Juli 18, 2011

Bahasa dan Proses Berpikir

Oleh Enjang Muhaemin

Kupasan menarik tentang korelasi bahasa dan proses berpikir pernah diulas Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Komunikasi Psikologi. Menurutnya, teori yang menjelaskan hubungan bahasa dengan berpikir adalah teori Whorf (Whorfian Hyptotesis). Secara singkat, teori ini dapat disimpulkan bahwa pandangan kita tentang dunia dibentuk oleh bahasa; dan karena bahasa berbeda, maka pandangan kita tentang dunia pun berbeda.

Secara selektif, kita menyaring data sensori yang masuk yang telah diprogram oleh bahasa yang kita pakai. Dengan begitu, masyarakat yang menggunakan bahasa yang berbeda hidup dalam dunia sensori yang berbeda pula. Edward Sapir, guru Benjamin L. Whorf menulis, bahasa adalah pandu realitas. Walaupun bahasa biasanya tidak dianggap sebagai hal yang sangat diminati ilmuwan sosial, bahasa secara kuat mengkondisikan pikiran kita tentang masalah dan proses sosial.

Manusia, menurutnya, tidak hidup hanya di dunia objektif, tidak hanya dalam dunia kegiatan sosial seperti yang biasa dipahaminya, tetapi ia sangat ditentukan oleh bahasa tertentu yang menjadi medium pernyataan bagi masyarakatnya. Tidak ada dua bahasa yang cukup sama untuk dianggap mewakili kenyataan sosial yang sama. Dunia tempat tinggal berbagai masyarakat, bukan semata-mata dunia yang sama dengan mereka yang berbeda.

Bila demikian, lantas bagaimana hubungan antara bahasa dengan proses berpikir? Dalam konteks ini, dapat dijelaskan terlebih awal bahwa konsep-konsep dalam suatu bahasa, selain cenderung menghambat, juga dapat mempercepat proses berpikir. 

Dalam pandangan Jalaluddin Rakhmat, kita mungkin dapat berpikir tanpa menggunakan bahasa. Namun begitu, bahasa terbukti mempermudah kemampuan belajar dan mengingat, memecahkan persoalan, dan menarik kesimpulan. Bahasa memungkinkan kita menyandi (code) peristiwa-peristiwa dan objek-objek dalam bentuk kata-kata.

Dengan bahasa, kita mampu mengabstraksikan pengalaman dan pikir-an kita kepada orang lain. Dan yang tak kalah pentingnya adalah kita dapat mengkomunikasikannya pada pihak lain, atau sebaliknya menerima dari orang lain. Bahasa merupakan sistem lambang tak terbatas, yang mampu mengung-kapkan segala macam pemikiran. 

Pendek kata, betul kita tidak selalu berpikir dengan kata-kata, tetapi sedikit sekali kita dapat berpikir tanpa kata-kata. Bahasa, singkatnya, sangat membantu dan mempermudah kita dalam proses berpikir, dan menyampaikan hasil pemikiran kita kepada orang lain. Tapi di balik itu, memang harus diakui pula, bahwa bahasa juga terkadang menghambat proses berpikir. Terutama ketika kita mengalami kebingungan dalam mengartikan kata-kata. []

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Senin, Juli 18, 2011

Membenahi “Benang Kusut” Birokrasi

Oleh ENJANG MUHAEMIN

Judul Buku : Reformasi Birokrasi;
Analisis Pendayagunaan Aparatur Negara
Penulis : Feisal Tamim
Penerbit : Belantika, Jakarta
Cetakan : Pertama, April 2003
Tebal : 189 + XX halaman

SALAH-satu persoalan mendesak yang patut segera dibenahi di negeri ini adalah masalah birokrasi pemerintahan yang masih terbilang memprihatinkan. Reformasi birokrasi menjadi hal mutlak yang tak bisa diabaikan, bila bangsa ini berkehendak untuk bangkit menuju peradaban yang lebih maju dan modern.

Reformasi birokrasi dapat dimaknai sebagai penataan ulang secara bertahap dan sistematis dengan correct dan fect atas fungsi utama pemerintah demi kelancaran pendayagunaan aparatur negara, meliputi penataan kelembagaan/institusi yang efisien dengan tata laksana yang transparan, SDM yang profesional, akuntabilitas yang tinggi kepada masyarakat dan menghasilkan pelayanan publik yang prima. 

Sebagai penegasan reformasi birokrasi, maka dalam pendayagunaan aparatur negara, implementasi kebijakan dan programnya harus terus-menerus menunjang terwujudnya good governance sebagaimana sering disampaikan para pakar, kemudian juga menjadi rekomendasi MPR (TAP MPR II, VI, 2002) yang intinya: Pertama, melakukan penataan kelembagaan negara dan SDM aparatur. Kedua, melakukan pemberantasan segala bentuk pungutan liar, korupsi, kolusi dan nepotisme, serta pemberantasan penyelundupan secara tegas dan tuntas. 

Ketiga, terciptanya penyelenggara dan pengelola dunia usaha yang baik dan bersih dari tingkat pusat sampai tingkat daerah. Keempat, membangun kultur birokrasi yang transparan, akuntabel, bersih dan bertanggung jawab serta menjadi pelayan masyarakat dan abdi negara. Kelima, membenahi birokrasi pemerintahan baik yang langsung ataupun tidak langsung terkait dengan pelaksanaan program pemulihan ekonomi dalam rangka peningkatan pengawasan birokrasi.

Kelima rekomendasi berlapis-lapis tersebut merupakan gambaran yang perlu diimplementasikan ke dalam program pembangunan yang sangat erat dengan pendayagunaan aparatur negara, serta jelas-jelas bersifat lintas sektoral, instansional, dan lintas wilayah, meliputi dan berada pada seluruh instansi pemerintah baik di pusat maupun di daerah.

Buku Reformasi Birokrasi; Analisis Pendayagunaan Aparatur Negara yang ditulis oleh Feisal Tamim, jelas memiliki daya tarik yang layak untuk dicermati. Karena, selain penulisnya adalah seorang menteri (masa pemerintahan Megawati) yang mengurusi bidang pendayagunaan aparatur negara, juga karena isi buku ini memiliki konsep cukup baik guna memperbaiki dan membenahi manajemen birokrasi di negeri kita yang sungguh amat memprihatinkan.

Buku ini merupakan refleksi dan elaborasi Feisal Tamim mengenai reformasi birokrasi. Ia mengawali buku ini dengan menawarkan ide (Bab I) tentang bagaimana caranya agar seluruh manusia di dunia mempunyai akses kuat untuk menikmati kemajuan peradaban dan kekuasaan. Ia mengupayakan hilangnya kebuntuan sistem pemerintahan dari banyak negara yang selama beberapa dekade ternyata tidak juga menunjukkan keberhasilan mengangkat derajat lebih banyak warga negaranya. Ini berarti harus ada upaya mengurangi penderitaaan umat manusia di dunia ini dengan menjadikan birokrasi sebagai faktor penentu bagi tercapainya distribusi kesejahteraan.

Pada Bab II ditawarkan bagaimana administrasi pemerintahan seharusnya melaksanakan cita-cita bangsa, yang memerlukan adanya lompatan peningkatan kualitas aparatur negara Indonesia sebagai suatu keharusan. Hal demikian amat dibutuhkan untuk menyikapi pergaulan dunia yang selalu tidak ramah. Memang pasti terjadi competitiveness to adversary, sehingga di Indonesia mutlak diperlukan adanya hubungan sinergi dari para pelaku tata kepemerintahan yang baik (good governance) sebagai kehendak bersama dan bersifat compulsory. 

Mengingat selama ini penyelenggaraan pemerintahan negara belum sepenuhnya menunjang terwujudnya good governance, maka birokrasi (Bab III) perlu diperbaiki. Jadi, harus ada reformasi birokrasi nasional yang benar-benar didukung kuat oleh segenap komponen bangsa, dengan menempatkan kelembagaan birokrasi yang terus ditata, sebagai struktur penopang yang kuat dan proporsional. Dalam konteks ini, SDM aparatur diberi ruang membangun kompetensi dan profesionalitasnya, antara lain melalui peningkatan kedisiplinan dalam maknanya yang erat dengan penerapan prinsip meritokrasi.

Untuk mencapai kualifikasi yang kita butuhkan, maka PNS sebagai salah satu unsur kekuatan daya saing bangsa, bahkan sebagai penentu utamanya, harus netral dari segala pengaruh kepentingan apa pun demi pencapaian tujuan, tidak saja profesionalitas dan pembangun citra pelayanan publik, tetapi juga sebagai perekat pemersatu bangsa.

Menurutnya, hanya dengan mewujudkan tata kepemerintahan yang baik (good governance), suatu reformasi birokrasi nasional benar-benar akan terwujud. Reformasi demikian harus didukung kuat oleh segenap komponen bangsa, sehingga SDM aparatur negara akan lebih kompeten dan profesional, sehingga kesejahteraan masyarakat pun dapat diraih.

Buku Reformasi Birokrasi ini merupakan referensi amat berarti bagi peningkatan khazanah dalam bidang administrasi negara, apalagi penulisnya adalah seorang yang pernah dipercaya memimpin Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara. Karenanya, buku yang satu ini selain perlu disimak secara khusus oleh aparat birokrasi, juga patut ditelaah oleh para mahasiswa dan pengajar.

Penulis buku ini mengingatkan berbagai kelemahan yang melekat pada konsep birokrasi sebagai suatu ‘mesin rasionalisasi’ manusia modern. Ini merupakan suatu penelusuran literatur yang patut dihargai. Ia sadar betul bahwa reformasi harus berani melakukan penyesuaian, perombakan, dan peningkatan yang memang diuperlukan, seperti perubahan pada “moral, habits, dan methods”. 

Reformasi birokrasi bukan hanya perkara pembenahan sistem semata, tetapi juga menyangkut pengembangan nilai-nilai. Ada tujuh belas pasang nilai-nilai dasar budaya kerja atau mengandung 34 unsur nilai yang dikembangkan. Hal ini mungkin dapat menjadi bahan diskusi, mengapa sedemikian banyak nilai yang harus ditanamkan? Mengapa tidak meniru negara-negara lain yang hanya menekankan dua atau tiga nilai strategis saja tetapi secara sungguh-sungguh? Misalnya Korea, Singapura, Malaysia, dan sebagainya.

Penulis buku ini pada bagian lain, memang tampaknya cenderung menekankan pada beberapa nilai saja yaitu: disiplin, meritokrasi, dan budaya malu. Ini mungkin lebih realistis untuk dicapai, walaupun memerlukan banyak kerja keras. Sebagai suatu loncatan pemikiran, buku Reformasi Birokrasi ini amat menantang dan perlu diacungi jempol. Kita berharap, buku ini bisa menjadi obat mujarab untuk memperbaiki benang kusut birokrasi di negeri ini. Tak mudah memang. Tapi yakinlah, selalu ada jalan untuk memperbaikinya.

Terlepas dari sejumlah kekurangan, namun yang pasti, buku yang ditulis oleh seorang menteri ini adalah suatu tradisi pertanggungjawaban intelektual yang baik. Mudah-mudahan, langkahnya ini dapat memberikan inspirasi pada pejabat tinggi negara yang lain.***

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Senin, Juli 18, 2011

Lima Pola Pemecahan Masalah

Oleh Enjang Muhaemin

Setiap manusia, tentunya memiliki masalah (problem). Dan tampaknya, tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini, yang hidup tanpa masalah. Yang pertama, yang membedakan satu dengan lainnya hanyalah kuantitas dan kualitas masalahnya. Ada yang banyak, ada yang sedikit. Ada yang berat, ada yang ringan. Ada yang kompleks, ada yang sederhana. Yang kedua, yang membedakannya yakni kemampuan di dalam memecahkan masalah (problem solving).

Organisasi atau lembaga manapun, juga sama dengan manusia. Tidak akan pernah steril dari masalah. Selalu ada, dan akan tetap ada. Mungkin Anda akan berkata, “Bila demikian apa perlunya kita mengupas dan membahasnya. Dan buat apa pula berusaha memecahkannya?” Kawan di samping Anda mungkin akan lebih sewot lagi: “Iya yah, kayak nggak ada kerjaan saja. Buang-buang waktu, tau!”

Sebentar, jangan sewot dulu dong! Kita kan belum tuntas, masih pemanasan, gitu lho! Maksud saya, begini, kendati masalah itu selalu ada, dan akan tetap ada, bila kita pandai menyikapinya, maka masalah justru akan memunculkan dampak positif dan amat bermanfaat. Kuncinya ada pada bagaimana kita menyikapinya: terpicu dan terpacu untuk memecahkannya atau sebaliknya berlari dan menghindar atas masalah yang kita hadapi.

Ketika masalah menghadang sebenarnya tak ubahnya pedang bermata dua. Bisa bermanfaat, juga bisa menimbulkan madarat. Sangat tergantung pada kemampuan kita menghadapinya. Tidak besar, tidak kecil, semua organisasi pasti memiliki masalah. Keberadaan dan kehadiran masalah, sejatinya membuat sebuah organisasi menjadi hidup, dinamis, kreatif, dan inovatif. Orang-orang yang terlibat di dalamnya, juga menjadi tertantang untuk memecahkannya, dan mencari jalan keluarnya. 

Semakin cerdas para aktivis organisasi memecahkan masalah, akan semakin maju sebuah organisasi. Jatuh bangun dalam memecahkan masalah akan memberikan nilai tambah yang tidak terduga sebelumnya: pengalaman, pengetahuan, dan kesuksesan. Namun sebaliknya, bila sebuah masalah dibiarkan tumbuh berkembang, ia tak ubahnya kanker ganas yang semakin lama akan semakin berbahaya. Ia akan menjalar ke sekujur tubuh. Bila ini terjadi, berarti ajal bakal segera menjemput. Kenyataan ini akan sama persis terjadi pada tubuh organisasi yang membiarkan beragam masalah tumbuh menggerogotinya. 

Kiat Pemecahan Masalah 
 
Umumnya kita bergerak sesuai dengan kebiasaan. Pagi-pagi setelah sarapan, Anda berangkat ke sekolah. Anda mengeluarkan motor dari garasi, memasukkan kunci, dan menstarter motor Anda. Jalan yang Anda tempuh juga hampir tidak disadari. Semua berjalan seperti otomotis. “Masalah timbul, ketika ada peristiwa yang tidak dapat diatasi dengan perilaku rutin,” kata Jalaluddin Rakhmat. Misalnya, motor Anda tiba-tiba mogok, jalanan macet, atau buku PR ketinggalan padahal harus dikumpulkan hari itu juga. Masalah timbul menghadang. Anda bingung, resah, kalang kabut, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Anda bertabrakan dengan situasi yang harus anda atasi. Inilah yang kita sebut situasi masalah (problem situation). 

Contoh di atas mengajarkan pada kita bahwa masalah adalah peristiwa di saat perilaku yang biasa dihambat karena sebab-sebab tertentu. Ini definisi masalah yang pertama. Bagaimana menghadapi dan mengatasinya? Motor mogok, anda selah berkali-kali, buku PR ketinggalan, anda bikin ulang di kelas, pacar anda mogok bicara, anda membujuknya. Ini cara pertama yang biasa kita lakukan. Pemecahan masalah dengan pola yang rutin. 

Bila cara itu masih juga gagal, apa yang anda lakukan? Anda mencoba menggali memori anda untuk mengetahui cara-cara apa saja yang efektif pada masa lalu. Motor mogok, didorong. Buku PR ketinggalan, anda telepon orang rumah untuk mengantarkannya ke sekolah. Pacar anda mogok bicara, anda merengek-rengek minta maaf. Ini cara kedua di dalam memecahkan masalah—tentu bila cara pertama gagal—yakni dengan menggali memori di masa yang sudah-sudah. Pemecahan ini, intinya, berdasarkan pengalaman. Sementara yang pertama berdasarkan kebiasaan.

Kalau masih saja gagal, apa yang biasa anda lakukan? Cara ketiga bisa jadi pilihan: mencoba seluruh kemungkinan pemecahan yang pernah anda ingat atau yang dapat anda pikirkan. Semua anda coba. Ini disebut penyelesaian mekanis (mechanical solution) dengan uji coba (trial and error). 

Andai hasilnya gagal juga, maka anda dapat menggunakan lambang-lambang verbal atau grafis untuk mengatasi masalah. Anda mencoba memahami situasi yang terjadi, mencari jawaban, dan menemukan kesimpulan yang tepat. Anda mungkin menggunakan deduksi, atau induksi. Namun karena anda jarang memperoleh informasi lengkap, anda lebih sering menggunakan analogi.

Pemecahan masalah, juga terkadang terjadi dengan apa yang lazim kita sebut dengan insight solution. Tiba-tiba terlintas dalam pikiran anda suatu pemecahan. “Aha, sekarang saya tahu, pacar saya marah karena saya berdekatan dengan cewek lain, saya harus minta maaf.” Kilasan pemecahan masalah ini juga disebut Aha Erlebnis (pengalaman Aha). []

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Rabu, Juli 13, 2011

Cinta Vs Rasionalisasi

Oleh Enjang Muhaemin

Menjadi muslim yang baik, sungguh tidaklah gampang. Ilmu boleh tinggi, wawasan boleh luas. Tapi hati-hatilah, tingginya ilmu dan luasnya wawasan bukanlah jaminan untuk menjadi muslim yang baik. Bahkan bukan tak mungkin justru menjadi muslim yang durhaka.

Ketaatan dan kepasrahan dalam menerima ajaran Islam membutuhkan syarat: cinta. Otak boleh encer, wawasan boleh seluas lautan, tapi bila tak ada cinta, jangan berharap bisa menjadi muslim yang taat, muslim yang baik. Cinta terhadap Islam, cinta terhadap Rasulullah, dan cinta terhadap Allah menjadi syarat penentu berhasil tidaknya seseorang menjadi muslim yang baik. 

Bila cinta sudah tumbuh, apa pun yang dititahkan, dan apa pun yang dilarang tak akan dibantah. Akan cepat dilaksanakan dengan penuh ketaatan. Namun, bila di hatinya tak tertanam cinta, jangankan untuk melaksanakan, sekadar membenarkan ajaran pun sulitnya minta ampun. Logikanya terus bermain mencari alasan untuk membantahnya. Bila ini terjadi muncullah apa yang disebut rasionalisasi: mencari-cari alasan yang masuk akal untuk mengelak dari apa yang dititahkan Allah dan rasul-Nya.

Rasionalisasi, diakui atau tidak, tumbuh subur di kalangan orang yang merasa dirinya pandai. Mencari pembenaran agar keengganan melaksanakan syariat terlihat seperti rasional. Ini terjadi akibat hatinya gersang. Benih-benih cinta tak lagi tumbuh. Cinta terhadap Ilahi kelompok ini, lenyap ditelan egoisme intelektual yang tumbuh lebih dominan. Islam sebagai ajaran, dipilih dan dipilah: mana yang merugikan, mana yang menguntungkan; mana yang meringankan, mana yang memberatkan. Standarnya sangat subyektif: hawa nafsunya menjadi ukuran.

Kini kita bisa paham menjadi muslim yang baik memang tidak mudah. Perlu ada cinta di hati kita: cinta terhadap Allah dan rasulnya. Bila cinta sudah tumbuh, insya Allah apa pun yang digariskan Islam akan dilaksanakannya dengan penuh ketaatan dan tanggung jawab. Ia tak akan takut, juga takan membantah. Rasionalisasi tak ada dalam kamus hidupnya. 

Selama itu ajaran yang digariskan Islam, ia takkan mengelak, apalagi harus menilainya sebagai tindakan tidak manusiawi. Bahkan, karena cinta pada Allah dan rasulNya jauh lebih besar dibanding kecintaan terhadap dirinya, apa pun titah dan perintah yang digariskan Islam akan dilaksanakannya dengan ikhlas dan dengan senang hati.

Firman Allah dalam Al-quran, surat Ali Imran ayat 31 dipegang teguh dan diyakininya dengan sepenuh hati. “Katakan (hai Muhammad), ‘Jika kamu betul-betul mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi kamu dan mengampubi dosa-dosamu.’Dan Allah Mahapenyanyang kepada hamba-Nya.” []

Staf Pengajar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Rabu, Juli 06, 2011

Terpesona Gemerlap Duniawi

Oleh Enjang Muhaemin

Boleh jadi semua sepakat, dunia memang indah tiada tara. Gemerlap dan kemegahannya sungguh amat mempesona. Sungguh, bila manusia hendak menikmatinya, tentu bukanlah suatu dosa, juga bukan sesuatu yang terlarang. Sebab keindahan dan pesona yang ada di dalamnya memang karunia Allah untuk dinikmati siapa pun.

Anda mau menikmatinya ? Silakan, tapi hati-hati jangan sampai lupa diri. Kurang-kurangnya bisa terjebak kenikmatan semu. Fatamorgana dunia bisa melelapkan dan menjerumuskan ke jurang kenistaan. Sadarilah dengan sepenuh hati dunia bukanlah segala-galanya. Hanya sarana menuju hidup sesungguhnya di dalam baqa kelak. Di alam inilah kita akan menikmati kehidupan sejati.

Tapi sayang, banyak manusia yang terjebak dan terperosok pesona dunia. Gemerlapnya kerap membuat mata hati kita buta, dan kita terlelap dininabobokan nafsu duniawi, dan mudah terpedaya menjadi penghamba harta pemburu tahta. Kemegahan dunia bisa dengan mudah menyihir manusia seolah hidup akan abadi saelamanya.

Harta dan tahta terus diburu, dan terkadang dilakukan dengan tidak halal. Dan anehnya kerap merasa tak berdosa, inilah tragedi terbesar manusia abad ini. Cinta dunia menjadi gejala yang begitu jelas. Mata hati menjadi buta terbujuk fatamorgana duniawi. Karena itu amat bisa dipahami bila para sufi kemudian memencilkan diri dari kesenangan dunia.

Pelarian para sufi, tentu bukan tanpa kesadaran. Mereka paham betul kelezatan duniawi tak seberapa dibanding kelezatan yang akan dirasakan di alam baqa kelak. Firman Allah dalam sebuah hadist qudsi mengingatkan kedunguan kita, “Aku sediakan bagi hamba-hambaku yang beriman dan beramal shalih, kenikmatan yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia.”

Para sufi menyadari betul, hidup itu, ibarat kilat: sesaat dan singkat. Karenanya buat apa meneguk kenikmatan duniawi bila hanya sekejap, bila kelak abadi dalam azab Allah. Kesadaran inilah yang mulai langka dimiliki manusia, yang kabarnya lebih cerdas dan lebih modern. Manusia lupa, dunia hanyalah persinggahan sementara, yang abadi adalah alam baqa kelak, persinggahan terakhir yang dijanjikan Allah.

Di tempat itulah manusia mendapatkan balasan dari apa yang diperbuatnya di dunia. Bila amalnya bagus, surga adalah balasannya. Bila nilai rapornya buruk, neraka adalah tempatnya yang paling layak. Saudaraku, sebelum maut menjemput, tengoklah amal yang telah kita lakukan untuk bekal kelak, hitung-hitunglah dirimu sebelum engkau diperhitungkan. Begitu pepatah Umar bin Khatab dalam setiap kesempatan.

Dalam berbuat kebaikan, juga berhati-hatilah. Tumbuhkan keikhlasan, jauhkan riya, agar amal tidak sia-sia. Dalam sebuah hadistnya, Rasulullah SAW mengisahkan betapa pentingnya keikhlasan: Di hari kiamat nanti, kata baginda rasul, beberapa lembar catatan amal yang tertutup rapat didatangkan lalu dibeberkan di hadapan Allah Ta’ala. Tiba-tiba Allah berfirman, “Campakanlah yang ini.” Para malaikat berkata, “ Demi keagunganmu, tak kami lihat di dalamnya kecuali hal-hal yang baik saja.” Allah menjawab, “Sesungguhnya semua itu dahulu ditunjukan bukan untuk-Ku, dan Aku hanya akan menerima amal yang dilakukan semata ke hadiratku. []


Penulis, Staf Pengajar UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Rabu, Juli 06, 2011

BUKTI "SIHIR" MEDIA MELEMAH?

Oleh Enjang Muhaemin

KEBERHASILAN Anas Urbaningrum mengalahkan dua rivalnya, Andi Mallarangeng dan Marzuki Ali, pada Kongres II Partai Demokrat yang baru lalu dipandang sejumlah pihak sebagai refleksi kegagalan dan ketidakberdayaan media massa. Beragam argumen mengemuka dan menjadi kajian menarik, bukan hanya bagi para pemerhati media, tetapi juga masyarakat awam. Benarkah?Anas Menang Bukti “Sihir” Media Melemah?

Propaganda dan promosi diri yang relatif jor-joran dengan menggunakan media massa yang dilakukan Tim Sukses Andi Mallaranggeng berbuah kekecewaan. Tragisnya, Andi bukan hanya kalah di putaran pertama, tetapi juga hanya meraih suara kurang dari 1/5 pemilih. Parahnya lagi, suara pemilih Andi pada putaran pertama, juga gagal ‘disumbangkan’ secara utuh ke Marzuki Ali pada putaran kedua, kendati Andi merekomendasikannya secara blak-balakan.

Padahal, bila saja suara Andi utuh ‘melimpah’ ke Marzuki Ali, maka sudah jaminan kemenangan akan ada di kubu Marzuki Ali. Tapi sayangnya, realitas justru membuktikan lain. Suara Andi malah lebih banyak ‘berhamburan’ ke Anas Urbaningrum dibanding ke Marzuki Ali. Ini tentunya menjadi ‘tamparan’ telak untuk kesekian kalinya bagi Andi Mallarangeng. Bagai kata sebuah peribahasa, sudah jatuh tertimpa tangga lagi. Nasib Andi sebagai figur yang sudah merasa di atas angin memang mengenaskan.

Dikatakan mendapat ‘tamparan’ beruntun, karena pertama, rekomendasi Ibas agar peserta kongres memilih Andi tidak digubris peserta kongres. Rekomendasi Ibas, yang notabene putra SBY ini, sejak awal sebenarnya dipandang sebagai sinyal kuat atas ‘persetujuan’ SBY. Andi dipandang sebagai kandidat tepat untuk menakhodai Partai Demokrat. Rekomendasi Ibas nyatanya juga tak berbuah, ini tamparan pertama. Tamparan kedua, adalah optimisme tinggi akan meraih kemenangan, karena diyakini telah berbuat hebat dengan penggunaan media massa, sebagai alat untuk membangun citra dirinya dan menarik simpati pemilih, lagi-lagi berbuah kekecewaan.

Politik pencitraan menggunakan media massa, yang diistilahkan Alfan Alfian dengan sebutan ‘serangan udara’ dan kekuatan elite yang hanya mengandalkan restu, tidak bisa dijadikan senjata untuk memenangkan pertarungan politik internal partai. “Justru, ‘serangan darat’ lebih ampuh, karena berkomunikasi langsung dengan peserta kongres yang memiliki hak suara,” kata pengamat politik Alfan Alfian. (Pikiran Rakyat, 29/5)

“Sihir’ Media Massa

Yang menarik diperbincangkan, benarkan kekalahan Andi dalam pemilihan sebagai bukti ketidakberdayaan propaganda yang dilakukan media massa atau sebaliknya? Pandangan pertama, berpendapat, “Ya, betul! Media terbukti impoten.” Secara selintas sepertinya benar pernyataan yang menyebutkan bahwa media massa telah ‘impoten’ mempengaruhi pemilih kongres. Pasalnya, terbukti bahwa propaganda yang nyaris ‘habis-habisan’ hanya menguras fulus tanpa menghasilkan buah keberhasilan. Posisi ketua umum yang dibayangkan sebagai pintu gerbang menuju istana negara pada Pilpres 2014 gagal total.

Pandangan kedua menilai bukan medianya yang impoten, tetapi ketidakmampuan tim sukses Andilah yang gagal merancang strategi yang tepat di dalam penggunaan media massa. Media tetap memiliki kekuatan ‘sihir’ yang mampu mengendalikan pemilih. Hanya saja ketika kekuatan ‘sihir’ itu dihembuskan ke sasaran yang tidak tepat maka hasilnya pun akan jauh menyimpang. Karena sasarannya tidak tepat, maka yang terkena ‘sihir’ media pun bukan yang menjadi target.

Walhasil, ‘sihir’-nya sih tetap ampuh, hanya saja sasaran saja yang keliru. Bukan ‘penyihirnya’ yang impoten, juga bukan ‘sihirnya’ yang tidak ampuh, tetapi pemesan ‘sihir’-lah yang salah menyampaikan siapa yang harus “disihir”. Akibatnya yang kena sihir bukan objek yang dibidik, bukan target yang dijadikan sasaran, tetapi objek lain yang sama sekali tidak memiliki hak pilih dalam kongres tersebut. Iklannya ada hampir di semua televisi yang disaksikan oleh masyakarakat Indonesia. Iklan Andi tak ubahnya kampanye untuk Pilpres saja. Padahal yang memiliki hak suara hanyalah 500-an orang, dan itu pun hanya orang-orang khusus di internal Partai Demokrat saja.

Amsal lain yang dapat digunakan kampanye Andi itu, tak ubahnya orang yang membunuh nyamuk yang ada di Singaparna dengan meledakkan bom atom di Singapura. Hasilnya, jelas menjadi sia-sia. Nyamuknya tidak mati, biaya yang dikeluarkannya juga luar biasa besarnya. Pendeknya, selain tidak efektif, juga tidak efisien. Ini menunjukkan strategi yang digunakan Andi, bukan hanya tidak tepat, juga tidak efeisien, penghamburan biaya yang tidak semestinya terjadi. Dalam cara pandang kelompok ini sangat sederhana dan masuk akal. Kalau mau membunuh nyamuk cukup menggunakan Baygon, misalnya, dan menyemprotkan pada tempat nyamuk itu berada. Selain harganya murah, nyamuknya pun insya Allah akan mati. Selain efektif, juga efesien.

Tidak Sim Salabin atau Abra Dakabra


Dengan cara pandang yang sedikit berbeda, sebenarnya, penulis berpendapat bahwa kemenangan Anas, kekalahan Andi dan Marzuki justru mengindikasikan bahwa daya pengaruh dan ‘sihir’ media massa cukup luar biasa. Hanya saja, yang patut dicatat, bahwa publikasi para calon kandidat yang ‘dipromosikan’ media massa jauh hari sebelum pencalonan diri sesungguhnya telah menyimpan rekam jejak yang amat kuat di benak publik media. Termasuk para peserta kongres Partai Demokrat. Publik media sudah mengantongi track record ketiga kandidat itu jauh-jauh hari sebelum didengungkan dan dicalonkan sebagai kandidat yang dijagokan.

Pencitraan diri para kandidat itu sejatinya sudah dibangun secara alami oleh dirinya masing-masing sejak mereka naik menjadi publik figur, dengan relatif tanpa ada rekayasa media massa. Dalam konteks ini, media massa hanya menyodorkan kepada khalayak tentang apa, siapa, mengapa, di mana, dan bagaimana. Unsur-unsur yang dalam dunia jurnalistik disebut dengan 5W+1H itulah yang sejatinya telah membangun pencitraan diri mereka jauh-jauh hari. Pencitraan yang bersifat alami tanpa ada rekayasa media massa inilah yang pada akhirnya mampu melekat kuat di benak khalayak. Daya ’sihir’ media massa inilah, yang sejatinya mampu merontokkan ‘sihir-sihir’ kamulflase yang direkayasa media massa.

Jalan pintas pencitraan diri dengan hanya menggunakan baliho, spanduk, iklan dan sejenisnya sebenarnya amat tidak efektif bila pencitraan diri yang telah dibangun secara alami sejak jauh hari telah dipublikasikan dan ‘disihirkan’ media kepada khalayak. Ibarat produk yang dipublikasikan dan diiklankan akan berpengaruh atau tidak, akan sangat tergantung pada citra produk itu sebelumnya. Bila produk yang diiklankan itu telah diketahui kekurangannya, sehebat apapun iklan itu, maka hasilnya akan nihil. Akan lain hasilnya bila yang diiklankan itu adalah produk yang bagus, berkualitas, dan tidak diketahui kekurangannya. Iklan, baliho, spanduk, dan sejenisnya akan berpengaruh dan memperteguh konsumen untuk membeli produk tersebut. Dalam hal ini, media berfungsi sebagai peneguh dan pengokoh citra produk sebelumnya. Walhasil, pencitraan diri sejatinya bukan hasil sim salabin atau abra dakabri, tetapi melalui proses panjang, berliku, dan sarat perjuangan.

Dalam pespektif komunikasi, daya pengaruh yang disuntikkan kepada publik media sama halnya dengan obat penyembuh yang disuntikkan dokter kepada seorang pasien. Tidak semua pasien sembuh dalam waktu cepat dan sekejap. Butuh waktu yang sepadan antara kemujaraban obat dengan tingkat penyakit yang diderita pasien. Bahkan bukan mustahil obat saja tidak akan mampu menyembuhkan pasien bila racun yang tersebar dan menjalar ke dalam tubuh pasien sudah ganas. Racun bagi tubuh sama dengan ‘informasi buruk’ yang sudah terekam oleh benak masyarakat. Untuk memulihkannya tentu tidak cukup satu dua bulan dengan hanya menggunakan obat yang biasa-biasa saja. Selain butuh diagnosa yang akurat, dokter yang profesional, juga obat yang super mujarab. Bahkan bila perlu dilakukan bedah besar-besaran untuk mengangkat racun yang sudah tumbuh akut di dalam tubuh.

Euforia Kemenangan Obama

Keberhasilan Anas menduduki jabatan Ketua Umum Partai Demokrat juga tidak mau tidak, terkait dengan euforia kemenangan Obama pada Pilpres Amerika belum lama ini. Obama yang cerdas, energik, santun, muda, dan nyaris tanpa cela menjadi prototipe impian yang gaungnya terus menguat di kalangan politikus muda Indonesia. Bahkan tidak sedikit yang memprediksi, pada Pilpres 2014, yang akan memiliki kans kuat memimpin negeri ini adalah tipikal Obama. Tidaklah mengherankan bila kemudian banyak politikus muda Indonesia berusaha keras menggolkan tokoh muda di partainya untuk menjadi ketua umumnya.

Momentum politikus muda untuk menakhodai partai politik di Indonesia tampaknya akan menjadi tren yang tak terbendung. Kendati politisi tua mencoba mengganjalnya, kelihatannya akan gagal. Prediksi ini berdasarkan pada beberapa indikasi yang mulai terlihat secara kasat mata. Pertarungan pada Pilpres 2014 tidak mau tidak akan memunculkan capres-capres baru yang masih muda, energik, cerdas, santun, dan bersahaja. Masa kejayaan politisi tua dipandang sudah habis, the end. Bila pun masih ada partai yang berani menjagokan tokoh tua, maka kuat dugaan akan tersingkir, dengan sendirinya atau dengan cara ‘keterpaksaan’. Di tengah euforia “yang muda yang memimpin”, maka daya tawarnya politisi tua akan semakin melemah.

Tak hanya itu, euforia kemenangan Obama juga belum akan sirna, bahkan menjelang Pilpres 2014, gemanya akan semakin kuat. Dalam konteks inilah, para politikus muda di banyak partai politik sebenarnya tengah menjadi ‘ancaman’ berat bagi para politisi tua. Kondisi tersebut tentunya menyulitkan para politikus tua. Ibarat pepatah, dimakan ibu mati, tidak dimakan bapak mati. Ketajaman analisis, kearifan, dan ‘ijtihad’ politik para politisi tua dituntut tidak main-main. Mencegal atau mendorong, tentunya bukan pilihan yang mudah.

Akhirul kata, kemenangan Anas menduduki kursi Ketua Umum Partai Demokrat sepertinya tidak terlepas dari faktor-faktor di atas, yang tentunya, satu sama lain saling menguatkan. Keberhasilan Anas, tampaknya akan mendorong para politikus muda di partai lain untuk ‘merebut’ dan ‘berebut’ posisi jabatan ketua umum. Benarkah? Mari kita lihat saja!***

Penulis, pemerhati media & Dosen Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi,
UIN SGD Bandung.

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Rabu, Juli 06, 2011

Memahami dan Menulis Berita [3]

UNSUR-UNSUR BERITA

Oleh Enjang Muhaemin

Deskripsi tentang berita tampaknya mulai tergambar dengan jelas. Kendati mendefinisikan berita tidak mudah, nyaris sama tidak mudahnya dengan mendefinisikan wanita cantik nan seksi, namun dengan melihat, menatap, dan memperhatikan contoh dan bukti fisiknya, maka tentunya gambaran tentang apa itu berita semakin kita pahami secara baik. Para praktisi media, juga demikian di dalam memahami berita. Umumnya tidak mudah menjelaskan definisinya, namun akan sangat gampang ketika ia diharuskan untuk menunjuk mana berita dan mana yang bukan berita.

Bagi seorang wartawan, mengenal berita saja tentu tidaklah cukup. Ia juga harus memahami unsur kelayakan sebuah berita, yakni unsur yang harus ada dalam sebuah berita. Ini penting, agar berita yang dipilih benar-benar penting dan memiliki daya tarik bagi khalayak media massa. Unsur-unsur yang dapat menarik minat khalayak media massa inilah yang disebut unsur-unsur kelayakan sebuah berita. 

Titik tekan dan penekanan unsur berita, sebagai penentu tingkatan nilai atas kualitas berita senantiasa mengalami perubahan. Dan diskursus tentang nilai berita ini, sesungguhnya memiliki sejarah yang panjang. Wacana tentang ini diulas Hikmat dan Purnama Kusumaningrat secara menarik dalam bukunya Jurnalistik, Teori & Praktik. Berikut adalah ringkasannya: Christian Weise, tahun 1676 berpendapat, ketika menyeleksi berita harus dipisahkan antara yang benar dan yang palsu. Pada tahun 1688, Daniel Hartnack malah menekankan pada unsur pentingnya peristiwa. Dalam kata lain, yang menentukan nilai suatu berita untuk diinformasikan kepada khalayak media massa bukan pada unsur dampak (consequence) dari sebuah peristiwa, tetapi pada unsur pentingnya peristiwa tersebut untuk dilaporkan.

Pada tahun 1690, Tobias Peucer, penulis disertasi tentang penerbitan di Jerman saat itu menyebut beberapa kriteria yang menentukan nilai kelayakan berita pada masa itu, di antaranya: Pertama, tanda-tanda yang tidak lazim, benda-benda yang ganjil, hasil kerja dan produk seni yang hebat dan tidak biasa, banjir atau badai yang disertai petir dan guruh yang mengerikan, gempa bumi, sesuatu yang aneh dan muncul dengan tiba-tiba dari langit, dan penemuan-penemuan baru, yang pada abad itu sangat banyak terjadi. 

Kedua, berbagai jenis keadaan, perubahan, perubahan - perubahan pemerintahan, masalah perang dan damai, sebab-sebab dan keinginan-keinginan perang, pertempuran, kekalahan, rencana-rencana para pemimpin militer, undang-undang baru, pertimbangan-pertimbangan yang disetujui, pegawai negeri, orang-orang terkenal, kelahiran dan kematian para pangeran, ahli waris harta, upacara pelantikan, pergantian jabatan atau pemecatan, kematian orang-orang terkenal, akhir riwayat orang tidak ber-Tuhan, dan masalah-masalah lainnya. 

Ketiga, masalah-masalah gereja dan keterpelajaran seperti asal-usul agama ini agama itu, pendiri dan kemajuannya, sekte-sekte baru, dogma-dogma yang diputuskan, ritual-ritual agama, perpecahan agama, penyiksaan, muktamar keagamaan, karya tulis para sarja, perselisihan ilmiah, karya baru terpelajar, keberanian berusaha, bencana dan kematian, serta seribu satu hal lainnya yang bertalian dengan alam, warga masyarakat, gereja dan sejarah keagamaan.

Dijelaskan lebih jauh, bahwa hal-hal biasa dan tidak menarik tidak bernilai untuk diberitakan. Untuk masalah ini, Peucer menyebut, antara lain, “kegiatan rutin manusia sehari-hari, yang hanya dibeda-bedakan oleh musim dan tidak seperti kejadian langka semisal badai yang disertai petir dan guntur.” Yang juga tidak bernilai untuk diberitakan adalah “kehidupan pribadi kaum bangsawan, seperti berburu, menjamu tamu, kunjungan ke teater… eksekusi pelaku kejahatan, spekulasi tentang urusan-urusan negara yang belum diketahui…”.

Juga yang tidak boleh diberitakan menurut Peucer adalah “apa yang merusak moral yang baik dan agama sejati, misalnya, kecabulan, kejahatan yang dilakukan dengan cara yang mengerikan, pernyataan-pernyataan yang bersifat atheis.” Inti pemikiran Peucer ialah bahwa hal-hal rutin dan biasa serta murni bersifat pribadi tidak memiliki nilai berita. Selang lima tahun kemudian, tepatnya tahun 1695, Kaspar Stieler menegaskan, para penulis berita di surat kabar haruslah “orang yang dapat menceritakan hal-hal penting, dan menjauhkan diri dari hal-hal sepele.” 

J. Wilke mengungkapkan, Stieler sudah menguraikan nilai-nilai berita ini secara jelas seperti kebaruan, kedekatan (proximity) geografis, implikasi dan keterkenalan (rominence) maupun negativisme. Walhasil, sejak akhir abad ke-17, para pemikir komunikasi sebenarnya sudah mampu merinci apa kriteria yang harus dipakai dalam menetapkan apakah suatu kejadian itu memiliki nilai berita atau tidak.

Dalam Jurnalistik Masa Kini, Dja’far H. Assegaf menyebutkan 11 (sebelas) unsur berita. Kesebelas unsur yang didasarkan pada pendapat para ahli publisitik dan jurnalistik ini adalah sebagai berikut: 1) berita haruslah termasa (baru), 2) jarak (dekat jauhnya) lingkungan yang terkena berita, 3) penting (ternama) tidaknya orang yang diberitakan, 4) keluarbiasaan dari berita, 5) akibat yang mungkin ditimbulkan berita, 6) Ketegangan yang ditimbulkan berita, 7) pertentangan (conflict) yang terlihat dalam berita, 8)seks yang ada dalam pemberitaan, 9) kemajuan-kemajuan yang diberitakan, 10) emosi yang ditimbulkan berita, 11) humor yang ada dalam berita. 

Unsur berita merupakan sesuatu yang harus ada dalam sebuah berita. Kendati tidak semua unsur berita harus tergabung dalam satu berita, namun minimalnya harus ada satu atau dua unsur berita di dalamnya. Semakin banyak unsur berita yang terkandung di dalam sebuah peristiwa, kejadian, atau pendapat seseorang yang memiliki otoritas di bidangnya, maka semakin tinggi pula nilai dan kualitas berita tersebut.

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Rabu, Juli 06, 2011

Memahami dan Menulis Berita [2]

APA ITU BERITA?

Oleh Enjang Muhaemin

Merumuskan definisi berita, sebenarnya, gampang-gampang susah. Disebut mudah, karena kita memang sudah ‘terlatih’ membaca, mendengar, dan melihat berita, baik yang dipublikasikan media cetak, disiarkan radio, maupun yang ditayangkan televisi.


Benar apa yang dikatakan Irving Resenthall dan Marton Yarmen, “Berita, lebih mudah untuk dikenali atau diketahui, daripada diberikan batasannya.” Hal serupa, juga diungkapkan Asep Saeful Muhtadi. Membuat definisi berita, memang tidak semudah memahami berita. “Seseorang dapat memahami dengan mudah membedakan antara berita dengan artikel, misalnya, atau dengan biografi biasa,” jelasnya.

Bagi banyak wartawan, tulis Jack Lule, mencoba mendefisikan berita mungkin tampak seperti suatu jabatan akademis, hanya cocok bagi orang-orang universitas yang berpakaian perlente. “Beberapa wartawan mungkin mengulangi ucapan Gertrude Stein: Berita adalah berita adalah berita. Wartawan lain mungkin menyamakan berita dengan rasa lapar. Mereka barangkali tidak bisa mendefinisikannya, tapi mereka tahu bila mereka merasakannya.”

Berita memang tidak mudah mendefinisikannya. Susahnya, karena berita itu mencakup banyak variabel. ”News is difficult to define, because it involves mani variable factors,” ujar Earl Engslish dan Clarence Hach dalam bukunya Scholastik Journalism.

Tapi, oke-lah, jangan dipikirkan jlimet. Toh, kendati belum tentu memuaskan, sudah banyak pakar dan praktisi media yang mencoba merumuskannya. Kita telaah, dan pahami saja maknanya. Insya Allah, tidak akan membuat kening kita berkerut kok!

Enjoy-enjoy sajalah. Yang penting kita paham, “Oh, itu yah yang disebut berita oleh Si Fulan tuh!”, dan “Oh, jadi berita itu yang begini, begini, dan seterusnya.”
Untuk gambaran, baiklah akan dikutip beberapa definisi berita. Baik definisi yang bersifat humoris, plastis, maupun rumusan yang berbau akademis.

Di antara definisi yang relatif populer di kalangan para pemerhati jurnalistik adalah dengan mengungkap contoh. Dalam logika tradisional, tulis Asep Saeful Muhtadi, contoh-contoh yang berkaitan dengan konsep-konsep yang masih abstrak memang dapat digunakan untuk merumuskan definisi (ta’rif bi al-mitsal). Definisi seperti ini sempat diungkapkan oleh Bruce D. Itule dalam News Writing and Reporting for Today’s Media. Berita adalah man bites dog, orang menggigit anjing. Walhasil, dog bites man, anjing menggigit orang, bukanlah berita. Dengan menggunakan definisi seperti ini, tentunya dapat dipahami suatu abstraksi tentang berita.

Definisi yang lengkapnya ”if a dog bites a man, it’s not news,” itu tentunya menjadi tidak berlaku bila yang digigit anjing itu adalah orang penting, tokoh terkemuka, seperti presiden, menteri, dan orang terkemuka lainnya, atau seorang selebritis yang terkenal. Namun yang pasti, definisi ini, ingin menunjukkan bahwa berita adalah sesuatu yang di luar kelaziman. Ada unsur keluarbiasaan, keanehan, atau ketidakumuman.

Orang dewasa yang bisa jungkir balik, bukanlah berita. Tetapi, anak usia 6 bulan yang bisa “breuh” adalah berita. Contoh lainnya: manusia makan nasi bukanlah berita, tapi manusia yang makan mayat manusia adalah berita. Tak mengherankan bila kemudian Lord Northcliffe, “raja pers” dari Inggris ini menegaskan, “News is anything out of ordinary.” Berita, ujarnya, adalah segala sesuatu yang tidak biasa.

Williard C. Bleyer dalam Newspaper Writing and Editing menulis, berita adalah sesuatu yang termasa yang dipilih oleh wartawan untuk dimuat dalam surat kabar, karena dia menarik minat atau mempunyai makna bagi pembaca surat kabar, atau karena dia dapat menarik para pembaca untuk membaca berita tersebut. Eric C. Hepwood menuturkan, berita adalah laporan pertama dari kejadian yang penting yang dapat menarik perhatian umum.

Doug Newson dan James A. Wollert berpendapat, dalam definisi sederhana, berita adalah apa saja yang dan perlu diketahui orang atau lebih luas lagi oleh masyarakat. Dengan melaporkan berita, media massa memberikan informasi kepada masyarakat mengenai apa yang mereka butuhkan. “ Kurniawan Junaedhi dalam Ensiklopedi Pers Indonesia menyebutkan, berita adalah laporan atau keterangan mengenai terjadinya peristiwa atau keadaanyang bersifat umum dan baru saja terjadi (aktual) yang disampaikan oleh wartawan dalam media massa.

Dalam pandangan Dja’far H. Assegaf, batasan atau definisi berita dalam arti teknis jurnalistik adalah : “Laporan tentang fakta atau ide yang termasa, yang dipilih oleh staf redaksi suatu harian untuk disiarkan, yang dapat menarik perhatian pembaca, entah karena ia luar biasa, entah karena pentingnya, atau akibatnya, entah pula karena ia mencakup segi-segi human interest seperti humor, emosi atau ketegangan.”

Definisi berita yang dikemukakan, baik oleh para pakar komunikasi maupun praktisi media, tidak ada satu pun yang rumusan yang dianggap sempurna. Ini dapat dipahami mengingat berita memiliki banyak variabel dan faktor, yang tidak mudah diikat dalam satu definisi. Tak mengherankan bila hingga saat ini, belum ada satu pun, rumusan berita pun yang dapat diterima secara universal oleh berbagai pihak. “Pada dasarnya memang tidak ada pengertian yang mutlak tentang yang dianggap sebagai berita….,” ungkap M. Atar Semi

Selain definisi di atas, ada rumusan lain yang menarik untuk mempermudah pemahaman kita tentang berita. Rumusan berita yang disebut “News Arithmatic” berikut dikemukakan wartawan Amerika, George C. Bastian, dalam bukunya Editing the Day’s News. Ia menjelaskan batasan sebagai berikut:

1 orang biasa + 1 penghidupan biasa = 0 (Bukan Berita)
1 orang biasa + 1 pengalaman luar biasa = Berita
1 suami biasa + 1 istri biasa = 0
1 suami + 3 istri = Berita
1 kasir bank + 1 istri + 7 anak = 0
1 kasir bank - $10.000 = Berita
1 penyanyi + 1 presdir bank $10.000 = Berita
1 pria + 1 mobil + 1 pistol + 1 tawanan = Berita
1 orang + 1 ciptaan = Berita
1 lelaki + 1 istri + 1 sengketa + 1 peradilan = Berita
1 wanita + 1 pengalaman atau ciptaan = Berita
1 orang biasa + 1 kehidupan biasa dari 79 tahun = 0
1 orang biasa + 1 kehidupan dari 100 tahun = Berita

Untuk mengetahui makna berita lebih jauh, mari kita coba lacak kamus. Kamus Besar Bahasa Indonesia, mengartikan berita sebagai “laporan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat.” Kamus kita juga mengartikan berita sebagai “laporan tentang suatu kejadian yang terbaru,” atau “keterangan yang baru tentang suatu peristiwa.” Teranglah, ujar Dja’far H. Assegaf, dari kamus kita tidak akan mendapatkan suatu gambaran yang benar dan mencakup segi-segi yang esensiil dari berita.”

Berita, dalam bahasa Inggris, disebut news. Mari kita coba lacak dalam kamus bahasa Inggris! Kamus The Oxford Paperback Dictionary, misalnya. Menurut kamus ini, news diartikan sebagai information about recent events (informasi tentang berbagai peristiwa terbaru). Kamus lain, Merriam-Webster’s Collegiate Dictionary, menjelaskan, news sebagai “laporan peristiwa terkini” (report of recent events), dan “informasi yang belum diketahui sebelumnya” (unknow information).

Dari berbagai definisi di atas, saya ingin mengajukan satu definisi tentang berita, sebagai sebuah elaborasi dari berbagai pendapat. Berita, sekali lagi hemat saya, adalah laporan terbaru yang dilakukan wartawan, baik berupa fakta, data, maupun ide yang memenuhi satu atau lebih unsur berita, dan diinformasikan kepada masyarakat dengan menggunakan media massa. Unsur-unsur berita banyak ragamnya, seperti aktual, faktual, penting, dampak, keluarbiasaan atau keanehan, kegagalan, kemajuan, ketegangan, pertentangan, seks, kejahatan, dan daya tarik insani.

Rumusan yang beragam tentang berita, menunjukkan, bahwa berita memang tidak mudah untuk didefinsikan secara komprehensif, mutlak, dan universal. Namun, yang pasti, dari berbagai definisi di atas, sedikit banyak akhirnya kita dapat memahami tentang apa yang dimaksud dengan berita. Bahkan, boleh jadi, Anda sudah mulai bisa mendefinisikannya sendiri. Syukurlah, artinya, Anda sudah paham dan mengerti.

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Rabu, Juli 06, 2011

Memahami dan Menulis Berita [1]

Oleh Enjang Muhaemin

“Lebih dari 90% sebuah harian
atau surat kabar adalah berita….”

Dja’far H. Assegaff

Sesudah Soeharto lengser, dan keharusan media massa memiliki Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUP) dicabut, maka tak pelak, media massa di Indonesia pun mengalami lonjakan luar biasa. Bagai jamur di musim hujan, yang tumbuh merebak di mana-mana. Bukan hanya di perkotaan, tetapi juga menjamur di pedesaan. Euforia media di tengah-tengah era reformasi memang sedang benar-benar terjadi.

Fakta dan realitas itu, tentunya, sungguh menggembirakan. Asumsinya, semakin banyak media, semakin banyak kontrol sosial yang dilakukan. Sebagai salah satu fungsi utama media, posisi kontrol sosial, jelas sangat penting. Dan kita mafhum, fungsi ini pulalah, yang membuat media massa digelari sebagai “kekuatan keempat”, setelah tiga kekuatan lainnya: legislatif, eksekutif, dan yudikatif.

Harapan, memang tidak selalu menjadi kenyataan. Ini, juga terjadi dalam kasus korelatif tentang merebaknya media massa dan harapan besar masyarakat akan terjadinya kontrol sosial yang lebih baik. Alih-alih menggembirakan, yang terjadi malah kondisi yang memprihatinkan. Kuli tinta gadungan, yang ‘gentayangan’ mencari mangsa, adalah realitas yang justru kian menjamur. Citra wartawan pun akhirnya menjadi kian terpuruk.

Meningkatnya jumlah media massa, memang melahirkan berita sebagai produk utama media massa menjadi melimpah, bak air bah yang tak terbendung lagi. Dari mulai berita yang berkualitas hingga berita yang tidak jelas. Fenomena ini memunculkan keprihatinan banyak pihak, termasuk para wartawan yang telah malang melintang di dunia jurnalistik. Berbagai analisa pun muncul. Satu di antaranya berpandangan, bahwa semua itu terjadi akibat institusi pers yang tumbuh belakangan memiliki kelemahan dalam sejumlah hal. Dari mulai aspek permodalan perusahaan yang sangat tidak mumpuni, manajemen media massa yang buruk, gaji pengelola dan wartawan yang jauh di bawah upah minimum regional (UMR), hingga kemampuan dan skill kewartawanan yang jauh di bawah standar.

Tulisan ini, tentu tidak dimaksudkan untuk mengulas lebih jauh tentang hal tersebut. Yang relevan dan penting untuk dijadikan catatan terkait dengan topik sekarang adalah kemampuan dan skill kewartawanan. Satu di antaranya, adalah mengasah kemampuan kita di dalam memahami dan mempraktikkan penulisan berita.
Out put yang diharapkan, bukan hanya mampu memilah dan memilih ‘sesuatu’ yang layak diberitakan, dan menulisnya dengan baik, tetapi juga membangun wartawan yang berkarakter, memiliki integritas, dan konsisten melakukan kontrol sosial. Ini bisa terbentuk bila saja wartawan memiliki kemampuan menyeleksi realitas yang akan diberitakan, sudut pandang memahami dan mengembangkan berita, serta menulis dan melaporkannya. [Lanjut Bag 2]

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Selasa, Juli 05, 2011

Wahai Para Juru Dakwah!

Oleh Enjang Muhaemin


Wahai para penyeru umat….
Kau adalah dambaan dan harapan umat
bak cahaya di tengah kegelapan
bak seteguk air di tengah kehausan

Karena itu….. saudaraku!
Janganlah sekali-kali kau sakiti jamaahmu
dengan cacian dan makianmu
yang hanya akan merendahkan dan menghinakannya

Juga saudaraku…..
Janganlah kau sakiti jamaahmu dengan ucap
dan perkataanmu yang sarat dengan keangkuhan
dan kesombonganmu
karena itu…
hanya akan mengundang benci dan antipati
dendam dan cibiran

Saudaraku….
Bila itu yang kau lakukan
Bukan hanya engkau menjauhkan mereka darimu
Tapi juga menjauhkan mereka dari Islam

Saudaraku…….
Jangan biarkan hati jamaahmu terluka
karena ucap, sikap, dan perilakumu yang tidak terpuji
Basuhlah hati mereka dengan kesejukan ajaran Islam
Dan keikhlasanmu dalam berdakwah!

Wahai para juru dakwah….
Kau adalah laksana lautan ilmu
Kau adalah laksana samudera kebijakan

Karena itu…..
Didiklah jamaah pengajianmu
dengan ilmumu yang berkah
dengan hatimu yang tulus
dengan hatimu yang ikhlas

Tumbuhkan harga diri dan kehormatannya
dengan ketulusan dan kasih sayangmu
Islam yang kau semaikan….
Insya Allah, akan tertanam di hatinya dengan begitu indah
melekat kuat dalam benak dan jiwanya dengan mengagumkan
penuh pesona
bak bunga yang tumbuh di taman
indah dan mewangi yang siapa pun akan menyukainya

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Minggu, Juli 03, 2011