Bahasa dan Keunikan Manusia

Oleh Enjang Muhaemin

Foto: Google
Keunikan manusia sebenarnya bukanlah terletak pada kemampuan berpikirnya, melainkan terletak pada kemampuannya berbahasanya.
Jujun S Suriasumantri

Perbedaan utama antara manusia dan binatang terletak pada kemampuan manusia untuk mengambil jalan melingkar dalam mencapai tujuannya. Seluruh piliran binatang dipenuhi oleh kebutuhan yang menyebabkan mereka secara langsung mencari obyek yang diinginkannya atau membuang benda yang merintanginya.

Mengutip Philip E.B. Jourdain, Jujun S Suriasumantri menyimpulkan, bahwa dengan demikian tidak perlu heran bila kita sering melihat seekor monyet yang menjangkau secara sia-sia benda yang dia inginkan. Padahal, manusia yang paling primitif pun telah tahu mempergunakan bandringan, laso atau melempar dengan batu. 

Ilustrasi di atas mendeskripsikan bahwa manusia adalah makhluk berakal. Ilmu mantiq menyebutnya hayawanun natiq (binatang yang berpikir). Berbeda dengan binatang, manusia dengan kekuatan akal yang dimilikinya justru mampu mengendalikan hambatan dan kendala yang merintanginya guna mencapai tu-juan yang diharapkannya. 

Kemampuan itu dimungkinkan karena manusia memiliki akal yang digunakannya untuk berpikir. Hasil berpikirnya itulah yang kemudian disebut ilmu atau pengetahuan. Dalam konteks ini tidaklah heran bila Ibnu Rusyd mengungkapkan bahwa akal merupakan mahkota terpenting manusia. Aliran filsafat Rasionalisme menegaskan, akal itulah alat pencari dan pengukur pengetahuan. 

Namun, dalam pandangan Jujun, keunikan manusia sebenarnya bukanlah terletak pada kemampuan berpikirnya melainkan terletak pada kemampuannya berbahasa. Ia memiliki ilustrasi menarik tentang yang satu ini. 

Ia menuturkan, dapatkah Anda bayangkan jika binatang dapat berbicara seperti manusia? Jika si Didi sedang memakan pisang, misalnya, maka monyet si Didi tidak sekadar cuma mengernyit-ngernyitkan dahinya dengan penuh frustasi, melainkan dengan lantang akan berkata, “Bagi-bagi dong, Di, pisangnya!” Dan bukan cuma berhenti di situ saja, dia pun mungkin akan belajar menanam pohon pisang sendiri, sebab dengan bahasa maka dia akan menguasai pengetahuan. 

Mungkin tak ada yang lebih menyadari kebenaran pernyataan Wittgenstein selain monyet si Didi, “Die Genzen meiner Sprache bedeuten die Grenzen meiner Welt,” yang artinya “Batas bahasaku adalah batas duniaku.”
Mencermati hal di atas maka tidaklah aneh bila Ernest Cassirer me-nyebut manusia sebagai animal sym-bolicum, makhluk yang mempergunakan simbol, yang secara generik mempunyai cakupan yang lebih luas dibanding homo sapiens, makhluk yang berpikir, sebab dalam kegiatan berpikirnya manusia mempergunakan simbol. 

Tanpa memiliki kemampuan berbahasa, maka kegiatan berpikir secara sistematis dan teratur tidak mungkin dapat dilakukan. Lebih jauhnya lagi, tanpa kemampuan berbahasa maka manusia tak mungkin mengembangkan kebudayaannya, sebab tanpa mempunyai bahasa maka hilang pulalah kemampuan untuk meneruskan nilai-nilai budaya dari generasi yang satu kepada generasi selanjutnya. 

“Tanpa bahasa,” simpul Aldous Huxley, “manusia tak berbeda dengan anjing atau monyet.” []

Diposkan Oleh Enjang Muhaemin -- Lentera Dakwah

Enjang Muhaemin Kesediaan Anda membaca artikel Bahasa dan Keunikan Manusia. merupakan kehormatan bagi saya. Anda diperbolehkan mengcopy-paste atau menyebarluaskan artikel ini, dan jangan lupa meletakkan link di bawah ini sebagai sumbernya.

:: SILAKAN KLIK DAN BACA TULISAN LAINNYA ::

Diposkan oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Senin, Juli 18, 2011

0 komentar:

Poskan Komentar

Kunjungan Anda kehormatan bagi saya. Terima kasih dan semoga dapat menjadi amal kebaikan kita semua.. Bila berkenan, silakan berikan komentar yang bermanfaat buat semua.