Memahami dan Menulis Berita [1]

Oleh Enjang Muhaemin

“Lebih dari 90% sebuah harian
atau surat kabar adalah berita….”

Dja’far H. Assegaff

Sesudah Soeharto lengser, dan keharusan media massa memiliki Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUP) dicabut, maka tak pelak, media massa di Indonesia pun mengalami lonjakan luar biasa. Bagai jamur di musim hujan, yang tumbuh merebak di mana-mana. Bukan hanya di perkotaan, tetapi juga menjamur di pedesaan. Euforia media di tengah-tengah era reformasi memang sedang benar-benar terjadi.

Fakta dan realitas itu, tentunya, sungguh menggembirakan. Asumsinya, semakin banyak media, semakin banyak kontrol sosial yang dilakukan. Sebagai salah satu fungsi utama media, posisi kontrol sosial, jelas sangat penting. Dan kita mafhum, fungsi ini pulalah, yang membuat media massa digelari sebagai “kekuatan keempat”, setelah tiga kekuatan lainnya: legislatif, eksekutif, dan yudikatif.

Harapan, memang tidak selalu menjadi kenyataan. Ini, juga terjadi dalam kasus korelatif tentang merebaknya media massa dan harapan besar masyarakat akan terjadinya kontrol sosial yang lebih baik. Alih-alih menggembirakan, yang terjadi malah kondisi yang memprihatinkan. Kuli tinta gadungan, yang ‘gentayangan’ mencari mangsa, adalah realitas yang justru kian menjamur. Citra wartawan pun akhirnya menjadi kian terpuruk.

Meningkatnya jumlah media massa, memang melahirkan berita sebagai produk utama media massa menjadi melimpah, bak air bah yang tak terbendung lagi. Dari mulai berita yang berkualitas hingga berita yang tidak jelas. Fenomena ini memunculkan keprihatinan banyak pihak, termasuk para wartawan yang telah malang melintang di dunia jurnalistik. Berbagai analisa pun muncul. Satu di antaranya berpandangan, bahwa semua itu terjadi akibat institusi pers yang tumbuh belakangan memiliki kelemahan dalam sejumlah hal. Dari mulai aspek permodalan perusahaan yang sangat tidak mumpuni, manajemen media massa yang buruk, gaji pengelola dan wartawan yang jauh di bawah upah minimum regional (UMR), hingga kemampuan dan skill kewartawanan yang jauh di bawah standar.

Tulisan ini, tentu tidak dimaksudkan untuk mengulas lebih jauh tentang hal tersebut. Yang relevan dan penting untuk dijadikan catatan terkait dengan topik sekarang adalah kemampuan dan skill kewartawanan. Satu di antaranya, adalah mengasah kemampuan kita di dalam memahami dan mempraktikkan penulisan berita.
Out put yang diharapkan, bukan hanya mampu memilah dan memilih ‘sesuatu’ yang layak diberitakan, dan menulisnya dengan baik, tetapi juga membangun wartawan yang berkarakter, memiliki integritas, dan konsisten melakukan kontrol sosial. Ini bisa terbentuk bila saja wartawan memiliki kemampuan menyeleksi realitas yang akan diberitakan, sudut pandang memahami dan mengembangkan berita, serta menulis dan melaporkannya. [Lanjut Bag 2]

Diposkan Oleh Enjang Muhaemin -- Lentera Dakwah

Enjang Muhaemin Kesediaan Anda membaca artikel Memahami dan Menulis Berita [1]. merupakan kehormatan bagi saya. Anda diperbolehkan mengcopy-paste atau menyebarluaskan artikel ini, dan jangan lupa meletakkan link di bawah ini sebagai sumbernya.

:: SILAKAN KLIK DAN BACA TULISAN LAINNYA ::

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Selasa, Juli 05, 2011