Dakwah dan Strategi Integratif di Era Global

Oleh Enjang Muhaemin

Dakwah Integratif
RELEVANSI kajian tentang akademisi ilmuwan dakwah dan teknologi komunikasi memiliki daya tarik tersendiri. Keberadaannya di tengah pesatnya perkembangan teknologi komunikasi layak menjadi sorotan dan kajian yang mendalam.


Sebagai pilar terdepan dalam menyikapi perkembangan teknologi komunikasi, akademisi ilmuwan dakwah idealnya berdiri paling depan dalam gerbang pertarungan global. Ia semestinya bukan sekadar memahami perkembangan teknologi komunikasi, tetapi juga mampu menguasai dan mengoptimalkannya sebagai media dakwah.

Di beranda kehidupan masyarakat global, tantangan dakwah yang dihadapi akademisi ilmuwan dakwah tidaklah semakin ringan. Di samping peluang, banyak tantangan dan rintangan yang tidak kecil.

Namun bagaimana pun, akademisi ilmuwan dakwah adalah figur-figur da’i intelektual, yang memiliki tanggung jawab untuk menguasai konsep-konsep dakwah yang sejalan dengan perkembangan teknologi komunikasi, dan menguasai dan mengaplikasikan perangkat teknologi komunikasi sebagai media dalam medan dakwah.

Tak hanya itu, akademisi ilmuwan dakwah juga dituntut mampu menularkan strategi dakwah yang menzaman kepada da’i-da’i lain yang tidak secara langsung bersentuhan dengan perkembangan dan kemajuan teknologi komunikasi.

Strategi Integratif

Apa yang terjadi sekarang, kata Armahedi Mahzar, adalah perang antarperadaban. Benteng kita adalah diri kita sendiri. Ada tiga macam strategi umum yang telah diajukan untuk menangkal serangan informasi yang melimpah bak air bah, yang datang dari dunia Barat ke dunia Islam secara sangat tak berimbang. Ketiga strategi itu adalah:

Strategi pertama, dapat dilihat sebagai strategi isolatif. Dalam strategi ini, kita memandang Islam sebagai alternatif dasar peradaban Islam dan sebagai konsekuensinya kita menolak semua yang ada dari Barat, kecuali sains dan teknologinya. Strategi ini yang biasa dipakai oleh kaum fundamentalis. Salah satunya konsekuensi dari strategi ini kita memutus kontak kultural sama sekali dengan Barat. Kita cabut televisi dan radio dari rumah-rumah kita.

Strategi kedua dapat disebut strategi selektif. Dalam hal ini kita menyeleksi acara-acara televisi dan radio yang dilihat dan didengar oleh keluarga kita di rumah-rumah. Walaupun kini teknologinya memungkinkan, tampaknya ini mengekang kebebasan dan menimbulkan daya sensor yang mematikan kreativitas si anak. Strategi ini yang dijalankan oleh kaum tradisionalis.

Strategi ketiga, adalah strategi alternatif. Dalam strategi ini, kita harus menguasai sarana penyiaran alternatif yang diisi dengan acara-acara yang islami dan berani bersaing dengan jaringan-jaringan televisi sekuler yang ada. Tentu saja, jaringan ini mahal harganya sehingga untuk menopang strategi alternatif—yang digandrungi kaum modernis itu—diperlukan strategi-strategi penunjang lainnya yang relevan (2004: 256-257)

Ketiga strategi itu mempunyai kelemahan masing-masing.

Karena itu, Mahzar mengajukan sebuah saran strategi integratif

Dalam strategi ini, kita menangkal serbuan informasi global, bukan dengan memutusnya, melainkan dengan jalan menyainginya melalui komunitas-komunitas informasi lokal yang pada gilirannya terjaring menjadi masyarakat informasi regional islami yang integratif. Pada gilirannya, masyarakat-masyarakat informasi islami itu akan dapat bekerja sama membentuk jaringan telemedia global yang islami seperti yang diharapkan oleh strategi alternatif (Mahzar, 2004: 257-258). []
_______________
Enjang Muhaemin, Staf Pengajar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Diposkan Oleh Enjang Muhaemin -- Lentera Dakwah

Enjang Muhaemin Kesediaan Anda membaca artikel Dakwah dan Strategi Integratif di Era Global. merupakan kehormatan bagi saya. Anda diperbolehkan mengcopy-paste atau menyebarluaskan artikel ini, dan jangan lupa meletakkan link di bawah ini sebagai sumbernya.

:: SILAKAN KLIK DAN BACA TULISAN LAINNYA ::

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Senin, November 25, 2013