Internet, Bagai Pedang Bermata Dua

Internet sebagai media, tak ubahnya bagai pedang bermata dua. Bisa digunakan untuk kebaikan, bisa pula digunakan untuk kejahatan.

Lima Pola Pemecahan Masalah

Setiap manusia, tentunya memiliki masalah (problem). Dan tampaknya, tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini, yang hidup tanpa masalah.

Gelisah Karena Pujian

Mendengar berbagai pujian, si alim menjadi gelisah. Jangan-jangan dirinya rajin beribadah bukan karena Allah, melainkan karena orang-orang memujinya sebagai orang alim.

Akademisi Ilmuwan Dakwah di Era Internet

Sebagai pilar terdepan, akademisi ilmuwan dakwah idealnya berdiri paling depan dalam gerbang pertarungan global.

Ketimpangan antara Intelektualitas dan Moralitas

Di dunia pendidikan, manusia dibentuk dan dicetak bukan sekadar untuk menjadi cerdas, dan terampil semata, tetapi juga berakhlak mulia.

Akademisi Ilmuwan Dakwah di Era Internet

Oleh Enjang muhaemin

Dalam tulisan ini, saya ini ingin berbagi sedikit hasil penelitian yang penulis lakukan. Topik yang penulis kaji bertajuk “Apresiasi Akademisi Ilmuwan Dakwah terhadap Internet sebagai Media Dakwah.” Di antara yang saya teliti di antarntya terkait sikap, penilaian, dan tindakan yang dilakukan akademisi ilmuwan dakwah terhadap internet sebagai media dakwah.
Paparan di bawah ini sebagian hasil penelitian yang penulis lakukan di Fakultas Dakwah dan komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Sikap
Herbert Spencer mengartikan sikap sebagai status mental seseorang. Pada tahun 1888, Lange menggunakan istilah sikap dalam bidang eksperimen mengenai respon untuk menggambarkan kesiapan subjek dalam menghadapi stimulus yang datang tiba-tiba. Sikap dalam pandangan Lange, tidak hanya menyangkut aspek mental semata, melainkan juga mencakup aspek respon fisik (Azwar, 2007:3-4)).
Sikap para akademisi ilmuwan dakwah terhadap internet sebagai media dakwah dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok:
Pertama, kelompok optimistik-progresif.
Kelompok optimistik-progresif adalah kelompok akademisi ilmuwan dakwah yang memandang internet secara media mutakhir yang sangat strategis untuk dimanfaatkan sebagai media dakwah dalam masyarakat  era global.
Kedua, kelompok optimistik suportif.
Kelompok kedua, adalah para akademisi ilmuwan dakwah yang tergolong optimistik-suportif.  Kelompok kedua ini memiliki pandangan yang positif dan jauh ke depan tentang pentingnya internet sebagai media dakwah.
Ketiga, kelompok optimistik-pasif.
Kelompok ketiga, adalah akademisi ilmuwan dakwah yang memiliki cara pandang yang optimistik terhadap internet sebagai media dakwah, namun kelompok ini tetap bersifat pasif,  tidak banyak bergerak dan tergerak untuk memanfaatkan dan mengoptimalkan internet sebagai media dakwah.
Penilaian
Dalam tataran realitas keumatan, akademisi ilmuwan dakwah menilai bahwa ketika umat berhadapan dengan internet terbagi menjadi tiga kelompok:
Pertama, kelompok yang bersikap isolatif, yang menghindar dan menjauhkan diri dari dunia internet, karena internet dipandang jauh lebih besar madaratnya dibanding manfaatnya.
Kedua, kelompok yang bersikap akomodatif konstruktif  yang memandang internet sebagai media yang bersifat netral, sangat tergantung siapa yang menggunakan dan bagaimana digunakan.
Ketiga, adalah kelompok yang bersikap selektif.

Tindakan
Dalam konteks penelitian yang penulis lakukan, tindakan yang dilakukan akademisi ilmuwan dakwah terhadap internet sebagai media dakwah, secara umum dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori:
1.     Bertindak Progresif.
Akademisi ilmuwan dakwah yang masuk dalam kategori ini, secara kuantitas tidaklah besar. Mereka umumnya memahami sekaligus menguasai fitur-fitur internet  yang dapat dimanfaatkan sebagai media dakwah. Tipikal akademisi ilmuwan dakwah progresif dalam penelitian ini terlihat dari tindakan dan perbuatannya yang tidak kenal lelah untuk menjadikan internet sebagai media dakwah.
2.     Bertindak Aktif.
Para akademisi ilmuwan dakwah yang tergolong tipikal aktif dalam memanfaatkan dan mengoptimalkan internet sebagai media dakwah, jumlahnya agak lumayan, lebih banyak dibanding tipikal progresif.
3.     Bertindak Pasif.
Akademisi ilmuwan dakwah yang tergolong tipikal pasif adalah mereka yang berasal dari kategori yang “sedikit memahami, tapi tidak menguasai” dan “tidak memahami, juga tidak menguasai”. Dalam dirinya belum tumbuh semangat untuk lebih mendalami dan menggalinya. []

:: Enjang Muhaemin, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Diposting oleh Unknown
Lentera Dakwah Updated at: Kamis, Oktober 24, 2013

Internet, Bagai Pedang Bermata Dua

Oleh Enjang muhaemin

Internet sebagai media, tak ubahnya bagai pedang bermata dua. Bisa digunakan untuk kebaikan, bisa pula digunakan untuk kejahatan. Sangat tergantung oleh siapa dan untuk apa ia digunakan.
Bila internet ada di tangan yang jahat, maka ia akan digunakan sebagai alat untuk memperdaya korban, dan menjeratnya ke dalam tipu daya kejahatannya. Sebaliknya, ketika internet ada di tangan yang baik, maka ia akan digunakan sebagai media untuk memberdayakan manusia lainnya.
Dalam perspektif dakwah, kehadiran internet di tengah masyarakat global dewasa ini, tentunya memiliki makna penting yang bernilai strategis. Internet bukan hanya mampu menjaring mad’u dalam jumlah yang tidak terbatas, menyebarkan pesan-pesan keislaman dalam lingkup wilayah yang jauh lebih luas, juga dapat diakses dengan waktu yang terbatasi.
Kehadiran internet telah membuka wilayah dakwah menjadi sangat terbuka. Dakwah bukan hanya dapat disampaikan melalui ceramah di atas mimbar, dikemukakan kepada mustami di dalam kegiatan pengajian dan majelis taklim, tetapi juga dapat disebarkan melalui email, website, blog, millis, dan perangkat situs jejaring sosial seperti facebook, twitter, dan plurk.

Dakwah Multimedia
Pola dakwah di internet juga dapat dilakukan dengan berbagai cara yang kian beragam. Bukan hanya dengan tulisan, gambar, dan suara semata, tetapi juga telah berkembang jauh lebih dari itu. Dakwah multimedia dengan berbagai kemajuan teknologinya juga terus mengalami perkembangan sangat pesat.
Beragam piranti lunak berisi nilai-nilai penting ajaran Islam juga dapat diunduh dengan mudah. Alqur’an, alhadits, dan buku-buku keislaman yang diformat digital juga dapat diperoleh dengan tidak begitu sulit.
Walhasil, memanfaatkan internet sebagaimedia dakwah, bukan hanya penting, tetapi juga sudah sangat mendesak dioptimalkan. Terlebih oleh para akademisi ilmuwan dakwah, yang notabene memiliki ilmu keislaman yang mendalam, wawasan kedakwahan yang luas, dan pemahaman terhadap dunia internet yang memadai. Wallahu‘alam bi al-shawwab. []
:: Enjang Muhaemin, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Diposting oleh Unknown
Lentera Dakwah Updated at: Kamis, Oktober 24, 2013