Internet, Bagai Pedang Bermata Dua

Internet sebagai media, tak ubahnya bagai pedang bermata dua. Bisa digunakan untuk kebaikan, bisa pula digunakan untuk kejahatan.

Lima Pola Pemecahan Masalah

Setiap manusia, tentunya memiliki masalah (problem). Dan tampaknya, tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini, yang hidup tanpa masalah.

Gelisah Karena Pujian

Mendengar berbagai pujian, si alim menjadi gelisah. Jangan-jangan dirinya rajin beribadah bukan karena Allah, melainkan karena orang-orang memujinya sebagai orang alim.

Akademisi Ilmuwan Dakwah di Era Internet

Sebagai pilar terdepan, akademisi ilmuwan dakwah idealnya berdiri paling depan dalam gerbang pertarungan global.

Ketimpangan antara Intelektualitas dan Moralitas

Di dunia pendidikan, manusia dibentuk dan dicetak bukan sekadar untuk menjadi cerdas, dan terampil semata, tetapi juga berakhlak mulia.

Dakwah dan Strategi Integratif di Era Global

Oleh Enjang Muhaemin

Dakwah Integratif
RELEVANSI kajian tentang akademisi ilmuwan dakwah dan teknologi komunikasi memiliki daya tarik tersendiri. Keberadaannya di tengah pesatnya perkembangan teknologi komunikasi layak menjadi sorotan dan kajian yang mendalam.


Sebagai pilar terdepan dalam menyikapi perkembangan teknologi komunikasi, akademisi ilmuwan dakwah idealnya berdiri paling depan dalam gerbang pertarungan global. Ia semestinya bukan sekadar memahami perkembangan teknologi komunikasi, tetapi juga mampu menguasai dan mengoptimalkannya sebagai media dakwah.

Di beranda kehidupan masyarakat global, tantangan dakwah yang dihadapi akademisi ilmuwan dakwah tidaklah semakin ringan. Di samping peluang, banyak tantangan dan rintangan yang tidak kecil.

Namun bagaimana pun, akademisi ilmuwan dakwah adalah figur-figur da’i intelektual, yang memiliki tanggung jawab untuk menguasai konsep-konsep dakwah yang sejalan dengan perkembangan teknologi komunikasi, dan menguasai dan mengaplikasikan perangkat teknologi komunikasi sebagai media dalam medan dakwah.

Tak hanya itu, akademisi ilmuwan dakwah juga dituntut mampu menularkan strategi dakwah yang menzaman kepada da’i-da’i lain yang tidak secara langsung bersentuhan dengan perkembangan dan kemajuan teknologi komunikasi.

Strategi Integratif

Apa yang terjadi sekarang, kata Armahedi Mahzar, adalah perang antarperadaban. Benteng kita adalah diri kita sendiri. Ada tiga macam strategi umum yang telah diajukan untuk menangkal serangan informasi yang melimpah bak air bah, yang datang dari dunia Barat ke dunia Islam secara sangat tak berimbang. Ketiga strategi itu adalah:

Strategi pertama, dapat dilihat sebagai strategi isolatif. Dalam strategi ini, kita memandang Islam sebagai alternatif dasar peradaban Islam dan sebagai konsekuensinya kita menolak semua yang ada dari Barat, kecuali sains dan teknologinya. Strategi ini yang biasa dipakai oleh kaum fundamentalis. Salah satunya konsekuensi dari strategi ini kita memutus kontak kultural sama sekali dengan Barat. Kita cabut televisi dan radio dari rumah-rumah kita.

Strategi kedua dapat disebut strategi selektif. Dalam hal ini kita menyeleksi acara-acara televisi dan radio yang dilihat dan didengar oleh keluarga kita di rumah-rumah. Walaupun kini teknologinya memungkinkan, tampaknya ini mengekang kebebasan dan menimbulkan daya sensor yang mematikan kreativitas si anak. Strategi ini yang dijalankan oleh kaum tradisionalis.

Strategi ketiga, adalah strategi alternatif. Dalam strategi ini, kita harus menguasai sarana penyiaran alternatif yang diisi dengan acara-acara yang islami dan berani bersaing dengan jaringan-jaringan televisi sekuler yang ada. Tentu saja, jaringan ini mahal harganya sehingga untuk menopang strategi alternatif—yang digandrungi kaum modernis itu—diperlukan strategi-strategi penunjang lainnya yang relevan (2004: 256-257)

Ketiga strategi itu mempunyai kelemahan masing-masing.

Karena itu, Mahzar mengajukan sebuah saran strategi integratif

Dalam strategi ini, kita menangkal serbuan informasi global, bukan dengan memutusnya, melainkan dengan jalan menyainginya melalui komunitas-komunitas informasi lokal yang pada gilirannya terjaring menjadi masyarakat informasi regional islami yang integratif. Pada gilirannya, masyarakat-masyarakat informasi islami itu akan dapat bekerja sama membentuk jaringan telemedia global yang islami seperti yang diharapkan oleh strategi alternatif (Mahzar, 2004: 257-258). []
_______________
Enjang Muhaemin, Staf Pengajar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Senin, November 25, 2013

Akademisi Ilmuwan Dakwah di Era Internet

Oleh Enjang muhaemin

Dalam tulisan ini, saya ini ingin berbagi sedikit hasil penelitian yang penulis lakukan. Topik yang penulis kaji bertajuk “Apresiasi Akademisi Ilmuwan Dakwah terhadap Internet sebagai Media Dakwah.” Di antara yang saya teliti di antarntya terkait sikap, penilaian, dan tindakan yang dilakukan akademisi ilmuwan dakwah terhadap internet sebagai media dakwah.
Paparan di bawah ini sebagian hasil penelitian yang penulis lakukan di Fakultas Dakwah dan komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Sikap
Herbert Spencer mengartikan sikap sebagai status mental seseorang. Pada tahun 1888, Lange menggunakan istilah sikap dalam bidang eksperimen mengenai respon untuk menggambarkan kesiapan subjek dalam menghadapi stimulus yang datang tiba-tiba. Sikap dalam pandangan Lange, tidak hanya menyangkut aspek mental semata, melainkan juga mencakup aspek respon fisik (Azwar, 2007:3-4)).
Sikap para akademisi ilmuwan dakwah terhadap internet sebagai media dakwah dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok:
Pertama, kelompok optimistik-progresif.
Kelompok optimistik-progresif adalah kelompok akademisi ilmuwan dakwah yang memandang internet secara media mutakhir yang sangat strategis untuk dimanfaatkan sebagai media dakwah dalam masyarakat  era global.
Kedua, kelompok optimistik suportif.
Kelompok kedua, adalah para akademisi ilmuwan dakwah yang tergolong optimistik-suportif.  Kelompok kedua ini memiliki pandangan yang positif dan jauh ke depan tentang pentingnya internet sebagai media dakwah.
Ketiga, kelompok optimistik-pasif.
Kelompok ketiga, adalah akademisi ilmuwan dakwah yang memiliki cara pandang yang optimistik terhadap internet sebagai media dakwah, namun kelompok ini tetap bersifat pasif,  tidak banyak bergerak dan tergerak untuk memanfaatkan dan mengoptimalkan internet sebagai media dakwah.
Penilaian
Dalam tataran realitas keumatan, akademisi ilmuwan dakwah menilai bahwa ketika umat berhadapan dengan internet terbagi menjadi tiga kelompok:
Pertama, kelompok yang bersikap isolatif, yang menghindar dan menjauhkan diri dari dunia internet, karena internet dipandang jauh lebih besar madaratnya dibanding manfaatnya.
Kedua, kelompok yang bersikap akomodatif konstruktif  yang memandang internet sebagai media yang bersifat netral, sangat tergantung siapa yang menggunakan dan bagaimana digunakan.
Ketiga, adalah kelompok yang bersikap selektif.

Tindakan
Dalam konteks penelitian yang penulis lakukan, tindakan yang dilakukan akademisi ilmuwan dakwah terhadap internet sebagai media dakwah, secara umum dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori:
1.     Bertindak Progresif.
Akademisi ilmuwan dakwah yang masuk dalam kategori ini, secara kuantitas tidaklah besar. Mereka umumnya memahami sekaligus menguasai fitur-fitur internet  yang dapat dimanfaatkan sebagai media dakwah. Tipikal akademisi ilmuwan dakwah progresif dalam penelitian ini terlihat dari tindakan dan perbuatannya yang tidak kenal lelah untuk menjadikan internet sebagai media dakwah.
2.     Bertindak Aktif.
Para akademisi ilmuwan dakwah yang tergolong tipikal aktif dalam memanfaatkan dan mengoptimalkan internet sebagai media dakwah, jumlahnya agak lumayan, lebih banyak dibanding tipikal progresif.
3.     Bertindak Pasif.
Akademisi ilmuwan dakwah yang tergolong tipikal pasif adalah mereka yang berasal dari kategori yang “sedikit memahami, tapi tidak menguasai” dan “tidak memahami, juga tidak menguasai”. Dalam dirinya belum tumbuh semangat untuk lebih mendalami dan menggalinya. []

:: Enjang Muhaemin, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Kamis, Oktober 24, 2013

Internet, Bagai Pedang Bermata Dua

Oleh Enjang muhaemin

Internet sebagai media, tak ubahnya bagai pedang bermata dua. Bisa digunakan untuk kebaikan, bisa pula digunakan untuk kejahatan. Sangat tergantung oleh siapa dan untuk apa ia digunakan.
Bila internet ada di tangan yang jahat, maka ia akan digunakan sebagai alat untuk memperdaya korban, dan menjeratnya ke dalam tipu daya kejahatannya. Sebaliknya, ketika internet ada di tangan yang baik, maka ia akan digunakan sebagai media untuk memberdayakan manusia lainnya.
Dalam perspektif dakwah, kehadiran internet di tengah masyarakat global dewasa ini, tentunya memiliki makna penting yang bernilai strategis. Internet bukan hanya mampu menjaring mad’u dalam jumlah yang tidak terbatas, menyebarkan pesan-pesan keislaman dalam lingkup wilayah yang jauh lebih luas, juga dapat diakses dengan waktu yang terbatasi.
Kehadiran internet telah membuka wilayah dakwah menjadi sangat terbuka. Dakwah bukan hanya dapat disampaikan melalui ceramah di atas mimbar, dikemukakan kepada mustami di dalam kegiatan pengajian dan majelis taklim, tetapi juga dapat disebarkan melalui email, website, blog, millis, dan perangkat situs jejaring sosial seperti facebook, twitter, dan plurk.

Dakwah Multimedia
Pola dakwah di internet juga dapat dilakukan dengan berbagai cara yang kian beragam. Bukan hanya dengan tulisan, gambar, dan suara semata, tetapi juga telah berkembang jauh lebih dari itu. Dakwah multimedia dengan berbagai kemajuan teknologinya juga terus mengalami perkembangan sangat pesat.
Beragam piranti lunak berisi nilai-nilai penting ajaran Islam juga dapat diunduh dengan mudah. Alqur’an, alhadits, dan buku-buku keislaman yang diformat digital juga dapat diperoleh dengan tidak begitu sulit.
Walhasil, memanfaatkan internet sebagaimedia dakwah, bukan hanya penting, tetapi juga sudah sangat mendesak dioptimalkan. Terlebih oleh para akademisi ilmuwan dakwah, yang notabene memiliki ilmu keislaman yang mendalam, wawasan kedakwahan yang luas, dan pemahaman terhadap dunia internet yang memadai. Wallahu‘alam bi al-shawwab. []
:: Enjang Muhaemin, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Kamis, Oktober 24, 2013

Dakwah dalam Kancah Revolusi Informasi

TEKNOLOGI modern menyerbu kita bagaikan air bah. Penemuan-penemuan baru yang diharapkan bisa membuat hidup manusia lebih nyaman, lebih sehat, lebih berbahagia, muncul setiap hari. Di samping sisi positif, tentunya perkembangan teknologi modern juga mengimplikasikan sisi negatifnya seperti lahirnya sikap materialistik, individualistik, dan sekularistik.

Dalam konteks itulah, kata Marwah Daud Ibrahim, dakwah diharapkan bisa menjadi pengimbang, penyaring, dan pemberi arah dalam hidup (1994:191). 

Dakwah sebagai faktor pengimbang harus bisa membantu manusia untuk tidak hanya berkhidmat pada kehidupan duniawi yang kian dimegahkan oleh kemajuan teknologi canggih, tapi tetap menyeimbangkannya dengan kehidupan ruhaniah (akhirat). Sebagai penyaring, dakwah diharapkan mampu membantu manusia untuk dapat menetapkan pilihan-pilihan nilai yang lebih manusiawi dan islami. Sebagai pengarah, dakwah diharapkan dapat membimbing manusia untuk lebih memahami makna hidup yang sesungguhnya. 

Di samping peluang dakwah yang kian terbuka untuk dilaksanakan secara luas dan mendunia, namun di sisi lain tantangan yang dihadapi para da’i pun memang tidak semakin ringan. Kian hari kian berat, dan kian kompleks. Oleh karena itu, para da’i dituntut menguasasi media-media yang terus berkembang tiada henti. Revolusi informasi yang kini sedang dijajakan sebagai suatu rahmat besar bagi manusia, adalah tantangan sekaligus peluang bagi para da’i untuk terlibat aktif di dalamnya. 

Tanpa keterlibatan para juru dakwah dalam kancah revolusi informasi, bisa berbuah bahaya. Bukan hanya akan membuat umat tersesat, bahkan bukan mustahil akan melahirkan laknat-laknat baru yang tak terduga sebelumnya. Dalam konteks inilah, para da’i dituntut mampu menyikapi tantangan secara akurat, sekaligus mampu mengoptimalkan peluang yang muncul guna menyebarkan dan mendakwahkan Islam ke seantero dunia. 

Tantangan yang dihadapi para da’i tidaklah semakin ringan. Tanda-tanda zaman menunjukkan hal tersebut. John Naisbit dan Patricia Aburdene dalam Megatrends 2000 menunjukkan kesamaan gaya hidup di seluruh dunia pada abd XXI, yakni globalisasi dalam 3F: food (makanan), fashion (mode pakaian), dan fun (hiburan). Jalaluddin Rakhmat (1991: 72-73) menambahkan 5F lagi: faith (kepercayaan), fear (ketakutan), facts (fakta), fiction (cerita rekaan), dan formulation (perumusan). 

Mencermati realitas itu, menurut Jalaluddin Rakhmat (1991:70-75), para da’i dituntut bersikap dan melakukan tindakan yang tepat, di antaranya: 

Pertama, para da’i dituntut mampu mengembangkan sistem informasi. Harus dilakukan koordinasi antarlembaga dakwah untuk mengembangkan berbagai data base system, untuk perkembangan dakwah dan pemikiran Islam. Laboratorium dakwah yang menghimpun data tentang khalayak dan materi dakwah harus didirikan dengan menggunakan teknologi komunikasi mutakhir. 

Kedua, para da’i harus melatih para pengikutnya untuk mengembangkan kemampuan menerima, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi. Pada kurikulum dakwah harus ditambahkan kemampuan komunikasi. Tidak mungkin kita merebut jaringan informasi sekarang ini, bila tanpa memiliki kemampuan komunikasi yang memadai. 

Ketiga, para da’i sebagai pelanjut Rasulullah SAW tidak boleh bertindak pasif. Mereka harus menyambut tantangan-tantangan yang ada di hadapannya dengan perencanaan yang baik. Kecintaan kita kepada peninggalan para ulama salaf sepatutnya tidak menyebabkan kita buta melihat masa depan. 

Keempat, mengingat munculnya penyakit sosial dan keresahan psikologis masyarakat di era informasi yang kian menjadi, maka para da’i harus mampu melakukan gerakan dakwah yang terapeutis (bersifat menyembuhkan). Para da’i, selain sebagai pendidik, juga dokter jiwa. Para pasiennya adalah korban-korban globalisasi. 

Kelima, para da’i adalah agen sosialisasi nilai-nilai Islam. Mereka ditantang untuk bersaing dengan agen-agen hiburan yang global. Sekarang para kyai tidak cukup hanya membacakan kisah-kisah dari Alqur’an, Sirah Nabi atau buku-buku seperti Durratun Nashihin. Mereka harus mengemasnya dengan memanfaatkan teknologi komunikasi mutakhir. Penggunaan media massa oleh para da’i menjadi sangat vital. [] 

:: Enjang Muhaemin, Staf Pengajar di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung

:: Buku Rujukan:
1. Marwah Daud Ibrahim. 1994. Teknologi, Emansipasi, dan Transendensi: Wacana Peradaban dengan Visi Islam. Mizan. Bandung.
2.  Jalaluddin Rakhmat. 1991.  Islam Aktual, Mizan, Bandung.

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Minggu, April 28, 2013

Makmurkan Masjid Tak Cukup Sekadar Kemauan

MEMAKMURKAN masjid menjadi tanggung jawab muslim di mana pun dan kapa pun. Terlebih muslim yang masuk dalam jajaran kepengurusan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM). Mereka inilah yang harus mampu tampil sebagai "nakhoda" pemakmuran dan pemberdayaan jamaah masjid. Dalam banyak kasus, keberhasilan program di sebuah masjid sangat tergantung pada mereka ini. Di sini tersirat pentingnya kemauan dan kemampuan mereka di dalam memakmurkan masjid.

Memiliki kemauan saja belumlah cukup, perlu ditunjang kemampuan. Kemampuan saja, juga belumlah cukup, perlu ditunjang kemauan. Dua hal yang tidak bisa dipisahkan, baik terkait manajemen, kepemimpinan, maupun keahlian di dalam memecahkan masalah (problem solving). Demikian intisari materi yang disampaikan KH. Dedi Mulyadi, KH. Engkus Suhendar, M.Ag, dan Drs. Enjang Muhaemin, M.Ag, dalam "Pelatihan Manajeman Ke-DKM-an" yang digelar Masjid Jami' Al-Ikhlas, Cilember, Kota Bandung, Minggu (1/4). 

Di zaman Rasulullah SAW, masjid telah berhasil membangun umat yang berkualitas, yang "masagi" dalam banyak hal. "Masjid telah mampu menjadi sarana pembinaan umat yang luar biasa, sehingga mampu melahirkan para pemimpin dan pejuang Islam yang selalu komit pada ajaran Islam, dan memberikan kontribusi besar dalam mewujudkan masyarakat yang berperadaban," kata KH. Dedi Mulyadi pengasuh Pondok Pesantren Fathussalam Al-Mubarak. 

Menghidupkan dan memakmurkan kembali fungsi kemasjidan, jelas Ketua MUI Sukaraja, KH. Engkus Suhendar, M.Ag, perlu ditunjang pemahaman dan kemampuan manajemen kemasjidan yang baik. Kondisi zaman telah berubah, kian rumit juga kian kompleks, karenanya fungsi manajemen tidak bisa dianggap sebelah mata. Para pengurus DKM dituntut memiliki keahlian manajemen secara baik. "Keberhasilan sejumlah masjid di dalam memakmurkan masjid, bisa kita lihat, sebab mereka memiliki keahlian manajemen yang baik," paparnya. 

Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, Enjang Muhaemin menyoroti sisi lain keberhasilan masjid di dalam menghidupkan dan memakmurkan masjid. "Yang tak kalah pentingnya, adalah kemampuan para DKM di dalam memecahkan masalah (problem solving) dan mengambil keputusan yang tepat. Ini pokok kunci yang layak mendapat perhatian, karena terbukti banyak masjid yang gagal memakmurkan masjid karena gagal memecahkan masalah dan gagal mengambil keputusan yang cepat dan tepat," urainya. 

Sayangnya, lanjut Enjang, dalam banyak pelatihan ke-DKM-an, materi yang satu ini sangat jarang dikupas. Padahal, problem keumatan dalam pemakmuran masjid, kian hari kian tidak ringan. "Kepiawaian dalam memecahkan masalah dan mengambil keputusan, tak bisa dibantah sebagai pokok kunci dalam mewujudkan kemakmuran masjid dan pemberdayaan umta. Dengan kemampuan ini, masalah yang muncul sebenarnya bisa diubah sebagai berkah," tandasnya. [MZF/BandungOke.Com]

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Minggu, April 28, 2013

DKM, Pemilik Peran Kunci Kemajuan Masjid

DALAM mewujudkan kebangkitan Islam, masjid perlu diposisikan sebagaimana fungsi dan perannya di masa Rasulullah SAW. Dengan ini, maka masjid dapat menjadi pusat aktivitas umat dalam mewujudkan dunia Islam yang lebih baik. Para pengurus DKM memiliki peran kunci untuk mewujudkannya.

Ketua MUI Sukaraja, KH Engkus Suhendar, M.Ag mengungkapkan hal tersebut dalam “Diklat Manajemen DKM dan Ekonomi Syariah Berbasis Masjid,” yang digelar Pokja Agama P2KB, di Aula SMP Muhammadiyah, Minggu (18/11/12). 

Dalam Diklat yang dihadiri sekitar seratus peserta itu, juga menghadirkan Drs. Enjang Muhaemin, M.Ag, dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung, yang mengupas “Manajemen Pemberdayaan Ekonomi Umat Berbasis Masjid.” 

Engkus menilai, fungsi masjid dewasa ini masih dirasakan hanya terbatas sebagai pusat ibadah, seperti shalat lima waktu, dan shalat Jum’at.  “Fungsi lainnya, seperti pembinaan dan peningkatan kesejahteraan umat masih harus dikembangkan,” tandas Engkus. 

Agar fungsi-fungsi lainnya juga tercapai, dalam pandangan Engkus, maka masjid perlu dikelola dengan manajemen yang profesional, dan proporsional. Dan untuk ini, jelasnya, perlu dukungan berbagai pihak, bukan hanya para pengurus DKM, tapi juga jamaah, tokoh masyarakat, dan pemerintah. 

Namun begitu, kata Engkus, para pengurus DKM tetap merupakan tokoh kunci berjalan-tidaknya fungsi masjid sebagai pusat kegiatan umat. Itulah sebabnya, penguasaan para pengurus DKM akan manajemen sangat penting manfaatnya bagi peningkatan dan pemberdayaan umat. [] BIE | BandungOke.com

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Minggu, April 28, 2013

Lembaga Usaha, Solusi Masjid Berdayakan Ekonomi Umat

MASJID di Indonesia, umumnya masih difungsikan sebatas sarana ibadah. Fungsi-fungsi lainnya belum tergarap optimal. Manajemennya, juga masih seadanya. Dukungan pengelola, pun demikian. Masih mengandalkan ‘sesuatu’ yang serba sisa. Pemikiran, kemampuan, tenaga, waktu, dan usia yang didermakan untuk memakmurkan masjid, dan memberdayakan jamaah, rata-rata juga sisa. 

 “Akibatnya, kemajuan dan pemberdayaan masjid juga mengalami kendala. Efek lanjutannya, fungsi-fungsi masjid tidak tergarap optimal. Termasuk fungsi pemberdayaan ekonomi umat,” kata Drs. Enjang Muhaemin, M.Ag, dalam Diklat Manajemen DKM dan Ekonomi Syariah Berbasis Masjid, yang digelar Pokja Agama P2KB Sukaraja, Kota Bandung, Minggu (18/11/12). 

Dalam Diklat yang dilaksanakan di Aula SMP Muhammadiyah, dan dihadiri sekitar seratus peserta itu, juga menghadirkan Ketua MUI Sukaraja, KH Engkus Suhendar, M.Ag. 

Dalam kesempatan tersebut, Enjang berpendapat, bila saja ekonomi umat Islam dikelola secara profesional, tentu hasilnya akan sangat luar biasa. “Sekarang ini, banyak potensi ekonomi yang tidak tergarap secara optimal, bahkan tidak sedikit yang terabaikan, dan tak tersentuh para pengurus masjid,” papar Enjang. 

Miliki Lembaga Usaha 
Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Bandung itu mengungkapkan, bila saja setiap masjid memiliki lembaga usaha seperti mini market, koperasi syariah, BMT, gedung resepsi, dan biro perjalanan haji dan umrah, maka dapat diduga betapa hebatnya dana yang terkumpul. 

“Dan hasilnya tersebut, bukan hanya akan membuat masjid mampu mendanai beragam kegiatan yang bermanfaat bagi syiar Islam, tapi juga akan mampu mendongkrak ekonomi para jamaah,” tandasnya. 

Dana untuk membangun itu semua dari mana? “Sumber dana umat Islam itu luar biasa besarnya. Ada zakat mal, ada infak dan shadaqah, ada hibah, juga tidak sedikit umat Islam yang kaya, yang siap menginvestasikan dananya dalam kerangka pemberdayaan ekonomi umat,” ungkapnya. 

Mengingat dana umat Islam itu tersedia secara potensial, jelas Enjang, tinggal bagaimana para pengelola masjid mampu menggalinya. “Tentu butuh strategi, pendekatan, dan perencanaan yang matang. Dalam konteks inilah, maka pendidikan dan pelatihan pemberdayaan ekonomi umat berbasis masjid memiliki nilai penting,” ungkapnya. [] BIE | BandungOke.com.

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Minggu, April 14, 2013