Dakwah dalam Kancah Revolusi Informasi

TEKNOLOGI modern menyerbu kita bagaikan air bah. Penemuan-penemuan baru yang diharapkan bisa membuat hidup manusia lebih nyaman, lebih sehat, lebih berbahagia, muncul setiap hari. Di samping sisi positif, tentunya perkembangan teknologi modern juga mengimplikasikan sisi negatifnya seperti lahirnya sikap materialistik, individualistik, dan sekularistik.

Dalam konteks itulah, kata Marwah Daud Ibrahim, dakwah diharapkan bisa menjadi pengimbang, penyaring, dan pemberi arah dalam hidup (1994:191). 

Dakwah sebagai faktor pengimbang harus bisa membantu manusia untuk tidak hanya berkhidmat pada kehidupan duniawi yang kian dimegahkan oleh kemajuan teknologi canggih, tapi tetap menyeimbangkannya dengan kehidupan ruhaniah (akhirat). Sebagai penyaring, dakwah diharapkan mampu membantu manusia untuk dapat menetapkan pilihan-pilihan nilai yang lebih manusiawi dan islami. Sebagai pengarah, dakwah diharapkan dapat membimbing manusia untuk lebih memahami makna hidup yang sesungguhnya. 

Di samping peluang dakwah yang kian terbuka untuk dilaksanakan secara luas dan mendunia, namun di sisi lain tantangan yang dihadapi para da’i pun memang tidak semakin ringan. Kian hari kian berat, dan kian kompleks. Oleh karena itu, para da’i dituntut menguasasi media-media yang terus berkembang tiada henti. Revolusi informasi yang kini sedang dijajakan sebagai suatu rahmat besar bagi manusia, adalah tantangan sekaligus peluang bagi para da’i untuk terlibat aktif di dalamnya. 

Tanpa keterlibatan para juru dakwah dalam kancah revolusi informasi, bisa berbuah bahaya. Bukan hanya akan membuat umat tersesat, bahkan bukan mustahil akan melahirkan laknat-laknat baru yang tak terduga sebelumnya. Dalam konteks inilah, para da’i dituntut mampu menyikapi tantangan secara akurat, sekaligus mampu mengoptimalkan peluang yang muncul guna menyebarkan dan mendakwahkan Islam ke seantero dunia. 

Tantangan yang dihadapi para da’i tidaklah semakin ringan. Tanda-tanda zaman menunjukkan hal tersebut. John Naisbit dan Patricia Aburdene dalam Megatrends 2000 menunjukkan kesamaan gaya hidup di seluruh dunia pada abd XXI, yakni globalisasi dalam 3F: food (makanan), fashion (mode pakaian), dan fun (hiburan). Jalaluddin Rakhmat (1991: 72-73) menambahkan 5F lagi: faith (kepercayaan), fear (ketakutan), facts (fakta), fiction (cerita rekaan), dan formulation (perumusan). 

Mencermati realitas itu, menurut Jalaluddin Rakhmat (1991:70-75), para da’i dituntut bersikap dan melakukan tindakan yang tepat, di antaranya: 

Pertama, para da’i dituntut mampu mengembangkan sistem informasi. Harus dilakukan koordinasi antarlembaga dakwah untuk mengembangkan berbagai data base system, untuk perkembangan dakwah dan pemikiran Islam. Laboratorium dakwah yang menghimpun data tentang khalayak dan materi dakwah harus didirikan dengan menggunakan teknologi komunikasi mutakhir. 

Kedua, para da’i harus melatih para pengikutnya untuk mengembangkan kemampuan menerima, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi. Pada kurikulum dakwah harus ditambahkan kemampuan komunikasi. Tidak mungkin kita merebut jaringan informasi sekarang ini, bila tanpa memiliki kemampuan komunikasi yang memadai. 

Ketiga, para da’i sebagai pelanjut Rasulullah SAW tidak boleh bertindak pasif. Mereka harus menyambut tantangan-tantangan yang ada di hadapannya dengan perencanaan yang baik. Kecintaan kita kepada peninggalan para ulama salaf sepatutnya tidak menyebabkan kita buta melihat masa depan. 

Keempat, mengingat munculnya penyakit sosial dan keresahan psikologis masyarakat di era informasi yang kian menjadi, maka para da’i harus mampu melakukan gerakan dakwah yang terapeutis (bersifat menyembuhkan). Para da’i, selain sebagai pendidik, juga dokter jiwa. Para pasiennya adalah korban-korban globalisasi. 

Kelima, para da’i adalah agen sosialisasi nilai-nilai Islam. Mereka ditantang untuk bersaing dengan agen-agen hiburan yang global. Sekarang para kyai tidak cukup hanya membacakan kisah-kisah dari Alqur’an, Sirah Nabi atau buku-buku seperti Durratun Nashihin. Mereka harus mengemasnya dengan memanfaatkan teknologi komunikasi mutakhir. Penggunaan media massa oleh para da’i menjadi sangat vital. [] 

:: Enjang Muhaemin, Staf Pengajar di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung

:: Buku Rujukan:
1. Marwah Daud Ibrahim. 1994. Teknologi, Emansipasi, dan Transendensi: Wacana Peradaban dengan Visi Islam. Mizan. Bandung.
2.  Jalaluddin Rakhmat. 1991.  Islam Aktual, Mizan, Bandung.

Diposkan Oleh Enjang Muhaemin -- Lentera Dakwah

Enjang Muhaemin Kesediaan Anda membaca artikel Dakwah dalam Kancah Revolusi Informasi. merupakan kehormatan bagi saya. Anda diperbolehkan mengcopy-paste atau menyebarluaskan artikel ini, dan jangan lupa meletakkan link di bawah ini sebagai sumbernya.

:: SILAKAN KLIK DAN BACA TULISAN LAINNYA ::

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Minggu, April 28, 2013