Peduli Terhadap Kaum Dhuafa

Oleh ENJANG MUHAEMIN

Kepedulian sosial merupakan salah satu aspek penting dalam ajaran Islam. Sebagai agama yang agung dan luhur, Islam mendorong umatnya untuk selalu peka pada penderitaan kaum dhuafa dan peduli membantu orang-orang yang hidup dalam kemiskinan dan kekurangan. Banyak ayat dan hadits yang mesti dijadikan pengingat kelalaian dan kealpaan kita dalam membantu dan mencintai orang-orang yang fakir dan miskin. 

Dalam al-Hasyr ayat 7 kita diingatkan bahwa harta kekayaan tidak boleh berputar hanya di tangan kelompok kaya saja. Dalam az-Zariyat ayat 19, Allah SWT pun menegaskan bahwa di dalam kekayaan kita sesungguhmya terdapat hak golongan fakir miskin.

Peringatan di atas sudah selayaknya menyadarkan kita dari keserakahan terhadap yang dianugerahkan Allah. Kehidupan kita yang bergelimang harta tak seharusnya melupakan kehidupan orang-orang yang menderita di sekitar kita. 

Egoisme dan sikap masa bodoh mesti dikikis dari jiwa muslim sejati. Sebaliknya, sikap pemurah, belas kasih, dan suka menolong layak untuk untuk terus ditumbuhkembangkan. Baginda Rasulullah SAW telah memberikan keteladanan yang patut ditiru dan diikuti.

Diriwayatkan bahwa seorang lelaki meminta kepada beliau, lalu ia memberinya sekawan kawan di antara dua buah bukit. Kepedulian dan kecintaan beliau terhadap orang-orang miskin tak lagi dapat dipungkiri. Demi orang miskin, beliau tak ragu untuk membantunya.

Suatu hari, seseorang menghadap beliau dan meminta sesuatu. Beliau bersabda, “Tidak ada sesuatu padaku, akan tetapi belilah kamu sesuatu atas namaku, apabila datang kepada kita sesuatu kita akan melunasinya.”

Sungguh suatu teladan yang mengagumkan. Sekalipun beliau bukan seorang konglomerat, bukan orang yang kaya raya dan bergelimang harta benda, toh beliau peduli dan memberikan perhatian penuh. 

Di tengah kekayaan yang kita miliki, adakah getar hati untuk mengikuti serta meneladani sikap Rasulullah SAW terhadap kaum dhuafa? Ingatlah pada sabda beliau, “Serahkan sedekahmu sebelum datang suatu masa ketika engkau berkeliling menawarkan sedekahmu. Orang-orang miskin akan menolaknya seraya berkata, ’Hari ini kami tidak perlu bantuanmu, yang kami perlukan adalah darahmu’.” 

Fenomena realitas yang muncul belakangan ini merupakan indikator ke arah itu. Prediksi Rasulullah SAW sudah seharusnya kita renungi. Munculnya tindak kekerasan, perampokan di siang bolong, kejahatan yang sudah tidak mempedulikan lagi darah dan nyawa korban, boleh jadi merupakan tanda-tanda dari rendahnya tingkat kepedulian kita terhadap kaum dhuafa.

Fasilitas Menuju Surga
Harta kekayaan adalah amanat dan ujian. Sebagai amanat, harta kekayaan mesti dipelihara dan dijaga penyalurannya agar tidak jatuh pada jalan kemaksiatan. Sebagai ujian, harta kekayaan adalah sesuatu penentu masa depan kita di akherat: surga atau neraka. Ini artinya bahwa harta kekayaan yang kita miliki: dari mana asalnya dan bagaimana penyalurannya akan menentukan posisi kita kelak.

Harta kekayaan yang berasal dari usaha yang halal dan disalurkan untuk kepentingan amal shaleh, termasuk di dalamnya membantu orang-orang miskin, maka bagi pemiliknya akan ditempatkan Allah SWT di surga. Rasulullah SAW menegaskan, “Segala sesuatu ada kunci, dan kunci surga adalah mencintai orang-orang miskin.”

Bagi hartawan, harta kekayaan dan kaum dhuafa merupakan “proyek” kebahagiaan di akherat kelak. Kelompok yang kaya raya, mestinya bersyukur karena dilimpahkan Allah kepadanya alat dan fasilitas menunju surga. Kebahagiaan di akherat jauh lebih baik dibanding kebahagiaamn yang di dunia yang serba nisbi dan relatif.

Sebaliknya, harta yang diperoleh dari usaha yang haram, atau harta halal yang disalurkabn tidak sejalan syariat Islam maka baginya siksa neraka yang berat tiada tandingannya. Tidak peduli pada orang-orang miskin merupakan satu di antara sebab kesalahan kita dalam menyalurkan harta kekayaan. Tak aneh bila orang kaya yang mengabaikan orang miskin dianccam dengan neraka sebagai tempat kembali. 

Rasulullah SAW mengingatkan, “Kelak di hari akherat, ketika penduduk neraka ditanya penghuni surga mengapa mereka masuk neraka, mereka menjawab, “Dahulu kami tidak melakukan shalat, dan tidak memberi makan orang miskin.”

Karenanya, siapa pun kita sudah segera menyadari untuk peduli pada orang-orang miskin. Di sekitar kita, masaih banyak yang hidupnya pas-pasan, bahkan yang sedikit kekurangan. Masih banyak saudara kita yang hanya untuk makan saja perlu ngutang sana ngutang sini. Tidak tergetarkah hati kita untuk membantunya?
Insya Allah, harta kekayaan yang kita sedekahkan tidak akan membuat kita jatuh miskin. Bahkan harta kekayaan kita akan terus melimpah dan bertambah. Demikian itu, adalah realitas yang kerap sulit dipahami banyak orang. 

Untuk menjadi seorang mukmin yang baik, berkait dengan kepedulian kita terhadap kaum dhuafa, sabda Rasulullah SAW berikut sepatutnya kita renungkan: “Bukan mukmin, seseorang yang makan kenyang sementara tetangganya kelaparan.” Barangkali inilah sepercik renungan di tengah kejahatan yang semakin merebak

Diposkan Oleh Enjang Muhaemin -- Lentera Dakwah

Enjang Muhaemin Kesediaan Anda membaca artikel Peduli Terhadap Kaum Dhuafa. merupakan kehormatan bagi saya. Anda diperbolehkan mengcopy-paste atau menyebarluaskan artikel ini, dan jangan lupa meletakkan link di bawah ini sebagai sumbernya.

:: SILAKAN KLIK DAN BACA TULISAN LAINNYA ::

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Minggu, Juli 25, 2010