Apa yang Salah dengan Ibadah Puasa Kita?

Oleh Enjang Muhaemin

RAMADAN kembali menghampiri kita. Umat Islam di mana pun berada tentu akan menyambut dengan penuh suka cita. Hikmah besar yang terkandung di dalamnya membuat kita rindu untuk selalu bertemu dengan bulan yang penuh barakah dan magfirah ini. 

Secara substansial, puasa dimaksudkan untuk melahirkan manusia berkualitas super: la'allakum tattaqun. Ini sebagaimana termaktub di dalam Alquran, Surat Al-Baqarah ayat 183: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa."

Di tengah kondisi Indonesia yang masih terbelit beragam persoalan, dari mulai krisis ekonomi, maraknya korupsi, hingga degradasi moral yang kian akut, sudah waktunya kini menjadikan ibadah puasa sebagai momentum perbaikan menuju ke arah Indonesia yang lebih baik.

Melihat beragam persoalan yang mengimpit negeri ini, rasanya tepat bila dikatakan, puasa tahun ini, harus benar-benar bisa menjadi momentum perbaikan diri secara optimal. Artinya, ibadah puasa yang kita jalani, bukan sekadar puasa yang tanpa makna, puasa yang hanya menahan lapar dan dahaga.

Puasa harus terwujud bukan sekadar memenuhi kewajiban agama, tetapi juga dibarengi kesadaran untuk menjadikan ibadah puasa sebagai wahana pembangunan kualitas kemusliman yang paripurna.

Namun sayangnya, tujuan ideal puasa itu kerap tak berhasil terwujud secara baik. Tentu muncul pertanyaan dalam benak kita: apa yang salah dengan puasa kita?

Puasa sebulan penuh yang setiap tahun kita jalani nyaris tak banyak berdampak pada kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri ini. Contoh, praktik korupsi yang bukan hanya kian meningkat, tapi juga kian meluas ke berbagai lini kehidupan di negeri ini. Sungguh sebuah realitas yang amat memprihatinkan.

Kita patut bertanya kepada diri kita: bagaimana dampak puasa yang kita jalani selama ini?

Pertanyaan ini cukup relevan untuk dikedepankan, agar puasa yang kita lakukan selama sebulan penuh benar-benar mencapai target ketakwaan, sekaligus berimplikasi terhadap perilaku dan moralitas kita sehari-hari, baik yang berdimensi politik, pendidikan, ekonomi, sosial-budaya, maupun hukum.

Ini tentu amat penting, karena Nabi Muhammad pernah memberi early-warning, "Sekian banyak orang yang menjalankan puasa, tetapi mereka hanya mendapatkan lapar dan dahaga".

Bertolak dari peringatan itu, seorang sufi besar, Imam Al-Ghazali
dalam karya magnum opus-nya, "Ihya' Ulumuddin", membagi kualitas puasa itu ke dalam tiga kualifikasi: puasa am, puasa khash, dan puasa khawasul khawas.

Puasa am, adalah puasa yang dilakukan sebatas menahan diri dari makan, minum, dan seks. Puasa khash, adalah puasa yang dilakukan selain dengan menahan diri dari ketiga hal pertama tadi, juga dengan menjaga penglihatan, pendengaran, dan ucapan dari hal-hal berbau maksiat.

Puasa khawasul khawas, yakni puasa yang dilakukan bukan saja menahan diri dari ketiga hal pertama dan kedua, tetapi diikuti pula dengan menjaga suasana hati dari hal-hal yang rendah, berorientasi materialis, dan berbagai kecenderungan hati yang destruktif-anarkis.

Melalui kategorisasi yang dilakukan Imam Al-Ghazali itu, kita bisa mengukur sejauhmana kualitas puasa yang kita lakukan? Implikasi ini akan sangat besar terhadap keadaan di negeri ini. Di tingkatan mana kualitas puasa sebagian besar muslim di negeri ini akan sangat menentukan kualitas keadaan negeri ini. Menyimak negeri kita yang carut marut, kita sudah bisa mengukur kualitas sebagian besar para pelaku puasa di negeri ini.

Fenomena apa yang salah dengan ibadah puasa yang kita lakukan? Jawabannya tiada lain, karena pemahaman dan pengamalan puasa yang kita lakukan belum optimal sebagaimana yang diharapkan. Belum mampu mencapai puasa dalam tingkatan khawasul khawas, baru sebatas tingkatan puasa am, yang hanya mampu menahan lapar, dahaga, dan seks semata.

Padahal, bila saja kita telah mencapai tingkatan puasa khawasul khawas, maka sudah menjadi jaminan bakal lahirnya insan-insan berkualitas yang bakal mampu menahan godaan syahwat duniawi dan beragam kebejadan moral lainnya.

Manusia yang telah mencapai puasa dalam tingkatan khawasul khawas inilah yang diharapkan muncul menjadi pionir-pionir pembaharu bagi perubahan negeri ini. Ia akan tampil bukan hanya dengan kecerdasan spiritualitas yang mencengangkan, juga dengan akhlak dan kepribadian yang mengagumkan.

Bila kita berkehendak Indonesia mengalami perubahan ke arah yang lebih baik, maka kualitas puasa tahun ini harus terus ditingkatkan. Tentu tak mudah. Tapi bagaimanapun ini merupakan pekerjaan rumah yang harus dilakukan.

Langkah penyadaran umat tentang puasa yang sesungguhnya mesti segera dimasyarakatkan secara intensif. Bukan hanya tugas para ulama, dai, dan mubalig, pemerintah pun berkepentingan demi perubahan Indonesia ke arah yang lebih baik.

Menumbuhkan kesadaran pelaku puasa untuk mencapai kualitas khawasul khawas, jelas tidak mudah. Namun tentu selalu ada jalan. Salah satunya dengan menumbuhkan pemahaman yang komprehensif tentang dimensi-dimensi yang melekat pada ibadah puasa itu sendiri, baik dimensi teologis maupun sosiologis.

Penulis, Dosen UIN SGD Bandung

Diposkan Oleh Enjang Muhaemin -- Lentera Dakwah

Enjang Muhaemin Kesediaan Anda membaca artikel Apa yang Salah dengan Ibadah Puasa Kita?. merupakan kehormatan bagi saya. Anda diperbolehkan mengcopy-paste atau menyebarluaskan artikel ini, dan jangan lupa meletakkan link di bawah ini sebagai sumbernya.

:: SILAKAN KLIK DAN BACA TULISAN LAINNYA ::

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Minggu, Juli 25, 2010