Menyiasati Minimnya Pelajaran Agama

Oleh NURHAYATI


TIDAK bisa dibantah lagi, tantangan kehidupan pada masa sekarang memang sangat berat. Tantangan tidak ringan ini berkembang sejalan dengan kemajuan zaman dan pesatnya teknologi informasi yang nyaris tak terbendung belakangan ini.Kini, di tengah kehidupan masyarakat, bukan hanya televisi yang berhasil mewarnai pola dan perilaku anak-anak kita. Beragam produk teknologi mutakhir pun tak ketinggalan. Baik itu berupa internet, vcd, play station, maupun sarana komunikasi lainnya, yang saat ini sangat mudah “dijamah” dan dinikmati putra-putri kita.

Realitas perkembangan pesat teknologi tersebut tentu berimplikasi besar terhadap perilaku dan akhlak anak-anak kita, yang kelak kemudian hari akan menjadi para pemimpin di negeri ini. Pasalnya, kesempatan untuk menikmati dan memanfaatkan fungsi media-media modern itu sungguh terbuka sangat lebar. Bahkan nyaris sulit dikendalikan.

Ambil contoh, misalnya, kesempatan anak-anak kita untuk menikmati dan menyaksikan tayangan-tayangan yang disajikan media televisi. Kita tahu, hampir di setiap rumah, televisi telah ada. Bak pisau bermata dua, televisi akan bisa berdampak positif, sebaliknya juga berpengaruh negatif. Sangat tergantung kepada banyak hal. Satu diantaranya tergantung kepada program-program televisi yang ditayangkan.

Si “kotak ajaib” hanyalah sebuah media. Baik-buruknya imbas terhadap pemirsa—terutama anak-anak—akan sangat tergantung pada baik-buruknya acara yang ditayangkan. Kita, sebagai kalangan pendidik, tentu pantas merasa was-was bila kemudian televisi akan memberikan warna tak baik terhadap akhlak dan perilaku para peserta didik. Sebabnya, acara-acara televisi yang ditayangkan di negeri kita cenderung tidak mendidik.

Tayangan-tayangan tidak bermutu itu nyaris tak terbendung. Anak-anak pun menjadi tidak punya pilihan lain kecuali ‘menikmatinya’. Tayangan-tayangan seperti ini tentu saja akan berdampak buruk terhadap perkembangan akhlak dan mental akan-anak. Kekhawatiran kalangan pendidik dan orang tua sepertinya tak mampu diserap para pengelola televisi, mereka cenderung tak mau terhadap imbas negatif dari beragam tayangan buruk tersebut.

Ironisnya, di tengah ketidakpedulian para pengelola televisi itu, pendidikan agama di lembaga pendidikan pun sungguh sangat minim, yang tentu saja akan sulit untuk mampu mengimbangi ‘pewarnaan’ dominan yang dilakukan media televisi. Dalam kurikulum yang ada, pendidikan agama yang diberikan dalam satu minggu, hanya dua jam pelajaran. Berbeda dengan pelajaran-pelajaran lain, seperti Bahasa Indonesia misalnya, yang dalam seminggu mencapai enam jam pelajaran.
Mencermati tantangan zaman yang kian berat, maka untuk pendidikan agama yang dua jam itu, jelas sangat sedikit. Yang kita khawatirkan, adalah rusaknya akhlak dan mental anak-anak, karena tidak seimbangnya pendidikan agama dengan keadaan zaman saat ini. 

Haruskah jam pelajaran agama ditambah lebih banyak lagi? Hemat penulis, jelas sangat perlu. Namun untuk mengubah itu, selain butuh waktu, juga butuh kemauan dari para pemegang kebijakan. Bila begitu, langkah apa mesti kita lakukan segera? Menurut penulis, untuk mengatasi minimnya pelajaran agama, ada beberapa langkah yang layak untuk diterapkan.

Pertama, menyisipkan moral dan semangat keberagamaan di dalam mata pelajaran lain. Tentu tidak harus bersifat dogmatis, tapi lebih kepada substansi dan ruh dari inti keberagamaan. Baik itu akhlak, keimanan, maupun sikap dan perilaku yang sejalan dengan norma-norma agama.

Langkah menyisipkan substansi dan ruh dari norma keagamaan di dalam mata pelajaran lain memang tidak gampang, butuh kecerdasan para pengajar di dalam menyiasatinya. Namun, bila kita sepakat untuk optimal membangun anak didik yang bermoral dan beragama, maka langkah itu akan sangat mampu diaplikasikan. Kendati misalnya, awal-awalnya mengalami kesulitan, insya Allah pada akhirnya akan menjadi terbiasa.

Kedua, dalam tiap hari menyisihkan waktu sekitar lima hingga sepuluh menit untuk memberikan pendalaman agama terhadap para siswa. Kegiatan bisa dilakukan sebelum mata pelajaran pertama dilakukan. Bentuknya bisa beragam: seperti tadarus al-Qur’an dan terjemahnya, kupas hadits dan intisarinya, wejangan agama, maupun tanya-jawab. Bagusnya, ada penjadwalan: hari apa dan materi pendalamannya apa. Lebih bagus lagi dibikin secara sistematis ‘silabus khusus’ untuk materi pendalaman agama tersebut.

Pola tersebut sungguh sangat mungkin dilakukan, karena selain tidak memakan waktu, materi yang disampaikan pun tidak akan membuat berat para pengajar lain yang bukan pengajar agama. Namun untuk lebih menyeragamkan, ‘silabus khusus’ harusnya dibuat terlebih dahulu. Insya Allah, dengan jalan ini, minimnya pendidkan agama bisa terantisipasi. 

Langkah ketiga, yaitu dengan menyediakan waktu—di luar jam sekolah--dalam seminggu antara satu hingga dua jam untuk acara khusus keagamaan. Bentuknya ceramah umum, baik itu disampaikan oleh guru agama sekolah masing-masing, maupun mendatangkan tokoh agama dari luar sekolah. 

Dengan pola itu diharapkan pemahaman keagamaan para siswa akan terus terbina dan tertingkatkan. Yang pada akhirnya, bukan hanya mampu menyiasati minimnya jam pelajaran agama, tapi juga akan mendukung kuatnya ketahanan mental dan akhlak siswa dari godaan zaman yang makin menggila.

Langkah keempat, pengajar agama mewajibkan para siswanya untuk belajar agama di luar sekolah. Namun langkah ini, selain harus bekerjasama dengan pihak orang tua, juga harus dimonitor dan dipantau secara rutin. Caranya bisa dengan disediakannya buku khusus kegiatan keagamaan siswa, seperti yang lazim dilakukan pada bulan Ramadhan. 

Secara ideal, keempat langkah memang sebaiknya diterapkan. Namun bila dipandang masih terasa berat bisa dilakukan salah-satunya. Insya Allah, dengan pola begitu, kekhawatiran kita tentang robohnya akhlak dan moral siswa akan tertanggulangi. Para pendidik dan orang tua juga akan merasa reug-reug, karena harapan agar para siswa cerdas, berkeimanan kuat, dan berakhlak baik, akan bisa terwujud.

Diposkan Oleh Enjang Muhaemin -- Lentera Dakwah

Enjang Muhaemin Kesediaan Anda membaca artikel Menyiasati Minimnya Pelajaran Agama. merupakan kehormatan bagi saya. Anda diperbolehkan mengcopy-paste atau menyebarluaskan artikel ini, dan jangan lupa meletakkan link di bawah ini sebagai sumbernya.

:: SILAKAN KLIK DAN BACA TULISAN LAINNYA ::

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Minggu, Juli 25, 2010