Internet, Bagai Pedang Bermata Dua

Internet sebagai media, tak ubahnya bagai pedang bermata dua. Bisa digunakan untuk kebaikan, bisa pula digunakan untuk kejahatan.

Lima Pola Pemecahan Masalah

Setiap manusia, tentunya memiliki masalah (problem). Dan tampaknya, tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini, yang hidup tanpa masalah.

Gelisah Karena Pujian

Mendengar berbagai pujian, si alim menjadi gelisah. Jangan-jangan dirinya rajin beribadah bukan karena Allah, melainkan karena orang-orang memujinya sebagai orang alim.

Akademisi Ilmuwan Dakwah di Era Internet

Sebagai pilar terdepan, akademisi ilmuwan dakwah idealnya berdiri paling depan dalam gerbang pertarungan global.

Ketimpangan antara Intelektualitas dan Moralitas

Di dunia pendidikan, manusia dibentuk dan dicetak bukan sekadar untuk menjadi cerdas, dan terampil semata, tetapi juga berakhlak mulia.

Makmurkan Masjid Tak Cukup Sekadar Kemauan

MEMAKMURKAN masjid menjadi tanggung jawab muslim di mana pun dan kapa pun. Terlebih muslim yang masuk dalam jajaran kepengurusan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM). Mereka inilah yang harus mampu tampil sebagai "nakhoda" pemakmuran dan pemberdayaan jamaah masjid. Dalam banyak kasus, keberhasilan program di sebuah masjid sangat tergantung pada mereka ini. Di sini tersirat pentingnya kemauan dan kemampuan mereka di dalam memakmurkan masjid.

Memiliki kemauan saja belumlah cukup, perlu ditunjang kemampuan. Kemampuan saja, juga belumlah cukup, perlu ditunjang kemauan. Dua hal yang tidak bisa dipisahkan, baik terkait manajemen, kepemimpinan, maupun keahlian di dalam memecahkan masalah (problem solving). Demikian intisari materi yang disampaikan KH. Dedi Mulyadi, KH. Engkus Suhendar, M.Ag, dan Drs. Enjang Muhaemin, M.Ag, dalam "Pelatihan Manajeman Ke-DKM-an" yang digelar Masjid Jami' Al-Ikhlas, Cilember, Kota Bandung, Minggu (1/4). 

Di zaman Rasulullah SAW, masjid telah berhasil membangun umat yang berkualitas, yang "masagi" dalam banyak hal. "Masjid telah mampu menjadi sarana pembinaan umat yang luar biasa, sehingga mampu melahirkan para pemimpin dan pejuang Islam yang selalu komit pada ajaran Islam, dan memberikan kontribusi besar dalam mewujudkan masyarakat yang berperadaban," kata KH. Dedi Mulyadi pengasuh Pondok Pesantren Fathussalam Al-Mubarak. 

Menghidupkan dan memakmurkan kembali fungsi kemasjidan, jelas Ketua MUI Sukaraja, KH. Engkus Suhendar, M.Ag, perlu ditunjang pemahaman dan kemampuan manajemen kemasjidan yang baik. Kondisi zaman telah berubah, kian rumit juga kian kompleks, karenanya fungsi manajemen tidak bisa dianggap sebelah mata. Para pengurus DKM dituntut memiliki keahlian manajemen secara baik. "Keberhasilan sejumlah masjid di dalam memakmurkan masjid, bisa kita lihat, sebab mereka memiliki keahlian manajemen yang baik," paparnya. 

Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, Enjang Muhaemin menyoroti sisi lain keberhasilan masjid di dalam menghidupkan dan memakmurkan masjid. "Yang tak kalah pentingnya, adalah kemampuan para DKM di dalam memecahkan masalah (problem solving) dan mengambil keputusan yang tepat. Ini pokok kunci yang layak mendapat perhatian, karena terbukti banyak masjid yang gagal memakmurkan masjid karena gagal memecahkan masalah dan gagal mengambil keputusan yang cepat dan tepat," urainya. 

Sayangnya, lanjut Enjang, dalam banyak pelatihan ke-DKM-an, materi yang satu ini sangat jarang dikupas. Padahal, problem keumatan dalam pemakmuran masjid, kian hari kian tidak ringan. "Kepiawaian dalam memecahkan masalah dan mengambil keputusan, tak bisa dibantah sebagai pokok kunci dalam mewujudkan kemakmuran masjid dan pemberdayaan umta. Dengan kemampuan ini, masalah yang muncul sebenarnya bisa diubah sebagai berkah," tandasnya. [MZF/BandungOke.Com]

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Minggu, April 28, 2013

DKM, Pemilik Peran Kunci Kemajuan Masjid

DALAM mewujudkan kebangkitan Islam, masjid perlu diposisikan sebagaimana fungsi dan perannya di masa Rasulullah SAW. Dengan ini, maka masjid dapat menjadi pusat aktivitas umat dalam mewujudkan dunia Islam yang lebih baik. Para pengurus DKM memiliki peran kunci untuk mewujudkannya.

Ketua MUI Sukaraja, KH Engkus Suhendar, M.Ag mengungkapkan hal tersebut dalam “Diklat Manajemen DKM dan Ekonomi Syariah Berbasis Masjid,” yang digelar Pokja Agama P2KB, di Aula SMP Muhammadiyah, Minggu (18/11/12). 

Dalam Diklat yang dihadiri sekitar seratus peserta itu, juga menghadirkan Drs. Enjang Muhaemin, M.Ag, dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung, yang mengupas “Manajemen Pemberdayaan Ekonomi Umat Berbasis Masjid.” 

Engkus menilai, fungsi masjid dewasa ini masih dirasakan hanya terbatas sebagai pusat ibadah, seperti shalat lima waktu, dan shalat Jum’at.  “Fungsi lainnya, seperti pembinaan dan peningkatan kesejahteraan umat masih harus dikembangkan,” tandas Engkus. 

Agar fungsi-fungsi lainnya juga tercapai, dalam pandangan Engkus, maka masjid perlu dikelola dengan manajemen yang profesional, dan proporsional. Dan untuk ini, jelasnya, perlu dukungan berbagai pihak, bukan hanya para pengurus DKM, tapi juga jamaah, tokoh masyarakat, dan pemerintah. 

Namun begitu, kata Engkus, para pengurus DKM tetap merupakan tokoh kunci berjalan-tidaknya fungsi masjid sebagai pusat kegiatan umat. Itulah sebabnya, penguasaan para pengurus DKM akan manajemen sangat penting manfaatnya bagi peningkatan dan pemberdayaan umat. [] BIE | BandungOke.com

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Minggu, April 28, 2013

Lembaga Usaha, Solusi Masjid Berdayakan Ekonomi Umat

MASJID di Indonesia, umumnya masih difungsikan sebatas sarana ibadah. Fungsi-fungsi lainnya belum tergarap optimal. Manajemennya, juga masih seadanya. Dukungan pengelola, pun demikian. Masih mengandalkan ‘sesuatu’ yang serba sisa. Pemikiran, kemampuan, tenaga, waktu, dan usia yang didermakan untuk memakmurkan masjid, dan memberdayakan jamaah, rata-rata juga sisa. 

 “Akibatnya, kemajuan dan pemberdayaan masjid juga mengalami kendala. Efek lanjutannya, fungsi-fungsi masjid tidak tergarap optimal. Termasuk fungsi pemberdayaan ekonomi umat,” kata Drs. Enjang Muhaemin, M.Ag, dalam Diklat Manajemen DKM dan Ekonomi Syariah Berbasis Masjid, yang digelar Pokja Agama P2KB Sukaraja, Kota Bandung, Minggu (18/11/12). 

Dalam Diklat yang dilaksanakan di Aula SMP Muhammadiyah, dan dihadiri sekitar seratus peserta itu, juga menghadirkan Ketua MUI Sukaraja, KH Engkus Suhendar, M.Ag. 

Dalam kesempatan tersebut, Enjang berpendapat, bila saja ekonomi umat Islam dikelola secara profesional, tentu hasilnya akan sangat luar biasa. “Sekarang ini, banyak potensi ekonomi yang tidak tergarap secara optimal, bahkan tidak sedikit yang terabaikan, dan tak tersentuh para pengurus masjid,” papar Enjang. 

Miliki Lembaga Usaha 
Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Bandung itu mengungkapkan, bila saja setiap masjid memiliki lembaga usaha seperti mini market, koperasi syariah, BMT, gedung resepsi, dan biro perjalanan haji dan umrah, maka dapat diduga betapa hebatnya dana yang terkumpul. 

“Dan hasilnya tersebut, bukan hanya akan membuat masjid mampu mendanai beragam kegiatan yang bermanfaat bagi syiar Islam, tapi juga akan mampu mendongkrak ekonomi para jamaah,” tandasnya. 

Dana untuk membangun itu semua dari mana? “Sumber dana umat Islam itu luar biasa besarnya. Ada zakat mal, ada infak dan shadaqah, ada hibah, juga tidak sedikit umat Islam yang kaya, yang siap menginvestasikan dananya dalam kerangka pemberdayaan ekonomi umat,” ungkapnya. 

Mengingat dana umat Islam itu tersedia secara potensial, jelas Enjang, tinggal bagaimana para pengelola masjid mampu menggalinya. “Tentu butuh strategi, pendekatan, dan perencanaan yang matang. Dalam konteks inilah, maka pendidikan dan pelatihan pemberdayaan ekonomi umat berbasis masjid memiliki nilai penting,” ungkapnya. [] BIE | BandungOke.com.

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Minggu, April 14, 2013

Gelisah Karena Pujian

Oleh Enjang Muhaemin

Di sebuah desa hidup seorang yang dikenal kalangan luas sebagai orang yang sangat alim. Segala pujian dilimpahkan orang kepada si alim atas kesalehan dan kealimannya. Mendengar berbagai pujian tersebut si alim menjadi gelisah. Jangan-jangan dirinya rajin beribadah itu bukan karena Allah melainkan justru karena orang memujinya sebagai orang alim.

Pada suatu pagi, ia pun pergi menuju pasar di seberang desa. Sesampainya di pasar, secara demonstratif ia sengaja mencuri ayam yang sedang diperjualbelikan. Karena tertangkap basah, maka ia pun dipukuli banyak orang. Ayam dikembalikannya, dan ia pun pulang dalam keadaan babak belur. Orang sepasar akhirnya bergumam, “Oh! Ternyata ia pura-pura alim, padahal sebenarnya tak lebih seorang maling.”

Mendengar omongan seperti itu, ia bukannya sedih melainkan bersyukur kepada Allah. Setibanya dia di rumah ia langsung sujud syukur, “Alhamdulilah ya Allah, kini aku beribadah bukan karena manusia, tetapi insya Allah benar-benar karena Engkau semata.”

Kisah sufistik yang diangkat M Bangbang Pranomo dalam tulisannya pandangan kesupian tentang diri manusia itu menarik kita renungkan. Kisah sufistik itu seakan menunjukkan betapa tidak ringannya bila kita ingin mengabdi dan beribadah pada Allah secara tulus. Sang sufi merelakan kharisma dan citra dirinya remuk redam di mata manusia.

Sungguh sebuah pengorbanan yang amat berharga. Perilaku seorang hamba Allah yang berusaha menyucikan dirinya dari beragam ria, sombong, dan takabur. Jelas, ini adalah sebuah pelajaran yang amat berharga di tengah zaman yang gila pujian dan mendewakan penghargaan manusia.

Ia tak ingin ibadahnya karena manusia. Ia ingin tulus karena Allah, bukan karena yang lain. Ini adalah sebuah ‘adegan’ yang jauh berbeda dengan era kini, di tengah orang berbuat baik hanya sebagai kedok atas perilakunya yang buruk dan jahat. Di zaman yang edan ini, manusia yang jahat dan gemar beramal sekadar untuk menutupi perilaku buruknya, sungguh bukan hal yang aneh.

Cerita sufistik yang sarat pesan itu, tampaknya bertolak belakang dengan realitas yang kini terjadi. Bila ia menutupi ibadahnya dengan pura-pura berbuat jahat, agar ibadahnya itu benar-benar hanya karena Allah, orang sekarang malah sepertinya melakukan perilaku sebaliknya, berpura-pura menjadi orang yang baik padahal tak lebih dari seorang maling.

Keburukan akhlaknya, dan kejahatan perilakunya ditutupi dengan begitu rapat seakan tak boleh ada celah sedikit pun yang terbuka. Sikap kedermawanan dan penampilannya yang bak seorang alim ditunjukannya secara demonstratif, sebuah kepura-puraan yang indah di mata manusia, tapi buruk dalam pandangan Allah.

Manusia tipe itu, tentu saja tergolong manusia yang lupa Allah, gila penghargaan manusia. Pujian manusia dinilai lebih penting dibanding pahala dan balasan Allah. Ia tak peduli Tuhannya, yang ia pedulikan hanya pujian manusia. Sungguh amat kerdil dan menyedihkan.[]

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Minggu, Desember 04, 2011