Internet, Bagai Pedang Bermata Dua

Internet sebagai media, tak ubahnya bagai pedang bermata dua. Bisa digunakan untuk kebaikan, bisa pula digunakan untuk kejahatan.

Lima Pola Pemecahan Masalah

Setiap manusia, tentunya memiliki masalah (problem). Dan tampaknya, tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini, yang hidup tanpa masalah.

Gelisah Karena Pujian

Mendengar berbagai pujian, si alim menjadi gelisah. Jangan-jangan dirinya rajin beribadah bukan karena Allah, melainkan karena orang-orang memujinya sebagai orang alim.

Akademisi Ilmuwan Dakwah di Era Internet

Sebagai pilar terdepan, akademisi ilmuwan dakwah idealnya berdiri paling depan dalam gerbang pertarungan global.

Ketimpangan antara Intelektualitas dan Moralitas

Di dunia pendidikan, manusia dibentuk dan dicetak bukan sekadar untuk menjadi cerdas, dan terampil semata, tetapi juga berakhlak mulia.

Lima Pola Pemecahan Masalah

Oleh Enjang Muhaemin

Setiap manusia, tentunya memiliki masalah (problem). Dan tampaknya, tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini, yang hidup tanpa masalah. Yang pertama, yang membedakan satu dengan lainnya hanyalah kuantitas dan kualitas masalahnya. Ada yang banyak, ada yang sedikit. Ada yang berat, ada yang ringan. Ada yang kompleks, ada yang sederhana. Yang kedua, yang membedakannya yakni kemampuan di dalam memecahkan masalah (problem solving).

Organisasi atau lembaga manapun, juga sama dengan manusia. Tidak akan pernah steril dari masalah. Selalu ada, dan akan tetap ada. Mungkin Anda akan berkata, “Bila demikian apa perlunya kita mengupas dan membahasnya. Dan buat apa pula berusaha memecahkannya?” Kawan di samping Anda mungkin akan lebih sewot lagi: “Iya yah, kayak nggak ada kerjaan saja. Buang-buang waktu, tau!”

Sebentar, jangan sewot dulu dong! Kita kan belum tuntas, masih pemanasan, gitu lho! Maksud saya, begini, kendati masalah itu selalu ada, dan akan tetap ada, bila kita pandai menyikapinya, maka masalah justru akan memunculkan dampak positif dan amat bermanfaat. Kuncinya ada pada bagaimana kita menyikapinya: terpicu dan terpacu untuk memecahkannya atau sebaliknya berlari dan menghindar atas masalah yang kita hadapi.

Ketika masalah menghadang sebenarnya tak ubahnya pedang bermata dua. Bisa bermanfaat, juga bisa menimbulkan madarat. Sangat tergantung pada kemampuan kita menghadapinya. Tidak besar, tidak kecil, semua organisasi pasti memiliki masalah. Keberadaan dan kehadiran masalah, sejatinya membuat sebuah organisasi menjadi hidup, dinamis, kreatif, dan inovatif. Orang-orang yang terlibat di dalamnya, juga menjadi tertantang untuk memecahkannya, dan mencari jalan keluarnya. 

Semakin cerdas para aktivis organisasi memecahkan masalah, akan semakin maju sebuah organisasi. Jatuh bangun dalam memecahkan masalah akan memberikan nilai tambah yang tidak terduga sebelumnya: pengalaman, pengetahuan, dan kesuksesan. Namun sebaliknya, bila sebuah masalah dibiarkan tumbuh berkembang, ia tak ubahnya kanker ganas yang semakin lama akan semakin berbahaya. Ia akan menjalar ke sekujur tubuh. Bila ini terjadi, berarti ajal bakal segera menjemput. Kenyataan ini akan sama persis terjadi pada tubuh organisasi yang membiarkan beragam masalah tumbuh menggerogotinya. 

Kiat Pemecahan Masalah 
 
Umumnya kita bergerak sesuai dengan kebiasaan. Pagi-pagi setelah sarapan, Anda berangkat ke sekolah. Anda mengeluarkan motor dari garasi, memasukkan kunci, dan menstarter motor Anda. Jalan yang Anda tempuh juga hampir tidak disadari. Semua berjalan seperti otomotis. “Masalah timbul, ketika ada peristiwa yang tidak dapat diatasi dengan perilaku rutin,” kata Jalaluddin Rakhmat. Misalnya, motor Anda tiba-tiba mogok, jalanan macet, atau buku PR ketinggalan padahal harus dikumpulkan hari itu juga. Masalah timbul menghadang. Anda bingung, resah, kalang kabut, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Anda bertabrakan dengan situasi yang harus anda atasi. Inilah yang kita sebut situasi masalah (problem situation). 

Contoh di atas mengajarkan pada kita bahwa masalah adalah peristiwa di saat perilaku yang biasa dihambat karena sebab-sebab tertentu. Ini definisi masalah yang pertama. Bagaimana menghadapi dan mengatasinya? Motor mogok, anda selah berkali-kali, buku PR ketinggalan, anda bikin ulang di kelas, pacar anda mogok bicara, anda membujuknya. Ini cara pertama yang biasa kita lakukan. Pemecahan masalah dengan pola yang rutin. 

Bila cara itu masih juga gagal, apa yang anda lakukan? Anda mencoba menggali memori anda untuk mengetahui cara-cara apa saja yang efektif pada masa lalu. Motor mogok, didorong. Buku PR ketinggalan, anda telepon orang rumah untuk mengantarkannya ke sekolah. Pacar anda mogok bicara, anda merengek-rengek minta maaf. Ini cara kedua di dalam memecahkan masalah—tentu bila cara pertama gagal—yakni dengan menggali memori di masa yang sudah-sudah. Pemecahan ini, intinya, berdasarkan pengalaman. Sementara yang pertama berdasarkan kebiasaan.

Kalau masih saja gagal, apa yang biasa anda lakukan? Cara ketiga bisa jadi pilihan: mencoba seluruh kemungkinan pemecahan yang pernah anda ingat atau yang dapat anda pikirkan. Semua anda coba. Ini disebut penyelesaian mekanis (mechanical solution) dengan uji coba (trial and error). 

Andai hasilnya gagal juga, maka anda dapat menggunakan lambang-lambang verbal atau grafis untuk mengatasi masalah. Anda mencoba memahami situasi yang terjadi, mencari jawaban, dan menemukan kesimpulan yang tepat. Anda mungkin menggunakan deduksi, atau induksi. Namun karena anda jarang memperoleh informasi lengkap, anda lebih sering menggunakan analogi.

Pemecahan masalah, juga terkadang terjadi dengan apa yang lazim kita sebut dengan insight solution. Tiba-tiba terlintas dalam pikiran anda suatu pemecahan. “Aha, sekarang saya tahu, pacar saya marah karena saya berdekatan dengan cewek lain, saya harus minta maaf.” Kilasan pemecahan masalah ini juga disebut Aha Erlebnis (pengalaman Aha). []

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Rabu, Juli 13, 2011

Cinta Vs Rasionalisasi

Oleh Enjang Muhaemin

Menjadi muslim yang baik, sungguh tidaklah gampang. Ilmu boleh tinggi, wawasan boleh luas. Tapi hati-hatilah, tingginya ilmu dan luasnya wawasan bukanlah jaminan untuk menjadi muslim yang baik. Bahkan bukan tak mungkin justru menjadi muslim yang durhaka.

Ketaatan dan kepasrahan dalam menerima ajaran Islam membutuhkan syarat: cinta. Otak boleh encer, wawasan boleh seluas lautan, tapi bila tak ada cinta, jangan berharap bisa menjadi muslim yang taat, muslim yang baik. Cinta terhadap Islam, cinta terhadap Rasulullah, dan cinta terhadap Allah menjadi syarat penentu berhasil tidaknya seseorang menjadi muslim yang baik. 

Bila cinta sudah tumbuh, apa pun yang dititahkan, dan apa pun yang dilarang tak akan dibantah. Akan cepat dilaksanakan dengan penuh ketaatan. Namun, bila di hatinya tak tertanam cinta, jangankan untuk melaksanakan, sekadar membenarkan ajaran pun sulitnya minta ampun. Logikanya terus bermain mencari alasan untuk membantahnya. Bila ini terjadi muncullah apa yang disebut rasionalisasi: mencari-cari alasan yang masuk akal untuk mengelak dari apa yang dititahkan Allah dan rasul-Nya.

Rasionalisasi, diakui atau tidak, tumbuh subur di kalangan orang yang merasa dirinya pandai. Mencari pembenaran agar keengganan melaksanakan syariat terlihat seperti rasional. Ini terjadi akibat hatinya gersang. Benih-benih cinta tak lagi tumbuh. Cinta terhadap Ilahi kelompok ini, lenyap ditelan egoisme intelektual yang tumbuh lebih dominan. Islam sebagai ajaran, dipilih dan dipilah: mana yang merugikan, mana yang menguntungkan; mana yang meringankan, mana yang memberatkan. Standarnya sangat subyektif: hawa nafsunya menjadi ukuran.

Kini kita bisa paham menjadi muslim yang baik memang tidak mudah. Perlu ada cinta di hati kita: cinta terhadap Allah dan rasulnya. Bila cinta sudah tumbuh, insya Allah apa pun yang digariskan Islam akan dilaksanakannya dengan penuh ketaatan dan tanggung jawab. Ia tak akan takut, juga takan membantah. Rasionalisasi tak ada dalam kamus hidupnya. 

Selama itu ajaran yang digariskan Islam, ia takkan mengelak, apalagi harus menilainya sebagai tindakan tidak manusiawi. Bahkan, karena cinta pada Allah dan rasulNya jauh lebih besar dibanding kecintaan terhadap dirinya, apa pun titah dan perintah yang digariskan Islam akan dilaksanakannya dengan ikhlas dan dengan senang hati.

Firman Allah dalam Al-quran, surat Ali Imran ayat 31 dipegang teguh dan diyakininya dengan sepenuh hati. “Katakan (hai Muhammad), ‘Jika kamu betul-betul mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi kamu dan mengampubi dosa-dosamu.’Dan Allah Mahapenyanyang kepada hamba-Nya.” []

Staf Pengajar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Rabu, Juli 06, 2011

Terpesona Gemerlap Duniawi

Oleh Enjang Muhaemin

Boleh jadi semua sepakat, dunia memang indah tiada tara. Gemerlap dan kemegahannya sungguh amat mempesona. Sungguh, bila manusia hendak menikmatinya, tentu bukanlah suatu dosa, juga bukan sesuatu yang terlarang. Sebab keindahan dan pesona yang ada di dalamnya memang karunia Allah untuk dinikmati siapa pun.

Anda mau menikmatinya ? Silakan, tapi hati-hati jangan sampai lupa diri. Kurang-kurangnya bisa terjebak kenikmatan semu. Fatamorgana dunia bisa melelapkan dan menjerumuskan ke jurang kenistaan. Sadarilah dengan sepenuh hati dunia bukanlah segala-galanya. Hanya sarana menuju hidup sesungguhnya di dalam baqa kelak. Di alam inilah kita akan menikmati kehidupan sejati.

Tapi sayang, banyak manusia yang terjebak dan terperosok pesona dunia. Gemerlapnya kerap membuat mata hati kita buta, dan kita terlelap dininabobokan nafsu duniawi, dan mudah terpedaya menjadi penghamba harta pemburu tahta. Kemegahan dunia bisa dengan mudah menyihir manusia seolah hidup akan abadi saelamanya.

Harta dan tahta terus diburu, dan terkadang dilakukan dengan tidak halal. Dan anehnya kerap merasa tak berdosa, inilah tragedi terbesar manusia abad ini. Cinta dunia menjadi gejala yang begitu jelas. Mata hati menjadi buta terbujuk fatamorgana duniawi. Karena itu amat bisa dipahami bila para sufi kemudian memencilkan diri dari kesenangan dunia.

Pelarian para sufi, tentu bukan tanpa kesadaran. Mereka paham betul kelezatan duniawi tak seberapa dibanding kelezatan yang akan dirasakan di alam baqa kelak. Firman Allah dalam sebuah hadist qudsi mengingatkan kedunguan kita, “Aku sediakan bagi hamba-hambaku yang beriman dan beramal shalih, kenikmatan yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia.”

Para sufi menyadari betul, hidup itu, ibarat kilat: sesaat dan singkat. Karenanya buat apa meneguk kenikmatan duniawi bila hanya sekejap, bila kelak abadi dalam azab Allah. Kesadaran inilah yang mulai langka dimiliki manusia, yang kabarnya lebih cerdas dan lebih modern. Manusia lupa, dunia hanyalah persinggahan sementara, yang abadi adalah alam baqa kelak, persinggahan terakhir yang dijanjikan Allah.

Di tempat itulah manusia mendapatkan balasan dari apa yang diperbuatnya di dunia. Bila amalnya bagus, surga adalah balasannya. Bila nilai rapornya buruk, neraka adalah tempatnya yang paling layak. Saudaraku, sebelum maut menjemput, tengoklah amal yang telah kita lakukan untuk bekal kelak, hitung-hitunglah dirimu sebelum engkau diperhitungkan. Begitu pepatah Umar bin Khatab dalam setiap kesempatan.

Dalam berbuat kebaikan, juga berhati-hatilah. Tumbuhkan keikhlasan, jauhkan riya, agar amal tidak sia-sia. Dalam sebuah hadistnya, Rasulullah SAW mengisahkan betapa pentingnya keikhlasan: Di hari kiamat nanti, kata baginda rasul, beberapa lembar catatan amal yang tertutup rapat didatangkan lalu dibeberkan di hadapan Allah Ta’ala. Tiba-tiba Allah berfirman, “Campakanlah yang ini.” Para malaikat berkata, “ Demi keagunganmu, tak kami lihat di dalamnya kecuali hal-hal yang baik saja.” Allah menjawab, “Sesungguhnya semua itu dahulu ditunjukan bukan untuk-Ku, dan Aku hanya akan menerima amal yang dilakukan semata ke hadiratku. []


Penulis, Staf Pengajar UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Rabu, Juli 06, 2011

BUKTI "SIHIR" MEDIA MELEMAH?

Oleh Enjang Muhaemin

KEBERHASILAN Anas Urbaningrum mengalahkan dua rivalnya, Andi Mallarangeng dan Marzuki Ali, pada Kongres II Partai Demokrat yang baru lalu dipandang sejumlah pihak sebagai refleksi kegagalan dan ketidakberdayaan media massa. Beragam argumen mengemuka dan menjadi kajian menarik, bukan hanya bagi para pemerhati media, tetapi juga masyarakat awam. Benarkah?Anas Menang Bukti “Sihir” Media Melemah?

Propaganda dan promosi diri yang relatif jor-joran dengan menggunakan media massa yang dilakukan Tim Sukses Andi Mallaranggeng berbuah kekecewaan. Tragisnya, Andi bukan hanya kalah di putaran pertama, tetapi juga hanya meraih suara kurang dari 1/5 pemilih. Parahnya lagi, suara pemilih Andi pada putaran pertama, juga gagal ‘disumbangkan’ secara utuh ke Marzuki Ali pada putaran kedua, kendati Andi merekomendasikannya secara blak-balakan.

Padahal, bila saja suara Andi utuh ‘melimpah’ ke Marzuki Ali, maka sudah jaminan kemenangan akan ada di kubu Marzuki Ali. Tapi sayangnya, realitas justru membuktikan lain. Suara Andi malah lebih banyak ‘berhamburan’ ke Anas Urbaningrum dibanding ke Marzuki Ali. Ini tentunya menjadi ‘tamparan’ telak untuk kesekian kalinya bagi Andi Mallarangeng. Bagai kata sebuah peribahasa, sudah jatuh tertimpa tangga lagi. Nasib Andi sebagai figur yang sudah merasa di atas angin memang mengenaskan.

Dikatakan mendapat ‘tamparan’ beruntun, karena pertama, rekomendasi Ibas agar peserta kongres memilih Andi tidak digubris peserta kongres. Rekomendasi Ibas, yang notabene putra SBY ini, sejak awal sebenarnya dipandang sebagai sinyal kuat atas ‘persetujuan’ SBY. Andi dipandang sebagai kandidat tepat untuk menakhodai Partai Demokrat. Rekomendasi Ibas nyatanya juga tak berbuah, ini tamparan pertama. Tamparan kedua, adalah optimisme tinggi akan meraih kemenangan, karena diyakini telah berbuat hebat dengan penggunaan media massa, sebagai alat untuk membangun citra dirinya dan menarik simpati pemilih, lagi-lagi berbuah kekecewaan.

Politik pencitraan menggunakan media massa, yang diistilahkan Alfan Alfian dengan sebutan ‘serangan udara’ dan kekuatan elite yang hanya mengandalkan restu, tidak bisa dijadikan senjata untuk memenangkan pertarungan politik internal partai. “Justru, ‘serangan darat’ lebih ampuh, karena berkomunikasi langsung dengan peserta kongres yang memiliki hak suara,” kata pengamat politik Alfan Alfian. (Pikiran Rakyat, 29/5)

“Sihir’ Media Massa

Yang menarik diperbincangkan, benarkan kekalahan Andi dalam pemilihan sebagai bukti ketidakberdayaan propaganda yang dilakukan media massa atau sebaliknya? Pandangan pertama, berpendapat, “Ya, betul! Media terbukti impoten.” Secara selintas sepertinya benar pernyataan yang menyebutkan bahwa media massa telah ‘impoten’ mempengaruhi pemilih kongres. Pasalnya, terbukti bahwa propaganda yang nyaris ‘habis-habisan’ hanya menguras fulus tanpa menghasilkan buah keberhasilan. Posisi ketua umum yang dibayangkan sebagai pintu gerbang menuju istana negara pada Pilpres 2014 gagal total.

Pandangan kedua menilai bukan medianya yang impoten, tetapi ketidakmampuan tim sukses Andilah yang gagal merancang strategi yang tepat di dalam penggunaan media massa. Media tetap memiliki kekuatan ‘sihir’ yang mampu mengendalikan pemilih. Hanya saja ketika kekuatan ‘sihir’ itu dihembuskan ke sasaran yang tidak tepat maka hasilnya pun akan jauh menyimpang. Karena sasarannya tidak tepat, maka yang terkena ‘sihir’ media pun bukan yang menjadi target.

Walhasil, ‘sihir’-nya sih tetap ampuh, hanya saja sasaran saja yang keliru. Bukan ‘penyihirnya’ yang impoten, juga bukan ‘sihirnya’ yang tidak ampuh, tetapi pemesan ‘sihir’-lah yang salah menyampaikan siapa yang harus “disihir”. Akibatnya yang kena sihir bukan objek yang dibidik, bukan target yang dijadikan sasaran, tetapi objek lain yang sama sekali tidak memiliki hak pilih dalam kongres tersebut. Iklannya ada hampir di semua televisi yang disaksikan oleh masyakarakat Indonesia. Iklan Andi tak ubahnya kampanye untuk Pilpres saja. Padahal yang memiliki hak suara hanyalah 500-an orang, dan itu pun hanya orang-orang khusus di internal Partai Demokrat saja.

Amsal lain yang dapat digunakan kampanye Andi itu, tak ubahnya orang yang membunuh nyamuk yang ada di Singaparna dengan meledakkan bom atom di Singapura. Hasilnya, jelas menjadi sia-sia. Nyamuknya tidak mati, biaya yang dikeluarkannya juga luar biasa besarnya. Pendeknya, selain tidak efektif, juga tidak efisien. Ini menunjukkan strategi yang digunakan Andi, bukan hanya tidak tepat, juga tidak efeisien, penghamburan biaya yang tidak semestinya terjadi. Dalam cara pandang kelompok ini sangat sederhana dan masuk akal. Kalau mau membunuh nyamuk cukup menggunakan Baygon, misalnya, dan menyemprotkan pada tempat nyamuk itu berada. Selain harganya murah, nyamuknya pun insya Allah akan mati. Selain efektif, juga efesien.

Tidak Sim Salabin atau Abra Dakabra


Dengan cara pandang yang sedikit berbeda, sebenarnya, penulis berpendapat bahwa kemenangan Anas, kekalahan Andi dan Marzuki justru mengindikasikan bahwa daya pengaruh dan ‘sihir’ media massa cukup luar biasa. Hanya saja, yang patut dicatat, bahwa publikasi para calon kandidat yang ‘dipromosikan’ media massa jauh hari sebelum pencalonan diri sesungguhnya telah menyimpan rekam jejak yang amat kuat di benak publik media. Termasuk para peserta kongres Partai Demokrat. Publik media sudah mengantongi track record ketiga kandidat itu jauh-jauh hari sebelum didengungkan dan dicalonkan sebagai kandidat yang dijagokan.

Pencitraan diri para kandidat itu sejatinya sudah dibangun secara alami oleh dirinya masing-masing sejak mereka naik menjadi publik figur, dengan relatif tanpa ada rekayasa media massa. Dalam konteks ini, media massa hanya menyodorkan kepada khalayak tentang apa, siapa, mengapa, di mana, dan bagaimana. Unsur-unsur yang dalam dunia jurnalistik disebut dengan 5W+1H itulah yang sejatinya telah membangun pencitraan diri mereka jauh-jauh hari. Pencitraan yang bersifat alami tanpa ada rekayasa media massa inilah yang pada akhirnya mampu melekat kuat di benak khalayak. Daya ’sihir’ media massa inilah, yang sejatinya mampu merontokkan ‘sihir-sihir’ kamulflase yang direkayasa media massa.

Jalan pintas pencitraan diri dengan hanya menggunakan baliho, spanduk, iklan dan sejenisnya sebenarnya amat tidak efektif bila pencitraan diri yang telah dibangun secara alami sejak jauh hari telah dipublikasikan dan ‘disihirkan’ media kepada khalayak. Ibarat produk yang dipublikasikan dan diiklankan akan berpengaruh atau tidak, akan sangat tergantung pada citra produk itu sebelumnya. Bila produk yang diiklankan itu telah diketahui kekurangannya, sehebat apapun iklan itu, maka hasilnya akan nihil. Akan lain hasilnya bila yang diiklankan itu adalah produk yang bagus, berkualitas, dan tidak diketahui kekurangannya. Iklan, baliho, spanduk, dan sejenisnya akan berpengaruh dan memperteguh konsumen untuk membeli produk tersebut. Dalam hal ini, media berfungsi sebagai peneguh dan pengokoh citra produk sebelumnya. Walhasil, pencitraan diri sejatinya bukan hasil sim salabin atau abra dakabri, tetapi melalui proses panjang, berliku, dan sarat perjuangan.

Dalam pespektif komunikasi, daya pengaruh yang disuntikkan kepada publik media sama halnya dengan obat penyembuh yang disuntikkan dokter kepada seorang pasien. Tidak semua pasien sembuh dalam waktu cepat dan sekejap. Butuh waktu yang sepadan antara kemujaraban obat dengan tingkat penyakit yang diderita pasien. Bahkan bukan mustahil obat saja tidak akan mampu menyembuhkan pasien bila racun yang tersebar dan menjalar ke dalam tubuh pasien sudah ganas. Racun bagi tubuh sama dengan ‘informasi buruk’ yang sudah terekam oleh benak masyarakat. Untuk memulihkannya tentu tidak cukup satu dua bulan dengan hanya menggunakan obat yang biasa-biasa saja. Selain butuh diagnosa yang akurat, dokter yang profesional, juga obat yang super mujarab. Bahkan bila perlu dilakukan bedah besar-besaran untuk mengangkat racun yang sudah tumbuh akut di dalam tubuh.

Euforia Kemenangan Obama

Keberhasilan Anas menduduki jabatan Ketua Umum Partai Demokrat juga tidak mau tidak, terkait dengan euforia kemenangan Obama pada Pilpres Amerika belum lama ini. Obama yang cerdas, energik, santun, muda, dan nyaris tanpa cela menjadi prototipe impian yang gaungnya terus menguat di kalangan politikus muda Indonesia. Bahkan tidak sedikit yang memprediksi, pada Pilpres 2014, yang akan memiliki kans kuat memimpin negeri ini adalah tipikal Obama. Tidaklah mengherankan bila kemudian banyak politikus muda Indonesia berusaha keras menggolkan tokoh muda di partainya untuk menjadi ketua umumnya.

Momentum politikus muda untuk menakhodai partai politik di Indonesia tampaknya akan menjadi tren yang tak terbendung. Kendati politisi tua mencoba mengganjalnya, kelihatannya akan gagal. Prediksi ini berdasarkan pada beberapa indikasi yang mulai terlihat secara kasat mata. Pertarungan pada Pilpres 2014 tidak mau tidak akan memunculkan capres-capres baru yang masih muda, energik, cerdas, santun, dan bersahaja. Masa kejayaan politisi tua dipandang sudah habis, the end. Bila pun masih ada partai yang berani menjagokan tokoh tua, maka kuat dugaan akan tersingkir, dengan sendirinya atau dengan cara ‘keterpaksaan’. Di tengah euforia “yang muda yang memimpin”, maka daya tawarnya politisi tua akan semakin melemah.

Tak hanya itu, euforia kemenangan Obama juga belum akan sirna, bahkan menjelang Pilpres 2014, gemanya akan semakin kuat. Dalam konteks inilah, para politikus muda di banyak partai politik sebenarnya tengah menjadi ‘ancaman’ berat bagi para politisi tua. Kondisi tersebut tentunya menyulitkan para politikus tua. Ibarat pepatah, dimakan ibu mati, tidak dimakan bapak mati. Ketajaman analisis, kearifan, dan ‘ijtihad’ politik para politisi tua dituntut tidak main-main. Mencegal atau mendorong, tentunya bukan pilihan yang mudah.

Akhirul kata, kemenangan Anas menduduki kursi Ketua Umum Partai Demokrat sepertinya tidak terlepas dari faktor-faktor di atas, yang tentunya, satu sama lain saling menguatkan. Keberhasilan Anas, tampaknya akan mendorong para politikus muda di partai lain untuk ‘merebut’ dan ‘berebut’ posisi jabatan ketua umum. Benarkah? Mari kita lihat saja!***

Penulis, pemerhati media & Dosen Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi,
UIN SGD Bandung.

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Rabu, Juli 06, 2011