Pers Sunda Butuh Solusi

Pers dan masyarakat merupakan dua hal penting yang memiliki keterkaitan. Kendati tidak selamanya memiliki hubungan yang bersifat langsung, namun keduanya diyakini mempunyai aspek sinergitas yang saling terkait. Pers sebagai lembaga yang berfungsi sebagai media penyampai informasi, hiburan, pendidikan, dan kontrol sosial akan menjadi tidak ada artinya ketika tidak dibaca dan diminati oleh masyarakat. Pun demikian masyarakat akan menjadi ‘buta informasi’ ketika pers dengan sejumlah fungsinya tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Pers dan masyarakat merupakan dua hal penting yang memiliki keterkaitan. Kendati tidak selamanya memiliki hubungan yang bersifat langsung, namun keduanya diyakini mempunyai aspek sinergitas yang saling terkait. Pers sebagai lembaga yang berfungsi sebagai media penyampai informasi, hiburan, pendidikan, dan kontrol sosial akan menjadi tidak ada artinya ketika tidak dibaca dan diminati oleh masyarakat. Pun demikian masyarakat akan menjadi ‘buta informasi’ ketika pers dengan sejumlah fungsinya tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Dalam era informasi sekarang ini, peran dan fungsi pers sungguh luar biasa pentingnya. Keberadaannya, tak ubahnya ratu dunia yang selalu dinanti dan ditunggu-tunggu kedatangannya. Tanpa kehadirannya sehari saja kerap membuat kita seperti orang yang buta yang tidak dapat melihat dunia. Gelap dan tidak menyenangkan. Itulah fenomena umum tentang pentingnya pers dalam dunia global saat ini.

Namun yang menjadi persoalan, di tengah puluhan juta warga Jawa Barat yang sebagian besar masyarakatnya adalah orang Sunda, sudahkah Pers Sunda menjadi ‘ratu informasi’ yang selalu dinanti kehadirannya dan ditunggu kabar beritanya? Di tengah kian ketatnya persaingan dunia pers, benarkah media-media berbahasa Sunda justru kian tidak begitu berdaya? Betulkah keberadaanya sama dengan ketidakberadaannya?

Sejumlah tanda tanya di atas menggelitik untuk dicari jawabannya. Dalam konteks kepedulian dan kepekaan akademik, tentunya Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung, yang di dalamnya terdapat konsentrasi Ilmu Jurnalistik memiliki tanggung jawab moral untuk melacak ‘teka-teki’ keberadaan Pers Sunda saat ini, yang konon kabarnya tengah terombang-ambing dalam ganasnya ombak besar persaingan bisnis antarmedia.

Untuk itulah, maka Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung bekerjasama dengan HU Kompas, Majalah Mingguan Bebahasa Sunda “Mangle”, dan Bandung TV tuntas sudah menyelenggarakan Seminar Setengah Hari dengan tema: “Pers Sunda: Berkah atau Musibah?”

Diposkan Oleh Enjang Muhaemin -- Lentera Dakwah

Enjang Muhaemin Kesediaan Anda membaca artikel Pers Sunda Butuh Solusi. merupakan kehormatan bagi saya. Anda diperbolehkan mengcopy-paste atau menyebarluaskan artikel ini, dan jangan lupa meletakkan link di bawah ini sebagai sumbernya.

:: SILAKAN KLIK DAN BACA TULISAN LAINNYA ::

Diposting oleh Enjang Muhaemin
Lentera Dakwah Updated at: Senin, Maret 09, 2009