Internet, Bagai Pedang Bermata Dua

Internet sebagai media, tak ubahnya bagai pedang bermata dua. Bisa digunakan untuk kebaikan, bisa pula digunakan untuk kejahatan.

Lima Pola Pemecahan Masalah

Setiap manusia, tentunya memiliki masalah (problem). Dan tampaknya, tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini, yang hidup tanpa masalah.

Gelisah Karena Pujian

Mendengar berbagai pujian, si alim menjadi gelisah. Jangan-jangan dirinya rajin beribadah bukan karena Allah, melainkan karena orang-orang memujinya sebagai orang alim.

Akademisi Ilmuwan Dakwah di Era Internet

Sebagai pilar terdepan, akademisi ilmuwan dakwah idealnya berdiri paling depan dalam gerbang pertarungan global.

Ketimpangan antara Intelektualitas dan Moralitas

Di dunia pendidikan, manusia dibentuk dan dicetak bukan sekadar untuk menjadi cerdas, dan terampil semata, tetapi juga berakhlak mulia.

Memahami dan Menulis Berita [3]

UNSUR-UNSUR BERITA

Oleh Enjang Muhaemin

Deskripsi tentang berita tampaknya mulai tergambar dengan jelas. Kendati mendefinisikan berita tidak mudah, nyaris sama tidak mudahnya dengan mendefinisikan wanita cantik nan seksi, namun dengan melihat, menatap, dan memperhatikan contoh dan bukti fisiknya, maka tentunya gambaran tentang apa itu berita semakin kita pahami secara baik. Para praktisi media, juga demikian di dalam memahami berita. Umumnya tidak mudah menjelaskan definisinya, namun akan sangat gampang ketika ia diharuskan untuk menunjuk mana berita dan mana yang bukan berita.

Bagi seorang wartawan, mengenal berita saja tentu tidaklah cukup. Ia juga harus memahami unsur kelayakan sebuah berita, yakni unsur yang harus ada dalam sebuah berita. Ini penting, agar berita yang dipilih benar-benar penting dan memiliki daya tarik bagi khalayak media massa. Unsur-unsur yang dapat menarik minat khalayak media massa inilah yang disebut unsur-unsur kelayakan sebuah berita. 

Titik tekan dan penekanan unsur berita, sebagai penentu tingkatan nilai atas kualitas berita senantiasa mengalami perubahan. Dan diskursus tentang nilai berita ini, sesungguhnya memiliki sejarah yang panjang. Wacana tentang ini diulas Hikmat dan Purnama Kusumaningrat secara menarik dalam bukunya Jurnalistik, Teori & Praktik. Berikut adalah ringkasannya: Christian Weise, tahun 1676 berpendapat, ketika menyeleksi berita harus dipisahkan antara yang benar dan yang palsu. Pada tahun 1688, Daniel Hartnack malah menekankan pada unsur pentingnya peristiwa. Dalam kata lain, yang menentukan nilai suatu berita untuk diinformasikan kepada khalayak media massa bukan pada unsur dampak (consequence) dari sebuah peristiwa, tetapi pada unsur pentingnya peristiwa tersebut untuk dilaporkan.

Pada tahun 1690, Tobias Peucer, penulis disertasi tentang penerbitan di Jerman saat itu menyebut beberapa kriteria yang menentukan nilai kelayakan berita pada masa itu, di antaranya: Pertama, tanda-tanda yang tidak lazim, benda-benda yang ganjil, hasil kerja dan produk seni yang hebat dan tidak biasa, banjir atau badai yang disertai petir dan guruh yang mengerikan, gempa bumi, sesuatu yang aneh dan muncul dengan tiba-tiba dari langit, dan penemuan-penemuan baru, yang pada abad itu sangat banyak terjadi. 

Kedua, berbagai jenis keadaan, perubahan, perubahan - perubahan pemerintahan, masalah perang dan damai, sebab-sebab dan keinginan-keinginan perang, pertempuran, kekalahan, rencana-rencana para pemimpin militer, undang-undang baru, pertimbangan-pertimbangan yang disetujui, pegawai negeri, orang-orang terkenal, kelahiran dan kematian para pangeran, ahli waris harta, upacara pelantikan, pergantian jabatan atau pemecatan, kematian orang-orang terkenal, akhir riwayat orang tidak ber-Tuhan, dan masalah-masalah lainnya. 

Ketiga, masalah-masalah gereja dan keterpelajaran seperti asal-usul agama ini agama itu, pendiri dan kemajuannya, sekte-sekte baru, dogma-dogma yang diputuskan, ritual-ritual agama, perpecahan agama, penyiksaan, muktamar keagamaan, karya tulis para sarja, perselisihan ilmiah, karya baru terpelajar, keberanian berusaha, bencana dan kematian, serta seribu satu hal lainnya yang bertalian dengan alam, warga masyarakat, gereja dan sejarah keagamaan.

Dijelaskan lebih jauh, bahwa hal-hal biasa dan tidak menarik tidak bernilai untuk diberitakan. Untuk masalah ini, Peucer menyebut, antara lain, “kegiatan rutin manusia sehari-hari, yang hanya dibeda-bedakan oleh musim dan tidak seperti kejadian langka semisal badai yang disertai petir dan guntur.” Yang juga tidak bernilai untuk diberitakan adalah “kehidupan pribadi kaum bangsawan, seperti berburu, menjamu tamu, kunjungan ke teater… eksekusi pelaku kejahatan, spekulasi tentang urusan-urusan negara yang belum diketahui…”.

Juga yang tidak boleh diberitakan menurut Peucer adalah “apa yang merusak moral yang baik dan agama sejati, misalnya, kecabulan, kejahatan yang dilakukan dengan cara yang mengerikan, pernyataan-pernyataan yang bersifat atheis.” Inti pemikiran Peucer ialah bahwa hal-hal rutin dan biasa serta murni bersifat pribadi tidak memiliki nilai berita. Selang lima tahun kemudian, tepatnya tahun 1695, Kaspar Stieler menegaskan, para penulis berita di surat kabar haruslah “orang yang dapat menceritakan hal-hal penting, dan menjauhkan diri dari hal-hal sepele.” 

J. Wilke mengungkapkan, Stieler sudah menguraikan nilai-nilai berita ini secara jelas seperti kebaruan, kedekatan (proximity) geografis, implikasi dan keterkenalan (rominence) maupun negativisme. Walhasil, sejak akhir abad ke-17, para pemikir komunikasi sebenarnya sudah mampu merinci apa kriteria yang harus dipakai dalam menetapkan apakah suatu kejadian itu memiliki nilai berita atau tidak.

Dalam Jurnalistik Masa Kini, Dja’far H. Assegaf menyebutkan 11 (sebelas) unsur berita. Kesebelas unsur yang didasarkan pada pendapat para ahli publisitik dan jurnalistik ini adalah sebagai berikut: 1) berita haruslah termasa (baru), 2) jarak (dekat jauhnya) lingkungan yang terkena berita, 3) penting (ternama) tidaknya orang yang diberitakan, 4) keluarbiasaan dari berita, 5) akibat yang mungkin ditimbulkan berita, 6) Ketegangan yang ditimbulkan berita, 7) pertentangan (conflict) yang terlihat dalam berita, 8)seks yang ada dalam pemberitaan, 9) kemajuan-kemajuan yang diberitakan, 10) emosi yang ditimbulkan berita, 11) humor yang ada dalam berita. 

Unsur berita merupakan sesuatu yang harus ada dalam sebuah berita. Kendati tidak semua unsur berita harus tergabung dalam satu berita, namun minimalnya harus ada satu atau dua unsur berita di dalamnya. Semakin banyak unsur berita yang terkandung di dalam sebuah peristiwa, kejadian, atau pendapat seseorang yang memiliki otoritas di bidangnya, maka semakin tinggi pula nilai dan kualitas berita tersebut.

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Rabu, Juli 06, 2011

Memahami dan Menulis Berita [2]

APA ITU BERITA?

Oleh Enjang Muhaemin

Merumuskan definisi berita, sebenarnya, gampang-gampang susah. Disebut mudah, karena kita memang sudah ‘terlatih’ membaca, mendengar, dan melihat berita, baik yang dipublikasikan media cetak, disiarkan radio, maupun yang ditayangkan televisi.


Benar apa yang dikatakan Irving Resenthall dan Marton Yarmen, “Berita, lebih mudah untuk dikenali atau diketahui, daripada diberikan batasannya.” Hal serupa, juga diungkapkan Asep Saeful Muhtadi. Membuat definisi berita, memang tidak semudah memahami berita. “Seseorang dapat memahami dengan mudah membedakan antara berita dengan artikel, misalnya, atau dengan biografi biasa,” jelasnya.

Bagi banyak wartawan, tulis Jack Lule, mencoba mendefisikan berita mungkin tampak seperti suatu jabatan akademis, hanya cocok bagi orang-orang universitas yang berpakaian perlente. “Beberapa wartawan mungkin mengulangi ucapan Gertrude Stein: Berita adalah berita adalah berita. Wartawan lain mungkin menyamakan berita dengan rasa lapar. Mereka barangkali tidak bisa mendefinisikannya, tapi mereka tahu bila mereka merasakannya.”

Berita memang tidak mudah mendefinisikannya. Susahnya, karena berita itu mencakup banyak variabel. ”News is difficult to define, because it involves mani variable factors,” ujar Earl Engslish dan Clarence Hach dalam bukunya Scholastik Journalism.

Tapi, oke-lah, jangan dipikirkan jlimet. Toh, kendati belum tentu memuaskan, sudah banyak pakar dan praktisi media yang mencoba merumuskannya. Kita telaah, dan pahami saja maknanya. Insya Allah, tidak akan membuat kening kita berkerut kok!

Enjoy-enjoy sajalah. Yang penting kita paham, “Oh, itu yah yang disebut berita oleh Si Fulan tuh!”, dan “Oh, jadi berita itu yang begini, begini, dan seterusnya.”
Untuk gambaran, baiklah akan dikutip beberapa definisi berita. Baik definisi yang bersifat humoris, plastis, maupun rumusan yang berbau akademis.

Di antara definisi yang relatif populer di kalangan para pemerhati jurnalistik adalah dengan mengungkap contoh. Dalam logika tradisional, tulis Asep Saeful Muhtadi, contoh-contoh yang berkaitan dengan konsep-konsep yang masih abstrak memang dapat digunakan untuk merumuskan definisi (ta’rif bi al-mitsal). Definisi seperti ini sempat diungkapkan oleh Bruce D. Itule dalam News Writing and Reporting for Today’s Media. Berita adalah man bites dog, orang menggigit anjing. Walhasil, dog bites man, anjing menggigit orang, bukanlah berita. Dengan menggunakan definisi seperti ini, tentunya dapat dipahami suatu abstraksi tentang berita.

Definisi yang lengkapnya ”if a dog bites a man, it’s not news,” itu tentunya menjadi tidak berlaku bila yang digigit anjing itu adalah orang penting, tokoh terkemuka, seperti presiden, menteri, dan orang terkemuka lainnya, atau seorang selebritis yang terkenal. Namun yang pasti, definisi ini, ingin menunjukkan bahwa berita adalah sesuatu yang di luar kelaziman. Ada unsur keluarbiasaan, keanehan, atau ketidakumuman.

Orang dewasa yang bisa jungkir balik, bukanlah berita. Tetapi, anak usia 6 bulan yang bisa “breuh” adalah berita. Contoh lainnya: manusia makan nasi bukanlah berita, tapi manusia yang makan mayat manusia adalah berita. Tak mengherankan bila kemudian Lord Northcliffe, “raja pers” dari Inggris ini menegaskan, “News is anything out of ordinary.” Berita, ujarnya, adalah segala sesuatu yang tidak biasa.

Williard C. Bleyer dalam Newspaper Writing and Editing menulis, berita adalah sesuatu yang termasa yang dipilih oleh wartawan untuk dimuat dalam surat kabar, karena dia menarik minat atau mempunyai makna bagi pembaca surat kabar, atau karena dia dapat menarik para pembaca untuk membaca berita tersebut. Eric C. Hepwood menuturkan, berita adalah laporan pertama dari kejadian yang penting yang dapat menarik perhatian umum.

Doug Newson dan James A. Wollert berpendapat, dalam definisi sederhana, berita adalah apa saja yang dan perlu diketahui orang atau lebih luas lagi oleh masyarakat. Dengan melaporkan berita, media massa memberikan informasi kepada masyarakat mengenai apa yang mereka butuhkan. “ Kurniawan Junaedhi dalam Ensiklopedi Pers Indonesia menyebutkan, berita adalah laporan atau keterangan mengenai terjadinya peristiwa atau keadaanyang bersifat umum dan baru saja terjadi (aktual) yang disampaikan oleh wartawan dalam media massa.

Dalam pandangan Dja’far H. Assegaf, batasan atau definisi berita dalam arti teknis jurnalistik adalah : “Laporan tentang fakta atau ide yang termasa, yang dipilih oleh staf redaksi suatu harian untuk disiarkan, yang dapat menarik perhatian pembaca, entah karena ia luar biasa, entah karena pentingnya, atau akibatnya, entah pula karena ia mencakup segi-segi human interest seperti humor, emosi atau ketegangan.”

Definisi berita yang dikemukakan, baik oleh para pakar komunikasi maupun praktisi media, tidak ada satu pun yang rumusan yang dianggap sempurna. Ini dapat dipahami mengingat berita memiliki banyak variabel dan faktor, yang tidak mudah diikat dalam satu definisi. Tak mengherankan bila hingga saat ini, belum ada satu pun, rumusan berita pun yang dapat diterima secara universal oleh berbagai pihak. “Pada dasarnya memang tidak ada pengertian yang mutlak tentang yang dianggap sebagai berita….,” ungkap M. Atar Semi

Selain definisi di atas, ada rumusan lain yang menarik untuk mempermudah pemahaman kita tentang berita. Rumusan berita yang disebut “News Arithmatic” berikut dikemukakan wartawan Amerika, George C. Bastian, dalam bukunya Editing the Day’s News. Ia menjelaskan batasan sebagai berikut:

1 orang biasa + 1 penghidupan biasa = 0 (Bukan Berita)
1 orang biasa + 1 pengalaman luar biasa = Berita
1 suami biasa + 1 istri biasa = 0
1 suami + 3 istri = Berita
1 kasir bank + 1 istri + 7 anak = 0
1 kasir bank - $10.000 = Berita
1 penyanyi + 1 presdir bank $10.000 = Berita
1 pria + 1 mobil + 1 pistol + 1 tawanan = Berita
1 orang + 1 ciptaan = Berita
1 lelaki + 1 istri + 1 sengketa + 1 peradilan = Berita
1 wanita + 1 pengalaman atau ciptaan = Berita
1 orang biasa + 1 kehidupan biasa dari 79 tahun = 0
1 orang biasa + 1 kehidupan dari 100 tahun = Berita

Untuk mengetahui makna berita lebih jauh, mari kita coba lacak kamus. Kamus Besar Bahasa Indonesia, mengartikan berita sebagai “laporan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat.” Kamus kita juga mengartikan berita sebagai “laporan tentang suatu kejadian yang terbaru,” atau “keterangan yang baru tentang suatu peristiwa.” Teranglah, ujar Dja’far H. Assegaf, dari kamus kita tidak akan mendapatkan suatu gambaran yang benar dan mencakup segi-segi yang esensiil dari berita.”

Berita, dalam bahasa Inggris, disebut news. Mari kita coba lacak dalam kamus bahasa Inggris! Kamus The Oxford Paperback Dictionary, misalnya. Menurut kamus ini, news diartikan sebagai information about recent events (informasi tentang berbagai peristiwa terbaru). Kamus lain, Merriam-Webster’s Collegiate Dictionary, menjelaskan, news sebagai “laporan peristiwa terkini” (report of recent events), dan “informasi yang belum diketahui sebelumnya” (unknow information).

Dari berbagai definisi di atas, saya ingin mengajukan satu definisi tentang berita, sebagai sebuah elaborasi dari berbagai pendapat. Berita, sekali lagi hemat saya, adalah laporan terbaru yang dilakukan wartawan, baik berupa fakta, data, maupun ide yang memenuhi satu atau lebih unsur berita, dan diinformasikan kepada masyarakat dengan menggunakan media massa. Unsur-unsur berita banyak ragamnya, seperti aktual, faktual, penting, dampak, keluarbiasaan atau keanehan, kegagalan, kemajuan, ketegangan, pertentangan, seks, kejahatan, dan daya tarik insani.

Rumusan yang beragam tentang berita, menunjukkan, bahwa berita memang tidak mudah untuk didefinsikan secara komprehensif, mutlak, dan universal. Namun, yang pasti, dari berbagai definisi di atas, sedikit banyak akhirnya kita dapat memahami tentang apa yang dimaksud dengan berita. Bahkan, boleh jadi, Anda sudah mulai bisa mendefinisikannya sendiri. Syukurlah, artinya, Anda sudah paham dan mengerti.

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Rabu, Juli 06, 2011

Memahami dan Menulis Berita [1]

Oleh Enjang Muhaemin

“Lebih dari 90% sebuah harian
atau surat kabar adalah berita….”

Dja’far H. Assegaff

Sesudah Soeharto lengser, dan keharusan media massa memiliki Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUP) dicabut, maka tak pelak, media massa di Indonesia pun mengalami lonjakan luar biasa. Bagai jamur di musim hujan, yang tumbuh merebak di mana-mana. Bukan hanya di perkotaan, tetapi juga menjamur di pedesaan. Euforia media di tengah-tengah era reformasi memang sedang benar-benar terjadi.

Fakta dan realitas itu, tentunya, sungguh menggembirakan. Asumsinya, semakin banyak media, semakin banyak kontrol sosial yang dilakukan. Sebagai salah satu fungsi utama media, posisi kontrol sosial, jelas sangat penting. Dan kita mafhum, fungsi ini pulalah, yang membuat media massa digelari sebagai “kekuatan keempat”, setelah tiga kekuatan lainnya: legislatif, eksekutif, dan yudikatif.

Harapan, memang tidak selalu menjadi kenyataan. Ini, juga terjadi dalam kasus korelatif tentang merebaknya media massa dan harapan besar masyarakat akan terjadinya kontrol sosial yang lebih baik. Alih-alih menggembirakan, yang terjadi malah kondisi yang memprihatinkan. Kuli tinta gadungan, yang ‘gentayangan’ mencari mangsa, adalah realitas yang justru kian menjamur. Citra wartawan pun akhirnya menjadi kian terpuruk.

Meningkatnya jumlah media massa, memang melahirkan berita sebagai produk utama media massa menjadi melimpah, bak air bah yang tak terbendung lagi. Dari mulai berita yang berkualitas hingga berita yang tidak jelas. Fenomena ini memunculkan keprihatinan banyak pihak, termasuk para wartawan yang telah malang melintang di dunia jurnalistik. Berbagai analisa pun muncul. Satu di antaranya berpandangan, bahwa semua itu terjadi akibat institusi pers yang tumbuh belakangan memiliki kelemahan dalam sejumlah hal. Dari mulai aspek permodalan perusahaan yang sangat tidak mumpuni, manajemen media massa yang buruk, gaji pengelola dan wartawan yang jauh di bawah upah minimum regional (UMR), hingga kemampuan dan skill kewartawanan yang jauh di bawah standar.

Tulisan ini, tentu tidak dimaksudkan untuk mengulas lebih jauh tentang hal tersebut. Yang relevan dan penting untuk dijadikan catatan terkait dengan topik sekarang adalah kemampuan dan skill kewartawanan. Satu di antaranya, adalah mengasah kemampuan kita di dalam memahami dan mempraktikkan penulisan berita.
Out put yang diharapkan, bukan hanya mampu memilah dan memilih ‘sesuatu’ yang layak diberitakan, dan menulisnya dengan baik, tetapi juga membangun wartawan yang berkarakter, memiliki integritas, dan konsisten melakukan kontrol sosial. Ini bisa terbentuk bila saja wartawan memiliki kemampuan menyeleksi realitas yang akan diberitakan, sudut pandang memahami dan mengembangkan berita, serta menulis dan melaporkannya. [Lanjut Bag 2]

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Selasa, Juli 05, 2011

Wahai Para Juru Dakwah!

Oleh Enjang Muhaemin


Wahai para penyeru umat….
Kau adalah dambaan dan harapan umat
bak cahaya di tengah kegelapan
bak seteguk air di tengah kehausan

Karena itu….. saudaraku!
Janganlah sekali-kali kau sakiti jamaahmu
dengan cacian dan makianmu
yang hanya akan merendahkan dan menghinakannya

Juga saudaraku…..
Janganlah kau sakiti jamaahmu dengan ucap
dan perkataanmu yang sarat dengan keangkuhan
dan kesombonganmu
karena itu…
hanya akan mengundang benci dan antipati
dendam dan cibiran

Saudaraku….
Bila itu yang kau lakukan
Bukan hanya engkau menjauhkan mereka darimu
Tapi juga menjauhkan mereka dari Islam

Saudaraku…….
Jangan biarkan hati jamaahmu terluka
karena ucap, sikap, dan perilakumu yang tidak terpuji
Basuhlah hati mereka dengan kesejukan ajaran Islam
Dan keikhlasanmu dalam berdakwah!

Wahai para juru dakwah….
Kau adalah laksana lautan ilmu
Kau adalah laksana samudera kebijakan

Karena itu…..
Didiklah jamaah pengajianmu
dengan ilmumu yang berkah
dengan hatimu yang tulus
dengan hatimu yang ikhlas

Tumbuhkan harga diri dan kehormatannya
dengan ketulusan dan kasih sayangmu
Islam yang kau semaikan….
Insya Allah, akan tertanam di hatinya dengan begitu indah
melekat kuat dalam benak dan jiwanya dengan mengagumkan
penuh pesona
bak bunga yang tumbuh di taman
indah dan mewangi yang siapa pun akan menyukainya

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Minggu, Juli 03, 2011