Internet, Bagai Pedang Bermata Dua

Internet sebagai media, tak ubahnya bagai pedang bermata dua. Bisa digunakan untuk kebaikan, bisa pula digunakan untuk kejahatan.

Lima Pola Pemecahan Masalah

Setiap manusia, tentunya memiliki masalah (problem). Dan tampaknya, tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini, yang hidup tanpa masalah.

Gelisah Karena Pujian

Mendengar berbagai pujian, si alim menjadi gelisah. Jangan-jangan dirinya rajin beribadah bukan karena Allah, melainkan karena orang-orang memujinya sebagai orang alim.

Akademisi Ilmuwan Dakwah di Era Internet

Sebagai pilar terdepan, akademisi ilmuwan dakwah idealnya berdiri paling depan dalam gerbang pertarungan global.

Ketimpangan antara Intelektualitas dan Moralitas

Di dunia pendidikan, manusia dibentuk dan dicetak bukan sekadar untuk menjadi cerdas, dan terampil semata, tetapi juga berakhlak mulia.

Gelisah Karena Pujian

Oleh Enjang Muhaemin

Di sebuah desa hidup seorang yang dikenal kalangan luas sebagai orang yang sangat alim. Segala pujian dilimpahkan orang kepada si alim atas kesalehan dan kealimannya. Mendengar berbagai pujian tersebut si alim menjadi gelisah. Jangan-jangan dirinya rajin beribadah itu bukan karena Allah melainkan justru karena orang memujinya sebagai orang alim.

Pada suatu pagi, ia pun pergi menuju pasar di seberang desa. Sesampainya di pasar, secara demonstratif ia sengaja mencuri ayam yang sedang diperjualbelikan. Karena tertangkap basah, maka ia pun dipukuli banyak orang. Ayam dikembalikannya, dan ia pun pulang dalam keadaan babak belur. Orang sepasar akhirnya bergumam, “Oh! Ternyata ia pura-pura alim, padahal sebenarnya tak lebih seorang maling.”

Mendengar omongan seperti itu, ia bukannya sedih melainkan bersyukur kepada Allah. Setibanya dia di rumah ia langsung sujud syukur, “Alhamdulilah ya Allah, kini aku beribadah bukan karena manusia, tetapi insya Allah benar-benar karena Engkau semata.”

Kisah sufistik yang diangkat M Bangbang Pranomo dalam tulisannya pandangan kesupian tentang diri manusia itu menarik kita renungkan. Kisah sufistik itu seakan menunjukkan betapa tidak ringannya bila kita ingin mengabdi dan beribadah pada Allah secara tulus. Sang sufi merelakan kharisma dan citra dirinya remuk redam di mata manusia.

Sungguh sebuah pengorbanan yang amat berharga. Perilaku seorang hamba Allah yang berusaha menyucikan dirinya dari beragam ria, sombong, dan takabur. Jelas, ini adalah sebuah pelajaran yang amat berharga di tengah zaman yang gila pujian dan mendewakan penghargaan manusia.

Ia tak ingin ibadahnya karena manusia. Ia ingin tulus karena Allah, bukan karena yang lain. Ini adalah sebuah ‘adegan’ yang jauh berbeda dengan era kini, di tengah orang berbuat baik hanya sebagai kedok atas perilakunya yang buruk dan jahat. Di zaman yang edan ini, manusia yang jahat dan gemar beramal sekadar untuk menutupi perilaku buruknya, sungguh bukan hal yang aneh.

Cerita sufistik yang sarat pesan itu, tampaknya bertolak belakang dengan realitas yang kini terjadi. Bila ia menutupi ibadahnya dengan pura-pura berbuat jahat, agar ibadahnya itu benar-benar hanya karena Allah, orang sekarang malah sepertinya melakukan perilaku sebaliknya, berpura-pura menjadi orang yang baik padahal tak lebih dari seorang maling.

Keburukan akhlaknya, dan kejahatan perilakunya ditutupi dengan begitu rapat seakan tak boleh ada celah sedikit pun yang terbuka. Sikap kedermawanan dan penampilannya yang bak seorang alim ditunjukannya secara demonstratif, sebuah kepura-puraan yang indah di mata manusia, tapi buruk dalam pandangan Allah.

Manusia tipe itu, tentu saja tergolong manusia yang lupa Allah, gila penghargaan manusia. Pujian manusia dinilai lebih penting dibanding pahala dan balasan Allah. Ia tak peduli Tuhannya, yang ia pedulikan hanya pujian manusia. Sungguh amat kerdil dan menyedihkan.[]

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Minggu, Desember 04, 2011

Cinta Vs Rasionalisasi

Oleh Enjang Muhaemin

Menjadi muslim yang baik, sungguh tidaklah gampang. Ilmu boleh tinggi, wawasan boleh luas. Tapi hati-hatilah, tingginya ilmu dan luasnya wawasan bukanlah jaminan untuk menjadi muslim yang baik. Bahkan bukan tak mungkin justru menjadi muslim yang durhaka.

Ketaatan dan kepasrahan dalam menerima ajaran Islam membutuhkan syarat: cinta. Otak boleh encer, wawasan boleh seluas lautan, tapi bila tak ada cinta, jangan berharap bisa menjadi muslim yang taat, muslim yang baik. Cinta terhadap Islam, cinta terhadap Rasulullah, dan cinta terhadap Allah menjadi syarat penentu berhasil tidaknya seseorang menjadi muslim yang baik. 

Bila cinta sudah tumbuh, apa pun yang dititahkan, dan apa pun yang dilarang tak akan dibantah. Akan cepat dilaksanakan dengan penuh ketaatan. Namun, bila di hatinya tak tertanam cinta, jangankan untuk melaksanakan, sekadar membenarkan ajaran pun sulitnya minta ampun. Logikanya terus bermain mencari alasan untuk membantahnya. Bila ini terjadi muncullah apa yang disebut rasionalisasi: mencari-cari alasan yang masuk akal untuk mengelak dari apa yang dititahkan Allah dan rasul-Nya.

Rasionalisasi, diakui atau tidak, tumbuh subur di kalangan orang yang merasa dirinya pandai. Mencari pembenaran agar keengganan melaksanakan syariat terlihat seperti rasional. Ini terjadi akibat hatinya gersang. Benih-benih cinta tak lagi tumbuh. Cinta terhadap Ilahi kelompok ini, lenyap ditelan egoisme intelektual yang tumbuh lebih dominan. Islam sebagai ajaran, dipilih dan dipilah: mana yang merugikan, mana yang menguntungkan; mana yang meringankan, mana yang memberatkan. Standarnya sangat subyektif: hawa nafsunya menjadi ukuran.

Kini kita bisa paham menjadi muslim yang baik memang tidak mudah. Perlu ada cinta di hati kita: cinta terhadap Allah dan rasulnya. Bila cinta sudah tumbuh, insya Allah apa pun yang digariskan Islam akan dilaksanakannya dengan penuh ketaatan dan tanggung jawab. Ia tak akan takut, juga takan membantah. Rasionalisasi tak ada dalam kamus hidupnya. 

Selama itu ajaran yang digariskan Islam, ia takkan mengelak, apalagi harus menilainya sebagai tindakan tidak manusiawi. Bahkan, karena cinta pada Allah dan rasulNya jauh lebih besar dibanding kecintaan terhadap dirinya, apa pun titah dan perintah yang digariskan Islam akan dilaksanakannya dengan ikhlas dan dengan senang hati.

Firman Allah dalam Al-quran, surat Ali Imran ayat 31 dipegang teguh dan diyakininya dengan sepenuh hati. “Katakan (hai Muhammad), ‘Jika kamu betul-betul mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi kamu dan mengampubi dosa-dosamu.’Dan Allah Mahapenyanyang kepada hamba-Nya.” []

Staf Pengajar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Rabu, Juli 06, 2011

Terpesona Gemerlap Duniawi

Oleh Enjang Muhaemin

Boleh jadi semua sepakat, dunia memang indah tiada tara. Gemerlap dan kemegahannya sungguh amat mempesona. Sungguh, bila manusia hendak menikmatinya, tentu bukanlah suatu dosa, juga bukan sesuatu yang terlarang. Sebab keindahan dan pesona yang ada di dalamnya memang karunia Allah untuk dinikmati siapa pun.

Anda mau menikmatinya ? Silakan, tapi hati-hati jangan sampai lupa diri. Kurang-kurangnya bisa terjebak kenikmatan semu. Fatamorgana dunia bisa melelapkan dan menjerumuskan ke jurang kenistaan. Sadarilah dengan sepenuh hati dunia bukanlah segala-galanya. Hanya sarana menuju hidup sesungguhnya di dalam baqa kelak. Di alam inilah kita akan menikmati kehidupan sejati.

Tapi sayang, banyak manusia yang terjebak dan terperosok pesona dunia. Gemerlapnya kerap membuat mata hati kita buta, dan kita terlelap dininabobokan nafsu duniawi, dan mudah terpedaya menjadi penghamba harta pemburu tahta. Kemegahan dunia bisa dengan mudah menyihir manusia seolah hidup akan abadi saelamanya.

Harta dan tahta terus diburu, dan terkadang dilakukan dengan tidak halal. Dan anehnya kerap merasa tak berdosa, inilah tragedi terbesar manusia abad ini. Cinta dunia menjadi gejala yang begitu jelas. Mata hati menjadi buta terbujuk fatamorgana duniawi. Karena itu amat bisa dipahami bila para sufi kemudian memencilkan diri dari kesenangan dunia.

Pelarian para sufi, tentu bukan tanpa kesadaran. Mereka paham betul kelezatan duniawi tak seberapa dibanding kelezatan yang akan dirasakan di alam baqa kelak. Firman Allah dalam sebuah hadist qudsi mengingatkan kedunguan kita, “Aku sediakan bagi hamba-hambaku yang beriman dan beramal shalih, kenikmatan yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia.”

Para sufi menyadari betul, hidup itu, ibarat kilat: sesaat dan singkat. Karenanya buat apa meneguk kenikmatan duniawi bila hanya sekejap, bila kelak abadi dalam azab Allah. Kesadaran inilah yang mulai langka dimiliki manusia, yang kabarnya lebih cerdas dan lebih modern. Manusia lupa, dunia hanyalah persinggahan sementara, yang abadi adalah alam baqa kelak, persinggahan terakhir yang dijanjikan Allah.

Di tempat itulah manusia mendapatkan balasan dari apa yang diperbuatnya di dunia. Bila amalnya bagus, surga adalah balasannya. Bila nilai rapornya buruk, neraka adalah tempatnya yang paling layak. Saudaraku, sebelum maut menjemput, tengoklah amal yang telah kita lakukan untuk bekal kelak, hitung-hitunglah dirimu sebelum engkau diperhitungkan. Begitu pepatah Umar bin Khatab dalam setiap kesempatan.

Dalam berbuat kebaikan, juga berhati-hatilah. Tumbuhkan keikhlasan, jauhkan riya, agar amal tidak sia-sia. Dalam sebuah hadistnya, Rasulullah SAW mengisahkan betapa pentingnya keikhlasan: Di hari kiamat nanti, kata baginda rasul, beberapa lembar catatan amal yang tertutup rapat didatangkan lalu dibeberkan di hadapan Allah Ta’ala. Tiba-tiba Allah berfirman, “Campakanlah yang ini.” Para malaikat berkata, “ Demi keagunganmu, tak kami lihat di dalamnya kecuali hal-hal yang baik saja.” Allah menjawab, “Sesungguhnya semua itu dahulu ditunjukan bukan untuk-Ku, dan Aku hanya akan menerima amal yang dilakukan semata ke hadiratku. []


Penulis, Staf Pengajar UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Rabu, Juli 06, 2011