Internet, Bagai Pedang Bermata Dua

Internet sebagai media, tak ubahnya bagai pedang bermata dua. Bisa digunakan untuk kebaikan, bisa pula digunakan untuk kejahatan.

Lima Pola Pemecahan Masalah

Setiap manusia, tentunya memiliki masalah (problem). Dan tampaknya, tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini, yang hidup tanpa masalah.

Gelisah Karena Pujian

Mendengar berbagai pujian, si alim menjadi gelisah. Jangan-jangan dirinya rajin beribadah bukan karena Allah, melainkan karena orang-orang memujinya sebagai orang alim.

Akademisi Ilmuwan Dakwah di Era Internet

Sebagai pilar terdepan, akademisi ilmuwan dakwah idealnya berdiri paling depan dalam gerbang pertarungan global.

Ketimpangan antara Intelektualitas dan Moralitas

Di dunia pendidikan, manusia dibentuk dan dicetak bukan sekadar untuk menjadi cerdas, dan terampil semata, tetapi juga berakhlak mulia.

Menampilkan ayat Alquran di Ms Word

MUNGKIN Anda mengalami kesulitan saat memasukkan ayat Alqur’an ke dalam Microsoft Word. Padahal, ayat Alqur’an tersebut misalnya sangat penting ditampilkan, baik untuk menjaga keotentikan ayat, penerjemahan, maupun bagi kepentingan dakwah atau penulisan karta ilmiah yang mewajibkan adanya ayat Alqur’an.

Langkah-langkah berikut, sangat boleh jadi akan sangat membantu. Anda tinggal melakukannya tahap demi tahap. Langkah-langkahnya adalah:

1. Pastikan Anda sudah menginstal atau memiliki program Microsoft Word, Paint dan Alqur’an Digital di komputer Anda.

2. Buka Microsoft Word, lalu Paint (Untuk program Paint, silakan klik start –> all programs –> accessories –> paint). Jangan lupa buka pula program Alqur’an Digital. Bila program yang terakhir belum Anda miliki silahkan silakan download dari sini.

3. Buka Alqur’an Digital, lalu cari ayat yang akan ditampilkan dalam microsoft word. Kemudian arahkan kursor ke tulisan ayat Alqur’an, lalu klik kanan mouse dan klik copy.

4. Setelah itu, silakan masuk ke program paint, dan klik select (icon persegi panjang dengan garis putus-putus), kemudian klik paste.

5. Pada program paint, Anda dapat merapihkannya.

6. Bila sudah rapih, klik save as, kemudian berikan nama file pada ayat tersebut. Saya sarankan Anda mengubah formatnya menjadi JPEG (merubah format dapat dilakukan pada kotak save as type yang berada dalam file name).

7. Pada Ms Word, klik insert–> picture–> pilih file ayat Alqur’an tersebut.

Keuntungan Anda menggunakan format gambar atau JPEG, tentu saja ketika file karya tulis Anda dibuka di komputer lain, tidak akan hilang teks ayatnya. Semoga bermanfaat!


Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Selasa, Agustus 23, 2011

Lima Pola Pemecahan Masalah

Oleh Enjang Muhaemin

Setiap manusia, tentunya memiliki masalah (problem). Dan tampaknya, tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini, yang hidup tanpa masalah. Yang pertama, yang membedakan satu dengan lainnya hanyalah kuantitas dan kualitas masalahnya. Ada yang banyak, ada yang sedikit. Ada yang berat, ada yang ringan. Ada yang kompleks, ada yang sederhana. Yang kedua, yang membedakannya yakni kemampuan di dalam memecahkan masalah (problem solving).

Organisasi atau lembaga manapun, juga sama dengan manusia. Tidak akan pernah steril dari masalah. Selalu ada, dan akan tetap ada. Mungkin Anda akan berkata, “Bila demikian apa perlunya kita mengupas dan membahasnya. Dan buat apa pula berusaha memecahkannya?” Kawan di samping Anda mungkin akan lebih sewot lagi: “Iya yah, kayak nggak ada kerjaan saja. Buang-buang waktu, tau!”

Sebentar, jangan sewot dulu dong! Kita kan belum tuntas, masih pemanasan, gitu lho! Maksud saya, begini, kendati masalah itu selalu ada, dan akan tetap ada, bila kita pandai menyikapinya, maka masalah justru akan memunculkan dampak positif dan amat bermanfaat. Kuncinya ada pada bagaimana kita menyikapinya: terpicu dan terpacu untuk memecahkannya atau sebaliknya berlari dan menghindar atas masalah yang kita hadapi.

Ketika masalah menghadang sebenarnya tak ubahnya pedang bermata dua. Bisa bermanfaat, juga bisa menimbulkan madarat. Sangat tergantung pada kemampuan kita menghadapinya. Tidak besar, tidak kecil, semua organisasi pasti memiliki masalah. Keberadaan dan kehadiran masalah, sejatinya membuat sebuah organisasi menjadi hidup, dinamis, kreatif, dan inovatif. Orang-orang yang terlibat di dalamnya, juga menjadi tertantang untuk memecahkannya, dan mencari jalan keluarnya. 

Semakin cerdas para aktivis organisasi memecahkan masalah, akan semakin maju sebuah organisasi. Jatuh bangun dalam memecahkan masalah akan memberikan nilai tambah yang tidak terduga sebelumnya: pengalaman, pengetahuan, dan kesuksesan. Namun sebaliknya, bila sebuah masalah dibiarkan tumbuh berkembang, ia tak ubahnya kanker ganas yang semakin lama akan semakin berbahaya. Ia akan menjalar ke sekujur tubuh. Bila ini terjadi, berarti ajal bakal segera menjemput. Kenyataan ini akan sama persis terjadi pada tubuh organisasi yang membiarkan beragam masalah tumbuh menggerogotinya. 

Kiat Pemecahan Masalah 
 
Umumnya kita bergerak sesuai dengan kebiasaan. Pagi-pagi setelah sarapan, Anda berangkat ke sekolah. Anda mengeluarkan motor dari garasi, memasukkan kunci, dan menstarter motor Anda. Jalan yang Anda tempuh juga hampir tidak disadari. Semua berjalan seperti otomotis. “Masalah timbul, ketika ada peristiwa yang tidak dapat diatasi dengan perilaku rutin,” kata Jalaluddin Rakhmat. Misalnya, motor Anda tiba-tiba mogok, jalanan macet, atau buku PR ketinggalan padahal harus dikumpulkan hari itu juga. Masalah timbul menghadang. Anda bingung, resah, kalang kabut, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Anda bertabrakan dengan situasi yang harus anda atasi. Inilah yang kita sebut situasi masalah (problem situation). 

Contoh di atas mengajarkan pada kita bahwa masalah adalah peristiwa di saat perilaku yang biasa dihambat karena sebab-sebab tertentu. Ini definisi masalah yang pertama. Bagaimana menghadapi dan mengatasinya? Motor mogok, anda selah berkali-kali, buku PR ketinggalan, anda bikin ulang di kelas, pacar anda mogok bicara, anda membujuknya. Ini cara pertama yang biasa kita lakukan. Pemecahan masalah dengan pola yang rutin. 

Bila cara itu masih juga gagal, apa yang anda lakukan? Anda mencoba menggali memori anda untuk mengetahui cara-cara apa saja yang efektif pada masa lalu. Motor mogok, didorong. Buku PR ketinggalan, anda telepon orang rumah untuk mengantarkannya ke sekolah. Pacar anda mogok bicara, anda merengek-rengek minta maaf. Ini cara kedua di dalam memecahkan masalah—tentu bila cara pertama gagal—yakni dengan menggali memori di masa yang sudah-sudah. Pemecahan ini, intinya, berdasarkan pengalaman. Sementara yang pertama berdasarkan kebiasaan.

Kalau masih saja gagal, apa yang biasa anda lakukan? Cara ketiga bisa jadi pilihan: mencoba seluruh kemungkinan pemecahan yang pernah anda ingat atau yang dapat anda pikirkan. Semua anda coba. Ini disebut penyelesaian mekanis (mechanical solution) dengan uji coba (trial and error). 

Andai hasilnya gagal juga, maka anda dapat menggunakan lambang-lambang verbal atau grafis untuk mengatasi masalah. Anda mencoba memahami situasi yang terjadi, mencari jawaban, dan menemukan kesimpulan yang tepat. Anda mungkin menggunakan deduksi, atau induksi. Namun karena anda jarang memperoleh informasi lengkap, anda lebih sering menggunakan analogi.

Pemecahan masalah, juga terkadang terjadi dengan apa yang lazim kita sebut dengan insight solution. Tiba-tiba terlintas dalam pikiran anda suatu pemecahan. “Aha, sekarang saya tahu, pacar saya marah karena saya berdekatan dengan cewek lain, saya harus minta maaf.” Kilasan pemecahan masalah ini juga disebut Aha Erlebnis (pengalaman Aha). []

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Rabu, Juli 13, 2011

Memahami dan Menulis Berita [2]

APA ITU BERITA?

Oleh Enjang Muhaemin

Merumuskan definisi berita, sebenarnya, gampang-gampang susah. Disebut mudah, karena kita memang sudah ‘terlatih’ membaca, mendengar, dan melihat berita, baik yang dipublikasikan media cetak, disiarkan radio, maupun yang ditayangkan televisi.


Benar apa yang dikatakan Irving Resenthall dan Marton Yarmen, “Berita, lebih mudah untuk dikenali atau diketahui, daripada diberikan batasannya.” Hal serupa, juga diungkapkan Asep Saeful Muhtadi. Membuat definisi berita, memang tidak semudah memahami berita. “Seseorang dapat memahami dengan mudah membedakan antara berita dengan artikel, misalnya, atau dengan biografi biasa,” jelasnya.

Bagi banyak wartawan, tulis Jack Lule, mencoba mendefisikan berita mungkin tampak seperti suatu jabatan akademis, hanya cocok bagi orang-orang universitas yang berpakaian perlente. “Beberapa wartawan mungkin mengulangi ucapan Gertrude Stein: Berita adalah berita adalah berita. Wartawan lain mungkin menyamakan berita dengan rasa lapar. Mereka barangkali tidak bisa mendefinisikannya, tapi mereka tahu bila mereka merasakannya.”

Berita memang tidak mudah mendefinisikannya. Susahnya, karena berita itu mencakup banyak variabel. ”News is difficult to define, because it involves mani variable factors,” ujar Earl Engslish dan Clarence Hach dalam bukunya Scholastik Journalism.

Tapi, oke-lah, jangan dipikirkan jlimet. Toh, kendati belum tentu memuaskan, sudah banyak pakar dan praktisi media yang mencoba merumuskannya. Kita telaah, dan pahami saja maknanya. Insya Allah, tidak akan membuat kening kita berkerut kok!

Enjoy-enjoy sajalah. Yang penting kita paham, “Oh, itu yah yang disebut berita oleh Si Fulan tuh!”, dan “Oh, jadi berita itu yang begini, begini, dan seterusnya.”
Untuk gambaran, baiklah akan dikutip beberapa definisi berita. Baik definisi yang bersifat humoris, plastis, maupun rumusan yang berbau akademis.

Di antara definisi yang relatif populer di kalangan para pemerhati jurnalistik adalah dengan mengungkap contoh. Dalam logika tradisional, tulis Asep Saeful Muhtadi, contoh-contoh yang berkaitan dengan konsep-konsep yang masih abstrak memang dapat digunakan untuk merumuskan definisi (ta’rif bi al-mitsal). Definisi seperti ini sempat diungkapkan oleh Bruce D. Itule dalam News Writing and Reporting for Today’s Media. Berita adalah man bites dog, orang menggigit anjing. Walhasil, dog bites man, anjing menggigit orang, bukanlah berita. Dengan menggunakan definisi seperti ini, tentunya dapat dipahami suatu abstraksi tentang berita.

Definisi yang lengkapnya ”if a dog bites a man, it’s not news,” itu tentunya menjadi tidak berlaku bila yang digigit anjing itu adalah orang penting, tokoh terkemuka, seperti presiden, menteri, dan orang terkemuka lainnya, atau seorang selebritis yang terkenal. Namun yang pasti, definisi ini, ingin menunjukkan bahwa berita adalah sesuatu yang di luar kelaziman. Ada unsur keluarbiasaan, keanehan, atau ketidakumuman.

Orang dewasa yang bisa jungkir balik, bukanlah berita. Tetapi, anak usia 6 bulan yang bisa “breuh” adalah berita. Contoh lainnya: manusia makan nasi bukanlah berita, tapi manusia yang makan mayat manusia adalah berita. Tak mengherankan bila kemudian Lord Northcliffe, “raja pers” dari Inggris ini menegaskan, “News is anything out of ordinary.” Berita, ujarnya, adalah segala sesuatu yang tidak biasa.

Williard C. Bleyer dalam Newspaper Writing and Editing menulis, berita adalah sesuatu yang termasa yang dipilih oleh wartawan untuk dimuat dalam surat kabar, karena dia menarik minat atau mempunyai makna bagi pembaca surat kabar, atau karena dia dapat menarik para pembaca untuk membaca berita tersebut. Eric C. Hepwood menuturkan, berita adalah laporan pertama dari kejadian yang penting yang dapat menarik perhatian umum.

Doug Newson dan James A. Wollert berpendapat, dalam definisi sederhana, berita adalah apa saja yang dan perlu diketahui orang atau lebih luas lagi oleh masyarakat. Dengan melaporkan berita, media massa memberikan informasi kepada masyarakat mengenai apa yang mereka butuhkan. “ Kurniawan Junaedhi dalam Ensiklopedi Pers Indonesia menyebutkan, berita adalah laporan atau keterangan mengenai terjadinya peristiwa atau keadaanyang bersifat umum dan baru saja terjadi (aktual) yang disampaikan oleh wartawan dalam media massa.

Dalam pandangan Dja’far H. Assegaf, batasan atau definisi berita dalam arti teknis jurnalistik adalah : “Laporan tentang fakta atau ide yang termasa, yang dipilih oleh staf redaksi suatu harian untuk disiarkan, yang dapat menarik perhatian pembaca, entah karena ia luar biasa, entah karena pentingnya, atau akibatnya, entah pula karena ia mencakup segi-segi human interest seperti humor, emosi atau ketegangan.”

Definisi berita yang dikemukakan, baik oleh para pakar komunikasi maupun praktisi media, tidak ada satu pun yang rumusan yang dianggap sempurna. Ini dapat dipahami mengingat berita memiliki banyak variabel dan faktor, yang tidak mudah diikat dalam satu definisi. Tak mengherankan bila hingga saat ini, belum ada satu pun, rumusan berita pun yang dapat diterima secara universal oleh berbagai pihak. “Pada dasarnya memang tidak ada pengertian yang mutlak tentang yang dianggap sebagai berita….,” ungkap M. Atar Semi

Selain definisi di atas, ada rumusan lain yang menarik untuk mempermudah pemahaman kita tentang berita. Rumusan berita yang disebut “News Arithmatic” berikut dikemukakan wartawan Amerika, George C. Bastian, dalam bukunya Editing the Day’s News. Ia menjelaskan batasan sebagai berikut:

1 orang biasa + 1 penghidupan biasa = 0 (Bukan Berita)
1 orang biasa + 1 pengalaman luar biasa = Berita
1 suami biasa + 1 istri biasa = 0
1 suami + 3 istri = Berita
1 kasir bank + 1 istri + 7 anak = 0
1 kasir bank - $10.000 = Berita
1 penyanyi + 1 presdir bank $10.000 = Berita
1 pria + 1 mobil + 1 pistol + 1 tawanan = Berita
1 orang + 1 ciptaan = Berita
1 lelaki + 1 istri + 1 sengketa + 1 peradilan = Berita
1 wanita + 1 pengalaman atau ciptaan = Berita
1 orang biasa + 1 kehidupan biasa dari 79 tahun = 0
1 orang biasa + 1 kehidupan dari 100 tahun = Berita

Untuk mengetahui makna berita lebih jauh, mari kita coba lacak kamus. Kamus Besar Bahasa Indonesia, mengartikan berita sebagai “laporan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat.” Kamus kita juga mengartikan berita sebagai “laporan tentang suatu kejadian yang terbaru,” atau “keterangan yang baru tentang suatu peristiwa.” Teranglah, ujar Dja’far H. Assegaf, dari kamus kita tidak akan mendapatkan suatu gambaran yang benar dan mencakup segi-segi yang esensiil dari berita.”

Berita, dalam bahasa Inggris, disebut news. Mari kita coba lacak dalam kamus bahasa Inggris! Kamus The Oxford Paperback Dictionary, misalnya. Menurut kamus ini, news diartikan sebagai information about recent events (informasi tentang berbagai peristiwa terbaru). Kamus lain, Merriam-Webster’s Collegiate Dictionary, menjelaskan, news sebagai “laporan peristiwa terkini” (report of recent events), dan “informasi yang belum diketahui sebelumnya” (unknow information).

Dari berbagai definisi di atas, saya ingin mengajukan satu definisi tentang berita, sebagai sebuah elaborasi dari berbagai pendapat. Berita, sekali lagi hemat saya, adalah laporan terbaru yang dilakukan wartawan, baik berupa fakta, data, maupun ide yang memenuhi satu atau lebih unsur berita, dan diinformasikan kepada masyarakat dengan menggunakan media massa. Unsur-unsur berita banyak ragamnya, seperti aktual, faktual, penting, dampak, keluarbiasaan atau keanehan, kegagalan, kemajuan, ketegangan, pertentangan, seks, kejahatan, dan daya tarik insani.

Rumusan yang beragam tentang berita, menunjukkan, bahwa berita memang tidak mudah untuk didefinsikan secara komprehensif, mutlak, dan universal. Namun, yang pasti, dari berbagai definisi di atas, sedikit banyak akhirnya kita dapat memahami tentang apa yang dimaksud dengan berita. Bahkan, boleh jadi, Anda sudah mulai bisa mendefinisikannya sendiri. Syukurlah, artinya, Anda sudah paham dan mengerti.

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Rabu, Juli 06, 2011

Memahami dan Menulis Berita [1]

Oleh Enjang Muhaemin

“Lebih dari 90% sebuah harian
atau surat kabar adalah berita….”

Dja’far H. Assegaff

Sesudah Soeharto lengser, dan keharusan media massa memiliki Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUP) dicabut, maka tak pelak, media massa di Indonesia pun mengalami lonjakan luar biasa. Bagai jamur di musim hujan, yang tumbuh merebak di mana-mana. Bukan hanya di perkotaan, tetapi juga menjamur di pedesaan. Euforia media di tengah-tengah era reformasi memang sedang benar-benar terjadi.

Fakta dan realitas itu, tentunya, sungguh menggembirakan. Asumsinya, semakin banyak media, semakin banyak kontrol sosial yang dilakukan. Sebagai salah satu fungsi utama media, posisi kontrol sosial, jelas sangat penting. Dan kita mafhum, fungsi ini pulalah, yang membuat media massa digelari sebagai “kekuatan keempat”, setelah tiga kekuatan lainnya: legislatif, eksekutif, dan yudikatif.

Harapan, memang tidak selalu menjadi kenyataan. Ini, juga terjadi dalam kasus korelatif tentang merebaknya media massa dan harapan besar masyarakat akan terjadinya kontrol sosial yang lebih baik. Alih-alih menggembirakan, yang terjadi malah kondisi yang memprihatinkan. Kuli tinta gadungan, yang ‘gentayangan’ mencari mangsa, adalah realitas yang justru kian menjamur. Citra wartawan pun akhirnya menjadi kian terpuruk.

Meningkatnya jumlah media massa, memang melahirkan berita sebagai produk utama media massa menjadi melimpah, bak air bah yang tak terbendung lagi. Dari mulai berita yang berkualitas hingga berita yang tidak jelas. Fenomena ini memunculkan keprihatinan banyak pihak, termasuk para wartawan yang telah malang melintang di dunia jurnalistik. Berbagai analisa pun muncul. Satu di antaranya berpandangan, bahwa semua itu terjadi akibat institusi pers yang tumbuh belakangan memiliki kelemahan dalam sejumlah hal. Dari mulai aspek permodalan perusahaan yang sangat tidak mumpuni, manajemen media massa yang buruk, gaji pengelola dan wartawan yang jauh di bawah upah minimum regional (UMR), hingga kemampuan dan skill kewartawanan yang jauh di bawah standar.

Tulisan ini, tentu tidak dimaksudkan untuk mengulas lebih jauh tentang hal tersebut. Yang relevan dan penting untuk dijadikan catatan terkait dengan topik sekarang adalah kemampuan dan skill kewartawanan. Satu di antaranya, adalah mengasah kemampuan kita di dalam memahami dan mempraktikkan penulisan berita.
Out put yang diharapkan, bukan hanya mampu memilah dan memilih ‘sesuatu’ yang layak diberitakan, dan menulisnya dengan baik, tetapi juga membangun wartawan yang berkarakter, memiliki integritas, dan konsisten melakukan kontrol sosial. Ini bisa terbentuk bila saja wartawan memiliki kemampuan menyeleksi realitas yang akan diberitakan, sudut pandang memahami dan mengembangkan berita, serta menulis dan melaporkannya. [Lanjut Bag 2]

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Selasa, Juli 05, 2011

Ajaklah teman-teman Anda

Blogging adalah lebih dari sekedar meletakkan pemikiran Anda di web. Blogging adalah mengenai terhubung dengan dan mendengar dari siapapun yang membaca pekerjaan Anda dan peduli untuk memberi respons. Dengan blogger, Anda dapat mengendalikan siapa yang dapat membaca dan menulis ke blog Anda — ijinkan hanya beberapa teman saya atau seluruh dunia melihat apa yang harus Anda katakan!

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Minggu, Maret 01, 2009