Internet, Bagai Pedang Bermata Dua

Internet sebagai media, tak ubahnya bagai pedang bermata dua. Bisa digunakan untuk kebaikan, bisa pula digunakan untuk kejahatan.

Lima Pola Pemecahan Masalah

Setiap manusia, tentunya memiliki masalah (problem). Dan tampaknya, tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini, yang hidup tanpa masalah.

Gelisah Karena Pujian

Mendengar berbagai pujian, si alim menjadi gelisah. Jangan-jangan dirinya rajin beribadah bukan karena Allah, melainkan karena orang-orang memujinya sebagai orang alim.

Akademisi Ilmuwan Dakwah di Era Internet

Sebagai pilar terdepan, akademisi ilmuwan dakwah idealnya berdiri paling depan dalam gerbang pertarungan global.

Ketimpangan antara Intelektualitas dan Moralitas

Di dunia pendidikan, manusia dibentuk dan dicetak bukan sekadar untuk menjadi cerdas, dan terampil semata, tetapi juga berakhlak mulia.

Di Balik Ibadah Qurban

Oleh Enjang Muhaemin

Foto: Website Muhammadiyah
Anda hanya dapat dekat
dengan Allah,  
bila Anda mendekati
saudara-saudara Anda  
yang berkekurangan.

[Jalaluddin Rakhmat, 1998:279]

Itulah pesan inti yang tercermin dari ibadah qurban. Kata “qurban” itu sendiri, seperti kita ketahui, berasal dari kata “qaruba, yaqrubu, qurbaan,” yang artinya “dekat”. Maknanya sangat jelas, ibadah qurban merupakan sarana (wasilah) untuk mendekatkan diri pelaku qurban kepada Allah dan kepada sesama manusia. Yang satu berdimensi ritual, yang satunya lagi berdimensi sosial.  

Dimensi ibadah qurban, dengan demikian, tak ubahnya dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Secara teologis, ibadah qurban, merupakan salah satu ibadah yang dilakukan dalam kerangka mendekatkan diri kepada Allah (hablumminallah). Dan secara sosiologis dan psikologis, ibadah yang satu ini juga sebagai ikhtiar mendekatkan diri para pelaku qurban kepada sesama manusia (hablumminannas).

Berhasil tidaknya proses pendekatan itu tentunya kembali kepada Anda sebagai orang yang melakukan qurban. Kunci utamanya hanya dua: keikhlasan dan ketakwaan! Pertama, ketika Anda ber-qurban karena ria, ingin dipuji orang, atau mempunyai tendensi pribadi yang bersifat pamrih, berarti Anda tidak ikhlas. Qurban Anda bukan karena Allah, tapi karena manusia, atau karena tujuan yang tidak dibenarkan syara’. Bila ini yang terjadi, maka nyaris dapat dipastikan, qurban yang Anda lakukan, bukan hanya tidak akan berbuah pahala, tapi juga tidak akan mampu mendekatkan Anda kepada Sang Khalik.

Dalam konteks sosiologis, orang yang ber-qurban tanpa dilandasi dengan keikhlasan, juga tak akan berhasil membangun ‘jembatan’ kedekatan kepada sesama. Kalau pun terjadi hanya akan bersifat semu, dan sementara. Ketika kedok terbongkar, maka kedekatan itu akan pudar dan menghilang. Terlebih bila Anda menujukkan kesombongan dan kecongkakan secara demonstratif, maka yang muncul bukanlah kedekatan, tetapi justru akan melahirkan antipati dan rasa benci.

Pokok kunci kedua, adalah ketakwaan. KH Isa Anshary mengatakan takwa adalah menempatkan diri kita di tempat yang disukai Allah, dan tidak menempatkan diri kita di tempat yang tidak disukai Allah. Dalam koridor ketakwaan ini, maka ibadah qurban harus diposisikan sebagai refleksi dan bukti ketaatan Anda di dalam menjalankan titah dan perintah Allah, bukan titah dan perintah yang lainnya.

“Ruh’ yang muncul dari ketaatan Anda, juga mesti tercermin nyata dalam pemahaman, kesadaran, dan perilaku ber-qurban yang dilakukan. “Daging-daging unta, dan darahnya itu, sekali-kali tidak akan mencapai keridlaan-Nya, tetapi ketakwaan dari yang ber-qurban.” (QS. Al-Hajj : 37).

Sebagai ajaran yang agung dan luhur, Islam menghendaki ibadah qurban yang Anda lakukan bisa benar-benar menjadi jembatan penghubung yang mampu mendekatkan Anda pada ‘kemesraan’ dengan Allah, dan hubungan yang harmonis dengan sesama di lingkungan hidup Anda keseharian. Bila ibadah qurban yang Anda lakukan benar-benar berbasis keikhlasan dan ketakwaan, insya Allah, Anda bukan hanya akan dekat dengan manusia, tetapi juga akan dekat dengan Sang Pencipta.  

Kesalehan Sosial

Selain memiliki dimensi kesalehan ritual, ibadah qurban, juga berdimensi kesalehan sosial. Ini termaktub jelas di dalam Alqur’an. “….lalu makanlah sebagian dari sebagian dagingnya dan beri makanlah (dengan bagian yang lainnya) orang fakir yang sengsara.” (QS. 22:28). Bila puasa mengajak Anda merasakan lapar seperti laparnya orang-orang miskin, maka ibadah qurban mengajak orang-orang miskin untuk merasakan nikmatnya makan seperti nikmatnya Anda makan. Islam mengajarkan, bila Anda memiliki kenikmatan, maka bagikan dan sebarkanlah kenikmatan itu kepada orang lain.  

Banyak orang yang mendekatkan diri kepada Allah, kata Jalaluddin Rakhmat, dengan mengisi masjid-masjid atau rumah ibadat yang sunyi. Benar, Islam tidak hanya mengajarkan cara seperti itu. Islam juga mengajak Anda untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan mengisi perut-perut yang lapar, dan membantu kebutuhan orang-orang yang tidak mampu. Penuhi kebutuhannya, bantu kekurangannya, dan gembirakanlah hatinya.

Ketika Musa a.s. bertanya, “Ya Allah, di mana aku harus mencari-Mu?”, Allah menjawab, “Carilah Aku di tengah-tengah orang yang hatinya hancur.”

Dalam hadits qudsi diriwayatkan bahwa nanti pada hari kiamat, Allah mendakwa hamba-hamba-Nya: “Hai hamba-hamba-Ku, dahulu Aku lapar dan kalian tidak memberi-Ku makanan. Dahulu Aku telanjang, dan kalian tidak memberi-Ku busana. Dahulu Aku sakit, dan kalian tidak memberi-Ku obar.”

Waktu itu yang didakwa berkata: “Ya Allah, bagaimana mungkin aku memberi-Mu makanan, pakaian, dan obat, padahal Engkau Rabb Al-Alamin.”

Lalu Tuhan bersabda, “Dahulu ada hamba-Ku yang lapar, telanjang dan sakit. Sekiranya kamu mendatangi mereka—mengenyangkan perut mereka yang lapar, menutup tubuh mereka yang telanjang, mengobati sakit mereka—kamu akan mendapatkan Aku di situ.” ***

Penulis, Staf Pengajar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.  

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Rabu, November 09, 2011

Nilai Penting Bahasa Bagi Manusia

Oleh Enjang Muhaemin

Bahasa hadir sebagai karunia Tuhan yang tiada terkira. Bahkan, Tuhan sendiri ‘menampakkan’ diri pada manusia, bukan melalui Zat-Nya, tetapi melalui bahasa-Nya: yaitu bahasa alam (ayat –ayat kauniyah) dan kitab suci. Bagi manusia di belahan dunia mana pun, tentu tak akan membantah betapa pentingnya bahasa bagi diri dan kehidupannya. Kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban bangsa mana pun, lagi-lagi, tidak bisa dilepaskan dengan apa yang kita sebut bahasa


Melalui bahasa, kita bukan hanya bisa berkomunikasi, tetapi juga bisa menggali dan mentransfer ilmu kepada manusia lainnya. Melalui bahasa pula, kita dapat berbicara, dan mengabstraksikan seluruh pengalaman empiris, rasional, dan spiritual secara konseptual, terstruktur, dan sistematis.

Pendek kata, bahasa merupakan karunia Tuhan yang sungguh luar biasa, baik fungsinya maupun manfaatnya. Tanpa bahasa, entah apa jadinya dunia ini. Bagi manusia, bahasa mutlak adanya. Bagi manusia, bahasa adalah sine qua non, suatu yang mesti ada bagi dirinya. 


Dengan melalui bahasa, manusia akan mampu menggali dan menyebarkan ilmu. Bukan hanya disebarkan pada zamannya, tetapi juga diwariskan bagi umat manusia yang datang belakangan. Ilmu, yang demikian majunya tak lepas atas andil besar yang telah dimainkan oleh bahasa.

Mengkaji hubungan antara bahasa dan ilmu adalah hal penting yang selayaknya mendapat porsi telaah yang serius. Sepertinya halnya hubungan manusia dengan bahasa, hubungan ilmu dengan bahasa pun demikian luar biasa pentingnya. 

Keduanya berjalan seiring sejalan, bak dua sejoli yang tak bisa dipisahkan. Ibarat lain untuk pentingnya hubungan keduanya, tak ubahnnya gula dengan manisnya, garam dengan asinnya. Fakta membuktikan, sehebat apapun ilmu yang kita gali, tak mungkin terkomunikasikan tanpa melalui bahasa. 

Itulah sedikit deskripsi bagaimana pentingnya hubungan bahasa dan ilmu bagi umat manusia, dan kemajuan peradaban di zaman apapun. []

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Senin, Juli 18, 2011

Bahasa dan Keunikan Manusia

Oleh Enjang Muhaemin

Foto: Google
Keunikan manusia sebenarnya bukanlah terletak pada kemampuan berpikirnya, melainkan terletak pada kemampuannya berbahasanya.
Jujun S Suriasumantri

Perbedaan utama antara manusia dan binatang terletak pada kemampuan manusia untuk mengambil jalan melingkar dalam mencapai tujuannya. Seluruh piliran binatang dipenuhi oleh kebutuhan yang menyebabkan mereka secara langsung mencari obyek yang diinginkannya atau membuang benda yang merintanginya.

Mengutip Philip E.B. Jourdain, Jujun S Suriasumantri menyimpulkan, bahwa dengan demikian tidak perlu heran bila kita sering melihat seekor monyet yang menjangkau secara sia-sia benda yang dia inginkan. Padahal, manusia yang paling primitif pun telah tahu mempergunakan bandringan, laso atau melempar dengan batu. 

Ilustrasi di atas mendeskripsikan bahwa manusia adalah makhluk berakal. Ilmu mantiq menyebutnya hayawanun natiq (binatang yang berpikir). Berbeda dengan binatang, manusia dengan kekuatan akal yang dimilikinya justru mampu mengendalikan hambatan dan kendala yang merintanginya guna mencapai tu-juan yang diharapkannya. 

Kemampuan itu dimungkinkan karena manusia memiliki akal yang digunakannya untuk berpikir. Hasil berpikirnya itulah yang kemudian disebut ilmu atau pengetahuan. Dalam konteks ini tidaklah heran bila Ibnu Rusyd mengungkapkan bahwa akal merupakan mahkota terpenting manusia. Aliran filsafat Rasionalisme menegaskan, akal itulah alat pencari dan pengukur pengetahuan. 

Namun, dalam pandangan Jujun, keunikan manusia sebenarnya bukanlah terletak pada kemampuan berpikirnya melainkan terletak pada kemampuannya berbahasa. Ia memiliki ilustrasi menarik tentang yang satu ini. 

Ia menuturkan, dapatkah Anda bayangkan jika binatang dapat berbicara seperti manusia? Jika si Didi sedang memakan pisang, misalnya, maka monyet si Didi tidak sekadar cuma mengernyit-ngernyitkan dahinya dengan penuh frustasi, melainkan dengan lantang akan berkata, “Bagi-bagi dong, Di, pisangnya!” Dan bukan cuma berhenti di situ saja, dia pun mungkin akan belajar menanam pohon pisang sendiri, sebab dengan bahasa maka dia akan menguasai pengetahuan. 

Mungkin tak ada yang lebih menyadari kebenaran pernyataan Wittgenstein selain monyet si Didi, “Die Genzen meiner Sprache bedeuten die Grenzen meiner Welt,” yang artinya “Batas bahasaku adalah batas duniaku.”
Mencermati hal di atas maka tidaklah aneh bila Ernest Cassirer me-nyebut manusia sebagai animal sym-bolicum, makhluk yang mempergunakan simbol, yang secara generik mempunyai cakupan yang lebih luas dibanding homo sapiens, makhluk yang berpikir, sebab dalam kegiatan berpikirnya manusia mempergunakan simbol. 

Tanpa memiliki kemampuan berbahasa, maka kegiatan berpikir secara sistematis dan teratur tidak mungkin dapat dilakukan. Lebih jauhnya lagi, tanpa kemampuan berbahasa maka manusia tak mungkin mengembangkan kebudayaannya, sebab tanpa mempunyai bahasa maka hilang pulalah kemampuan untuk meneruskan nilai-nilai budaya dari generasi yang satu kepada generasi selanjutnya. 

“Tanpa bahasa,” simpul Aldous Huxley, “manusia tak berbeda dengan anjing atau monyet.” []

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Senin, Juli 18, 2011

Bahasa dan Proses Berpikir

Oleh Enjang Muhaemin

Kupasan menarik tentang korelasi bahasa dan proses berpikir pernah diulas Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Komunikasi Psikologi. Menurutnya, teori yang menjelaskan hubungan bahasa dengan berpikir adalah teori Whorf (Whorfian Hyptotesis). Secara singkat, teori ini dapat disimpulkan bahwa pandangan kita tentang dunia dibentuk oleh bahasa; dan karena bahasa berbeda, maka pandangan kita tentang dunia pun berbeda.

Secara selektif, kita menyaring data sensori yang masuk yang telah diprogram oleh bahasa yang kita pakai. Dengan begitu, masyarakat yang menggunakan bahasa yang berbeda hidup dalam dunia sensori yang berbeda pula. Edward Sapir, guru Benjamin L. Whorf menulis, bahasa adalah pandu realitas. Walaupun bahasa biasanya tidak dianggap sebagai hal yang sangat diminati ilmuwan sosial, bahasa secara kuat mengkondisikan pikiran kita tentang masalah dan proses sosial.

Manusia, menurutnya, tidak hidup hanya di dunia objektif, tidak hanya dalam dunia kegiatan sosial seperti yang biasa dipahaminya, tetapi ia sangat ditentukan oleh bahasa tertentu yang menjadi medium pernyataan bagi masyarakatnya. Tidak ada dua bahasa yang cukup sama untuk dianggap mewakili kenyataan sosial yang sama. Dunia tempat tinggal berbagai masyarakat, bukan semata-mata dunia yang sama dengan mereka yang berbeda.

Bila demikian, lantas bagaimana hubungan antara bahasa dengan proses berpikir? Dalam konteks ini, dapat dijelaskan terlebih awal bahwa konsep-konsep dalam suatu bahasa, selain cenderung menghambat, juga dapat mempercepat proses berpikir. 

Dalam pandangan Jalaluddin Rakhmat, kita mungkin dapat berpikir tanpa menggunakan bahasa. Namun begitu, bahasa terbukti mempermudah kemampuan belajar dan mengingat, memecahkan persoalan, dan menarik kesimpulan. Bahasa memungkinkan kita menyandi (code) peristiwa-peristiwa dan objek-objek dalam bentuk kata-kata.

Dengan bahasa, kita mampu mengabstraksikan pengalaman dan pikir-an kita kepada orang lain. Dan yang tak kalah pentingnya adalah kita dapat mengkomunikasikannya pada pihak lain, atau sebaliknya menerima dari orang lain. Bahasa merupakan sistem lambang tak terbatas, yang mampu mengung-kapkan segala macam pemikiran. 

Pendek kata, betul kita tidak selalu berpikir dengan kata-kata, tetapi sedikit sekali kita dapat berpikir tanpa kata-kata. Bahasa, singkatnya, sangat membantu dan mempermudah kita dalam proses berpikir, dan menyampaikan hasil pemikiran kita kepada orang lain. Tapi di balik itu, memang harus diakui pula, bahwa bahasa juga terkadang menghambat proses berpikir. Terutama ketika kita mengalami kebingungan dalam mengartikan kata-kata. []

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Senin, Juli 18, 2011

Lima Pola Pemecahan Masalah

Oleh Enjang Muhaemin

Setiap manusia, tentunya memiliki masalah (problem). Dan tampaknya, tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini, yang hidup tanpa masalah. Yang pertama, yang membedakan satu dengan lainnya hanyalah kuantitas dan kualitas masalahnya. Ada yang banyak, ada yang sedikit. Ada yang berat, ada yang ringan. Ada yang kompleks, ada yang sederhana. Yang kedua, yang membedakannya yakni kemampuan di dalam memecahkan masalah (problem solving).

Organisasi atau lembaga manapun, juga sama dengan manusia. Tidak akan pernah steril dari masalah. Selalu ada, dan akan tetap ada. Mungkin Anda akan berkata, “Bila demikian apa perlunya kita mengupas dan membahasnya. Dan buat apa pula berusaha memecahkannya?” Kawan di samping Anda mungkin akan lebih sewot lagi: “Iya yah, kayak nggak ada kerjaan saja. Buang-buang waktu, tau!”

Sebentar, jangan sewot dulu dong! Kita kan belum tuntas, masih pemanasan, gitu lho! Maksud saya, begini, kendati masalah itu selalu ada, dan akan tetap ada, bila kita pandai menyikapinya, maka masalah justru akan memunculkan dampak positif dan amat bermanfaat. Kuncinya ada pada bagaimana kita menyikapinya: terpicu dan terpacu untuk memecahkannya atau sebaliknya berlari dan menghindar atas masalah yang kita hadapi.

Ketika masalah menghadang sebenarnya tak ubahnya pedang bermata dua. Bisa bermanfaat, juga bisa menimbulkan madarat. Sangat tergantung pada kemampuan kita menghadapinya. Tidak besar, tidak kecil, semua organisasi pasti memiliki masalah. Keberadaan dan kehadiran masalah, sejatinya membuat sebuah organisasi menjadi hidup, dinamis, kreatif, dan inovatif. Orang-orang yang terlibat di dalamnya, juga menjadi tertantang untuk memecahkannya, dan mencari jalan keluarnya. 

Semakin cerdas para aktivis organisasi memecahkan masalah, akan semakin maju sebuah organisasi. Jatuh bangun dalam memecahkan masalah akan memberikan nilai tambah yang tidak terduga sebelumnya: pengalaman, pengetahuan, dan kesuksesan. Namun sebaliknya, bila sebuah masalah dibiarkan tumbuh berkembang, ia tak ubahnya kanker ganas yang semakin lama akan semakin berbahaya. Ia akan menjalar ke sekujur tubuh. Bila ini terjadi, berarti ajal bakal segera menjemput. Kenyataan ini akan sama persis terjadi pada tubuh organisasi yang membiarkan beragam masalah tumbuh menggerogotinya. 

Kiat Pemecahan Masalah 
 
Umumnya kita bergerak sesuai dengan kebiasaan. Pagi-pagi setelah sarapan, Anda berangkat ke sekolah. Anda mengeluarkan motor dari garasi, memasukkan kunci, dan menstarter motor Anda. Jalan yang Anda tempuh juga hampir tidak disadari. Semua berjalan seperti otomotis. “Masalah timbul, ketika ada peristiwa yang tidak dapat diatasi dengan perilaku rutin,” kata Jalaluddin Rakhmat. Misalnya, motor Anda tiba-tiba mogok, jalanan macet, atau buku PR ketinggalan padahal harus dikumpulkan hari itu juga. Masalah timbul menghadang. Anda bingung, resah, kalang kabut, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Anda bertabrakan dengan situasi yang harus anda atasi. Inilah yang kita sebut situasi masalah (problem situation). 

Contoh di atas mengajarkan pada kita bahwa masalah adalah peristiwa di saat perilaku yang biasa dihambat karena sebab-sebab tertentu. Ini definisi masalah yang pertama. Bagaimana menghadapi dan mengatasinya? Motor mogok, anda selah berkali-kali, buku PR ketinggalan, anda bikin ulang di kelas, pacar anda mogok bicara, anda membujuknya. Ini cara pertama yang biasa kita lakukan. Pemecahan masalah dengan pola yang rutin. 

Bila cara itu masih juga gagal, apa yang anda lakukan? Anda mencoba menggali memori anda untuk mengetahui cara-cara apa saja yang efektif pada masa lalu. Motor mogok, didorong. Buku PR ketinggalan, anda telepon orang rumah untuk mengantarkannya ke sekolah. Pacar anda mogok bicara, anda merengek-rengek minta maaf. Ini cara kedua di dalam memecahkan masalah—tentu bila cara pertama gagal—yakni dengan menggali memori di masa yang sudah-sudah. Pemecahan ini, intinya, berdasarkan pengalaman. Sementara yang pertama berdasarkan kebiasaan.

Kalau masih saja gagal, apa yang biasa anda lakukan? Cara ketiga bisa jadi pilihan: mencoba seluruh kemungkinan pemecahan yang pernah anda ingat atau yang dapat anda pikirkan. Semua anda coba. Ini disebut penyelesaian mekanis (mechanical solution) dengan uji coba (trial and error). 

Andai hasilnya gagal juga, maka anda dapat menggunakan lambang-lambang verbal atau grafis untuk mengatasi masalah. Anda mencoba memahami situasi yang terjadi, mencari jawaban, dan menemukan kesimpulan yang tepat. Anda mungkin menggunakan deduksi, atau induksi. Namun karena anda jarang memperoleh informasi lengkap, anda lebih sering menggunakan analogi.

Pemecahan masalah, juga terkadang terjadi dengan apa yang lazim kita sebut dengan insight solution. Tiba-tiba terlintas dalam pikiran anda suatu pemecahan. “Aha, sekarang saya tahu, pacar saya marah karena saya berdekatan dengan cewek lain, saya harus minta maaf.” Kilasan pemecahan masalah ini juga disebut Aha Erlebnis (pengalaman Aha). []

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Rabu, Juli 13, 2011

Memahami dan Menulis Berita [3]

UNSUR-UNSUR BERITA

Oleh Enjang Muhaemin

Deskripsi tentang berita tampaknya mulai tergambar dengan jelas. Kendati mendefinisikan berita tidak mudah, nyaris sama tidak mudahnya dengan mendefinisikan wanita cantik nan seksi, namun dengan melihat, menatap, dan memperhatikan contoh dan bukti fisiknya, maka tentunya gambaran tentang apa itu berita semakin kita pahami secara baik. Para praktisi media, juga demikian di dalam memahami berita. Umumnya tidak mudah menjelaskan definisinya, namun akan sangat gampang ketika ia diharuskan untuk menunjuk mana berita dan mana yang bukan berita.

Bagi seorang wartawan, mengenal berita saja tentu tidaklah cukup. Ia juga harus memahami unsur kelayakan sebuah berita, yakni unsur yang harus ada dalam sebuah berita. Ini penting, agar berita yang dipilih benar-benar penting dan memiliki daya tarik bagi khalayak media massa. Unsur-unsur yang dapat menarik minat khalayak media massa inilah yang disebut unsur-unsur kelayakan sebuah berita. 

Titik tekan dan penekanan unsur berita, sebagai penentu tingkatan nilai atas kualitas berita senantiasa mengalami perubahan. Dan diskursus tentang nilai berita ini, sesungguhnya memiliki sejarah yang panjang. Wacana tentang ini diulas Hikmat dan Purnama Kusumaningrat secara menarik dalam bukunya Jurnalistik, Teori & Praktik. Berikut adalah ringkasannya: Christian Weise, tahun 1676 berpendapat, ketika menyeleksi berita harus dipisahkan antara yang benar dan yang palsu. Pada tahun 1688, Daniel Hartnack malah menekankan pada unsur pentingnya peristiwa. Dalam kata lain, yang menentukan nilai suatu berita untuk diinformasikan kepada khalayak media massa bukan pada unsur dampak (consequence) dari sebuah peristiwa, tetapi pada unsur pentingnya peristiwa tersebut untuk dilaporkan.

Pada tahun 1690, Tobias Peucer, penulis disertasi tentang penerbitan di Jerman saat itu menyebut beberapa kriteria yang menentukan nilai kelayakan berita pada masa itu, di antaranya: Pertama, tanda-tanda yang tidak lazim, benda-benda yang ganjil, hasil kerja dan produk seni yang hebat dan tidak biasa, banjir atau badai yang disertai petir dan guruh yang mengerikan, gempa bumi, sesuatu yang aneh dan muncul dengan tiba-tiba dari langit, dan penemuan-penemuan baru, yang pada abad itu sangat banyak terjadi. 

Kedua, berbagai jenis keadaan, perubahan, perubahan - perubahan pemerintahan, masalah perang dan damai, sebab-sebab dan keinginan-keinginan perang, pertempuran, kekalahan, rencana-rencana para pemimpin militer, undang-undang baru, pertimbangan-pertimbangan yang disetujui, pegawai negeri, orang-orang terkenal, kelahiran dan kematian para pangeran, ahli waris harta, upacara pelantikan, pergantian jabatan atau pemecatan, kematian orang-orang terkenal, akhir riwayat orang tidak ber-Tuhan, dan masalah-masalah lainnya. 

Ketiga, masalah-masalah gereja dan keterpelajaran seperti asal-usul agama ini agama itu, pendiri dan kemajuannya, sekte-sekte baru, dogma-dogma yang diputuskan, ritual-ritual agama, perpecahan agama, penyiksaan, muktamar keagamaan, karya tulis para sarja, perselisihan ilmiah, karya baru terpelajar, keberanian berusaha, bencana dan kematian, serta seribu satu hal lainnya yang bertalian dengan alam, warga masyarakat, gereja dan sejarah keagamaan.

Dijelaskan lebih jauh, bahwa hal-hal biasa dan tidak menarik tidak bernilai untuk diberitakan. Untuk masalah ini, Peucer menyebut, antara lain, “kegiatan rutin manusia sehari-hari, yang hanya dibeda-bedakan oleh musim dan tidak seperti kejadian langka semisal badai yang disertai petir dan guntur.” Yang juga tidak bernilai untuk diberitakan adalah “kehidupan pribadi kaum bangsawan, seperti berburu, menjamu tamu, kunjungan ke teater… eksekusi pelaku kejahatan, spekulasi tentang urusan-urusan negara yang belum diketahui…”.

Juga yang tidak boleh diberitakan menurut Peucer adalah “apa yang merusak moral yang baik dan agama sejati, misalnya, kecabulan, kejahatan yang dilakukan dengan cara yang mengerikan, pernyataan-pernyataan yang bersifat atheis.” Inti pemikiran Peucer ialah bahwa hal-hal rutin dan biasa serta murni bersifat pribadi tidak memiliki nilai berita. Selang lima tahun kemudian, tepatnya tahun 1695, Kaspar Stieler menegaskan, para penulis berita di surat kabar haruslah “orang yang dapat menceritakan hal-hal penting, dan menjauhkan diri dari hal-hal sepele.” 

J. Wilke mengungkapkan, Stieler sudah menguraikan nilai-nilai berita ini secara jelas seperti kebaruan, kedekatan (proximity) geografis, implikasi dan keterkenalan (rominence) maupun negativisme. Walhasil, sejak akhir abad ke-17, para pemikir komunikasi sebenarnya sudah mampu merinci apa kriteria yang harus dipakai dalam menetapkan apakah suatu kejadian itu memiliki nilai berita atau tidak.

Dalam Jurnalistik Masa Kini, Dja’far H. Assegaf menyebutkan 11 (sebelas) unsur berita. Kesebelas unsur yang didasarkan pada pendapat para ahli publisitik dan jurnalistik ini adalah sebagai berikut: 1) berita haruslah termasa (baru), 2) jarak (dekat jauhnya) lingkungan yang terkena berita, 3) penting (ternama) tidaknya orang yang diberitakan, 4) keluarbiasaan dari berita, 5) akibat yang mungkin ditimbulkan berita, 6) Ketegangan yang ditimbulkan berita, 7) pertentangan (conflict) yang terlihat dalam berita, 8)seks yang ada dalam pemberitaan, 9) kemajuan-kemajuan yang diberitakan, 10) emosi yang ditimbulkan berita, 11) humor yang ada dalam berita. 

Unsur berita merupakan sesuatu yang harus ada dalam sebuah berita. Kendati tidak semua unsur berita harus tergabung dalam satu berita, namun minimalnya harus ada satu atau dua unsur berita di dalamnya. Semakin banyak unsur berita yang terkandung di dalam sebuah peristiwa, kejadian, atau pendapat seseorang yang memiliki otoritas di bidangnya, maka semakin tinggi pula nilai dan kualitas berita tersebut.

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Rabu, Juli 06, 2011

Memahami dan Menulis Berita [2]

APA ITU BERITA?

Oleh Enjang Muhaemin

Merumuskan definisi berita, sebenarnya, gampang-gampang susah. Disebut mudah, karena kita memang sudah ‘terlatih’ membaca, mendengar, dan melihat berita, baik yang dipublikasikan media cetak, disiarkan radio, maupun yang ditayangkan televisi.


Benar apa yang dikatakan Irving Resenthall dan Marton Yarmen, “Berita, lebih mudah untuk dikenali atau diketahui, daripada diberikan batasannya.” Hal serupa, juga diungkapkan Asep Saeful Muhtadi. Membuat definisi berita, memang tidak semudah memahami berita. “Seseorang dapat memahami dengan mudah membedakan antara berita dengan artikel, misalnya, atau dengan biografi biasa,” jelasnya.

Bagi banyak wartawan, tulis Jack Lule, mencoba mendefisikan berita mungkin tampak seperti suatu jabatan akademis, hanya cocok bagi orang-orang universitas yang berpakaian perlente. “Beberapa wartawan mungkin mengulangi ucapan Gertrude Stein: Berita adalah berita adalah berita. Wartawan lain mungkin menyamakan berita dengan rasa lapar. Mereka barangkali tidak bisa mendefinisikannya, tapi mereka tahu bila mereka merasakannya.”

Berita memang tidak mudah mendefinisikannya. Susahnya, karena berita itu mencakup banyak variabel. ”News is difficult to define, because it involves mani variable factors,” ujar Earl Engslish dan Clarence Hach dalam bukunya Scholastik Journalism.

Tapi, oke-lah, jangan dipikirkan jlimet. Toh, kendati belum tentu memuaskan, sudah banyak pakar dan praktisi media yang mencoba merumuskannya. Kita telaah, dan pahami saja maknanya. Insya Allah, tidak akan membuat kening kita berkerut kok!

Enjoy-enjoy sajalah. Yang penting kita paham, “Oh, itu yah yang disebut berita oleh Si Fulan tuh!”, dan “Oh, jadi berita itu yang begini, begini, dan seterusnya.”
Untuk gambaran, baiklah akan dikutip beberapa definisi berita. Baik definisi yang bersifat humoris, plastis, maupun rumusan yang berbau akademis.

Di antara definisi yang relatif populer di kalangan para pemerhati jurnalistik adalah dengan mengungkap contoh. Dalam logika tradisional, tulis Asep Saeful Muhtadi, contoh-contoh yang berkaitan dengan konsep-konsep yang masih abstrak memang dapat digunakan untuk merumuskan definisi (ta’rif bi al-mitsal). Definisi seperti ini sempat diungkapkan oleh Bruce D. Itule dalam News Writing and Reporting for Today’s Media. Berita adalah man bites dog, orang menggigit anjing. Walhasil, dog bites man, anjing menggigit orang, bukanlah berita. Dengan menggunakan definisi seperti ini, tentunya dapat dipahami suatu abstraksi tentang berita.

Definisi yang lengkapnya ”if a dog bites a man, it’s not news,” itu tentunya menjadi tidak berlaku bila yang digigit anjing itu adalah orang penting, tokoh terkemuka, seperti presiden, menteri, dan orang terkemuka lainnya, atau seorang selebritis yang terkenal. Namun yang pasti, definisi ini, ingin menunjukkan bahwa berita adalah sesuatu yang di luar kelaziman. Ada unsur keluarbiasaan, keanehan, atau ketidakumuman.

Orang dewasa yang bisa jungkir balik, bukanlah berita. Tetapi, anak usia 6 bulan yang bisa “breuh” adalah berita. Contoh lainnya: manusia makan nasi bukanlah berita, tapi manusia yang makan mayat manusia adalah berita. Tak mengherankan bila kemudian Lord Northcliffe, “raja pers” dari Inggris ini menegaskan, “News is anything out of ordinary.” Berita, ujarnya, adalah segala sesuatu yang tidak biasa.

Williard C. Bleyer dalam Newspaper Writing and Editing menulis, berita adalah sesuatu yang termasa yang dipilih oleh wartawan untuk dimuat dalam surat kabar, karena dia menarik minat atau mempunyai makna bagi pembaca surat kabar, atau karena dia dapat menarik para pembaca untuk membaca berita tersebut. Eric C. Hepwood menuturkan, berita adalah laporan pertama dari kejadian yang penting yang dapat menarik perhatian umum.

Doug Newson dan James A. Wollert berpendapat, dalam definisi sederhana, berita adalah apa saja yang dan perlu diketahui orang atau lebih luas lagi oleh masyarakat. Dengan melaporkan berita, media massa memberikan informasi kepada masyarakat mengenai apa yang mereka butuhkan. “ Kurniawan Junaedhi dalam Ensiklopedi Pers Indonesia menyebutkan, berita adalah laporan atau keterangan mengenai terjadinya peristiwa atau keadaanyang bersifat umum dan baru saja terjadi (aktual) yang disampaikan oleh wartawan dalam media massa.

Dalam pandangan Dja’far H. Assegaf, batasan atau definisi berita dalam arti teknis jurnalistik adalah : “Laporan tentang fakta atau ide yang termasa, yang dipilih oleh staf redaksi suatu harian untuk disiarkan, yang dapat menarik perhatian pembaca, entah karena ia luar biasa, entah karena pentingnya, atau akibatnya, entah pula karena ia mencakup segi-segi human interest seperti humor, emosi atau ketegangan.”

Definisi berita yang dikemukakan, baik oleh para pakar komunikasi maupun praktisi media, tidak ada satu pun yang rumusan yang dianggap sempurna. Ini dapat dipahami mengingat berita memiliki banyak variabel dan faktor, yang tidak mudah diikat dalam satu definisi. Tak mengherankan bila hingga saat ini, belum ada satu pun, rumusan berita pun yang dapat diterima secara universal oleh berbagai pihak. “Pada dasarnya memang tidak ada pengertian yang mutlak tentang yang dianggap sebagai berita….,” ungkap M. Atar Semi

Selain definisi di atas, ada rumusan lain yang menarik untuk mempermudah pemahaman kita tentang berita. Rumusan berita yang disebut “News Arithmatic” berikut dikemukakan wartawan Amerika, George C. Bastian, dalam bukunya Editing the Day’s News. Ia menjelaskan batasan sebagai berikut:

1 orang biasa + 1 penghidupan biasa = 0 (Bukan Berita)
1 orang biasa + 1 pengalaman luar biasa = Berita
1 suami biasa + 1 istri biasa = 0
1 suami + 3 istri = Berita
1 kasir bank + 1 istri + 7 anak = 0
1 kasir bank - $10.000 = Berita
1 penyanyi + 1 presdir bank $10.000 = Berita
1 pria + 1 mobil + 1 pistol + 1 tawanan = Berita
1 orang + 1 ciptaan = Berita
1 lelaki + 1 istri + 1 sengketa + 1 peradilan = Berita
1 wanita + 1 pengalaman atau ciptaan = Berita
1 orang biasa + 1 kehidupan biasa dari 79 tahun = 0
1 orang biasa + 1 kehidupan dari 100 tahun = Berita

Untuk mengetahui makna berita lebih jauh, mari kita coba lacak kamus. Kamus Besar Bahasa Indonesia, mengartikan berita sebagai “laporan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat.” Kamus kita juga mengartikan berita sebagai “laporan tentang suatu kejadian yang terbaru,” atau “keterangan yang baru tentang suatu peristiwa.” Teranglah, ujar Dja’far H. Assegaf, dari kamus kita tidak akan mendapatkan suatu gambaran yang benar dan mencakup segi-segi yang esensiil dari berita.”

Berita, dalam bahasa Inggris, disebut news. Mari kita coba lacak dalam kamus bahasa Inggris! Kamus The Oxford Paperback Dictionary, misalnya. Menurut kamus ini, news diartikan sebagai information about recent events (informasi tentang berbagai peristiwa terbaru). Kamus lain, Merriam-Webster’s Collegiate Dictionary, menjelaskan, news sebagai “laporan peristiwa terkini” (report of recent events), dan “informasi yang belum diketahui sebelumnya” (unknow information).

Dari berbagai definisi di atas, saya ingin mengajukan satu definisi tentang berita, sebagai sebuah elaborasi dari berbagai pendapat. Berita, sekali lagi hemat saya, adalah laporan terbaru yang dilakukan wartawan, baik berupa fakta, data, maupun ide yang memenuhi satu atau lebih unsur berita, dan diinformasikan kepada masyarakat dengan menggunakan media massa. Unsur-unsur berita banyak ragamnya, seperti aktual, faktual, penting, dampak, keluarbiasaan atau keanehan, kegagalan, kemajuan, ketegangan, pertentangan, seks, kejahatan, dan daya tarik insani.

Rumusan yang beragam tentang berita, menunjukkan, bahwa berita memang tidak mudah untuk didefinsikan secara komprehensif, mutlak, dan universal. Namun, yang pasti, dari berbagai definisi di atas, sedikit banyak akhirnya kita dapat memahami tentang apa yang dimaksud dengan berita. Bahkan, boleh jadi, Anda sudah mulai bisa mendefinisikannya sendiri. Syukurlah, artinya, Anda sudah paham dan mengerti.

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Rabu, Juli 06, 2011

Media Massa dan “Perang” Opini

Oleh Enjang Muhaemin

Perkembangan pesat teknologi komunikasi telah mengubah kehidupan manusia di belahan dunia manapun. Peran media massa dengan segala kekuatan dan pengaruhnya diyakini banyak pakar telah berhasil mengubah banyak hal. Bukan hanya dalam masalah berpakaian, berperilaku, dan berniaga semata, tetapi juga dalam soal-soal lain yang jauh lebih besar, dari mulai pemerintahan, perekonomian, politik, hingga keamanan dan pertahanan.

Era informasi dan globalisasi, kini memang merambah dunia manapun. Tak di kota tak di desa, dengan ‘senjata’ media massa, semuanya terjamah dengan begitu mudahnya. Pesan-pesan media massa dengan begitu cepatnya diserap dan diterima masyarakat luas. Media massa telah sukses menyampaikan ratusan bahkan ribuan informasi dalam setiap harinya, yang mustahil terjadi pada zaman sebelumnya. Banjir informasi menjadi tak terelakkan. Beragam pilihan media juga tersedia dengan begitu banyaknya.

Sebagai kekuatan dahsyat di era global, pengaruh media massa memang sudah tak terbantahkan lagi. Pemeo “siapa membaca apa”, “siapa mendapat informasi apa”, paling tidak menyiratkan pentingnya peran media dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Diakui atau tidak, keberadaan media massa -- baik cetak maupun elektronik – dalam era yang haus informasi ini dipandang sebagai kekuatan perkasa di dalam membagun masyarakat yang lebih kritis, cerdas, dan memiliki kearipan yang tinggi.

Kebergantungan masyarakat terhadap media massa tak urung melahirkan kian menjamurnya media massa di berbagai segmen masyarakat. Dari mulai yang berskala kecil hingga media massa yang memiliki jaringan luas dan berkekuatan politis yang besar. Dari mulai media politik, ekonomi, budaya, ekonomi, agama, dan bidang kehidupan lainnya. Bahkan, diduga kuat, kedigjayaan dunia-dunia maju saat ini, juga ditopang oleh kehadiran media massa yang mereka miliki. Bukan hanya kuantitasnya yang luar biasa, tetapi juga didukung daya pengelola media massa yang berkualiats, memadai, dan mumpuni.

Fenomena di negara-negara berkembang—untuk tidak menyebut negara terbelakang—justru terjadi sebaliknya. Bukan hanya kuantitasnya yang terbatas, tapi juga sisi kualitasnya yang masih jauh tertinggal. Tidak aneh bila kemudian dalam percaturan dunia internasional, negara-negara berkembang kian terbelakang. Negara-negara Barat, misalnya, dengan kekuatan informasi dan opini yang dibangun media massa yang mereka miliki kian hari kian maju. “Hebatnya” lagi mereka bukan hanya mampu menyusun dan merancang opini, tetapi juga telah berhasil mengubah opini dunia.

Dalam konteks inilah, “perang” opini di level internasional yang diperankan media massa tak bisa dianggap dengan sebelah mata. Tak aneh bila seorang pengamat media berkaliber internasional, Ziauddin Sardar pernah mengungkapkan: “Informasi merupakan kekuatan baru dalam era sekarang. Barang siapa yang menguasai informasi, maka ia akan menguasai dunia.” Media massa dengan informasi dan opininya, tak ubahnya senjata dan amunisi di masa perang, yang mampu membidik sasaran dengan mudah dan mematikan.

Penulis, Dosen Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung 

______________

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Kamis, Oktober 21, 2010

EMPAT PENGOKOH DUNIA

OLEH ENJANG MUHAEMIN

Rasulullah SAW mengingatkan, ”Kokohnya dunia ini karena empat perkara. Dengan ilmu para ulama, dengan keadilan para penguasa kedermawanan orang-orang kaya, dengan doa-doa fakir miskin. “Petuah mulia itu sudah sering kita dengar, bahkan mungkin sudah hapal di luar kepala.

Namun sayang, kelamnya hati dan dungunya akal kita, membuat kita tak banyak mengindahkannya. Tragisnya, peringatan itu dianggap angin lain, tak bermakna, kecuali sebagai penghias kata pemanis retorika. Sungguh, itulah kedunguan dan ketololan kita di abad super canggih ini.

Padahal, empat hal itu mengandung makna penting nan luar biasa. Bukan hanya dunia akan tentram dan tanpa amarah, tapi juga akan membuat dunia tampak ceria, penuh kasih, dan sarat cinta, yang kini nyaris sima.

Para ulama, sebagai pewaris para nabi, dengan ilmunya akan membuat dunia kokoh berdiri. Ilmu para ulama yang diterapkan bukan pada tempatnya akan membuat dunia gelisah dan resah, umat satu dengan umat lainnya yang mestinya merajut kasih berganti arah seratus delapan derajat saling hujat, dan saling hardik. Inilah petaka awal yang bisa berakhir dengan pertumpahan darah.

Kedermawanan orang-orang kaya akan membuat ikatan ukhuwwah sesama semakin erat. Jurang perbedaan dengan si miskin tak akan terjadi lagi. Dunia akan ada sarat doa, yang dilantunkan para fakir miskin, yang membuat hidup kian bersahaja dan diberkahi. Kerjasama saling menguntungkan ini, akhirnya akan melahirkan ritme hidup penuh irama kedamaian dan kesyahduan. 

Sebaliknya, bila para hartawan congkak, arogan, dan menindas si miskin dan si fakir, maka bersiaplah menerima malapetaka besar, bahaya luar biasa, yang bisa menggoyahkan dunia. Si miskin dan si fakir bisa marah besar. Bukan lagi harta yang menjadi sasaran, tapi langsung nyawa para hartawan, ini seperti diisyaratkan Rasulullah SAW di dalam sebuah sabdanya.

Akan datang suatu masa, kata Nabi SAW, orang-orang miskin yang tak lagi membutuhkan harta, yang mereka butuhkan adalah darah dan nyawa para hartawan. Sungguh, ini bukan main-main. Revolusi berdarah yang bertaruhkan nyawa amat mungkin terjadi. Sadarilah, si kaya dan si miskin tak ada perbedaannya di hadapan Allah SWT kecuali ketakwaannya.

Sebelum petaka menimpa beristighfarlah. Harta tak ada apa-apanya, bila hanya membuat saudara di sekitar kita terluka hatinya, teriris nuraninya.

Sebelum ajal menjemput bertaubatlah, tak ada yang kita bawa ketika maut menjemput, kecuali ilmu yang bermanfaat, anak yang shaleh, dan amal jariah. Sudahkah kita berbekal untuk bekal hidup sebenarnya? Jawablah secara jujur, dan lakukanlah apa yang seharusnya dilakukan.

Penguasa bisa mulia, juga bisa hina Mulia ketika ia berbuat keadilan. Tidak berpihak pada siapa pun, kecuali pada kebenaran dan keadilan. Penguasa, siapa pun Anda, tak bisa bertindak semaunya bila tak mau terjerumus pada jurang kehinaan. Ketika keadilan bisa dipermainkan oleh harta, tahta, maupun wanita, maka bersiaplah diadili di akhirat, di neraka adalah tempat kembali tak ada pilihan yang terbaik kecuali bertindak adil, dan menegakan keadilan.

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Jumat, Juli 30, 2010

Apa yang Salah dengan Ibadah Puasa Kita?

Oleh Enjang Muhaemin

RAMADAN kembali menghampiri kita. Umat Islam di mana pun berada tentu akan menyambut dengan penuh suka cita. Hikmah besar yang terkandung di dalamnya membuat kita rindu untuk selalu bertemu dengan bulan yang penuh barakah dan magfirah ini. 

Secara substansial, puasa dimaksudkan untuk melahirkan manusia berkualitas super: la'allakum tattaqun. Ini sebagaimana termaktub di dalam Alquran, Surat Al-Baqarah ayat 183: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa."

Di tengah kondisi Indonesia yang masih terbelit beragam persoalan, dari mulai krisis ekonomi, maraknya korupsi, hingga degradasi moral yang kian akut, sudah waktunya kini menjadikan ibadah puasa sebagai momentum perbaikan menuju ke arah Indonesia yang lebih baik.

Melihat beragam persoalan yang mengimpit negeri ini, rasanya tepat bila dikatakan, puasa tahun ini, harus benar-benar bisa menjadi momentum perbaikan diri secara optimal. Artinya, ibadah puasa yang kita jalani, bukan sekadar puasa yang tanpa makna, puasa yang hanya menahan lapar dan dahaga.

Puasa harus terwujud bukan sekadar memenuhi kewajiban agama, tetapi juga dibarengi kesadaran untuk menjadikan ibadah puasa sebagai wahana pembangunan kualitas kemusliman yang paripurna.

Namun sayangnya, tujuan ideal puasa itu kerap tak berhasil terwujud secara baik. Tentu muncul pertanyaan dalam benak kita: apa yang salah dengan puasa kita?

Puasa sebulan penuh yang setiap tahun kita jalani nyaris tak banyak berdampak pada kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri ini. Contoh, praktik korupsi yang bukan hanya kian meningkat, tapi juga kian meluas ke berbagai lini kehidupan di negeri ini. Sungguh sebuah realitas yang amat memprihatinkan.

Kita patut bertanya kepada diri kita: bagaimana dampak puasa yang kita jalani selama ini?

Pertanyaan ini cukup relevan untuk dikedepankan, agar puasa yang kita lakukan selama sebulan penuh benar-benar mencapai target ketakwaan, sekaligus berimplikasi terhadap perilaku dan moralitas kita sehari-hari, baik yang berdimensi politik, pendidikan, ekonomi, sosial-budaya, maupun hukum.

Ini tentu amat penting, karena Nabi Muhammad pernah memberi early-warning, "Sekian banyak orang yang menjalankan puasa, tetapi mereka hanya mendapatkan lapar dan dahaga".

Bertolak dari peringatan itu, seorang sufi besar, Imam Al-Ghazali
dalam karya magnum opus-nya, "Ihya' Ulumuddin", membagi kualitas puasa itu ke dalam tiga kualifikasi: puasa am, puasa khash, dan puasa khawasul khawas.

Puasa am, adalah puasa yang dilakukan sebatas menahan diri dari makan, minum, dan seks. Puasa khash, adalah puasa yang dilakukan selain dengan menahan diri dari ketiga hal pertama tadi, juga dengan menjaga penglihatan, pendengaran, dan ucapan dari hal-hal berbau maksiat.

Puasa khawasul khawas, yakni puasa yang dilakukan bukan saja menahan diri dari ketiga hal pertama dan kedua, tetapi diikuti pula dengan menjaga suasana hati dari hal-hal yang rendah, berorientasi materialis, dan berbagai kecenderungan hati yang destruktif-anarkis.

Melalui kategorisasi yang dilakukan Imam Al-Ghazali itu, kita bisa mengukur sejauhmana kualitas puasa yang kita lakukan? Implikasi ini akan sangat besar terhadap keadaan di negeri ini. Di tingkatan mana kualitas puasa sebagian besar muslim di negeri ini akan sangat menentukan kualitas keadaan negeri ini. Menyimak negeri kita yang carut marut, kita sudah bisa mengukur kualitas sebagian besar para pelaku puasa di negeri ini.

Fenomena apa yang salah dengan ibadah puasa yang kita lakukan? Jawabannya tiada lain, karena pemahaman dan pengamalan puasa yang kita lakukan belum optimal sebagaimana yang diharapkan. Belum mampu mencapai puasa dalam tingkatan khawasul khawas, baru sebatas tingkatan puasa am, yang hanya mampu menahan lapar, dahaga, dan seks semata.

Padahal, bila saja kita telah mencapai tingkatan puasa khawasul khawas, maka sudah menjadi jaminan bakal lahirnya insan-insan berkualitas yang bakal mampu menahan godaan syahwat duniawi dan beragam kebejadan moral lainnya.

Manusia yang telah mencapai puasa dalam tingkatan khawasul khawas inilah yang diharapkan muncul menjadi pionir-pionir pembaharu bagi perubahan negeri ini. Ia akan tampil bukan hanya dengan kecerdasan spiritualitas yang mencengangkan, juga dengan akhlak dan kepribadian yang mengagumkan.

Bila kita berkehendak Indonesia mengalami perubahan ke arah yang lebih baik, maka kualitas puasa tahun ini harus terus ditingkatkan. Tentu tak mudah. Tapi bagaimanapun ini merupakan pekerjaan rumah yang harus dilakukan.

Langkah penyadaran umat tentang puasa yang sesungguhnya mesti segera dimasyarakatkan secara intensif. Bukan hanya tugas para ulama, dai, dan mubalig, pemerintah pun berkepentingan demi perubahan Indonesia ke arah yang lebih baik.

Menumbuhkan kesadaran pelaku puasa untuk mencapai kualitas khawasul khawas, jelas tidak mudah. Namun tentu selalu ada jalan. Salah satunya dengan menumbuhkan pemahaman yang komprehensif tentang dimensi-dimensi yang melekat pada ibadah puasa itu sendiri, baik dimensi teologis maupun sosiologis.

Penulis, Dosen UIN SGD Bandung

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Minggu, Juli 25, 2010

Menyiasati Minimnya Pelajaran Agama

Oleh NURHAYATI


TIDAK bisa dibantah lagi, tantangan kehidupan pada masa sekarang memang sangat berat. Tantangan tidak ringan ini berkembang sejalan dengan kemajuan zaman dan pesatnya teknologi informasi yang nyaris tak terbendung belakangan ini.Kini, di tengah kehidupan masyarakat, bukan hanya televisi yang berhasil mewarnai pola dan perilaku anak-anak kita. Beragam produk teknologi mutakhir pun tak ketinggalan. Baik itu berupa internet, vcd, play station, maupun sarana komunikasi lainnya, yang saat ini sangat mudah “dijamah” dan dinikmati putra-putri kita.

Realitas perkembangan pesat teknologi tersebut tentu berimplikasi besar terhadap perilaku dan akhlak anak-anak kita, yang kelak kemudian hari akan menjadi para pemimpin di negeri ini. Pasalnya, kesempatan untuk menikmati dan memanfaatkan fungsi media-media modern itu sungguh terbuka sangat lebar. Bahkan nyaris sulit dikendalikan.

Ambil contoh, misalnya, kesempatan anak-anak kita untuk menikmati dan menyaksikan tayangan-tayangan yang disajikan media televisi. Kita tahu, hampir di setiap rumah, televisi telah ada. Bak pisau bermata dua, televisi akan bisa berdampak positif, sebaliknya juga berpengaruh negatif. Sangat tergantung kepada banyak hal. Satu diantaranya tergantung kepada program-program televisi yang ditayangkan.

Si “kotak ajaib” hanyalah sebuah media. Baik-buruknya imbas terhadap pemirsa—terutama anak-anak—akan sangat tergantung pada baik-buruknya acara yang ditayangkan. Kita, sebagai kalangan pendidik, tentu pantas merasa was-was bila kemudian televisi akan memberikan warna tak baik terhadap akhlak dan perilaku para peserta didik. Sebabnya, acara-acara televisi yang ditayangkan di negeri kita cenderung tidak mendidik.

Tayangan-tayangan tidak bermutu itu nyaris tak terbendung. Anak-anak pun menjadi tidak punya pilihan lain kecuali ‘menikmatinya’. Tayangan-tayangan seperti ini tentu saja akan berdampak buruk terhadap perkembangan akhlak dan mental akan-anak. Kekhawatiran kalangan pendidik dan orang tua sepertinya tak mampu diserap para pengelola televisi, mereka cenderung tak mau terhadap imbas negatif dari beragam tayangan buruk tersebut.

Ironisnya, di tengah ketidakpedulian para pengelola televisi itu, pendidikan agama di lembaga pendidikan pun sungguh sangat minim, yang tentu saja akan sulit untuk mampu mengimbangi ‘pewarnaan’ dominan yang dilakukan media televisi. Dalam kurikulum yang ada, pendidikan agama yang diberikan dalam satu minggu, hanya dua jam pelajaran. Berbeda dengan pelajaran-pelajaran lain, seperti Bahasa Indonesia misalnya, yang dalam seminggu mencapai enam jam pelajaran.
Mencermati tantangan zaman yang kian berat, maka untuk pendidikan agama yang dua jam itu, jelas sangat sedikit. Yang kita khawatirkan, adalah rusaknya akhlak dan mental anak-anak, karena tidak seimbangnya pendidikan agama dengan keadaan zaman saat ini. 

Haruskah jam pelajaran agama ditambah lebih banyak lagi? Hemat penulis, jelas sangat perlu. Namun untuk mengubah itu, selain butuh waktu, juga butuh kemauan dari para pemegang kebijakan. Bila begitu, langkah apa mesti kita lakukan segera? Menurut penulis, untuk mengatasi minimnya pelajaran agama, ada beberapa langkah yang layak untuk diterapkan.

Pertama, menyisipkan moral dan semangat keberagamaan di dalam mata pelajaran lain. Tentu tidak harus bersifat dogmatis, tapi lebih kepada substansi dan ruh dari inti keberagamaan. Baik itu akhlak, keimanan, maupun sikap dan perilaku yang sejalan dengan norma-norma agama.

Langkah menyisipkan substansi dan ruh dari norma keagamaan di dalam mata pelajaran lain memang tidak gampang, butuh kecerdasan para pengajar di dalam menyiasatinya. Namun, bila kita sepakat untuk optimal membangun anak didik yang bermoral dan beragama, maka langkah itu akan sangat mampu diaplikasikan. Kendati misalnya, awal-awalnya mengalami kesulitan, insya Allah pada akhirnya akan menjadi terbiasa.

Kedua, dalam tiap hari menyisihkan waktu sekitar lima hingga sepuluh menit untuk memberikan pendalaman agama terhadap para siswa. Kegiatan bisa dilakukan sebelum mata pelajaran pertama dilakukan. Bentuknya bisa beragam: seperti tadarus al-Qur’an dan terjemahnya, kupas hadits dan intisarinya, wejangan agama, maupun tanya-jawab. Bagusnya, ada penjadwalan: hari apa dan materi pendalamannya apa. Lebih bagus lagi dibikin secara sistematis ‘silabus khusus’ untuk materi pendalaman agama tersebut.

Pola tersebut sungguh sangat mungkin dilakukan, karena selain tidak memakan waktu, materi yang disampaikan pun tidak akan membuat berat para pengajar lain yang bukan pengajar agama. Namun untuk lebih menyeragamkan, ‘silabus khusus’ harusnya dibuat terlebih dahulu. Insya Allah, dengan jalan ini, minimnya pendidkan agama bisa terantisipasi. 

Langkah ketiga, yaitu dengan menyediakan waktu—di luar jam sekolah--dalam seminggu antara satu hingga dua jam untuk acara khusus keagamaan. Bentuknya ceramah umum, baik itu disampaikan oleh guru agama sekolah masing-masing, maupun mendatangkan tokoh agama dari luar sekolah. 

Dengan pola itu diharapkan pemahaman keagamaan para siswa akan terus terbina dan tertingkatkan. Yang pada akhirnya, bukan hanya mampu menyiasati minimnya jam pelajaran agama, tapi juga akan mendukung kuatnya ketahanan mental dan akhlak siswa dari godaan zaman yang makin menggila.

Langkah keempat, pengajar agama mewajibkan para siswanya untuk belajar agama di luar sekolah. Namun langkah ini, selain harus bekerjasama dengan pihak orang tua, juga harus dimonitor dan dipantau secara rutin. Caranya bisa dengan disediakannya buku khusus kegiatan keagamaan siswa, seperti yang lazim dilakukan pada bulan Ramadhan. 

Secara ideal, keempat langkah memang sebaiknya diterapkan. Namun bila dipandang masih terasa berat bisa dilakukan salah-satunya. Insya Allah, dengan pola begitu, kekhawatiran kita tentang robohnya akhlak dan moral siswa akan tertanggulangi. Para pendidik dan orang tua juga akan merasa reug-reug, karena harapan agar para siswa cerdas, berkeimanan kuat, dan berakhlak baik, akan bisa terwujud.

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Minggu, Juli 25, 2010

Peduli Terhadap Kaum Dhuafa

Oleh ENJANG MUHAEMIN

Kepedulian sosial merupakan salah satu aspek penting dalam ajaran Islam. Sebagai agama yang agung dan luhur, Islam mendorong umatnya untuk selalu peka pada penderitaan kaum dhuafa dan peduli membantu orang-orang yang hidup dalam kemiskinan dan kekurangan. Banyak ayat dan hadits yang mesti dijadikan pengingat kelalaian dan kealpaan kita dalam membantu dan mencintai orang-orang yang fakir dan miskin. 

Dalam al-Hasyr ayat 7 kita diingatkan bahwa harta kekayaan tidak boleh berputar hanya di tangan kelompok kaya saja. Dalam az-Zariyat ayat 19, Allah SWT pun menegaskan bahwa di dalam kekayaan kita sesungguhmya terdapat hak golongan fakir miskin.

Peringatan di atas sudah selayaknya menyadarkan kita dari keserakahan terhadap yang dianugerahkan Allah. Kehidupan kita yang bergelimang harta tak seharusnya melupakan kehidupan orang-orang yang menderita di sekitar kita. 

Egoisme dan sikap masa bodoh mesti dikikis dari jiwa muslim sejati. Sebaliknya, sikap pemurah, belas kasih, dan suka menolong layak untuk untuk terus ditumbuhkembangkan. Baginda Rasulullah SAW telah memberikan keteladanan yang patut ditiru dan diikuti.

Diriwayatkan bahwa seorang lelaki meminta kepada beliau, lalu ia memberinya sekawan kawan di antara dua buah bukit. Kepedulian dan kecintaan beliau terhadap orang-orang miskin tak lagi dapat dipungkiri. Demi orang miskin, beliau tak ragu untuk membantunya.

Suatu hari, seseorang menghadap beliau dan meminta sesuatu. Beliau bersabda, “Tidak ada sesuatu padaku, akan tetapi belilah kamu sesuatu atas namaku, apabila datang kepada kita sesuatu kita akan melunasinya.”

Sungguh suatu teladan yang mengagumkan. Sekalipun beliau bukan seorang konglomerat, bukan orang yang kaya raya dan bergelimang harta benda, toh beliau peduli dan memberikan perhatian penuh. 

Di tengah kekayaan yang kita miliki, adakah getar hati untuk mengikuti serta meneladani sikap Rasulullah SAW terhadap kaum dhuafa? Ingatlah pada sabda beliau, “Serahkan sedekahmu sebelum datang suatu masa ketika engkau berkeliling menawarkan sedekahmu. Orang-orang miskin akan menolaknya seraya berkata, ’Hari ini kami tidak perlu bantuanmu, yang kami perlukan adalah darahmu’.” 

Fenomena realitas yang muncul belakangan ini merupakan indikator ke arah itu. Prediksi Rasulullah SAW sudah seharusnya kita renungi. Munculnya tindak kekerasan, perampokan di siang bolong, kejahatan yang sudah tidak mempedulikan lagi darah dan nyawa korban, boleh jadi merupakan tanda-tanda dari rendahnya tingkat kepedulian kita terhadap kaum dhuafa.

Fasilitas Menuju Surga
Harta kekayaan adalah amanat dan ujian. Sebagai amanat, harta kekayaan mesti dipelihara dan dijaga penyalurannya agar tidak jatuh pada jalan kemaksiatan. Sebagai ujian, harta kekayaan adalah sesuatu penentu masa depan kita di akherat: surga atau neraka. Ini artinya bahwa harta kekayaan yang kita miliki: dari mana asalnya dan bagaimana penyalurannya akan menentukan posisi kita kelak.

Harta kekayaan yang berasal dari usaha yang halal dan disalurkan untuk kepentingan amal shaleh, termasuk di dalamnya membantu orang-orang miskin, maka bagi pemiliknya akan ditempatkan Allah SWT di surga. Rasulullah SAW menegaskan, “Segala sesuatu ada kunci, dan kunci surga adalah mencintai orang-orang miskin.”

Bagi hartawan, harta kekayaan dan kaum dhuafa merupakan “proyek” kebahagiaan di akherat kelak. Kelompok yang kaya raya, mestinya bersyukur karena dilimpahkan Allah kepadanya alat dan fasilitas menunju surga. Kebahagiaan di akherat jauh lebih baik dibanding kebahagiaamn yang di dunia yang serba nisbi dan relatif.

Sebaliknya, harta yang diperoleh dari usaha yang haram, atau harta halal yang disalurkabn tidak sejalan syariat Islam maka baginya siksa neraka yang berat tiada tandingannya. Tidak peduli pada orang-orang miskin merupakan satu di antara sebab kesalahan kita dalam menyalurkan harta kekayaan. Tak aneh bila orang kaya yang mengabaikan orang miskin dianccam dengan neraka sebagai tempat kembali. 

Rasulullah SAW mengingatkan, “Kelak di hari akherat, ketika penduduk neraka ditanya penghuni surga mengapa mereka masuk neraka, mereka menjawab, “Dahulu kami tidak melakukan shalat, dan tidak memberi makan orang miskin.”

Karenanya, siapa pun kita sudah segera menyadari untuk peduli pada orang-orang miskin. Di sekitar kita, masaih banyak yang hidupnya pas-pasan, bahkan yang sedikit kekurangan. Masih banyak saudara kita yang hanya untuk makan saja perlu ngutang sana ngutang sini. Tidak tergetarkah hati kita untuk membantunya?
Insya Allah, harta kekayaan yang kita sedekahkan tidak akan membuat kita jatuh miskin. Bahkan harta kekayaan kita akan terus melimpah dan bertambah. Demikian itu, adalah realitas yang kerap sulit dipahami banyak orang. 

Untuk menjadi seorang mukmin yang baik, berkait dengan kepedulian kita terhadap kaum dhuafa, sabda Rasulullah SAW berikut sepatutnya kita renungkan: “Bukan mukmin, seseorang yang makan kenyang sementara tetangganya kelaparan.” Barangkali inilah sepercik renungan di tengah kejahatan yang semakin merebak

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Minggu, Juli 25, 2010

Konci Pamingpin Muka Tali Kanyaah Rahayat

Ku: Enjang Muhaemin

Kacida endahna lamun kahirupan kiwari persis kahirupan di jaman Rasulullah SAW. Pamingpin nyaah ka rahayatna, rahayatna oge nya kitu deui. Sigana mah nu disebut krisis ekonomi, krisis moneter, krisis kapamingpinan, jeung krisis sabangsana teh moal kajadian di nagara urang.

Neang pamingpin nu mikanyaah tur dipikanyaah ku rahayatna teh teu gampang. Komo dina mangsa kiwari, nu meh sagalana diukur ku kapentingan dunyawi. Salila euweuh kapentingan kadunyaan nu nguntungkeun mah biasana sok disapirakeun. Teu di pamingpin teu di rahayat, kitu kanyataan teh geus ampir ilahar. 

Padahal, silih pikanyaah antara pamingpin jeung nu dipingpinna teh hiji konci pikeun ngawujudkeun suksesna pangwangunan dina sagala widang. Sabalikna, lamun pamingpin jeung nu dipingpinna geus euweuh tali kanyaah nu nganteng dina ati sanubari masing-masing, tangtuna nu disebut baris sukses ngahontal tujuan jeung cita-cita pangwangunan teh kacida jajauheunana.

Di jaman Rasulullah SAW, tali kaasih jeung kanyaah antara nu dipingpin jeung dipingpinna teh kacida kuatna. Ku kituna teu kudu hemeng, lamun harita Rasulullah SAW bisa sukses ngawangun peradaban Islam dina waktu nu teu lila. Konci nu utamana taya lian nya eta numuwuhkeun sikep silih pikanyaah jeung silih pikaasih.Lamun nagara urang hayang maju, hayang sukses ngawujudkeun pangwangunan koncina teh nya eta tadi: numuwuhkeun rasa silih pikanyaah antara pamingpin jeung rahayatna. Lamun silih asih, silih asah, jeung silih asuh geus ngabaju insya Allah naon nu dicita-citakeun baris kalaksana.

Kasuksesan Rasulullah
Suksesna Rasulullah SAW kuduna mah jadi enteng. Para pamingpin Islam boh di tingkat lokal boh di tingkat nasional, kudu ngajadikeun Rasulullah SAW minangka uswah. Ku jalan kitu, lain saukur kabina naon nu disebut tali ukhuwwah islamiyahna, tapi oge baris kabina tali ukhuwwah insaniyahna. 

Deudeuh jeung nyaahna para sahabat ka Rasulullah SAW pada harita, hiji bukti kuatna tali kanyaah antara pamingpin jeung nu dipingpinna. Malah apanan, saperti nu geus didadarkeun dina HR Ibnu Hatim mah, para sahabat teh nepi ka aralim papisah jeung Kanjeng Rasul SAW teh. 

Dina eta hadits dijentrekeun kumaha kanyaahna para sahabat ka Kanjeng Nabi SAW. Nepi ka para sahabat harita nyararita kieu: “Ya Rasulullah, abdi sadaya alim papisah ti Rasul, tapi engke di aherat Rasul mah bakal diangkat sasarengan sareng para Nabi sadayana kana darajat nu langkung mulya ti umat nu sanes. Ku kituna tinangtos abdi sadaya moal tiasa riung-mungpulung deui sapertos ayeuna.”

Kacida endahna lamun kahirupan kiwari samodel kitu. Pamingpin nyaah ka rahayatna, rahayatna oge nya kitu deui. Sigana mah nu disebut krisis ekonomi, krisis moneter, krisis kapamingpinan, jeung krisis sabangsana teh moal kajadian di nagara urang. Kiwari mah apanan sabalikna, nu disebut tali kanyaah teh saukur diiket ku kapentingan kadunyaan wungkul. Jauh mela-melu dibanding jeung jaman Rasulullah SAW. 

Sikep jeung akhlak Rasulllah SAW nu mikanyaah ka rahayatna mangrupa konci pikeun muka tali kanyaah rahayatna ka dirina. Lamun silih pikanyaah geus ngawujud tangtuna oge naon-naon nu dicita-citakeun teh baris kahontal. Tapi hanjakal, para pamingpin di urang mah siga nu tara maca sajarah kasuksesan Rasulullah SAW.

Hemeng tuda di nagara urang mah. Ari jadi pamingpin pahayang-hayang, ari ngabuktikeun diri mikanyaah ka nu dipingpinna teu ieuh dilaksanakeun. Kanyaah ka rahayat teh saukur diucapkeun, bari teu ieuh ngabukti. Sok we tengetan kiwari. Ari rek pemilu mah apanan paboro-boro meuli hate rahayat teh. Teu sirikna siga nu rek pangbelana ka rahayat teh. 

Tapi lamun geus jadi, naon nu dikedalkeun, naon nu dijangjikeun teh poho kabina-bina. Kitu tah kalolobaanana para pamingpin di nagara urang mah. Matak pantes lamun rahayat ngarasa dinyenyeri, ngarasa dikakaya. Lamun hate rahayat geus raheut, timbul we sikep teu percaya ka pamingpin. Antukna, najan enya programna hade, rahayat jadi apatis, nu ahirna pangwangunan nu dicita-citakeun oge baris moal kalaksana. Lamun geus kieu apanan bahaya. Tah ieu panginten nu kedah janten emutan para pamingpin di urang teh, boh di pamingpin tingkat lokal boh pamingpin di tingkat nasional.

Tali asih antara pamingpin jeung dipingpinna teh kacida pentingna. Konsep silaturahmi dina ajaran Islam salasahijina pikeun numuwuhkeun silih pikadeudeuh pikaasih sapapait samamanis. Siliturahmi nu meungkeut pamingpin jeung nu dipingpinna nepi ka bener-bener sapapait samamanis teh geus dibuktikeun dina jaman Rasulullah SAW. Ti dinya pisan nu jadi marga lantaran Rasulullah SAW mampuh ngawangun peradaban Islam nu taya tandingna, dina waktu nu kacida pondokna.

Picontoeun
Dina konsep Islam, pamingpin teh mibanda tanggung jawab nu kawilang gede tur kacida beuratna. Cing urang lenyepan pidawuh Allah SWT di handap ieu, nu hartosna kirang langkung kieu: “Naha aranjeun teu merhatikeun jalma-jalma nu geus nukeurkeun ni’mat Allah ku kakufuran jeung ngagejretkeun kaomna ka lembah kabinasaan? Pikeun maranehna naraka jahannam. Maranehna asup ka jerona, jeung eta tempat teh panggoreng-gorengna tempat pangbalikan,” (QS. Ibrahim: 28-29).

Beurat jadi pamingpin teh, mun teu bisa mawana mah baris tisoledat kana jalan nu salah. Ku kituna, sing ati-ati lamun urang kabeneran dipercaya jadi pamingpin. Sabab, saperti kaunggel dina ayat di luhur oge, beurat geuning jadi pamingpin teh. Mun teu bener mawana bisa cilaka tigebrus kana naraka.

Sacara sosiologis, hade-gorengna rahayat hiji nagara loba gumantung kana hade-gorengna nu jadi pamingpin. Disebut kitu, sabab nu baroga kakawasaan teh apanan maranehna. Ti mimiti nu nyieun kawijakan makro nepi ka kawijakan mikro, apanan maranehanana. Rahayat mah saukur ngalaksanakeun. Jadi, lamun para pamingpin di hiji nagara salah nyieun kawijakan, tangtuna nu baris kabawa cilaka teh lain saeutik.

Sabalikna, lamun para pamingpinna mampuh mawa kakawasaanana pikeun kamaslahatan umat nu luyu jeung aturan Allah, tinangtu nu baris kabawa bagja oge baris loba. Tah eta nu jadi lantaran pentingna milih pamingpin nu bener teh. Sabab dampak jeung pangaruhna bakal gede tur lega.

Ku kituna, dina kondisi kumaha wae oge, nu jadi rahayat teu bisa sagawayah dina milih pamingpin. Sing ati-ati jeung tarabti, bisa hanjakal jaga. Para calon pamingpin, oge sing bener-bener ngabekelan diri sangkan dina jadi pamingpinna bisa mangpaat pikeun sakumna rahayat. Malah para calon pamingpin ti umat Islam mah geus sakuduna ti ayeuna keneh ngasakkeun diri. 

Sabenerna, lamun hayang bener jadi pamingpin mah, kudu asak nitenan jeung ngalarapkeun kahirupan sakumaha nu geus dicontokeun Rasulullah SAW. “Saestuna geus aya dina diri Rasulullah SAW picontoeun nu hade pikeun anjeun, pikeun jalma-jalma nu miharep (rahmat) Allah jeung (datangna) poe kiamah jeung loba dzikir ka Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).

Pamingpin nu bener, baris mawa rahayatna kana jalan nu lempeng, jalan nu luyu jeung Al-Qur’an tur As-Sunnah. Lamun Al-Qur’an jeung As-Sunnah geus jadi patokan para pamingpin dina nyieun kawijakan, insya Allah nu ngaranna karaharjaan tur kabagjaan teh baris kacumponan. Kasalametan dunya rawuh aherat nu salila ieu ku rahayat diimpi-impikeun teh baris kalaksana.

Amanah kapamingpinan nu geus dipercayakeun kahade tong dilalaworakeun, sok komo disalahmangpaatkeun mah. Bisi matak kaduhung, boh di dunya boh di aherat. Lengkah paripolah jeung amal soleh nu sapopoe dilaksanakeun sing bener-bener teu mengpar tina Al-Qur’an jeung As-Sunnah. Ku jalan kitu, insya Allah, amanah kapamingpinan nu dipercayakeun ka urang teh baris mere kabagjaan nu kacida gedena.

Pikeun umat Islam nu kabeneran diamanahan nyepeng kalungguhan tur kakawasaan kudu diniatan ihlas karana Allah pikeun nanjeurkeun izzul Islam wal muslimin. Ruh jihad kudu nanceub jero dina dirina.

“Henteu sarua jalma-jalma golongan mu’minin nu candukul tanpa uzur jeung kaom mujahidin fi sabiilillaah nu ngorbankeun harta jeung jiwa-ragana. Allah ngangkat kaom mujahidin nu ngorbankeun harta jeung jiwana sadarajat leuwih luhur batan jalma-jalma nu candukul. Jeung Allah ngajangjikeun ganjaran nu alus pikeun maranehna sarerea. Tapi Allah ngaganjar kaom mujahidin ku ganjaran nu leuwih gede batan ganjaran pikeun nu carandukul.” (QS. An-Nisa: 95).

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Minggu, Juli 25, 2010

Video Mesum, Publik Media, dan Agama

Oleh ENJANG MUHAEMIN

Video mesum yang diduga dilakukan artis Luna Maya dan Ariel luar biasa menghebohkan. Bukan hanya menyebar di media internet, tetapi juga telah merambah telepon genggam. Bukan hanya diunduh orang dewasa, tetapi juga banyak ditonton kaum remaja dan anak-anak. 

Realitas itu tentunya membuat kegelisahan dan kegundahan banyak pihak. Bukan hanya orang tua, pendidik, tokoh masyarakat, dan agamawan, tetapi juga elemen masyarakat lainnya yang peduli pada tegaknya norma dan moral masyarakat. Bukan tanpa alasan bila banyak kalangan yang risau. Pasalnya, video mesum sejenis itu, bukan kejadian pertama kali di negeri ini. Berulang, dan berulang tiada henti. Para ‘pemain’ adegan syur semacam itu ‘hebatnya’ lagi banyak dilakukan publik figur yang semestinya menjadi teladan yang baik.

Di tengah tingginya dekadensi moral dan penyakit sosial yang melanda negeri ini, wajar betul bila video mesum yang ‘diperankan’ kaum selebritas dikhawatirkan memiliki dampak buruk yang lebih signifikan. Sebagai publik figur, yang dalam banyak hal ditiru masyarakat dan kerap dijiplak habis kaum remaja, sudah semestinya tahu diri untuk tidak melakukan sikap, ucap, dan perbuatan yang asusila. 

Publik figur, bagaimanapun, harus memiliki tanggung jawab moral dan sosial yang jauh lebih tinggi dibanding manusia lainnya. Ketika seseorang menjadi publik figur sudah semestinya tertanam di dalam dirinya bahwa ia akan menjadi rujukan, ikutan, dan panutan. Karenanya memiliki akhlak dan moral yang baik adalah suatu keharusan yang sejatinya telah tertanam dalam dirinya, dan terejawantahkan dalam kehidupannya.

Perkembangan pesat teknologi komunikasi memang telah menawarkan kemudahan dalam banyak hal. Termasuk pembuatan video mesum, yang bisa ditangani secara cepat dan sederhana oleh pembuat amatir sekalipun. Tidak rumit, juga tidak sulit. Penyebarannya juga amat sangat mudah. Dalam waktu yang singkat, dengan menggunakan internet saja sudah bisa diunduh ribuan orang. Lalu, dengan dibantu media hanphone, maka dalam sekejap pula bisa menyebar ke jumlah yang jauh lebih besar. Bukan hanya oleh masyarakat kota-kota besar di dunia, tetapi juga sampai kampung terpencil di berbagai penjuru negeri. 

Dalam kondisi semacam ini, maka tidaklah mengherankan bila kekhawatiran masyarakat akan dampak buruk video mesum semakin tinggi. Ini memang dapat dimengerti dan dimafhumi. Terlebih bila kita merujuk Instinctive S-R Theory, yang menyebutkan bahwa media menyajikan stimuli perkasa yang secara seragam diperhatikan massa. Stimuli ini membangkitkan desakan, semosi, atau proses lain yang hampir tidak terkontrol oleh individu. Setiap anggota massa memberikan respon yang sama pada stimuli yang datang dari media massa.

Beragam Solusi
Berangkat pada kenyataan dan kekhawatiran masyarakat terkait dengan efek video mesum, tentunya memunculkan beberapa solusi. Beberapa di antaranya yang dapat dilakukan adalah, pertama, penegakan dan pemberian sanksi hukum yang sepadan kepada para pelaku yang secara sengaja membuat dan menyebarkan video mesum tersebut. Dari mulai ‘para pemain’, pembuat, hingga pelaku yang mendistribusikannya. Sanksi hukum menjadi penting agar memunculkan efek jera, dan meminimalisir kemungkinan pihak lain untuk melakukan hal serupa. Video mesum, dengan dalih koleksi pribadi sekali pun, tetap harus mendapat sanksi hukum. “Mereka harus dipenjara karena melanggar norma agama dan undang-undang,” kata Farhat Abbas, pengacara yang juga Ketua LSM Hukum Jamin Rakyat, di Jakarta, Senin (7/6).

Selama ini, para pelaku video mesum umumnya nyaris terbebas dari sanksi hukum. Kondisi ini tentunya akan berimbas pada kemungkinan lahirnya video-video panas lainnya yang mungkin jauh berbahaya. Karenanya, guna melindungi masyarakat dari penyakit moral yang lebih parah, maka memberi sanksi hukum menjadi sangat penting dan tepat. Dan ini menjadi tugas para penegak hukum untuk membendung munculnya video-video asusila lainnya di kemudian hari. 


Penegakan hukum saja tentu tidak cukup. Langkah kedua, adalah tugas dan tanggung jawab orang-orang yang melek teknologi internet. Kelompok ini, memiliki tanggung jawab moral untuk menjadikan internet sebagai media yang bermanfaat. Kita mafhum, internet tak ubahnya pisau bermata dua, sangat tergantung pada siapa dan untuk apa digunakan. Video-video mesum yang didistribusikan melalui media internet, selayak segera diblokir, agar tidak bisa diakses dan diunduh. Teknologi untuk yang satu ini tentunya hanya dikuasai oleh segelintir orang yang melek internet. Di pintu gerbang utama ini pulalah kita gantungkan harapan. 

Langkah ketiga, masyarakat harus turut membendungnya dengan tidak mengunduh dan menyebarkannya. Realitas memang menunjukkan lain. Didorong bermacam motif, dan rasa penasaran yang tinggi, harus diakui yang terjadi justru banyak orang yang bertindak sebaliknya: mengunduhnya. Parahnya lagi, sebagian orang malah turut serta menyebarkannya melalui media handphone. Secara tidak sadar, mereka sebenarnya tengah menyebarkan ‘virus asusila’ yang sesungguhnya mereka khawartirkan. Sikap paradoks ini mestinya tidak terjadi bila kita memiliki komitmen moral untuk membendungnya.

Ketiga langkah di atas akan jauh efektif lagi, bila langkah keempat yakni menanamkan nilai-nilai agama ke dalam diri anak dilakukan sejak dini. Orang tua, pendidik, dan agamawan tidak bisa dengan serta merta bak pemadam kebakaran, yang bertindak hanya ketika terjadi peristiwa. Bila ini yang dilakukan tidak akan banyak manfaatnya. Tindakan preventif jauh lebih penting dan sangat efektif. Benih keagamaan dan nilai-nilai moral yang baik akan membuahkan benteng kekuatan pada diri seseorang. Seberapa hebatnya kekuatan perusak dari luar diyakini tidak akan berpengaruh banyak pada diri orang yang di dalam dirinya telah tertanam nilai-nilai keagamaan secara memadai. 

Benteng Agama
Menanamkan nilai dan norma keagamaan pada diri anak sejak dini adalah suatu keharusan. Karakter dan kepribadian anak yang terbina dengan pendidikan agama yang baik akan mampu membendung beragam pengaruh luar yang merusak. Termasuk video asusila yang kian merisaukan orang tua. Era globalisasi dan kemajuan teknologi komunikasi yang luar biasa pesatnya, tidak mau tidak harus dibarengi dengan penanaman nilai-nilai kegamaan pada diri anak. Anehnya, pandangan ini dianggap klise, dan diabaikan oleh banyak orang tua, dengan dalih sibuk bekerja dan sebagainya. Bila kita tidak peduli dengan akhlak anak, jangan salahkan bila kelak anak-anak kita menjadi bumerang bagi orang tuanya. Karena kita memang telah mengabaikan mereka.

Media dengan segala pengaruhnya, sejatinya akan sangat tergantung pada siapa yang menerimanya. Efek media tidak seragam, sangat tergantung pada ketahanan penerima terpaan media. Efek media tidak selamanya seperti diungkapkan teori jarum hipodermis, yang begitu ‘disuntikkan’ begitu ampuh mempengaruhinya, tetapi sangat tergantung pada tingkat ketahanan penerimanya. Di sinilah peran agama akan memposisikan diri sebagai benteng ketahanan yang ampuh untuk membendung pengaruh luar yang negatif dan konstruktif. 

Carl I. Hovland pernah melakukan beberapa penelitian eksperimental untuk menguji efek film. Ia dan kawan-kawannya menemukan bahwa film hanya efektif dalam menyampaikan informasi, tetapi tidak dalam mengubah sikap. Efek ini tentu harus dimaknai ketika khalayak yang diterpa media itu memiliki ketahanan iman, akhlak dan moral. Dalam konteks ini, kendati memang kita tetap harus membendung peredaran video mesum, namun begitu, pengaruh video semacam itu tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Namun sebaliknya, bila orang yang diterpa pesan video itu lemah dalam iman, akhlak, dan moralnya, maka ini yang paling perlu diwaspadai. 

Kini, yang perlu dipertanyakan lebih jauh adalah seberapa besar kita telah mendidik dan menanamkan nilai-nilai agama dan norma masyarakat yang baik kepada anak-anak kita? Bila saja hati dan pikiran anak-anak kita telah kita tanami nilai-nilai agama dengan baik, maka insya Allah, kita akan menuai buah didikan dengan mendapatkan akhlak dan perangai anak yang membanggakan dan membahagiakan. Terpaan media yang bermuatan buruk akan berhasil ia enyahkan dengan baik. Semoga.

Penulis, pemerhati media,
& dosen Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi,
UIN SGD Bandung.




Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Sabtu, Juli 24, 2010

Video Mesum dan Akar Penyakit Sosial

Oleh ENJANG MUHAEMIN

Penyakit sosial tak ubahnya kanker ganas yang lamban-laun dapat menggorogoti sekujur tubuh. Sebagai penyakit dalam, bahaya kanker memang tidak terlihat oleh mata telanjang, sama halnya dengan penyakit sosial. Tidak terlihat, tapi tidak berarti tidak berbahaya. 

Menikah adalah tuntunan agama. Dalam konsepsi Islam, menikah merupakan pintu suci menuju gerbang kehidupan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Hubungan lawan jenis yang awalnya haram, dengan menikah, menjadi halal. Hubungan intim yang awalnya maksiat, setelah menikah, menjadi ibadah. Dari keluarga harmonis seperti inilah, negara yang toyyibatun wa rabbun ghafur tercipta. Karena bagaimana pun, keluarga merupakan institusi terkecil dari sebuah relasi sosial yang berlaku. Itulah indahnya menikah dengan berlandaskan agama. 

Namun sayangnya, di tengah terpaan budaya global, yang enggan melakukan pernikahan tampaknya terus menanjak naik. Berzina dan gaya hidup free sex menjadi jalan pintas yang dipandangnya sebagai alternatif. Ironisnya lagi, perilaku asusila ini tidak sedikit yang dilakukan oleh public figure. Dampak lanjutannya, tentu dapat ditebak, kian merambah ke berbagai kalangan. Bukan hanya orang dewasa, tetapi juga diikuti generasi muda usia. 

Berbagai penelitian tentang hubungan intim yang dilakukan kalangan mahasiswa dan pelajar, dengan tanpa ikatan pernikahan yang sah, sungguh sangat mencengangkan. Di Yogyakarta, Jakarta, Bandung, dan kota-kota besar lainnya di Indonesia menunjukkan hal serupa: zina dianggap lumrah dan hal wajar. Pemahaman serupa juga merangsek masuk ke dusun-dusun di perkampungan. Ini merupakan fenomena sosiologis yang mengkhawatirkan, sekaligus mesti ditanggulangi dengan serius. 

Video-video mesum yang ‘terpublikasikan’ di internet, dan diberitakan media cetak dan televisi, ditambah dengan beragam hasil penelitian, sudah seyogyanya mendorong berbagai pihak untuk menyikapinya dengan penuh kesungguhan. Jangan hanya dilirik dengan sebelah mata, dan ditangani dengan setengah hati. Jangan biarkan masyarakat negeri ini jatuh lebih dalam ke lembah patologi sosial yang lebih mencemaskan. Berhati-hatilah, karena perilaku seks bebas tengah menjadi ancaman. 

Indonesia sebagai negara yang tengah banyak dilanda musibah, sudah semestinya tidak berdiam diri. Sebab jangan-jangan, musibah yang terus menimpa bangsa kita ini ada korelasinya dengan perilaku masyarakat yang telah mengabaikan norma agama dan budaya. Karena itu, melacak akar penyebab tumbuh-kembangnya seks bebas khususnya, adalah suatu keharusan. Berbagai penelitian komprehensif, dan pencarian solusi mesti menjadi langkah mutlak. Tak bisa ditawar-tawar, juga tak bisa dibiarkan begitu saja.

Memudarnya Norma Moral
Memudarnya norma moral dan perilaku keberagamaan di kalangan masyarakat, tentunya memiliki faktor penyebab yang beragam. Namun dari semua itu, menurut hemat penulis, dapat disederhanakan menjadi tiga faktor. Pertama, kian tersingkirnya peran agama di tengah kehidupan keluarga. Komitmen orang tua untuk yang satu ini kian mengecil, bahkan nyaris hilang. Nasehat-nasehat yang agamis umumnya tak banyak lagi kita dengar. Dorongan dan dukungan untuk berakhlak baik dan taat teguh pada norma agama juga terasa amat sepi. 

Yang kerap menjadi perhatian kita sebagai orang tua umumnya hanya sebatas prestasi dan nilai-nilai kuantitatif pendidikan. Dengan siapa, dan bagaimana anak-anak kita bergaul nyaris lepas dari perhatian. Kita sudah merasa puas bila nilai-nilai yang tercantum di buku rapornya baik, tak peduli itu hasil nyontek atau dikerjakan orang lain. Kita sering merasa malu ketika anak-anak kita nilainya jelek, tapi tidak merasa malu saat akhlaknya dan perangainya buruk. Kondisi inilah yang membuat anak-anak kita tidak lagi memiliki pegangan, pedoman, uswah, dan rujukan hidup yang baik. 

Kedua, menyusul tersingkirnya agama dalam kehidupan keluarga, maka media, khususnya internet dan televisi akhirnya menjadi ‘agama’ baru yang ‘ajaran-ajarannya’ diikuti dan ditaati. Apa yang dikhutbahkan televisi dan disodorkan internet menjadi rujukan, dan pedoman bagi hidupnya. Dari mulai cara bertutur, bersikap, hingga berpakaian, ‘agama’ baru itulah yang menjadi rujukannya. Pesan-pesan “agama” baru ini ujung-ujungnya dijadikan ‘dogma’ tak tertandingi dibandingkan agama-agama yang sesungguhnya. “Agama” baru memang telah mengambil alih peran agama, suatu ironi yang tidak semestinya terjadi. 

Media tak ubahnya pedang bermata dua. Bisa sangat bermanfaat, bisa juga melahirkan mudharat, amat tergantung siapa yang memegang dan mengendalikannya. Di tangan orang yang salah, media bisa menjadi sumber penyebab datangnya laknat. Sebaliknya, di tangan yang orang saleh, media akan menjadi kunci pembuka pintu rahmat. Di tengah konteks kekinian, di tengah penyakit masyarakat merebak dengan hebatnya, dan di tengah musibah yang nyaris tiada henti, para pemegang dan pengendali media sudah seyogyanya melakukan introspeksi diri. Tayangan yang sekadar menjual mimpi dan memamerkan aurat tak selayaknya menjadi menu siaran. Rancang ulang program, susun kembali perencanaan, agar media melahirkan kemaslahatan bagi masyarakat. 

Dalam kasus video mesum dan foto-foto seronok yang dilakukan pelaku asusila, media massa sudah seharusnya bersikap cerdas. Hindari peyangan foto dan cuplikan adegan dari video porno yang mengundang rasa penasaran publik. Pernyataan Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Nezar Patria, layak diperhatikan. Ia mengingatkan, bahwa seorang jurnalis dalam bekerja harus patuh pada UU Pers No. 40/1999 Pasal 5 ayat 1 yakni pers nasional berkewajiban memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) harus lebih proaktif. Baik KPI Pusat maupun KPI Daerah. Tayangan yang keluar dari norma agama, sosial, dan budaya layak mendapat teguran keras. Pun demikian, tayangan hiburan yang tidak mendidik, baik dari substansi isi maupun dari aksi dan busana para pemain yang sudah melewati batas kewajaran. Busana erotis yang kerap ditontonkan para selebritis di layar kaca, kini sudah tidak canggung lagi dipakai sebagian kaum hawa sebagai busana sehari-hari. Tak hanya dipakai di rumah, tapi juga digunakan ke kantor, ke pasar, bahkan ke kampus sekalipun. Sungguh, pengaruhnya luar biasa. Karenanya, para artis selayaknya menyadari akan keberadaannya sebagai public figure, yang dalam banyak hal diikuti dan ditiru, layaknya guru di zaman dulu. 

Faktor ketiga, sikap pemerintah yang sering abai dan tidak tegas terhadap persoalan penyakit sosial. Para pelaku asusila mestinya ditindak tegas dengan sanksi yang sepadan. Selama ini masih ada kesan bahwa penyakit sosial dianggap penyakit ringan yang tidak membahayakan. Padahal, penyakit sosial tak ubahnya kanker ganas yang lamban-laun dapat menggorogoti sekujur tubuh. Sebagai penyakit dalam, bahaya kanker memang tidak terlihat oleh mata telanjang, sama halnya dengan penyakit sosial. Tidak terlihat, tapi tidak berarti tidak berbahaya. Kata Syauqi Bey, “Tegak rumah karena sendi. Runtuh sendi rumah binasa. Sendi bangsa adalah akhlak. Runtuh akhlak runtuhlah bangsa.”

Sebagai fenomena sosial, video syur yang banyak beredar di dunia maya, tentunya tidak bisa dianggap sepele. Dalam alam nyata, praktik perzinaan yang ‘tidak terpublikasikan’ bisa jadi jauh lebih banyak lagi. Bahkan dikhawatirkan sudah dalam tingkat yang kronis. Dan ini tentunya harus dijadikan alarm, ‘peringatan’ bagi siapa pun, agar negeri tercinta ini tidak terus terpuruk dalam dekadensi moral yang tak berujung.***

Penulis,
Dosen Ilmu Jurnalistik pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi,
UIN SGD Bandung.

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Sabtu, Juli 24, 2010