Internet, Bagai Pedang Bermata Dua

Internet sebagai media, tak ubahnya bagai pedang bermata dua. Bisa digunakan untuk kebaikan, bisa pula digunakan untuk kejahatan.

Lima Pola Pemecahan Masalah

Setiap manusia, tentunya memiliki masalah (problem). Dan tampaknya, tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini, yang hidup tanpa masalah.

Gelisah Karena Pujian

Mendengar berbagai pujian, si alim menjadi gelisah. Jangan-jangan dirinya rajin beribadah bukan karena Allah, melainkan karena orang-orang memujinya sebagai orang alim.

Akademisi Ilmuwan Dakwah di Era Internet

Sebagai pilar terdepan, akademisi ilmuwan dakwah idealnya berdiri paling depan dalam gerbang pertarungan global.

Ketimpangan antara Intelektualitas dan Moralitas

Di dunia pendidikan, manusia dibentuk dan dicetak bukan sekadar untuk menjadi cerdas, dan terampil semata, tetapi juga berakhlak mulia.

Memahami dan Menulis Berita [2]

APA ITU BERITA?

Oleh Enjang Muhaemin

Merumuskan definisi berita, sebenarnya, gampang-gampang susah. Disebut mudah, karena kita memang sudah ‘terlatih’ membaca, mendengar, dan melihat berita, baik yang dipublikasikan media cetak, disiarkan radio, maupun yang ditayangkan televisi.


Benar apa yang dikatakan Irving Resenthall dan Marton Yarmen, “Berita, lebih mudah untuk dikenali atau diketahui, daripada diberikan batasannya.” Hal serupa, juga diungkapkan Asep Saeful Muhtadi. Membuat definisi berita, memang tidak semudah memahami berita. “Seseorang dapat memahami dengan mudah membedakan antara berita dengan artikel, misalnya, atau dengan biografi biasa,” jelasnya.

Bagi banyak wartawan, tulis Jack Lule, mencoba mendefisikan berita mungkin tampak seperti suatu jabatan akademis, hanya cocok bagi orang-orang universitas yang berpakaian perlente. “Beberapa wartawan mungkin mengulangi ucapan Gertrude Stein: Berita adalah berita adalah berita. Wartawan lain mungkin menyamakan berita dengan rasa lapar. Mereka barangkali tidak bisa mendefinisikannya, tapi mereka tahu bila mereka merasakannya.”

Berita memang tidak mudah mendefinisikannya. Susahnya, karena berita itu mencakup banyak variabel. ”News is difficult to define, because it involves mani variable factors,” ujar Earl Engslish dan Clarence Hach dalam bukunya Scholastik Journalism.

Tapi, oke-lah, jangan dipikirkan jlimet. Toh, kendati belum tentu memuaskan, sudah banyak pakar dan praktisi media yang mencoba merumuskannya. Kita telaah, dan pahami saja maknanya. Insya Allah, tidak akan membuat kening kita berkerut kok!

Enjoy-enjoy sajalah. Yang penting kita paham, “Oh, itu yah yang disebut berita oleh Si Fulan tuh!”, dan “Oh, jadi berita itu yang begini, begini, dan seterusnya.”
Untuk gambaran, baiklah akan dikutip beberapa definisi berita. Baik definisi yang bersifat humoris, plastis, maupun rumusan yang berbau akademis.

Di antara definisi yang relatif populer di kalangan para pemerhati jurnalistik adalah dengan mengungkap contoh. Dalam logika tradisional, tulis Asep Saeful Muhtadi, contoh-contoh yang berkaitan dengan konsep-konsep yang masih abstrak memang dapat digunakan untuk merumuskan definisi (ta’rif bi al-mitsal). Definisi seperti ini sempat diungkapkan oleh Bruce D. Itule dalam News Writing and Reporting for Today’s Media. Berita adalah man bites dog, orang menggigit anjing. Walhasil, dog bites man, anjing menggigit orang, bukanlah berita. Dengan menggunakan definisi seperti ini, tentunya dapat dipahami suatu abstraksi tentang berita.

Definisi yang lengkapnya ”if a dog bites a man, it’s not news,” itu tentunya menjadi tidak berlaku bila yang digigit anjing itu adalah orang penting, tokoh terkemuka, seperti presiden, menteri, dan orang terkemuka lainnya, atau seorang selebritis yang terkenal. Namun yang pasti, definisi ini, ingin menunjukkan bahwa berita adalah sesuatu yang di luar kelaziman. Ada unsur keluarbiasaan, keanehan, atau ketidakumuman.

Orang dewasa yang bisa jungkir balik, bukanlah berita. Tetapi, anak usia 6 bulan yang bisa “breuh” adalah berita. Contoh lainnya: manusia makan nasi bukanlah berita, tapi manusia yang makan mayat manusia adalah berita. Tak mengherankan bila kemudian Lord Northcliffe, “raja pers” dari Inggris ini menegaskan, “News is anything out of ordinary.” Berita, ujarnya, adalah segala sesuatu yang tidak biasa.

Williard C. Bleyer dalam Newspaper Writing and Editing menulis, berita adalah sesuatu yang termasa yang dipilih oleh wartawan untuk dimuat dalam surat kabar, karena dia menarik minat atau mempunyai makna bagi pembaca surat kabar, atau karena dia dapat menarik para pembaca untuk membaca berita tersebut. Eric C. Hepwood menuturkan, berita adalah laporan pertama dari kejadian yang penting yang dapat menarik perhatian umum.

Doug Newson dan James A. Wollert berpendapat, dalam definisi sederhana, berita adalah apa saja yang dan perlu diketahui orang atau lebih luas lagi oleh masyarakat. Dengan melaporkan berita, media massa memberikan informasi kepada masyarakat mengenai apa yang mereka butuhkan. “ Kurniawan Junaedhi dalam Ensiklopedi Pers Indonesia menyebutkan, berita adalah laporan atau keterangan mengenai terjadinya peristiwa atau keadaanyang bersifat umum dan baru saja terjadi (aktual) yang disampaikan oleh wartawan dalam media massa.

Dalam pandangan Dja’far H. Assegaf, batasan atau definisi berita dalam arti teknis jurnalistik adalah : “Laporan tentang fakta atau ide yang termasa, yang dipilih oleh staf redaksi suatu harian untuk disiarkan, yang dapat menarik perhatian pembaca, entah karena ia luar biasa, entah karena pentingnya, atau akibatnya, entah pula karena ia mencakup segi-segi human interest seperti humor, emosi atau ketegangan.”

Definisi berita yang dikemukakan, baik oleh para pakar komunikasi maupun praktisi media, tidak ada satu pun yang rumusan yang dianggap sempurna. Ini dapat dipahami mengingat berita memiliki banyak variabel dan faktor, yang tidak mudah diikat dalam satu definisi. Tak mengherankan bila hingga saat ini, belum ada satu pun, rumusan berita pun yang dapat diterima secara universal oleh berbagai pihak. “Pada dasarnya memang tidak ada pengertian yang mutlak tentang yang dianggap sebagai berita….,” ungkap M. Atar Semi

Selain definisi di atas, ada rumusan lain yang menarik untuk mempermudah pemahaman kita tentang berita. Rumusan berita yang disebut “News Arithmatic” berikut dikemukakan wartawan Amerika, George C. Bastian, dalam bukunya Editing the Day’s News. Ia menjelaskan batasan sebagai berikut:

1 orang biasa + 1 penghidupan biasa = 0 (Bukan Berita)
1 orang biasa + 1 pengalaman luar biasa = Berita
1 suami biasa + 1 istri biasa = 0
1 suami + 3 istri = Berita
1 kasir bank + 1 istri + 7 anak = 0
1 kasir bank - $10.000 = Berita
1 penyanyi + 1 presdir bank $10.000 = Berita
1 pria + 1 mobil + 1 pistol + 1 tawanan = Berita
1 orang + 1 ciptaan = Berita
1 lelaki + 1 istri + 1 sengketa + 1 peradilan = Berita
1 wanita + 1 pengalaman atau ciptaan = Berita
1 orang biasa + 1 kehidupan biasa dari 79 tahun = 0
1 orang biasa + 1 kehidupan dari 100 tahun = Berita

Untuk mengetahui makna berita lebih jauh, mari kita coba lacak kamus. Kamus Besar Bahasa Indonesia, mengartikan berita sebagai “laporan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat.” Kamus kita juga mengartikan berita sebagai “laporan tentang suatu kejadian yang terbaru,” atau “keterangan yang baru tentang suatu peristiwa.” Teranglah, ujar Dja’far H. Assegaf, dari kamus kita tidak akan mendapatkan suatu gambaran yang benar dan mencakup segi-segi yang esensiil dari berita.”

Berita, dalam bahasa Inggris, disebut news. Mari kita coba lacak dalam kamus bahasa Inggris! Kamus The Oxford Paperback Dictionary, misalnya. Menurut kamus ini, news diartikan sebagai information about recent events (informasi tentang berbagai peristiwa terbaru). Kamus lain, Merriam-Webster’s Collegiate Dictionary, menjelaskan, news sebagai “laporan peristiwa terkini” (report of recent events), dan “informasi yang belum diketahui sebelumnya” (unknow information).

Dari berbagai definisi di atas, saya ingin mengajukan satu definisi tentang berita, sebagai sebuah elaborasi dari berbagai pendapat. Berita, sekali lagi hemat saya, adalah laporan terbaru yang dilakukan wartawan, baik berupa fakta, data, maupun ide yang memenuhi satu atau lebih unsur berita, dan diinformasikan kepada masyarakat dengan menggunakan media massa. Unsur-unsur berita banyak ragamnya, seperti aktual, faktual, penting, dampak, keluarbiasaan atau keanehan, kegagalan, kemajuan, ketegangan, pertentangan, seks, kejahatan, dan daya tarik insani.

Rumusan yang beragam tentang berita, menunjukkan, bahwa berita memang tidak mudah untuk didefinsikan secara komprehensif, mutlak, dan universal. Namun, yang pasti, dari berbagai definisi di atas, sedikit banyak akhirnya kita dapat memahami tentang apa yang dimaksud dengan berita. Bahkan, boleh jadi, Anda sudah mulai bisa mendefinisikannya sendiri. Syukurlah, artinya, Anda sudah paham dan mengerti.

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Rabu, Juli 06, 2011

Memahami dan Menulis Berita [1]

Oleh Enjang Muhaemin

“Lebih dari 90% sebuah harian
atau surat kabar adalah berita….”

Dja’far H. Assegaff

Sesudah Soeharto lengser, dan keharusan media massa memiliki Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUP) dicabut, maka tak pelak, media massa di Indonesia pun mengalami lonjakan luar biasa. Bagai jamur di musim hujan, yang tumbuh merebak di mana-mana. Bukan hanya di perkotaan, tetapi juga menjamur di pedesaan. Euforia media di tengah-tengah era reformasi memang sedang benar-benar terjadi.

Fakta dan realitas itu, tentunya, sungguh menggembirakan. Asumsinya, semakin banyak media, semakin banyak kontrol sosial yang dilakukan. Sebagai salah satu fungsi utama media, posisi kontrol sosial, jelas sangat penting. Dan kita mafhum, fungsi ini pulalah, yang membuat media massa digelari sebagai “kekuatan keempat”, setelah tiga kekuatan lainnya: legislatif, eksekutif, dan yudikatif.

Harapan, memang tidak selalu menjadi kenyataan. Ini, juga terjadi dalam kasus korelatif tentang merebaknya media massa dan harapan besar masyarakat akan terjadinya kontrol sosial yang lebih baik. Alih-alih menggembirakan, yang terjadi malah kondisi yang memprihatinkan. Kuli tinta gadungan, yang ‘gentayangan’ mencari mangsa, adalah realitas yang justru kian menjamur. Citra wartawan pun akhirnya menjadi kian terpuruk.

Meningkatnya jumlah media massa, memang melahirkan berita sebagai produk utama media massa menjadi melimpah, bak air bah yang tak terbendung lagi. Dari mulai berita yang berkualitas hingga berita yang tidak jelas. Fenomena ini memunculkan keprihatinan banyak pihak, termasuk para wartawan yang telah malang melintang di dunia jurnalistik. Berbagai analisa pun muncul. Satu di antaranya berpandangan, bahwa semua itu terjadi akibat institusi pers yang tumbuh belakangan memiliki kelemahan dalam sejumlah hal. Dari mulai aspek permodalan perusahaan yang sangat tidak mumpuni, manajemen media massa yang buruk, gaji pengelola dan wartawan yang jauh di bawah upah minimum regional (UMR), hingga kemampuan dan skill kewartawanan yang jauh di bawah standar.

Tulisan ini, tentu tidak dimaksudkan untuk mengulas lebih jauh tentang hal tersebut. Yang relevan dan penting untuk dijadikan catatan terkait dengan topik sekarang adalah kemampuan dan skill kewartawanan. Satu di antaranya, adalah mengasah kemampuan kita di dalam memahami dan mempraktikkan penulisan berita.
Out put yang diharapkan, bukan hanya mampu memilah dan memilih ‘sesuatu’ yang layak diberitakan, dan menulisnya dengan baik, tetapi juga membangun wartawan yang berkarakter, memiliki integritas, dan konsisten melakukan kontrol sosial. Ini bisa terbentuk bila saja wartawan memiliki kemampuan menyeleksi realitas yang akan diberitakan, sudut pandang memahami dan mengembangkan berita, serta menulis dan melaporkannya. [Lanjut Bag 2]

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Selasa, Juli 05, 2011

Wahai Para Juru Dakwah!

Oleh Enjang Muhaemin


Wahai para penyeru umat….
Kau adalah dambaan dan harapan umat
bak cahaya di tengah kegelapan
bak seteguk air di tengah kehausan

Karena itu….. saudaraku!
Janganlah sekali-kali kau sakiti jamaahmu
dengan cacian dan makianmu
yang hanya akan merendahkan dan menghinakannya

Juga saudaraku…..
Janganlah kau sakiti jamaahmu dengan ucap
dan perkataanmu yang sarat dengan keangkuhan
dan kesombonganmu
karena itu…
hanya akan mengundang benci dan antipati
dendam dan cibiran

Saudaraku….
Bila itu yang kau lakukan
Bukan hanya engkau menjauhkan mereka darimu
Tapi juga menjauhkan mereka dari Islam

Saudaraku…….
Jangan biarkan hati jamaahmu terluka
karena ucap, sikap, dan perilakumu yang tidak terpuji
Basuhlah hati mereka dengan kesejukan ajaran Islam
Dan keikhlasanmu dalam berdakwah!

Wahai para juru dakwah….
Kau adalah laksana lautan ilmu
Kau adalah laksana samudera kebijakan

Karena itu…..
Didiklah jamaah pengajianmu
dengan ilmumu yang berkah
dengan hatimu yang tulus
dengan hatimu yang ikhlas

Tumbuhkan harga diri dan kehormatannya
dengan ketulusan dan kasih sayangmu
Islam yang kau semaikan….
Insya Allah, akan tertanam di hatinya dengan begitu indah
melekat kuat dalam benak dan jiwanya dengan mengagumkan
penuh pesona
bak bunga yang tumbuh di taman
indah dan mewangi yang siapa pun akan menyukainya

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Minggu, Juli 03, 2011

Media Massa dan “Perang” Opini

Oleh Enjang Muhaemin

Perkembangan pesat teknologi komunikasi telah mengubah kehidupan manusia di belahan dunia manapun. Peran media massa dengan segala kekuatan dan pengaruhnya diyakini banyak pakar telah berhasil mengubah banyak hal. Bukan hanya dalam masalah berpakaian, berperilaku, dan berniaga semata, tetapi juga dalam soal-soal lain yang jauh lebih besar, dari mulai pemerintahan, perekonomian, politik, hingga keamanan dan pertahanan.

Era informasi dan globalisasi, kini memang merambah dunia manapun. Tak di kota tak di desa, dengan ‘senjata’ media massa, semuanya terjamah dengan begitu mudahnya. Pesan-pesan media massa dengan begitu cepatnya diserap dan diterima masyarakat luas. Media massa telah sukses menyampaikan ratusan bahkan ribuan informasi dalam setiap harinya, yang mustahil terjadi pada zaman sebelumnya. Banjir informasi menjadi tak terelakkan. Beragam pilihan media juga tersedia dengan begitu banyaknya.

Sebagai kekuatan dahsyat di era global, pengaruh media massa memang sudah tak terbantahkan lagi. Pemeo “siapa membaca apa”, “siapa mendapat informasi apa”, paling tidak menyiratkan pentingnya peran media dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Diakui atau tidak, keberadaan media massa -- baik cetak maupun elektronik – dalam era yang haus informasi ini dipandang sebagai kekuatan perkasa di dalam membagun masyarakat yang lebih kritis, cerdas, dan memiliki kearipan yang tinggi.

Kebergantungan masyarakat terhadap media massa tak urung melahirkan kian menjamurnya media massa di berbagai segmen masyarakat. Dari mulai yang berskala kecil hingga media massa yang memiliki jaringan luas dan berkekuatan politis yang besar. Dari mulai media politik, ekonomi, budaya, ekonomi, agama, dan bidang kehidupan lainnya. Bahkan, diduga kuat, kedigjayaan dunia-dunia maju saat ini, juga ditopang oleh kehadiran media massa yang mereka miliki. Bukan hanya kuantitasnya yang luar biasa, tetapi juga didukung daya pengelola media massa yang berkualiats, memadai, dan mumpuni.

Fenomena di negara-negara berkembang—untuk tidak menyebut negara terbelakang—justru terjadi sebaliknya. Bukan hanya kuantitasnya yang terbatas, tapi juga sisi kualitasnya yang masih jauh tertinggal. Tidak aneh bila kemudian dalam percaturan dunia internasional, negara-negara berkembang kian terbelakang. Negara-negara Barat, misalnya, dengan kekuatan informasi dan opini yang dibangun media massa yang mereka miliki kian hari kian maju. “Hebatnya” lagi mereka bukan hanya mampu menyusun dan merancang opini, tetapi juga telah berhasil mengubah opini dunia.

Dalam konteks inilah, “perang” opini di level internasional yang diperankan media massa tak bisa dianggap dengan sebelah mata. Tak aneh bila seorang pengamat media berkaliber internasional, Ziauddin Sardar pernah mengungkapkan: “Informasi merupakan kekuatan baru dalam era sekarang. Barang siapa yang menguasai informasi, maka ia akan menguasai dunia.” Media massa dengan informasi dan opininya, tak ubahnya senjata dan amunisi di masa perang, yang mampu membidik sasaran dengan mudah dan mematikan.

Penulis, Dosen Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung 

______________

Diposting oleh Kampus Kita Oke
Lentera Dakwah Updated at: Kamis, Oktober 21, 2010